Hai, kamu.
Suatu malam, seorang teman mendongengi saya. Tentang seorang
sahabat Nabi bernama Salman Al-Farisy. Ia adalah seorang pemuda yang begitu
baik budinya.
Dan suatu saat, ia jatuh cinta pada seorang wanita yang
cantik paras serta lakunya.
Didorong keyakinan, ia membelikan mahar dan berencana
melamar wanita itu dengan mengajak Abu Daud, sepupunya. Kedua pria itu datang
ke rumah si wanita dan menyampaikan itikad baik Al Farisy.
Namun, apa yang terjadi?
Wanita itu keluar dari kamarnya, berkenalan dengan dua pria
itu, dan pada akhirnya memilih Abu Daud sebagai suaminya.
Ironis.
Dan coba tebak, apa yang Salman Al Farisy lakukan?
Tersenyum, memberikan mahar itu kepada Abu Daud, dan
mendoakan agar pasangan sejoli itu bahagia.
***
Saya iri pada Salman Al Farisy; darimana ia mendapatkan
ketegaran sekokoh itu? Bagaimana caranya ia bisa tetap tersenyum, padahal baru
saja kehilangan wanita idamannya yang diambil
sepupunya sendiri? Mengapa saya tida bisa seperti itu?
Coba bandingkan dengan saya sekarang yang malah menyalahkan
pihak ‘perebut’—ah, tidak. Tidak ada yang merebut dan direbut. Ini hidup, dan
itu cinta mereka. Saya tidak berhak mengatur siapa-menyukai-siapa hanya karena
orang itu berstatus ‘teman sejak kecil’ saya. Saya tidak mau mempeributkan
nonsense seperti itu.
Saya harus setegar Salman.
Karena, oke, saya menyukaimu. Saya benci melihatmu dengan
wanita lain. Tetapi saya tidak punya hak untuk mengatur hidupmu.
Dan kamu tahu? Detik saat kamu menunjukkan senyum terbaik,
terbebas, dan terhebatmu di hadapan wanita itu, saya mengaku kalah.
Saya tidak akan bisa memberimu senyum selebar itu, sekuat
apapun usaha saya.
Juga ternyata, ada kebahagiaan kecil yang menyelinap di hati
saya saat melihatmu sebegitu gembira.
Oh, begini toh rasanya bahagia bila yang kita sayangi
bahagia. Aku baru tahu kalau rasanya lumayan juga... meskipun getir yang
mendominasi.
Tetapi percayalah. Saat seseorang meninggalkan kita, itu
artinya kita tidak cukup baik untuknya.
Atau, dia yang tidak cukup baik untuk kita.
Dan pada akhirnya nanti, layaknya Salman Al Farisy, ada
pengganti yang jauh lebih melebarkan tawa di balik bukit; kalau kita tetap
berusaha menunggu barang lebih lama lagi.