Rintik-rintik air berjatuhan di atas
kap mobil lelakiku. Aku hanya memandang tetes-tetesannya jatuh menelusuri kaca
jendela di sebelah.
“Dingin ya?” tanyanya sembari
menggenggam tanganku.
“Lumayan.” Jawabku jujur, “tapi
tidak sedingin winter.”
Lelakiku tertawa, “tentu saja.
Mentang-mentang baru pulang dari Amrik, yang kamu bicarakan sedari tadi negara
itu melulu. Kurang apa sih Indonesia?”
Aku hanya tertawa kecil tanpa
menanggapi. Hari ini otakku berat sekali. Apalagi saat mendengar kata
‘Amerika’, menyeretku ke dalam suatu kenyataan yang tak ingin kuingat. Berbagai
perasaan berkecamuk di dalam dadaku. Hari ini aku harus jujur padanya. Harus...
“Eh, sebelum kita pulang mampir cafe ayo. Dulu kita sering ke cafe ini kan?” godanya.
Otakku berputar lagi. yaah...
daripada membicarakannya saat ia menyetir dan membuat konsentrasinya buyar,
lebih baik aku jujur padanya di suatu tempat. Pokoknya aku harus jujur, harus.
“Accepted.”
Lalu dia berbelok ke cafe
langganan kami sejak SMA.
***
Ia menarik satu kursi untukku,
dengan view jalanan basah yang mulai
menggelap. Bisa kulihat bintang-bintang redup mulai menampakkan dirinya
menggantikan bintang siang; matahari.
“Nostalgia, eh?” ia duduk di depanku
sambil menopang dagu. Aku menoleh dan mengangguk kecil.
“Ingat saat kita kencan pertama,
begitu kaku, lalu kau mengajakku memberi nama ngawur pada setiap bintang yang
muncul?” Aku mengedipkan sebelah mataku.
Ia terlihat berpikir keras
mengingat-ingat—aku rasa itu hanya pura-pura—lalu menunjuk satu bintang dan,
“bintang itu kau yang memberi nama; Zeus.”
Aku tertawa, “yang paling besar dan
seakan berkuasa. Tentu.” Kini giliranku menunjuk satu bintang, “itu kau yang
memberi nama; sesuai namaku.”
“Yang paling biru, paling berpendar,
dan yang paling terang dari semuanya. Tentu saja itu kau.” Ia mencolek daguku
penuh sayang.
Aku bertanya ragu, “kalau... suatu
saat aku berubah merah, berhenti berpendar, dan menjadi yang paling tak
bersinar?”
Ia menatapku serius. Mata
kecoklatannya memberi sinar lembut menunjukkan ketulusannya, “aku akan
menerimamu apa adanya. Bahkan saat tanpa warna, tanpa pendar, dan tanpa
cahaya.”
“Kau serius?”
Ia meremas pelan jari-jariku.
Hangat, “aku tak pernah seserius ini. Kamu cinta pertama, dan akan aku jamin
menjadi cinta terakhirku.”
Aku tersenyum. Namun genggaman
tangannya terlepas saat seorang waiter memberikan
buku menu pada kami.
“Oh ya.” Ia membuka buku menu,
“Sayang, pesan apa?”
“Secangkir capuccino.”
***
Kami mengobrol panjang lebar. Aku
mencari celah dalam obrolan kami untuk membicarakan hal itu; jujur padanya.
Namun semua ini membuatku candu. Tak ingin aku merusak momen bahagia ini
setelah sekian lama tak bertemu karena aku jauh di lain benua selama beberapa
bulan.
“Ngomong-ngomong, kamu belum cerita
mengapa kamu pergi ke Amerika selama itu kan? Lima bulan. Bisa bayangkan betapa
rindunya aku? Apalagi kamu tak pernah mau kuajak webcam di skype.”
Ah ini. Ini saatnya aku jujur, “Ehm,
sebenarnya...”
“Permisi.” Seorang waitress membawakan secangkir capuccino
untukku, segelas american grande untuk lelakiku, dan dua slice rainbow cake untuk kami berdua.
“Aku tidak pesan rainbow cake.” Aku
menatap lelakiku bingung.
“Enak kok. Aku yang memesannya. Coba
saja.” Ia mengulum senyum. Aku curiga ada sesuatu di sini.
Dengan was-was kupotong slice-nya menjadi sepotong kecil, lalu
kumasukkan dalam mulutku. Perlahan, di balik kelembutan cake itu, kurasakan
sesuatu yang keras menghantam gerahamku.
“Dammit!”
aku segera memuntahkan benda keras itu dan ternyata... yang kugenggam
adalah sesuatu yang bundar dan berkilau.
Cincin.
Kudongakkan kepalaku padanya.
