Thursday, 13 December 2012

Secangkir Capuccino; Sebelum Kita Pulang


Rintik-rintik air berjatuhan di atas kap mobil lelakiku. Aku hanya memandang tetes-tetesannya jatuh menelusuri kaca jendela di sebelah.
“Dingin ya?” tanyanya sembari menggenggam tanganku.
“Lumayan.” Jawabku jujur, “tapi tidak sedingin winter.”
Lelakiku tertawa, “tentu saja. Mentang-mentang baru pulang dari Amrik, yang kamu bicarakan sedari tadi negara itu melulu. Kurang apa sih Indonesia?”
Aku hanya tertawa kecil tanpa menanggapi. Hari ini otakku berat sekali. Apalagi saat mendengar kata ‘Amerika’, menyeretku ke dalam suatu kenyataan yang tak ingin kuingat. Berbagai perasaan berkecamuk di dalam dadaku. Hari ini aku harus jujur padanya. Harus...
“Eh, sebelum kita pulang mampir cafe ayo. Dulu kita sering ke cafe ini kan?” godanya.
Otakku berputar lagi. yaah... daripada membicarakannya saat ia menyetir dan membuat konsentrasinya buyar, lebih baik aku jujur padanya di suatu tempat. Pokoknya aku harus jujur, harus.
 “Accepted.”
 Lalu dia berbelok ke cafe langganan kami sejak SMA.
***
Ia menarik satu kursi untukku, dengan view jalanan basah yang mulai menggelap. Bisa kulihat bintang-bintang redup mulai menampakkan dirinya menggantikan bintang siang; matahari.
“Nostalgia, eh?” ia duduk di depanku sambil menopang dagu. Aku menoleh dan mengangguk kecil.
“Ingat saat kita kencan pertama, begitu kaku, lalu kau mengajakku memberi nama ngawur pada setiap bintang yang muncul?” Aku mengedipkan sebelah mataku.
Ia terlihat berpikir keras mengingat-ingat—aku rasa itu hanya pura-pura—lalu menunjuk satu bintang dan, “bintang itu kau yang memberi nama; Zeus.”
Aku tertawa, “yang paling besar dan seakan berkuasa. Tentu.” Kini giliranku menunjuk satu bintang, “itu kau yang memberi nama; sesuai namaku.”
“Yang paling biru, paling berpendar, dan yang paling terang dari semuanya. Tentu saja itu kau.” Ia mencolek daguku penuh sayang.
Aku bertanya ragu, “kalau... suatu saat aku berubah merah, berhenti berpendar, dan menjadi yang paling tak bersinar?”
Ia menatapku serius. Mata kecoklatannya memberi sinar lembut menunjukkan ketulusannya, “aku akan menerimamu apa adanya. Bahkan saat tanpa warna, tanpa pendar, dan tanpa cahaya.”
“Kau serius?”
Ia meremas pelan jari-jariku. Hangat, “aku tak pernah seserius ini. Kamu cinta pertama, dan akan aku jamin menjadi cinta terakhirku.”
Aku tersenyum. Namun genggaman tangannya terlepas saat seorang waiter memberikan buku menu pada kami.
“Oh ya.” Ia membuka buku menu, “Sayang, pesan apa?”
“Secangkir capuccino.”
***
Kami mengobrol panjang lebar. Aku mencari celah dalam obrolan kami untuk membicarakan hal itu; jujur padanya. Namun semua ini membuatku candu. Tak ingin aku merusak momen bahagia ini setelah sekian lama tak bertemu karena aku jauh di lain benua selama beberapa bulan.
“Ngomong-ngomong, kamu belum cerita mengapa kamu pergi ke Amerika selama itu kan? Lima bulan. Bisa bayangkan betapa rindunya aku? Apalagi kamu tak pernah mau kuajak webcam di skype.”
Ah ini. Ini saatnya aku jujur, “Ehm, sebenarnya...”
“Permisi.” Seorang waitress membawakan secangkir capuccino untukku, segelas american grande untuk lelakiku, dan dua slice rainbow cake untuk kami berdua.
“Aku tidak pesan rainbow cake.” Aku menatap lelakiku bingung.
“Enak kok. Aku yang memesannya. Coba saja.” Ia mengulum senyum. Aku curiga ada sesuatu di sini.
Dengan was-was kupotong slice-nya menjadi sepotong kecil, lalu kumasukkan dalam mulutku. Perlahan, di balik kelembutan cake itu, kurasakan sesuatu yang keras menghantam gerahamku.
Dammit!” aku segera memuntahkan benda keras itu dan ternyata... yang kugenggam adalah sesuatu yang bundar dan berkilau.
Cincin.
Kudongakkan kepalaku padanya.
“Kita saling mengenal sejak SMP, pacaran sejak SMA, dan kunanti pula kedatanganmu seberapa lama pun kamu pergi.” Lelakiku tersenyum, “aku begitu mencintaimu. Sel-sel dalam tubuhku selalu berusaha menarik tanganku agar mendekapmu. Sudah bertahun-tahun kita pacaran dan yah... aku rasa memang that’s you. No one else. Happiness which we feel till this second make me believe. Nothing can subtitute you on my mind. And I think... you know... it takes too long to realize but now, in this our favourite place, in the name of years we walkin’ together, would you be mine forever after?”
Aku menatapnya tak percaya. Mataku mulai terasa panas, “are you sure? That’s me?”
“No-one-else.”
“Altough... I... I’m not as perfect as you think?”
“I think I’m not as perfect as you think too.”
“Altough...” aku menunjuk bintang dengan namaku, “I’m not like that star? I... I can’t bring your real happiness—“
“You are my truly happiness. Keep on your mind. I have no reason to love you so I have no reason too to stop what I’ve begun first.”
Aku terdiam. Mencari kejujuran dalam matanya. Namun ia balas menatapku seakan menantang; coba temukan bukti bahwa aku berbohong!
“Hei,” ia mengangkat daguku lembut. Lalu ia mengambil cincin di tanganku, membersihkannya dengan tisu, dan memakaikannya di jari manisku.
Cantik sekali. Bias-bias cahayanya seakan menyemburkan tujuh warna terindah; merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu. Aku buta, aku terlena...
“Bagaimana menurutmu?” ia membolak-balik jemariku, “cantik ya. Seperti kamu.”
Kutarik tanganku pelan dari genggamannya, “kamu yakin mau menerima aku apa adanya?”
“Tentu.”
“Segala kekuranganku? Cacatku?”
“Iya.” Ia menatapku serius. Begitu yakin.
Aku menghela nafas. Ya, ia jujur. Ia takkan menarik kembali ucapannya. Ia benar-benar seorang lelaki, “kalau begitu, aku akan jujur.”
Ia membetulkan posisi duduknya dan menatapku serius.
“Kamu tahu kan aku ke Amrik berbulan-bulan. Aku tidak pernah mengatakan alasannya padamu. Dan sekarang aku akan jujur.” Mulaiku berat, “aku... menderita kanker rahim.”
Hening awalnya. Tiba-tiba ia tertawa keras, “jangan bercanda! Selama ini kau sehat-sehat saja—“
“Dengarkan aku dulu.” Putusku tajam, “aku menderita kanker rahim. Satu-satunya jalan adalah dengan mengangkat rahimku atau aku akan mati. Aku pergi ke Amerika karena berharap di sana, nyawaku bisa selamat tanpa operasi pengangkatan rahim namun...” aku menggeleng. Kurasakan sesuatu yang cair mengalir dari ujung mataku, “mereka juga mengatakan bahwa aku harus mengangkat rahimku.”
Kulihat ekspresinya mulai berubah.
“Aku hidup, namun kini tak punya rahim. Jika kita menikah pun... aku tak bisa memberimu keturunan.” Aku mencoba tertawa kecil, mencairkan suasana, “tapi kita bisa mengadopsi anak kan? Well, anak itu urusan mudah—“
Tiba-tiba ia memanggil waiter, meminta bill.
“Lho, kok... tiba-tiba kita pulang?”
“Aku tidak bisa.” Katanya dingin, “aku tidak bisa menikahi wanita yang bahkan tidak bisa memberiku anak. Aku tidak bisa. Masih banyak wanita normal lain. Lagipula orangtuaku tidak akan setuju kalau tahu hal ini. Aku tidak bisa. Maaf.”
“Tapi... katamu...” aku gelagapan, bingung, merasa dipermalukan, “I’m your truly happiness? Kamu akan menerimaku apa adanya? Tanpa warna, tanpa pendar, bahkan tanpa cahaya?”
“Apa adanya juga punya batasan.” Ia membayar bill dan memakai jaketnya, lalu berdiri  dan berjalan keluar. Membiarkan duduk, terpaku, dan kalah.
Namun beberapa langkah berselang, ia berhenti dan membalik badannya. Memberiku secercah harapan. Apa tadi ia hanya bercanda? Apa ia akan menarik kata-katanya?”
Namun harapanku musnah seketika tergantikan kemarahan amat sangat saat ia mengulurkan tangannya di depanku sembari berkata, “bisa kuminta kembali cincin itu?”

