Aku membuka
mata perlahan dan menatap sungai deras jauh di bawah sana. Hydrophobia
mulai menyergap dan mengantarku pada sebuah ketakutan.
Atau mungkin
bukan sepenuhnya hydrophobia.
Mungkin lebih
pada ketakutan yang sulit kusingkirkan—mengenai apa yang akan terjadi setelah
ini.
Tapi aku sudah
memutuskan. Aku tidak akan membiarkannya
jatuh lebih dalam lagi hanya karena kesalahanku. Aku tidak siap bertemu mata
dengannya. Aku tidak siap mengetahui kalau selama ini aku salah paham. Cukup
begini saja. Terkadang tidak tahu itu lebih baik. Aku siap mati penasaran.
Walau aku tidak
pernah siap berpisah dengannya, barista kesukaanku itu, malaikatku.
Dengan
menggigit bibir kukirim e-mail
singkat untuknya:
Maaf, terimakasih, dan selamat tinggal,
kamu.
***