Hari
#16, 29 Januari 2013
Dear Sidoarjo,
Menulis surat
untuk kota? Ha!
Entahlah,
kadang tinggal di Sidoarjo merupakan hal yang paling kusesali sih. Kadang aku
menyesal sekolah di Sidoarjo. Kota ini benar-benar membuatku berantakan karena
well...
1.
Jauh dari temen SMP.
2.
Jarang ada mall.
3.
Banyak anak alay.
4.
Tidak ada bioskop.
5.
Tidak ada toko buku.
6.
Tidak ada toko buku.
7.
Tidak ada toko buku.
Ha!
Dulu saat orangtuaku memutuskan untuk ‘membuangku’
ke tempat terpencil nan membosankan, hal yang paling aku sesalkan adalah tidak adanya
toko buku seperti di Surabaya—aah, Gramex...
Apalagi waktu melihat sekolahku yang jauh
di bawah kriteria sekolah menyenangkan—sekolah macam apa sih yang tidak
mengizinkan muridnya membeli kipas angin?? Iya kalau tempatnya dingin bersalju
padahal... helloooo??
Tetapi semakin lama toh aku semakin
nyaman. Hmm... untungnya Tuhan memberi makhluk-Nya kemampuan beradaptasi. Hal
yang sangat aku syukuri sewaktu di sini...
1.
Tempat nongkrong sedikit. Penghematan jatah uang
mingguan.
2.
Pergaulannya menengah lah. Paling tidak aku
tidak ‘dipaksa’ untuk membeli SLR atau semacamnya kan?
3.
Banyak anak polosnya. Pergaulan sehat. Hmm...
4.
Masih banyak lahan kosong. Bisa hunting foto
dengan kamera 2MP dan hasilnya tetap bagus—dengan sedikit editan potosop. So what?
5.
Melatih untuk hidup ‘susah’. Yaah... di sekolah
tanpa kipas angin ini paling tidak memberiku gambaran apa yang akan terjadi
kalau aku tidak belajar rajin.
6.
Ada petis paling enak di seluruh dunia. Sampai
sekarang belum kutemukan petis seenak Sidoarjo.
7.
Ada 02.02. Okelah sekarang aku sedang ‘pindah’,
tetapi tidak bisa kupungkiri kalau dia juga salah satu hal yang paling kusukai
di Sidoarjo.
8.
Bisa jauh dari orang-orang yang tidak
diinginkan. Oke mungkin ini jahat. Tapi... lebih baik ‘menjauh’ daripada dekat
lalu menambah dosa kan?
9.
Bisa bertemu bermacam-macam orang dari
bermacam-macam kalangan. Disini kita tidak perlu susah susah sms dengan normal
karena masih banyak spesies yang sms-nya b3g1n1
10.
Jalanannya mudah dihapal. Sebulan tinggal di
sini dan aku sudah bisa menghapal dimana saja spot bakso yang enak.
11.
Apapun jadi murah. Karena disini nyaris semuanya
KW. Mau mencari Kick Denim asli? Pergi
jauh-jauh gih dari sini.
12.
Sekolahnya tidak full day. Yiiiipppiiiieeee!!!!
13.
Tidak macet. Masuk pukul 6.30 dan berangkat
pukul 6.15 tanpa telat? Bisaaa...
14.
Masih banyak gadis-gadis polos unyu yang belum
pernah pacaran (mungkin saja ada pria single di luar sana yang membaca ini, aku
mohon selamatkan mereka!)
15.
Dan ini yang utama. Banyak jomblonya. Serasa hidup
di rumah sendiri begitu.
Hmm... ternyata apapun kalau kita lihat
dari sisi positif juga terasa menyenangkan ya? Nah, ini juga
sindiran sih ya buat anak-anak Sidoarjo yang sok-sok Surabaya. Kalau kalian
terus-terusan memandang sisi negatifnya, selalu menghujat Sidoarjo berlebihan,
selalu bermimpi pindah ke Surabaya, apa mau aku bantu untuk menendang kalian
satu persatu ke Selat Madura?
At least, entahlah ini bisa disebut surat
cinta atau bukan. Tapi Sidoarjo, dengan lumpurnya, dengan kupang yang super
enak, dengan petis yang yummy, dengan 02.02 yang masih hidup dengan menyebalkan
dan bertengger di kelas sebelah, dengan pentol kharisma yang enak,
dengan es tebu yang segar, dengan perumahan-perumahan baru yang berjejer rapi,
adalah secuil surga dunia.
Salam cinta,
Nek aku arek Sidoarjo
kon kate lapo?