Dibuat setelah membaca buku biologi, dan besoknya saya   merasa cukup sukses di UAS biologi   

Tuesday, 4 December 2012

Dedicated To You, Who Almost Be A Winner


Untuk kamu, yang sedang jenuh, nun jauh di sana.
Jarak membuat kita kesulitan tuk saling menyemangati seperti dua tahun lalu. Nasib membuat hati kita tak sedekat dua tahun lalu. Cuaca membuat senyum kita tak sama dengan dua tahun lalu.
Namun di sini, jauuuuh dari pandangan matamu, jauuuuh dan hanya terhubung oleh sinyal handphone, aku berbisik pada Tuhan tuk selalu mengingatkanmu tuk berusaha dan berserah.
 Mungkin akan susah tuk kupahami kerumitan di hidupmu.
Tetapi bukannya kau juga tak bisa memahami kerumitan hidupku?
Di tengah-tengah benang kusut yang melilit otak kita, di tengah-tengah lalu-lalang masalah yang meredam suara kita,
Di tengah rumus hitungan farmasi yang sedang kamu hadapi,
Di tengan identitas trigonometri yang mencekikku minta dicarikan solusi,
Aku tahu jauh di atas semua itu kita saling mendoakan. Mendoakan dalam diam. Menengadah tangan dan mendekap seperti sepasang merpati yang berkepak untuk saling melindungi. Menatap sendu pada bulan, saling bertanya kabar lewat cahaya, berusaha merasa dekat dengan melihat bulan yang sama, lalu menutup pintu dan kembali memandang kosong kertas berisi tulisan-tulisan yang membosankan.
Aku tidak tahu bagaimana denganmu. Tapi di sini, tanpa bisa kamu lihat, kuiringi tiap titi kecil langkahmu menuju masa depan; menuju lautan kristal.
Dan demi Tuhan, tak semudah itu berjejer-jejer dengan kristal. Sakitmu, jatuhmu, bangkitmu, lelahmu, hidupmu, aku.
Aku yang hanya bisa mengamatimu, mengagumi setiap detil liuk tubuhmu saat berjalan, bersorak dalam diam saat kamu tertawa, menangis tanpa suara saat kamu merenung.
Sesimpel itu caraku mengiringimu.
Lalu kamu?

Monday, 3 December 2012

Good Night :)

Lakukan semua dengan niatan ikhlas. Jangan biarkan mulutmu berucap keluhan barang sekali saja. Dengan begitu Tuhan juga akan mengulurkan tangan-Nya untuk kesulitanmu. Sesungguhnya Tuhan selalu disamping orang ikhlas :)

Secangkir Cappucino; Seakan Pergantian Tahun Tak Berarti


Inspired from mainstream song; Chakra Khan with Harus Terpisah
Aku melihat dengan penuh perhatian. Well, memang tersiar kabar sih kalau cafe ini sangat full of drama. Tapi dihari pertamaku bekerja ini jelas-jelas membuatku agak... kagok.
Pria berperawakan ceking namun terlihat cerdas itu hanya terdiam, berusaha mendinginkan atmosfer kafe yang kini mendadak panas. Rahangnya memang mengeras, tapi gayanya tetap santai tanpa perubahan sistem tubuh apapun; nafas tetap teratur, mata tetap teduh, telapak tangan tetap santai tanpa kepalan, seakan aku bisa mendengar setiap sel dalam tubuhnya diperintah oleh syaraf: Keep calm and stay cool. Just breath... breath...
“Jadi, lelaki ini yang teman satu kelompokmu?” tanya santai—entah memang santai atau berusaha santai , “seems like you don’t do anything that can called a task, do you?”
Wanita yang ia ajak berbicara hanya diam. Sejujurnya wanita itu cukup cantik—oke, sangat malah. Namun mana sudi aku mengakui ada wanita yang lebih cantik daripadaku?—dengan wajah oval, mata kecoklatan yang bulat, hidung yang cukup mancung untuk gen kaukasia, bibir merah mudanya yang berlipgloss cukup tebal dan... oh tidak! Jelas saja tidak akan kulupakan detil baju yang begitu ‘berbelah’ seakan isi di dalamnya bisa tumpah kapan saja.
Khas wanita ibu kota, eh?
Dengan santainya lelaki itu duduk diantara keduanya; si wanita dan...yaah... selingkuhannya. Ia lalu menatap keduanya seakan mereka adalah teman lama, “ada cerita baru? Boleh aku tahu juga?
Pasangan-kepergok-selingkuh itu tetap bergeming. Aku begitu salut dengan ketenangan sang lelaki yang jelas malah berhasil membuat pasangan itu kagok.
“Jadi, sejak kapan kalian pacaran?” tanyanya antusias. Lalu ia menoleh kepada selingkuhan pacarnya dan bertanya, “kamu, kok mau sih jadi yang ke dua? Santet, pelet, atau—“
Kata-kata si lelaki terputus saat mendadak wanitanya menyiram jus jeruk ke kemeja biru keputihannya. Wanita itu mendongak, marah.
“Hey, calm. Aku yang diselingkuhin kenapa kamu yang seenaknya nyiram gini?” si lelaki tetap menjaga nada bicaranya.
“Jangan berbicara seolah aku cewek murah—“
“Kamu nggak murah.” Putus lelaki itu, “Cuma bangsat.”
Dan satu tamparan telak mendarat di pipi sang lelaki. Kusadari tanganku mengepal, entah sejak kapan. Maksudku... siapa yang seli ngkuh, siapa yang ditampar? What the...
“Bloody hell.” Bahkan lelaki itupun tetap kalem saat mengatakan ini sembari mengelus pipi kurusnya. Namun ia dengan berani menatap langsung ke mata gadisnya.
“Kamu bangsat, tahu kenapa?” aku bisa merasakan lelaki nyaris tak sanggup lagi menjaga suaranya tetap kalem, “kalau kamu merasa sudah tidak menyukaiku lagi, katakan langsung di depanku. Bukannya bermain belakang dan menunggu aku tahu dengan sendirinya, lalu mempermalukanku dengan membiarkan orang lain tahu betapa buruknya aku sampai pacar 5 tahunku sendiri selingkuh.”
Wanita itu terdiam.
“Lima tahun. Sebulan lagi tunangan. Cukup menyiksa batin juga.” Lanjutnya, “lima tahun kita bersama, aku bahkan belum pernah menyentuh bibirmu barang sejengkalpun. Nah, dia? Dengan enaknya melahapmu di tengah kerumunan seperti ini. Sekarang kalau kau masih bisa, coba buktikan bahwa kau bukan wanita bangsat.”
“Bagus! Salahkan saja aku terus! Kamu pikir sudah cukup suci sampai mengatakan seperti itu? Pacaran denganmu itu membosankan! Kamu perfeksionis! Garing! Pasangan lain sedang menonton Skyfall dan kamu mengajakku menonton pameran budaya? Pasangan lai n sudah naik kasur berkali-kali dan yang berani kamu lakukan hanya menggenggam tanganku—“
“Tuh kan, bangsat.” Lelaki itu makin kalem. Seakan senang telah tahu kedok asli pasangannya, “mana ada wanita baik-baik yang berharap naik kasur dengan lelaki—“
Wanita itu ingin menampar si lelaki, namun tangan lelaki itu kini lebih sigap untuk mencegahnya.
“Cukup. Aku muak.” Lelaki itu menjatuhkan tangan si wanita kembali, “tanpa berikrarpun kau sudah tahu kan bagaimana kita mengakhiri 5 tahun itu detik ini?”
Lelaki itu berdiri dan kembali ke tempat duduknya. Tetap terlihat kalem saat pelan-pelan menyeruput capuccinonya kemudian beralih mengutak-atik smartphone keluaran anyarnya.
Aku menghela nafas. They break up. Dan itu benar-benar akhir yang bagus mengingat betapa menyebalkannya wanita itu. Aku melanjutkan membersihkan konter saat tanpa sengaja kuamati detil lelaki itu.
Tangan kanannya gemetar saat mengetik. Tangan kirinya seakan sedang memijat pelipis, namun—well,penglihatanku cukup bagus—aku melihat setetes liquid seperti kristal bening mengalir halus ke pipinya.
Ternyata lelaki itu tak setegar kelihatannya.

