Dulu ketika aku masih kecil, ada
bendera kuning berkibar di depan rumahku. Kemudian aku bertanya pada ibuku apa
yang terjadi, dan beliau menjawab bahwa ada orang dipanggil Tuhan.
“Kenapa dia dipanggil Tuhan?” tanyaku
lagi.
“Karena Tuhan sudah merindukannya.”
Jawab beliau, “ia orang baik.”
“Jadi, orang meninggal karena Tuhan
merindukannya?”
“Tentu.”
Tapi berpuluh tahun kemudian, aku tahu
jawaban ibuku tidak sepenuhnya benar. Karena suatu hari aku terbangun tanpa raga
padahal semalam baru saja kutampar ibuku keras-keras, kudorong wanita tua itu
hingga menabrak tembok, lalu kutinggalkan tanpa peduli keadaan dan perasaannya.
Tuhan tidak akan merindukan gadis seperti
itu, bukan?
Jadi ketika tanahku terasa lebih
sempit dari seharusnya, saat liangku terasa lebih gelap dari pejaman mataku,
aku tahu bahwa ini janji Tuhan.
***
Manusia merencanakan banyak hal. Sejak
kecil guru TK sudah mengajariku untuk mengenal cita-cita. Guru TK bermuka sok
ramah itu pernah menanyaiku apa yang ingin kulakukan saat nanti sudah dewasa.
Dengan bangga kujawab aku ingin
menjadi Barbie dan menikah dengan pangeran tampan.
Lalu guruku memberi pengertian bahwa
aku tidak bisa menjadi Barbie, karena Barbie tidak nyata. Guruku memberi
gambaran tentang banyak hal yang bisa kulakukan saat aku dewasa; menjadi
dokter, menjadi presiden, menjadi pramugari, menjadi guru...
Tetapi aku tetap bersikeras menjadi
Barbie.
Kemudian di rumah ibuku bertanya aku
ingin menjadi apa, dan kujawab aku ingin menjadi Barbie.
Dengan lembut beliau mengusap rambutku
dan berkata, “kamu tidak perlu menjadi Barbie. Kamu bahkan lebih cantik
daripada Barbie. Barbie-lah yang ingin menjadi kamu.”
“Terus aku harus jadi apa?”
“Terserah kamu. Apa yang kamu sukai?”
“Aku suka lihat Barbie! Mereka
cantik-cantik. Aku suka Barbie.”
“Hmm...” ibuku tersenyum welas asih,
“Barbie mana yang kamu suka?”
“Yang bisa nyanyi.”
Oke. Hampir semua Barbie bisa
bernyanyi. Aku bodoh sekali.
“Kalau begitu...” ibuku sok berpikir,
“jadi penyanyi saja!”
“Ah, iya!” aku ikut girang, “saat dewasa
nanti, aku mau jadi penyanyi!”
Ibuku hanya tersenyum.
“Kalau ibu? Ibu mau jadi apa?” tanyaku
balik.
“Ah? Ibu sudah dewasa. Sudah tidak
pantas lagi memikirkan hal itu.”
“Kalau begitu... dulu ibu mau jadi
apa?”
“Apa ya? Dulu ibu mau jadi dokter.”
“Tapi kenapa sekarang ibu bukan
dokter? Kenapa ibu jadi ibuku? Jadi aku bukan rencana ibu?”
Ibuku menghela nafas, “manusia selalu
punya rencana, sayang. Tapi pada akhirnya Tuhan yang menentukan.”
“Apa ibu berencana membuatku ada tanpa
ayah?”
Mata ibu melebar sebentar, kemudian
dengan hati-hati beliau menjawab, “tentu saja tidak.”
“Kalau begitu... itu keputusan Tuhan?”
Sepertinya aku mengatakan hal yang
sangat salah. Karena di detik itu juga air mata ibuku langsung menetes hingga
deras
***
Ibuku banyak berbohong.
Ketika aku SD, aku pernah pulang
sekolah dan menangis karena teman-teman mengejek rambut keriting dan kulitku
yang hitam. Kata mereka aku jelek.
“Tentu saja tidak. Kamu sangat cantik.” Bela
ibuku setelah aku bercerita.
“Tapi mereka bilang aku jelek, tidak
seperti Barbie. Mana ada Barbie berkulit hitam dan berambut keriting? Padahal
aku ingin jadi Barbie!”
Ibuku menghela nafas sabar, lalu beranjak
pergi. Tak lama kemudian, beliau membawakan gambar Barbie berkulit hitam dan
berambut keriting. Barbie itu menggunakan headband
dan kalung aneh di lehernya, serta anting besar yang aneh juga.
“Tuh, siapa bilang tidak ada? Ada kok,
yang berambut keriting dan berkulit hitam.” Kata ibuku.
“Tapi... kok aku tidak pernah lihat?
Kok tidak pernah ada di TV?”
“Soalnya ini Barbie paling mahal di
dunia. Ini kan Barbie paling bagus.” Jawab ibuku. Aku hanya mengangguk takjub,
kemudian menyeka air mataku.
Yang waktu itu tidak kuketahui adalah,
Barbie itu adalah Barbie versi Afrika Selatan. Pantas saja susah mendapatkannya
di sini.
Ibuku berbohong.
***
Dan aku ingat, malam itu ibuku juga
berbohong.
Ketika beliau menolak keras
keinginanku untuk menjadi penyanyi.
“Tapi ibu sendiri yang menyarankanku
untuk menjadi penyanyi!” bentakku penuh amarah, “sekarang ibu melarangku?
Maksud ibu apa?!”
“Ibu tidak mau kamu berhenti sekolah
hanya untuk menjadi penyanyi! Keliling cafe sana sini, padahal belum tentu kamu
berhasil? Memang kamu merasa suaramu begitu bagus? Sejak kecil semua orang juga
tahu kamu tidak bisa menyanyi!”
“Tapi ibu selalu mengiyakan semua
cita-citaku! Ibu bilang aku bisa menjadi penyanyi seperti Barbie!”
“Kamu terlalu lama menjadi anak kecil!
Hidup ini bukan dunia Barbie, kapan kamu bisa mengerti?! Kamu bukan anak kecil
lagi! Kamu bukan anak kecil lagi! Kamu bukan Bar—“
Entah dorongan darimana, kutampar
ibuku dan kudorong hingga jatuh menatap tembok. Tanpa peduli lagi, aku langsung
pergi sejauh mungkin meninggalkan rumah. Meninggalkan orang tua yang tak
berhasil menjadikanku wanita dewasa.
Lalu tanpa tahu detilnya, tubuhku tertabrak
keras oleh sesuatu.
***
Aku bukan Barbie, akhirnya aku tahu.
Tetapi terlambat. Aku tidur sendiri di
tanah basah, kesakitan, dan tak berhasil memanggil-manggil ibuku.
Ibu, aku bukan Barbie...