Sunday, 3 February 2013

Hai, Following


Hari #21, 3 Januari 2013
Dear orang-orang yang twitternya aku follow,
Selamat ya! Kalian mendapat surat cinta dari seorang stalker setia. Yah, hobiku memang mengamati gerak-gerik kalian di twitter lalu memberi pertanda ‘samar’ tentang TL kalian. Atau jika aku mulai merasa ada yang tidak beres, aku akan ‘menyapa’ kalian dengan ‘ramah’.
Oke, sebelumnya aku ingin menggolongkan kalian dalam 3 kelompok:
1.       Aku follow sebagai teman. Kalau sudah masuk sini, aku pasti kenal orangnya.
2.       Aku follow sebagai imbas ‘followback ya qaqa’. Biasanya orang-orang tidak dikenal.
3.       Aku follow sebagai dambaan hati. Contoh: Kak Adel.

Nah, sebagai stalker, pastinya aku sering #nomention atau #kode kalian. Dalam hati sebenarnya aku berharap paling tidak kalian merasa, atau semacam itulah. 
Eh ternyata, orang yang aku #nomention atau #kode pun dibagi menjadi beberapa kelompok:
1.       Peka, merasa, dan memberi respon positif. Tipe-tipe model seperti ini jarang sekali aku temui di TL.
2.       Peka, merasa, dan memberi respon negatif. Tipe-tipe beginilah pemicu twitwar. Alhamdulillah aku jarang mendapat tipe-tipe seperti ini.
3.       Peka, cuek. Tipe ini biasanya mengagung-agungkan ‘kalau nggak suka unfol aja’. Kalau sudah begini biasanya aku langsung dilema.
4.       Tidak peka, cuek. Disindir tidak disindir tetap saja nge-tweet aneh.
5.       Tidak peka dan saking tidak pekanya sampai membuatku ingin membelikannya cermin raksasa. Tipe ini paling konyol—paling bikin geregetan juga sih. Biasanya sih tipe orang seperti ini malah meng-qoute tweet kode yang ditujukan untuknya dengan pernyataan, “hih siapa tuh? Nyebelin banget orangnya! Unfol aja.”
Following­-ku memang aneh-aneh.
Mungkin saat kalian membaca ini kalian akan beranggapan “hih stalker! Pengecut banget pake nomention sama kode segala! Kalo emang nggak suka ngomong langsung kek!”
Well, aku pernah mencoba hal itu tetapi tidak memberikan efek bagus.
Jadi begini, sebenarnya yang aku ingin tekankan adalah:
Twitter adalah social media. Jangan terlalu mengumbar-umbar masalahmu di dalamnya. Ingat, privasi juga ada batasannya.
“Be yourself” memang konsep bagus sih. Tetapi juga ada batasannya. Kalau personality-mu mengganggu orang lain ya seharusnya diminimalisir. Ingat, kita ini makhluk sosial. Punya twitter juga merupakan salah satu usaha kita untuk meningkatkan interaksi sosial kita dengan individu lain. Jadi seharusnya kita harus bisa membawa diri agar dihormati orang lain.
Terakhir, aku ingin menekankan bahwa ini benar-benar surat cinta. Surat cinta kok. Selama aku belum meng-klik tomblo unfollow, artinya aku masih menunggu-nunggu tweet kalian muncul di TL-ku. Tenang saja, aku mencintai kalian.
Yang paling terakhir, tolong jangan suruh saya unfollow kalian. Nanti saya dilema...
Salam cinta,
Followers

Free Mustache Blue - Pointer Cursors at www.totallyfreecursors.com