Wednesday, 24 October 2012

Obsesi


Dia melirik jam dinding di tangannya. Lima menit lagi, pikirnya, lima menit lagi kulepas rinduku padamu, Tuan Putri.
Sudah sepuluh tahun ia seperti itu. Dua kali sehari; pagi pukul tujuh saat Tuan Putri berangkat sekolah, pukul tiga sore saat Tuan Putri pulang sekolah. Juga di hari senin, rabu, dan jumat, pukul tujuh malam saat Tuan Putri kursus bahasa Inggris. Lelaki empat puluh tahun itu selalu memandangi Tuan Putri-nya dari jauh. Jauh, tanpa tersentuh. Ia cukup sadar diri. Lelaki kepala empat normal macam apa yang tidak menikah selama sepuluh tahun hanya karena jatuh cinta pada seorang gadis yang jarak umurnya 25 tahun dengannya?
Tetapi satu hal yang lelaki itu pahami; ia jatuh cinta setengah mati.
Gadis itu begitu memiliki pikat sihir yang kuat. Dengan rambut bergelombang sebahunya yang indah, badan mungil nyaris rata namun menggugah adrenalin setiap pria, wajah imut yang selalu menyunggingkan senyum berlesung pipit, bulu mata lentik yang menimbulkan rasa penasaran itu...
Lelaki ini jatuh cinta.
Umur? Oh, tidak masalah. Cinta itu buta kok. Tidak ada masalah. Karena selama ini ia hanya bercumbu maya. Tidak, Tuan Putri bahkan tidak mengenalinya. Ia tidak pernah menampakkan bayangannya.
Ia ingin melihat Tuan Putri tumbuh dewasa... menunggu sinar kecantikan yang akan ditampilkannya. Menunggu senyum kekanakan itu menjadi senyum penuh wibawa.
Dia jatuh cinta setengah mati padanya, Tuan Putri itu. Dan sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar untuk bertahan dengan cinta miris; cinta bertepuk sebelah tangan.
Lagi-lagi lelaki itu melirik jam dindingnya. Ah, empat menit lagi. Lelaki itu dengan segera menaiki tangga menuju atap rumahnya. Dengan tidak sabar ia menghitung setiap detik demi detik yang berlalu. Tanpa letih sama sekali.
Toh ini telah ia lakukan selama sepuluh tahun.
Terkadang ia bertanya pada dirinya. Sia-siakah sepuluh tahunnya ini? Sia-siakah energi yang ia habiskan untuk menaiki tangga setiap hari hanya untuk melihatnya lewat—itupun tidak sampai sepuluh detik?
Tapi cinta telah membuatnya kebal dengan semua jalan pikiran itu. Cinta selalu benar. Hati tak pernah salah.
Dan suatu hari nanti, lelaki itu telah berjanji dalam hati akan memperkenalkan dirinya kepada Tuan Putri.
Omong-omong, tiga menit lagi.
Tanpa Tuan Putri sadari, sebenarnya lelaki itu telah melakukan berbagai cara untuk mendekatinya—atau paling tidak membuat Tuan Putri tetap sendiri sampai saatnya lelaki itu memperkenalkan dirinya.
Pernah suatu ketika ada seorang bocah ingusan—bukan bocah ingusan juga sih. Umurnya lebih tua setahun dari Tuan Putri—yang mencoba mendekati Tuan Putri. Dalam catatan misinya, lelaki itu memanggil si bocah ingusan dengan sebutan ‘Bunga’—mengapa Bunga? Mungkin saking lumpuhnya logika lelaki itu sampai tidak bisa lagi membedakan antara pria dan wanita.
Awalnya ia biarkan Bunga mendekati Tuan Putri. Dua kali Bunga ke rumah Tuan Putri. Namun tidak ada kata tiga kali.
Sebulan lalu, di malam Minggu, Bunga melewati rumah si lelaki untuk pergi ke rumah Tuan Putri. Ya, rumah si lelaki merupakan satu-satunya jalan menuju rumah Tuan Putri. Begitupun sebaliknya.
Hmm... maaf memutus cerita. Tapi tanpa kita sadari bersama, dua menit lagi Tuan Putri akan lewat.
Nah, sebulan lalu lelaki itu menebarkan paku di jalan depan rumahnya. Menunggu Bunga datang. Otomatis ban sepeda motor matic Bunga pun bocor seketika.
Lelaki itu tertawa dalam hati begitu tahu betapa bodohnya Bunga.
Dengan akting yang patut mendapatkan piala Oscar, lelaki itu menawarkan bantuan pada Bunga. Bunga pun memperayainya. Dituntunlah Bunga ke dalam garasi rumah lelaki itu.
Dan dibunuh. Dengan pisau yang biasa ia gunakan untuk mencincang daging.
Bunga yang malang pun tersungkur dengan pisau yang menancap di perutnya. Lalu mati.
Dan hilanglah satu kutu yang akan mengganggu rencana lelaki itu.
Oke, ini dia. Tuan Putri akan lewat. Ini saatnya.
Lima.
Empat.
Tiga.
Dua.
Satu.
Lewatlah Tuan Putri yang baru pulang dari sekolahnya. Dengan baju olahraga yang basah dan wajah yang bercucuran keringat.
Manis sekali.
Namun... tunggu! Ada yang berbeda. Bunga tidak pulang sendirian. Ia pulang dengan... bocah ingusan lain. Tangan mungil Tuan Putri melingkar di pinggang bocah ingusan itu. Lalu mereka tertawa bersama dengan nada mesra.
Nada mesra yang memuakkan.
Oke, sang lelaki kini harus menyingkirkan kutu itu. Ia membuka catatan kecilnya dan menulis:
Misi kedua: bunuh Mawar.

Saturday, 20 October 2012

Secangkir Cappuccino; Kamu Empat Minggu yang Lalu


Malam minggu.
Tepatnya, malam minggu pertama setelah kamu pergi.
Kuseruput cappuccino di depanku, kuketik rindu di notebookku.
R.i.n.d.u.
Aku baru tahu bisa sesakit ini. Dahulu lima huruf itu bisa kuketik dengan senyum. Sekarang?
Senyum kok. Senyum getir.
Karena memang kenangan manis yang kau torehkan di memoriku berakhir miris.
Dan karena aku terlalu sakit untuk berpindah hati.
Dan karena pasak yang kau tancapkan sudah menusuk terlalu dalam, membuatku terpatut dalam asa untuk tetap memperjuangkanmu.
Perjuangan yang sia-sia pastinya, semut yang melintas pun tahu itu.
***
Empat minggu lalu, di lorong-lorong sekolah.
“Kamu lucu.” Waktu itu kau berkata seperti ini.
“Lucu bagaimana?” dan aku balik bertanya seperti ini.
“Lucu membuatku nyaman hanya dengan duduk bersebelahan selama tiga hari.”
Aku mengernyit, “nyaman?”
“Aku nyaman denganmu.”
Aku girang, namun mulutku menutupinya, “bohong.”
“Kok bohong?”
“Kamu kan player.”
“Player apanya?” kamu merengut, lucu, “ponselku hanya berisi pesanmu. Suumpah!”
Tentu saja aku tahu. Diam-diam aku selalu mengambil ponselmu kok.
***
Tiga minggu yang lalu, di tempat yang sama.
“Aku rasa aku menyukaimu.”
Aku melongo. Kehabisan kata-kata. Namun kamu terdiam. Kulirik kamu dari sudut mataku. Dan ternyata kamu sedang menatap jauh ke melewati lapangan. Aku jadi ragu kau mengatakan hal itu.
“Kok diam?” kau tetap menghindari tatapanku—seakan aku sanggup menatap matamu saja!
“Aku bingung.”
“Bingung?”
“Karena tadi kamu masih bilang ‘aku rasa’, itu artinya kamu belum yakin, kan?”
Kini kau menoleh padaku—oh oke, hentikan saja detak jantung sialan yang malah berdebar lebih kencang!—dan aku menatapmu juga, takut-takut.
“Mungkin iya. Aku masih ragu.”
Aku menunduk dalam.
“Aku akan mendapatkan jawaban atas perasaanku secepatnya. Mau menunggu?”
Pasti, batinku saat itu, asal aku mendapat hasil yang memuaskan.
***
Dua minggu sebelumnya, di tempat yang sama.
Aku belum juga mendapat kepastian.
***
 Satu minggu sebelumnya, di tempat yang sama.
Aku melihatmu tertawa lebar dengan wanita lain. Pipiku memanas, sampai menjalar ke mata. Harus bagaimana ini saat melewatimu? Harus tetap memasang tampang biasa atau melabrak seperti orang kesetanan atau...
Pilihan pertama lebih baik.
Jadi, aku melewatimu. Kulirik lagi kamu dari sudut mataku. Dan kamu sama sekali tak memberi respon. Rasanya ingin segera sampai rumah, menyalakan shower, dan galau semalaman.
Setelah meninggalkan sekolah, aku mengirimimu pesan.
Kau menyukainya? :D
Emoticon yang hipokrit sekali. Beberapa menit kemudian, kamu membalas
Iya.
Sesingkat itu. Tanpa penjelasan apapun Sabar... kuatkan hati... hadapi lagi...
Wow! Semoga berhasil ya. Ganbatte! :D
Dan balasanmu lumayan mengejutkanku,
Kau baik-baik saja?
Dasar idiot.