“Kita saling mengenal sejak SMP,
pacaran sejak SMA, dan kunanti pula kedatanganmu seberapa lama pun kamu pergi.”
Lelakiku tersenyum, “aku begitu mencintaimu. Sel-sel dalam tubuhku selalu
berusaha menarik tanganku agar mendekapmu. Sudah bertahun-tahun kita pacaran
dan yah... aku rasa memang that’s you. No
one else. Happiness which we feel till this second make me believe. Nothing can
subtitute you on my mind. And I think... you know... it takes too long to realize
but now, in this our favourite place, in the name of years we walkin’ together,
would you be mine forever after?”
Aku menatapnya tak percaya. Mataku
mulai terasa panas, “are you sure? That’s
me?”
“No-one-else.”
“Altough... I... I’m not as perfect as you think?”
“I think I’m not as perfect as you think too.”
“Altough...” aku
menunjuk bintang dengan namaku, “I’m not
like that star? I... I can’t bring your real happiness—“
“You are my truly happiness. Keep on your mind. I have no reason to love
you so I have no reason too to stop what I’ve begun first.”
Aku terdiam.
Mencari kejujuran dalam matanya. Namun ia balas menatapku seakan menantang; coba temukan bukti bahwa aku berbohong!
“Hei,” ia
mengangkat daguku lembut. Lalu ia mengambil cincin di tanganku, membersihkannya
dengan tisu, dan memakaikannya di jari manisku.
Cantik sekali.
Bias-bias cahayanya seakan menyemburkan tujuh warna terindah; merah, jingga,
kuning, hijau, biru, nila, ungu. Aku buta, aku terlena...
“Bagaimana
menurutmu?” ia membolak-balik jemariku, “cantik ya. Seperti kamu.”
Kutarik
tanganku pelan dari genggamannya, “kamu yakin mau menerima aku apa adanya?”
“Tentu.”
“Segala
kekuranganku? Cacatku?”
“Iya.” Ia
menatapku serius. Begitu yakin.
Aku menghela
nafas. Ya, ia jujur. Ia takkan menarik kembali ucapannya. Ia benar-benar
seorang lelaki, “kalau begitu, aku akan jujur.”
Ia membetulkan
posisi duduknya dan menatapku serius.
“Kamu tahu kan
aku ke Amrik berbulan-bulan. Aku tidak pernah mengatakan alasannya padamu. Dan
sekarang aku akan jujur.” Mulaiku berat, “aku... menderita kanker rahim.”
Hening awalnya.
Tiba-tiba ia tertawa keras, “jangan bercanda! Selama ini kau sehat-sehat saja—“
“Dengarkan aku
dulu.” Putusku tajam, “aku menderita kanker rahim. Satu-satunya jalan adalah
dengan mengangkat rahimku atau aku akan mati. Aku pergi ke Amerika karena
berharap di sana, nyawaku bisa selamat tanpa operasi pengangkatan rahim
namun...” aku menggeleng. Kurasakan sesuatu yang cair mengalir dari ujung
mataku, “mereka juga mengatakan bahwa aku harus mengangkat rahimku.”
Kulihat
ekspresinya mulai berubah.
“Aku hidup,
namun kini tak punya rahim. Jika kita menikah pun... aku tak bisa memberimu
keturunan.” Aku mencoba tertawa kecil, mencairkan suasana, “tapi kita bisa
mengadopsi anak kan? Well, anak itu urusan mudah—“
Tiba-tiba ia
memanggil waiter, meminta bill.
“Lho, kok...
tiba-tiba kita pulang?”
“Aku tidak
bisa.” Katanya dingin, “aku tidak bisa menikahi wanita yang bahkan tidak bisa
memberiku anak. Aku tidak bisa. Masih banyak wanita normal lain. Lagipula orangtuaku
tidak akan setuju kalau tahu hal ini. Aku tidak bisa. Maaf.”
“Tapi...
katamu...” aku gelagapan, bingung, merasa dipermalukan, “I’m your truly happiness? Kamu akan menerimaku apa adanya? Tanpa
warna, tanpa pendar, bahkan tanpa cahaya?”
“Apa adanya juga
punya batasan.” Ia membayar bill dan memakai jaketnya, lalu berdiri dan berjalan keluar. Membiarkan duduk,
terpaku, dan kalah.
Namun beberapa
langkah berselang, ia berhenti dan membalik badannya. Memberiku secercah
harapan. Apa tadi ia hanya bercanda? Apa ia akan menarik kata-katanya?”
Namun harapanku
musnah seketika tergantikan kemarahan amat sangat saat ia mengulurkan tangannya
di depanku sembari berkata, “bisa kuminta kembali cincin itu?”
Dibuat setelah membaca buku biologi, dan besoknya saya merasa cukup sukses di UAS biologi