Sunday, 14 October 2012

The Tale of Hoam Kingdom -13. Back to Black World


Aku menatap Dina tanpa percaya.
“Mengapa diam saja? LARI!”
Bodoh. Mana bisa aku meninggalkan dia sendirian?
Tiba-tiba pengawal yang disekap Dina menyentak begitu keras melebihi tenaga Dina untuk menahan. Otomatis ia nyaris terjengkang jauh. Lalu kedua pengawal itu segera menyekapku lagi dan Bibi Shab. Kekuatanku sudah terlalu sedikit untuk melawan.
“Mundur, kalau tidak ingin dua orang ini kami lukai!” aku merasakah sentuhan ujung tajam pisau yang dingin nyaris menembus kulit leherku. Kini menelan ludah pun aku tak sanggup.
“Apa sih yang kalian inginkan dari dia?” Dina bertanya seakan pengawal-pengawal brengsek ini adalah teman lamanya, “kalian bisa mendapatkan yang lebih banyak darinya tanpa perlu bekerja keras menjaga penjara lagi kalau kalian mau. Hanya dengan sedikit mengancamnya kan? Dia terlalu lemah untuk melawan.”
Aku diam saja dihina seperti itu. Kedua pengawal itu berpandangan.
“Apa sih yang bisa kalian dapatkan dari kerajaan Salju? Hanya emas dan perak sedikit, dan pekerjaan kalian nyaris 24 jam. Setimpalkah? Gunakan otak kalian!”
Hening lagi.
“Kezia, kalau mereka membebaskanmu, kau sanggup kan membayar mereka seumur hidup?” Dina bertanya santai. Untung aku tidak terlalu bodoh sehingga sanggup mengikuti alur mainnya.
“Te, tentu.” Jika kerajaanku bisa bertahan, tentunya.
“Dengar kan? Sekarang gunakan otak kalian. Solidaritas? Bisakah kalian makan hanya dengan solidaritas? Pikir!”
Aku merasakah sentuhan ujung pisau itu lebih longgar. Ah... ia lengah.
“SEKARANG!”

Wednesday, 10 October 2012

Kamu, Aku Merindu


Hai kamu. Ya, kamu. Apa kabarmu? Oh, tentu saja baik. Aku tahu kamu mungkin lebih dari siapapun di dunia ini. Tentu saja aku tahu, aku memata-mataimu setiap hari tanpa kamu ketahui. Aku seperti orang bodoh yang melongok ke jendela lima menit sekali hanya untuk melihatmu sosokmu yang berbicara dan tertawa dari balik tembok, dengan orang lain.
Rasanya sudah seabad ya semenjak kejadian itu. Kejadian miris yang membuat kita berhenti bermain kucing-kucingan dan menghadapi kenyataan; kamu punya orang lain dan aku sendirian. Semenjak itu aku tak bisa melupakanmu, kau tahu? Meskipun setiap hari kuteriakkan pada dunia bahwa kau munafik, pembohong, dan lainnya. Tapi hati kecilku berkata lain. Hati kecilku berkata aku masih bisa memilikimu. Entah dari dasar apa, akupun tak tahu. Namun kebohongan publik yang kuumbar-umbar malah berbalik menyerangku dan membuatku selalu sakit hati.
Sampai sekarang aku masih sakit hati. Tapi aku tak tahu siapa yang salah. Aku kah yang salah karena mengharapkanmu berlebihan? Kamu kah yang salah karena memperhatikanku berlebihan?
Apa iya harus kutanyakan pada rumput yang bergoyang?
Namun aku menyalahkan diriku sendiri. Entah aku bodoh atau aku benar. Tapi aku menyalahkan diriku sendiri. Harusnya dari awal aku berpikir, “masa iya kamu menyukaimu? Dari sejarah semua wanita yang pernah kamu suka, kamu malah menyukaiku? Turun sekali derajatmu!”
Pikiran itu lagi-lagi kembali menerjangku. Pikiran yang selama ini selalu ku halau. Pikiran bahwa aku... begitu buruk.
Aku berusaha berbaik sangka lho pada Tuhan. Tetapi kelakuanmu membuat semua jadi berantakan. Aku bisa mati. Aku bisa gila!
Demi langit dan bumi, aku merindu. Kamu.
Rindu yang dilarang. Rindu yang tanpa alasan. Rindu yang menyesakkan.

Friday, 28 September 2012

Bodohnya

Ngomong-ngomong, kau menyakitiku sudah lebih dari sejuta.
Bodohnya masih tersenyum saja ku saat kau sapa.
Lelah, tapi hanya bisa kuumbar di dunia maya.
Lalu kau tahu dan kau marah.
Bingung juga, sebenarnya siapa sih yang salah?
Mendadak bodoh begini jika bersama
Oh ya, masa cinta itu buta?
Kalau kubilang aku menyukaimu dari bau parfummu, apa berarti cintaku sudah tidak buta?
Oh ya, katanya kau suka buang-buang harapan ya?
Pada si itu, si anu, di sini, di sana.
Jadi aku juga salah satu buanganmu?
Atau jangan-jangan hanya mereka yang dengan tololnya menerima harapan.
Oh ya, kau sedang menjauhiku ya?
Bagaimana? Enak?
Nanti jika kita bertemu kan kutunjukkan mataku yang sembab.
Sembabnya karenamu. Bangga kan?
Bangga kan berhasil menyakiti wanita?
Oh ya, apa sih yang membuatmu jaga jarak?
Katanya karena dia ya?
Daripada percayaiku, kamu malah menelan bulat-bulat kata-katanya?
Aku rindu, dasar pria!
Rindu padamu selalu berhasil membuatku gila!
Menatap foto kita, lalu tertawa hampa.
Tawanya kok menyakitkan ya?
Mendadak merasa seperti anak-anak
Roman picisan yang cukup membuatku tak tahan
Mau berlari, tapi aku baru ingat kakiku ya kamu
Mau menatapmu, tapi saat kamu lewat mataku berasa gelap.
Bodoh!!!
Harga diriku mendadak terjun bebas saat menatapmu
Peganganku seakan rapuh saat kau tersenyum
Nafasku seakan tercekat saat merasakan bau parfummu.
Bodoh, bodoh, bodoh.
Ingin menyeretmu keluar dari otakku, syaraf-syarafku menegang saat aku lelah berusaha.
Lalu otakku mati.
Lalu tak ada lagi yang bekerja.
Kupikir artinya kamu juga hilang.
Nyatanya tidak, aku masih merasakanmu di degup jantungku.
Ku ambil jantungku, kubuang.
Kuharap kamu terbuang bersamanya.
Lalu semenit kemudian aku merasakanmu lagi. Kucari-cari di mana kamu.
Ternyata kamu di jiwaku.
Ternyata kamu separuh aku.
Oke, bodoh kuadrat.
Kukemas barang-barangku. Kubuang tentangmu. Ku berjalan keluar.
Aku dalam proses menuju perpindahan

Thursday, 20 September 2012

The Tale of Hoam Kingdom - 12. Hero (?)

Ada sesuatu yang memaksa mataku terbuka. Sesuatu yang dingin.
“Kau sudah sadar? Kau baik-baik saja?”
Ah? Aku benar-benar berusaha membuka mataku dan menemukan sesosok perempuan sedang mengompres lukaku dengan es batu. Perempuan itu berparas ayu dan berumur sekitar kepala tiga. Badannya kurus kering. Terdapat lipatan kehitaman di sekitar bawah matanya. Orang ini pasti stress sekali.
“Bibi siapa?” tanyaku pelan.
“Namaku Shab.” Ia tersenyum manis sekali, “siapa namamu?”
Duh. Haruskah aku jujur? Tidak ada lagi yang bisa kupercaya di sini. Sudah cukup aku dijadikan bulan-bulanan oleh si brengsek Dharma itu.
“Baiklah kalau kau keberatan memberitahukan namamu.” Bibi Shab kelihatannya biasa saja, “lukamu sakit?”
“Sedikit. Terima kasih, bibi.”
“Tidak perlu. Aku yang berterimakasih padamu. Aku sendiri di sel ini selama puluhan tahun, kau tahu? Bersyukur juga sekarang aku punya teman.”
Maksudnya dia bersyukur aku masuk penjara? Terimakasih sekali, lho.
“Apa aku sudah lama di sini?” tanyaku lagi.
“Kau pingsan seharian penuh. Kukira kau sudah mati.”
Beruntung sekali aku belum mati.
“Istirahatlah lagi.” Ia memberiku sebuah selimut lusuh, “semakin malam akan bertambah dingin. Pakailah ini.”
Aku menyentuh selimut lusuh itu. Sepertinya tidak ada gundukan kain yang bisa dijadikan selimut lagi untuknya, “dan bibi memakai apa?”
“Tidak perlu. Aku sudah terbiasa menahan dingin di sini.”
Lagi-lagi kuamati dia dari atas ke bawah. Kulitnya terlalu pucat. Bibirnya bergetar menahan dingin. Pelan-pelan kudengar gemeletuk renyah dari dalam mulutnya.
Benarkan dia sudah terbiasa?

Sunday, 9 September 2012

Konfirmasi aja sih. Nggak dibaca juga noprob ._.


Hmm... jadi gini.
Ada yang bilang aku niru blog-nya dwitasari. Awalnya aku cegek. Hah? Dwitasari? Sopo maneh iku -_-
Well, aku tau dia ngeksis di twitter sama punya akun soundcloud yang dia pajang di web twitternya. Terus aku penasaran. Terus aku googling. Terus aku nemu blog-nya dwitasari. Terus aku klik. Dan ternyata, emang isinya sastra sastra yang (pastinya lah, hellooo???) jauh lebih bagus daripada punyaku. Ya. Hidup emang nggak adil.
Tapi konfirmasi aja nih aku sama sekali nggak ada niat buat niru gaya nulisnya dwitasari, atau siapapun. Satu-satunya inspirasiku buat nulis itu Aoyama Gosho. Iya sih dia emang mangaka. Tapi bodo amat! Pokoknya aku suka nulis gara-gara papa Aoyama Gosho. Titik.
Satu lagi, aku bikin gulajawadua ini sebelum tau dwitasari ._. iya sih aku tau aku kamseupil iyuwh. Tapi kan aku browsing biasanya buat twitteran, pesbukan, blogging, ato semacamnya. Bukan buat nyari-nyari blog orang -_- jadi aku bener-bener nggak ada niat buat plagiat gayanya dwitasari si blogger terkenal itu. Dibilang plagiat aja aku nggak pantes. Yonek aku uoke ngono -_- pokoknya nggak ada niat plagiat apapun. Titik.
The last but not least, ini blog sebenernya buat tugas TIK. Jadi aku bikin blog bukan buat ngeksis -_- nanti kalo tugas TIK selesai mungkin blog ini juga selesai. Pengennya sih enggak, tapi gatau lagi -_- intinya gitu.
Oke makasih udah baca ini J makasih juga kalo udah baca all of gulajawadua =)) sori Cuma bisa bikin ribut L bye~

Kata Mereka, Aku Mencintai Orang yang Salah


Kata mereka, mencintaimu adalah suatu kesalahan. Tapi lebih bersalah mana, mencintai orang yang salah atau menyalahkan orang yang mencintai?
Karena terkadang, kebenaran itu mulai tabu.
Mereka berkata aku buta karena mencintaimu; tapi aku berkata pada mereka kalau merekalah yang salah menilaimu.
Mungkin karena silaumu membutakanku.
Atau mungkin karena mereka benar-benar salah menilaimu.
***
Seperti lagu, baik itu relatif. Ya, mungkin ini jawaban yang paling tepat.
Aku mencintaimu karena kau membutakanku dengan pesonamu, menutupiku tentang burukmu.
Salahkah?
***
Seperti lagu, baik itu tergantung dari sudut pandang. Ini juga jawaban yang lumayan.
Aku melihatmu, aku melihat matamu, aku temukan damai di sana. Tapi aku belum melihat dari sisi yang sama dengan mereka; yang berkata bahwa kau bukan untukku.
Salahkah?
***
Seperti lagu, baik itu sulit.
Aku tak bisa memaksamu jadi sempurna. Sama seperti kau yang menekanku bahwa denganku yang seperti inipun kau baik-baik saja.
Mungkin kita harus lebih saling memahami.
Atau mungkin mereka yang harus mengenalmu lebih jauh.
Atau mungkin  aku yang harus mengenalmu lebih jauh.
***
Beri satu alasan jelas mengapa aku tidak boleh mencintaimu. Aku tidak akan lagi mencintaimu.
***
Tuhan, beri aku satu jam saja untuk mengenalnya tanpa atas nama perasaan. Tunjukkan padaku satu saja mengapa mereka menganggapku salah.
Aku akan berhenti kalau aku cukup punya alasan.
Karena cinta bukan hanya dari sisi baik saja. Kan?

Tuesday, 4 September 2012

The Tale of Hoam Kingdom - 11. Liar


“Kezia?”
Seseorang menarik tanganku lembut. Aku menoleh.
Dharma.
“Kenapa kau disini?” ia menggenggam tanganku, “dingin sekali tanganmu.”
Refleks aku melepas genggamannya—entah refleks itu berproses di otakku sebelah mana, “aku baik-baik saja. Aku sangat lelah. Aku akan pulang sekarang.”
“Pulang? Kemana?”
“Ke penginapanku tentu.”
“Tidak perlu,” Dharma tersenyum, “mulai malam ini kau akan tinggal di istana sampai kita bersama-sama kembali ke kerajaan Hoam dan aku melamarmu.”
Rasanya hal itu tak menarik lagi.
“Kezia?” Dharma menatap mataku dalam-dalam, “kau menangis.”
Aku tak menjawab. Itu pernyataan, bukan pertanyaan.
“Ada apa? Ada masalah? Kau sangat aneh tadi. Kau tiba-tiba keluar hall dan—“
“Aku lelah.” Aku memutus pembicaraan dengan sadis, “kalau kau memberiku tempat istirahat, lebih baik kau cepat-cepat antarkan aku kesana.”
Dharma hanya menghela nafas. Dia sudah sadar bahwa moodku sedang anjlok, mungkin, “oke. Akan kuantarkan.”
***
For your information, istana Kerajaan Salju ini terlalu sempurna untuk dibilang istana, namun (mungkin) terlalu kecil untuk dibilang surga. Istana ini mungkin 10 kali lipat lebih besar dari istana kerajaan Hoam—belum dihitung main hall yang dipisah dan tetek bengek lain! Dari depan kita sudah disambut dengan pohon-pohon berbatang beku yang dipahat bermacam-macam. Dan di main yard-nya,  sebuah air mancur dengan patung es raksasa bergambar simbol kerajaan Salju yang mewah sekali.
Envy to the max.
“Ini kamar Nona,” dayang itu menunduk sopan, “jika Nona butuh apa-apa, silakan panggil saya. Nama saya Nadia—“
“Kamu pembawa acara tadi kan?”
“Betul Nona,” ia terlihat kurang suka saat aku memutus perkataannya, “jadi, silakan Nona panggil saya. Saya akan selalu di depan kamar Anda.”
“Oke,” aku akan masuk saat menyadari sesuatu, “tunggu dulu. Selalu katamu?”
“Benar, Nona.”
“Apa maksudmu?” nadaku pasti terdengar menuduh, “kau mengawasiku?”
“Tidak, Nona,” Nadia menggeleng masygul, “saya diperintahkan oleh Pangeran untuk menjaga Anda selama Anda di sini.”
“Aku bukan anak kecil. Aku tak perlu dijaga.” Kataku sinis sambil masuk dan menutup pintu kamar cukup keras.
Tanpa mengganti gaun, aku langsung merebahkan diri di kasur empuk dan indah itu. Kelebatam kejadian hari ini seakan terproyeksi dalam langit-langit kamar, membuat rasa marahku semakin menggila.
Aku marah pada diriku sendiri.
Mengapa aku berbohong? Mengapa aku berpura-pura menyakitinya? Tidak, sekarang aku benar-benar menyakitinya dan itu membuatku makin terluka. Demi apa sih semua ini? Kerajaan? Kerajaan yang bahkan tidak mengizinkanku memilih? Tidak. Jika aku bisa mati lalu bereinkarnasi dan aku boleh memilih. Aku ingin hidup sebagai orang bebas. Bebas hidup, bebas menentukan pilihan,  bebas jatuh cinta...
Bagus! Kelenjar air mataku bereaksi lagi! Aku menangis sepelan mungkin, tak ingin Nadia—entah masih ‘menjaga’ku atau tidak—mendengar suara tangisku. Cukup begini. Cukup tau.
Tidak, Kezia. Kau tidak boleh begini. Kau milik seseorang sekarang. Berhenti menjadi lemah begini!
***
Keesokan paginya.
Aku terbangun karena mendengar ketukan di pintu kamarku, “siapa?”
“Saya, Nona.” Suara Nadia terdengar dari balik pintu, “sarapan?”
“Ya.”
Nadia membuka pintu dengan sopan sembari membawa beberapa nampan. Ia lalu menatanya dan menjelaskan, “sarapan hari ini adalah full english breakfast; telur goreng, sosis, black pudding, jamur, kacang, hash brown, dan tomat. Untuk minumnya, kami menyiapkan susu sapi hangat yang diambil langsung dari peternakan sapi kerajaan.”
Aku hanya mengangguk samar dan mencoba mengumpulkan nyawa. Dengan segera kusadari perhatian Nadia tertuju pada mataku walah ia berusaha menyembunyikan keingintahuannya.
Tanpa diberitahupun aku juga paham. Mataku pasti sembab sekali.
“Ada lagi yang perlu saya siapkan, Nona?” tanya Nadia sopan.
“Tidak ada.” Aku duduk dan bersiap menyantap sarapanku, “oh tunggu. Siapkan air hangat, tolong.”
“Baik, Nona.” Nadia membungkuk sopan dan pergi.
Aku menatap sarapan full-ku dengan tatapan kosong. Rasanya aku cukup kenyang untuk tidak sarapan hari ini. Aku meninggalkan piringku dan berjalan keluar untuk melemaskan otot-ototku yang kaku. Lega juga Nadia tidak mengawasiku seperti tadi malam.
Aku mendengar seekor kucing mengeong pelan dan mengusap-usap kakiku. Aku mengamatinya. Kucing itu dekil dan kurus.
“Hei,” aku tersenyum pada kucing ini, “kau lucu sekali. Mereka memeliharamu?”
Bodohnya aku berbicara dengan hewan yang hanya bisa bermanja-manja. Lagipula... dilihat dari penampilannya yang mengenaskan aku rasa ia bukan peliharaan. Eh tunggu dulu. Daripada Nadia tahu aku tidak memakan sarapanku, lebih baik...
“Aku akan memberimu makan. Tunggu sebentar.” Aku segera kembali ke kamar dan mengambil susu dari Nadia tadi, lalu meminumkannya kepada si kucing, “kau pasti haus kan?”
Kucing itu tak menjawab. Terlalu sibuk dengan susunya. Aku merasa geli sendiri.
“Nona?” tiba-tiba aku mendengar suara Nadia di belakangku, “apa yang Nona lakukan?”
Ah, sial! Aku segera berdiri dan menoleh padanya. Gelas susu itu masih ditanganku seakan aku baru saja meminumnya, “menyelesaikan sarapanku.”
“Oh.” Nadia menatap gelas susu yang kubawa, lalu pandangannya beralih ke arahku. Aku merasa sedang dironsen atau semacamnya.
“Ada apa?”
“Tidak, Nona. Saya sedang melakukan tugas saya untuk menjaga Anda.”
Cih, “dimana Dharma? Aku belum melihatnya sepagian ini.”
“Ah, anu,” Nadia terlihat... gugup? “Pangeran sedang mengadakan pertemuan dengan perangkat penting kerajaan. Tidak bisa diganggu.”
“Aku bertanya dimana dia. Bukan apa yang ia lakukan.” Mataku menyipit curiga. Nadia tampak salah tingkah.
Aku merasakan ada sesuatu di sini.
“Anu, Nona,” Nadia mencoba memperbaiki kesalahannya, “Pangeran ada di—“
“Aku cari sendiri.” Tanpa memperdulikan Nadia aku segera berlari mencari Dharma. Tadi malam Dharma sedikit menceritakan tentang istananya, termasuk letak kamarnya. Untung saja meskipun aku tidak sepenuhnya mendengarkan, paling tidak aku masih ingat. Aku menuju kamar Dharma.
Penjagaan di sekitar kamarnya ketat sekali. Membuatku penasaran.
Aku melihat seorang pelayan membawakan makanan menuju kamar Dharma. Dengan berpura-pura akrab, aku langsung menyapanya.
“Hei!” aku menepuk pundaknya.
Pelayan itu melirikku sedikit, “siapa kau?”
“Aku pelayan baru. Mereka bilang dapur kebakaran! Kau harus segera ke sana!”
“Hah?” pelayan itu menyerngit, “aku tak bekerja di dapur. Dapur bukan urusanku.”
Krikkrik.
“Tapi mereka menyuruhmu—“
“Sudahlah! Kau pelayan baru berani sekali bertingkah sok akrab? Aku sibuk!” pelayan itu akan melanjutkan perjalanan saat aku mencegatnya.
“Memang ada apa sih di kamar Dhar—maksudku Pangeran? Ramai sekali?”
“Lho? Kau tidak tahu? Dasar bodoh!” cibirnya, “kerajaan Salju akan menyerang Kerajaan Hoam. Sepertinya mereka sudah berniat membunuh putri kerajaan Hoam. Entahlah. Aku belum pernah melihat putri kerajaan Hoam.”
Petir seakan menyambarmu, “ma, maksudmu apa?” membunuhku dia bilang?
“Kita akan mengirim bala tentara kesana secara mendadak, lalu kerajaan Salju akan menguasai kerajaan Hoam lagi seperti dulu. Kau tidak mendengar orasi Pangeran Dharma saat diangkat sebagai Putra Mahkota?”
Aku melongo makin parah. Apa ini? Maksudnya apa?? Tidak! Aku tidak akan percaya sebelum mendengar sendiri!!!
“Sini kau!” Aku menarik pelayan itu kasar ke tempat yang tidak menjadi pusat perhatian para pengawal, lalu dengan mendadak kupukul keras perut pelayan itu.
Pelayan malang itu sukses pingsan. Maaf deh.
Aku lalu cepat-cepat mengambil baju dan nampan camilan yang ia bawa—ya, aku membiarkannya nyaris telanjang. Masa bodoh lah—dan pergi ke balik pohon untuk menyamar menjadi pelayan.
Lima menit kemudian, aku sukses menjadi pelayan. Tak lupa kugunakan cadar agak Dharma tidak mengenaliku.
Semoga ia tidak mengenaliku.
***
Aku mengetuk pintu dengan sopan ala pelayan kelas satu. Para pengawal tidak curiga sepertinya.
“Ya?” kudengar suara Dharma dari dalam.
Aku berdeham pelan untuk menyamarkan suara dan, “camilan.”
“Masuk.”
Diiringi lirikan dari para pengawal, aku masuk ke kamar Dharma.
Dharma sedang mengobrol serius dengan lima orang lelaki. Sangat serius. Perlahan kudekati mejanya dan menata camilan.
“...kita bisa serang secepatnya.” Kata salah satu dari lelaki itu. Ia berperawakan gagah, “Pengawas sudah memberikan makanan beracun kepada Putri Kezia. Sekitar lima belas menit setelah memakannya, seharusnya dia mati.”
Jantungku berdetak lebih keras. Bayangkan saja bagaimana rasanya jika seseorang membicarakan rencana pembunuhanmu tepat didepanmu.
“Ide bagus. Segera siapkan pasukan.” Dharma menanggapi (aku nyaris pingsan mendengarnya), “tapi jangan umumkan pada mereka bahwa Kezia sudah mati. Bilang saja kita menyanderanya. Dan imbalanya, mereka harus menyerahkan kerajaan Hoam.”
Aku merasakan tanganku bergetar saat meletakkan sebuah apel segar.
“Berapa pasukan yang kira-kira dibutuhkan?”
“Hmm,” Dharma menyangga dagunya untuk berpikir, “kerahkan seluruh pasukan junior. Mereka tidak ada persiapan, pasti susah. Jika mendesak, baru keluarkan pasukan senior. Tapi kurasa itu takkan terjadi.”
Mataku mulai panas. Sekali.
“Hei, kau!” salah seorang lelaki tamu Dharma membentakku, “lama sekali hanya menyusun buah seperti itu? Dasar bodoh! Keluar!!”
“Ma, maaf.” Aku segera menunduk dan berjalan cepat keluar dari ruangan itu. Pandanganku mengabur. Di luar, penjaga yang melihatku setengah berlari menatapku dengan penasaran.
Tidak! Jadi begini?? Dharma dan seluruh istana ini hanya menjebakku? Sebegitu bodohnya aku?? Yang aku niatkan adalah menyelamatkan negaraku, kerajaanku, tapi yang kuperbuat malah...
Dengan bergegas aku berlari kembali ke kamarku. Dan di depan pintu kulihat pemandangan itu...
Kucing yang kuminumkan susu tadi menggelepar, mati, dengan busa di mulutnya. Aku mencium bekasnya.
Racun sianida. Jadi mereka memasukkan sianida ke susu untukku sarapan tadi? Mereka benar-benar berniat membunuhku??
Dengan panik, aku langsung mencari jalan keluar. Tapi penjagaan sangat ketat, aku takkan bisa keluar.
Lalu?
Aku berpikir keras—meskipun pikiranku sedang tidak jernih. Aku terlalu takut untuk berpikir.
Tunggu. Yang paling penting adalah memperingatkan seluruh kerajaan apa yang terjadi. Surat! Aku harus mengirim surat!!
Pasti di dala istana ini ada pos burung dara. Dengan sisa-sisa keberanian yang nyaris dikubur putus asa, aku segera mencari kandang mereka.
Sekarang pikir. Di mana istana besar ini membangun kandang untuk burung dara? Di tempat yang memudahkan mereka terbang keluar.
Tapi dimana? Aku menoleh kanan kiri untuk mencari tempat strategis seperti itu.
Bingo! Menara! Aku langsung berlari menuju menara istana super megah kerajaan Salju.
***
Dan butuh waktu lima belas menit untukku menaiki puncak menara. Itupun kakiku rasanya mati rasa.
Tidak! Aku harus berjuang! Kerajaan Hoam tidak boleh jatuh ke tangan orang-orang serakah seperti mereka!
Aku mengambil perkamen dan pena, lalu menuliskan pesan singkat.
“Ragnarok. Loki dari danau beku. Usir!”
Semoga Kania ingat dongeng-dongen dari Ibunda sewaktu kami kecil. Tentang dewa-dewa mitologi Eropa Utara itu.
Kania. Cuma dia yang bisa benar-benar mengerti aku. Aku membutuhkannya saat ini.
Dengan penuh doa kuikatkan perkamen itu pada kaki salah satu burung dara, mengatakan tujuanku, dan melepaskannya ke luar.
Tapi bagaimana kalau ada pemeriksaan? Harus ada surat yang lebih mencolok... ah!
Aku lalu mengambil perkamen lagi dan menulis surat kedua;
“Ayah, kerajaan Salju akan menyerang kerajaan kita! Cepat siapkan pas...”
Tulisanku terhenti saat aku merasakan pukulan keras menyakitkan dari belakang. Keseimbanganku hilang mendadak, membuatku tersungkur ke lantai. Sesuatu yang hangat mengalir dari belakang kepalaku.
Darah.
“Kau tahu, Kezia?” sepasang kaki mendekatiku. Kemudian pemilik kaki itu berjongkok dan menatapku dengan tatapan mencela, “Orang bisa mati karena terlalu banyak tahu.”
Sialan! Dharma!
Kepalaku makin terasa berat, berputar, lalu... gelap...

 (to be continued)

Monday, 3 September 2012

Rumah Siput


Saya, rumah siput pemaksa kehendak.
Saya, tak menginginkan siput saya melepaskan saya sebelum saya bisa dilepas sendiri.
Saya, rumah siput yang takut kerut.
Saya, terlalu takut melihat dunia sendirian.
Karena yang saya yakini, dunia diciptakan bukan buat menampung saya sendirian.
Saya ingin terus bersamanya.
Persahabatan palsu yang  saya jalani bertahun-tahun.
Persahabatan palsu yang membuat siput saya jemu.
Hal yang kami jalani meski beda persepsi.
Hal yang kami jalani meski kami tak pernah satu hati.
Senyum yang kami sungging meski tak pernah manis.
Kapan cerita ini usai?
Kapan awan menyentuh mega?
Kapan laut bercampur tawar?
Kapan bulan merengkuh bumi?
Kapan? Kapan? Kapan?
Setiap tadahan tangan kutanyakan itu pada Tuhan.
Mungkin waktu nanti yang kan memberi jawaban

Sunday, 26 August 2012

The Tale of Hoam Kingdom - 10. It Hasn't Been Possiblity, Then...


Keesokan harinya…
Aku masih memainkan gulungan itu dengan jari-jariku, melamun.
“Jatuh cinta, Nona?”
Eh??!!!! Refleks aku menoleh. Ternyata Rani yang sedang membersihkan kamarku mengamati sedari tadi.
“Tidak,” jawabku kalem, “biasa saja.”
“Aku tahu penyanyi kemarin itu tampannya dunia akhirat,” Rani melanjutkan merapikan meja rias, “tapi… kupikir Nona tidak semudah itu beralih ke lain hati.”
“Entahlah, Rani,” aku masih memainkan gulungan itu, “senyumnya terlalu menghipnotis.”
“Lalu bagaimana dengan lelaki Nona yang koma?”
Tanganku berhenti. Tiba-tiba saja aku teringat Deden. Dia sudah bangun atau belum? Apa yang dia lakukan sekarang? Rindukah ia padaku? Berniatkah ia mencariku? Aku melamun lagi. Jadi, kalau aku suka Deden, lalu Rama?
“Mungkin aku hanya sekedar kagum pada Rama karena suara dan senyumnya,” putusku akhirnya. Aku tidak tahu belahan otakku yang mana yang mencetuskan pikiran begitu.
“Jadi?”
“Perasaannya berbeda,” aku mengamati gulungan itu kembali, “dag-dig-dug-nya berbeda. Kalau Rama… kurasa hanya seperti fans yang bertemu idolanya.”
“Kalau lelaki anda?”
“Aku sangat takut kehilangan dia,” kusangga kepalaku dengan tangan, “tapi di saat seperti ini, mungkin aku memang sudah kehilangan dia.”
“Lhooo jangan galau lagiiii!” Rani berkacak pinggang, cemberut, “ah, begini saja. Datang saja ke pesta itu. Rama mengundangmu ikut kan?”
“Mmm?” aku mengibaskan undangan itu di depan mataku, “pesta ini?”
“Iya.” Rani girang, “nanti malam, biar saya yang mendandani Nona.”
Aku mengangkat sebelah alis.
***

Well,


I think it has been a long tiiiiime I didn’t update my blog -_- many things has happened; I lost my modem, I went to Magelang, and another blaablaa… oh yes, my phone has broken too. Good job for meee -_______-
Because I get a suit time so…
HAPPY EID MUBARAK
MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN, I BEG FOR FORGIVENESS
Hahaha
Then, I got this picture from @triaaak. Interesting!



That’s all. Next I’ll continue that serial. Hope you like it =))

Wednesday, 15 August 2012

The Tale of Hoam Kingdom - 9. That Angel's Voice


Messy meringkik berkali-kali. Aku menghela nafas berkali-kali pula.
“Aku juga benci berjalan sendirian, Messy,” tanggapku, “lagipula sebentar lagi kita sampai di Kerajaan Salju. Kita bisa cari penginapan di sana.”
Ya, aku tidak basa-basi soal sebentar lagi kami sampai. Aku bahkan sudah memakai mantel tebal karena kedinginan.
Kerajaan itu dinamai Kerajaan Salju bukan tanpa alasan ternyata.
Tidak berapa lama, ada sebuah benteng yang begitu besar melingkar. Lalu ada penjaga-penjaga di sisinya.
“Tunggu sebentar, Nona,” dua diantara mereka memeriksa bawaanku, “Anda berasal dari mana?”
“Kerajaan Hoam.”
Para pengawal itu saling pandang. Aku sempat takut sendiri sebelum akhirnya pengawal selesai memeriksa bawaanku, “silakan, Nona.”
Aku mengangguk berterimakasih, lalu masuk ke Kerajaan Salju. Dan sukses aku melongo.
Kerajaan itu begitu indah, seperti yang aku baca di buku-buku dongeng bergambar. Setiap orang-orang yang aku temui selalu tersenyum, memaksaku ikut tersenyum juga. Semacam Negara bahagia.
Tak berapa lama berselang, aku melihat sebuah penginapan mewah. Sudah kuputuskan, aku akan berhenti menyamar. Toh, tujuanku memang datang kesini. Aku langsung menuju penginapan mewah itu dan memesan satu kamar. Messy beristirahat dengan tenang di ‘kamar’nya, begitupun aku.
Tiba-tiba ada seseorang mengetuk pintu kamarku. Aku mengintip dari lubang pintu.
“Layanan kamar, Nona,” seorang wanita berseragam pelayan yang membawa nampan tersenyum kepadaku. Aku membukakan pintu untuknya dan dia masuk ke kamarku sembari meletakkan nampannya.
“Tunggu,” cegahku saat dia bergegas keluar dari kamarku. Aku lalu melihat badge nama di bajunya. Ternyata namanya Rani.
“Iya, Nona?”
“Temani aku di sini, sebentar saja.” Nadaku lebih ke memohon daripada memerintah.
“Ah?”
“Aku baru saja patah hati. Coba saja bayangkan.”
Rani menatapku agak lama, lalu ia menghela nafas penuh pengertian, “saya bisa mendengarkan cerita Anda kapan saja, Nona.”
Aku tersenyum padanya. Mencari teman tidak pernah semudah ini!
***

Sunday, 12 August 2012

The Tale of Hoam Kingdom - 8. Goodbye is The Real Pain


Malam harinya, di puing-puing penginapan Pioneer.
Aku meringkuk terdiam, menghindari sorotan cahaya. Samar-samar kudengar langkah seseorang.
Sasaranku datang.
“O, orang itu kan…”
“Sssh!” aku member Noor isyarat untuk tenang. Tanpa peneranganpun aku tahu Noor sekaget apa.
“Apa benar dia pelakunya?” bisik Noor pelan.
“Kalau dugaanku benar bahwa dia mencari itu, berarti memang dia pelakunya.”
Noor tidak berkomentar lagi. Aku memicingkan mata untuk melihat lebih jelas apa yang orang itu lakukan.
Orang itu mengambil sesuatu. Sesuatu yang sesuai dugaanku. Ampul.
“Well, kita selesaikan saja sekarang.” Aku keluar dari tempat persembunyianku, “sepertinya kau salah ambil ampul, Tuan Tabib.”
Garis wajah tabib itu langsung kaku, “apa yang kau lakukan di sini?”
“Mencari bukti bahwa kau pelakunya,” tiba-tiba saja amarahku bergejolak, “kau yang membakar penginapan ini kan?
***

The Tale of Hoam Kingdom - 7. Detecting


Aku mencium bau sesuatu yang tajam. Semacam minyak. Mataku meragu untuk kembali terbuka.
“Kezia?” aku mengenali suara ini. Noor, “kau baik-baik saja?”
“Hmm?” pandanganku mulai jelas. Noor, Laras, si Kembar Tiga…
Deden mana?
“Deden selamat kok.” Noor menjawab pertanyaan yang bermunculan di otakku.
Mataku melebar.
***

Saturday, 11 August 2012

The Tale of Hoam Kingdom - 6. Disaster


Aku masih tegang. Mengapa dia begitu jujur dengan hal ini? Apa dia tahu kalau aku….
“Pesek!” wanita telur itu mendorongku begitu kuat sampai aku nyaris terjengkang, “kau melamun? Bodoh.”
Aku menggerutu, “aku lebih suka dipanggil bodoh daripada pesek.”
Wanita telur itu mengangkat bahu, “ya sudah. Coba saja baju itu. Kalau terlalu besar, akan kupermak untukmu.”
“Eh?” aku menatap gaun yang sedang kupegang, “ini serius buat aku?”
“Jangan sampai pertanyaan tololmu itu membuatku berubah pikir—“
“Eh iya iya!” aku tertawa renyah, “terimakasih wanita telur. Aku sangat menyukainya!”
“Mana ada orang yang tidak menyukai jahitanku.” Jawab wanita telur, datar, penuh nada kesombongan. Hhh… sabar Kezia, kamu harus sabar…
“Bagaimana caraku agar bisa berterimakasih?” nadaku sedikit—camkan ya, sedikit!—mencoba bersahabat.
Wanita telur itu menghela nafas super panjang, “dengan pergi dari sini. Bisa?”
“BUKAN YANG ITUUUUUU!” sepertinya batas kesabaranku mulai terkikis, “begini saja. Ajari aku menjahit, akan kubuatkan sesuatu untukmu. Ya?”
Wanita telur itu mengelus dadanya. Sepertinya kali ini giliran dia yang harus bersabar denganku.
***
Di luar mulai gelap saat aku menutup jahitanku.
“Selesaaaaaaai!” aku girang sekali melihat dua boneka kecil hasil jahitan tanganku—yang juga menyebabkan tiga luka tusukan jarum di tanganku.
“Hmm.” Respon menyebalkan dari wanita telur, seperti biasa. Aku sampai terbiasa karenanya.
“Ini untukmu.” Aku tertawa sembari menyerahkan satu boneka buatanku yang berbentuk seperti wajah wanita telur; sebuah telur yang kuberi mata dan bibir merengut. Mirip sekali!
Ia melihat boneka telur itu, “ini pemberian atau sindiran sih?”
“Dua-duanyaaaaa.” Tawaku makin keras. Wanita telur hanya melengos.
“Lalu boneka satunya itu untuk siapa?” wanita telur melirik boneka buatanku yang lain; cengir Noir ala Deden.
“Emm… ini anu—“
“Buat lelaki yang bersamamu itu ya.” Itu pernyataan, bukan pertanyaan, “kalian pacaran memang?”
“Eh tidaaaak!”
“Atau…” wanita telur menatapku dengan tatapan serius untuk pertama kalinya, “kau menyukainya ya?”
“TIDAAAAAK!” duuuh kalo responku sampai sealay ini…
“Aku tahu matamu berbohong.” Wanita telur mengangkat bahu dan melanjutkan jahitannya sendiri. Aku merasakan pipiku panas sekali.
“Coba saja katakan padanya dengan jujur,” lanjut wanita telur itu kalem, “sebelum kau tidak memiliki kesempatan untuk berbicara jujur lagi.”
Aku tercenung. Aku sendiri bahkan belum tahu perasaanku seperti apa.
“Hei, wanita telur,” aku mengamatinya lagi, “namaku Kezia. Kamu?”
Ia mendongak menatapku juga, lalu kembali melanjutkan jahitannya, “Noor.”
***
Aku sedang dalam perjalanan kembali ke kamar saat berpapasan dengan Deden.
“Kemana saja kau?” selidik Deden, “aku mencarimu daritadi. Tidak berminat untuk melanjutkan perjalanan?”
“Oh, tadi aku sedang bersama wanita tel—maksudku Noor.” Jawabku, “ayo kita melanjutkan perjalanan.”
Deden menghela nafas, “belum melihat ke luar jendela? Sudah malam. Di luar pasti gelap. Malah berbahaya.”
“Oh,” aku tertunduk, “maafkan aku.”
“Ah, tidak perlu.” Deden tersenyum, “kelihatannya kau banyak bersenang-senang di sini. Aku melihat orang-orang berlalu lalang dari kamarmu. Lagipula kau pasti shock juga setelah diculik seperti itu. Ada baiknya sedikit bersantai bukan?”
Untung saja dia mengerti aku. Aku mengangguk semangat.
“Kalau begitu perjalanannya kita lanjut besok saja.” Deden menguap, “aku ingin tidur—“
“Deden,” aku memutus kata-katanya, “aku punya sesuatu untukmu.”
“Hmm?”
Aku mengeluarkan boneka yang kubuat tadi dari saku bajuku dan memberikannya pada Deden, “ini. Aku membuatnya sendiri lho! Bagus tidak?”
“Lucu sekaliii!” Deden ikut tertawa, namun tawanya dengan cepat berubah menjadi kesal, “tunggu dulu! Jadi menurutmu selama ini aku mirip Noir?”
“Jadi kau baru sadar?” aku menjitak pelan kepalanya dan tertawa keras. Deden balas menjitak kepalaku. Lalu kami jitak-jitakan.
Aku merasa kembali jadi balita.
“Sudahlah. Sudah malam, aku akan tidur.” Aku menjitak kepalanya untuk terakhir kali, “simpan boneka itu baik-baik. Sudah kumantrai agar selalu melindungimu.” Aku menjulurkan lidah.
Deden mengamati bonekanya, “apa ampuhnya mantra dari wanita yang selalu mendapat kesialan sepertimu?”
Benar juga.
“Jangan banyak komentar!” aku mendelik, lalu berbalik pergi ke kamar—
“Tunggu, Kezia!”
“Apa?”  aku menoleh ke arah Deden lagi.
“Emm… sebenarnya,” Aku melihat tangan Deden menggenggam boneka itu lebih erat, “firasatku tidak enak. Sebaiknya jangan tidur di kamarmu.”
“Hah?” lelucon apa lagi ini? “lalu aku harus tidur di mana?”
“Tidur saja di kamarku.” Deden nyengir.
Krik…
“ENAK SAJA, DASAR CABUUUUUUL!!!!” aku menjitakinya dengan kesal berkali-kali, “mana sudi aku tidur sekamar denganmuuu???!!!!”
“Tapi aku serius! Perasaanku tidak enak!”
“Alasan! Modus! Alibiii!!!”
Tiba-tiba Deden mencengkram tanganku yang tidak berhenti menjitakinya. Aku melihat rahangnya mengeras. Dia marah?
“Baiklah. Kau tidur di kamarku. Aku akan tidur di kamarmu. Puas?”  ia melepas cengkramannya lalu berjalan pergi, memasuki kamarku.
Jadi… dia marah nih??
***
Aku memeluk guling. Sudah berjam-jam aku hanya memeluk guling di kamar Deden ini. Berkali-kali aku mencoba memejamkan mata, tapi gagal. Otakku tidak bisa berhenti memikirkan kemungkinan kalau Deden marah padaku. Duuuh, jadi aku harus bagaimanaa? Minta maaf?
Tapi kan salah dia sendiri mengajakku pindah ke kamarnya.
Tapi dia bilang punya firasat buruk?
Tapi tetap saja dia menyuruhku pindah ke kamarnya.
Tapi dia bilang dia benar-benar punya firasat buruk?
Aaaargh! Kenapa sekarang malah aku meracau di pikiranku sendiri sih??
Aku menghela nafas dan mencoba kembali tidur sambil memeluk guling erat-erat. Seiseng-isengnya Deden, aku tahu dia masih punya batasan. Seharusnya aku memang tidak sekasar itu padanya.
Lagipula Deden itu super baik. Aku tidak ragu soal itu.
Oke, sudah diputuskan. Aku akan minta maaf padanya besok. Dia pasti sudah tidur sekarang.
Aku menghela nafas lega, mencoba tidur, sampai…
Sebuah ledakan memekakkan telinga membuatku nyaris mati jantungan! Itu suara apa?
“Kebakaran!!” aku mendengar orang-orang di luar berteriak panik, “ada kebakaran!!”
APA??
Mati mati mati!! Aku harus bagaimana? Dengan panik aku langsung terbangun dan membuka pintu kamar.
Di sekeliling kamar aku melihat kobaran api tinggi; menutup seluruh jalan keluar. Panikku semakin menjadi.
“KEZIA!! KELUAR, CEPAT!!!”
Aku menoleh dan masuk kembali ke kamar, melongok keluar jendela. Noor terlihat panik juga dan member isyarat untuk menyuruhku… lompat?
“Tapi… tapi…”
“CEPAT LOMPAT, PESEK! KAU BISA MATI DISANA!!!”
Nafasku mulai terasa sesak. Tidak ada pilihan lain. Aku harus lompat.
Aku membuka jendela lebar-lebar. Orang-orang dibawahku melebarkan kain dan mengira-ngira kemana gravitasi membawaku turun.
“LOMPATLAH!” teriak Noor lagi, “kami akan menangkapmu!”
Aku mengangguk. Tuhan, lindungi aku…
Tanpa ancang-ancang berarti, aku melompat. Terombang-ambing sebentar oleh gravitasi dan…
“Kezia?” aku membuka mata, melihat Noor, Laras, dan si Kembar Tiga, “kau baik-baik saja?”
Aku mengangguk dan berdiri. Sepertinya ada yang kurang dari formasi ini…
“Tunggu dulu!” firasatku tidak enak, “Deden mana?”
Noor bungkam, Laras menggigit bibir, si Kembar Tiga berpandangan salah tingkah.
“Deden mana?” mataku mulai panas, “DEDEN MANA?? JAWAB AKU!!”
Tidak ada yang berani menjawab.
“DEDEEEN??” aku berteriak putus asa, “INI TIDAK LUCU! PERLIHATKAN BATANG HIDUNGMU DI DEPANKU SEKARANG JUGA!!”
“Ke, Kezia,” Ayu menahan tanganku, “dengarkan dulu.”
“Ledakan itu berasal dari kamarmu.” Saput melanjutkan dengan pemilihan kata yang sangat hati-hati, “Kau dan Deden bertukar kamar kan?”
Aku mengangguk, ngeri, tidak siap mendengar lanjutannya.
“Jadi… Jadi Deden lah yang terperangkap di kamar itu.” Ferdi melanjutkan lagi dengan suara lebih kecil, “kami tidak bisa menyelamatkannya. Jadi—“
Pandanganku memburam sebelum Ferdi melanjutkan kata-katanya.

(to be continued)
Free Mustache Blue - Pointer Cursors at www.totallyfreecursors.com