Saturday, 20 October 2012

Secangkir Cappuccino; Kamu Empat Minggu yang Lalu


Malam minggu.
Tepatnya, malam minggu pertama setelah kamu pergi.
Kuseruput cappuccino di depanku, kuketik rindu di notebookku.
R.i.n.d.u.
Aku baru tahu bisa sesakit ini. Dahulu lima huruf itu bisa kuketik dengan senyum. Sekarang?
Senyum kok. Senyum getir.
Karena memang kenangan manis yang kau torehkan di memoriku berakhir miris.
Dan karena aku terlalu sakit untuk berpindah hati.
Dan karena pasak yang kau tancapkan sudah menusuk terlalu dalam, membuatku terpatut dalam asa untuk tetap memperjuangkanmu.
Perjuangan yang sia-sia pastinya, semut yang melintas pun tahu itu.
***
Empat minggu lalu, di lorong-lorong sekolah.
“Kamu lucu.” Waktu itu kau berkata seperti ini.
“Lucu bagaimana?” dan aku balik bertanya seperti ini.
“Lucu membuatku nyaman hanya dengan duduk bersebelahan selama tiga hari.”
Aku mengernyit, “nyaman?”
“Aku nyaman denganmu.”
Aku girang, namun mulutku menutupinya, “bohong.”
“Kok bohong?”
“Kamu kan player.”
“Player apanya?” kamu merengut, lucu, “ponselku hanya berisi pesanmu. Suumpah!”
Tentu saja aku tahu. Diam-diam aku selalu mengambil ponselmu kok.
***
Tiga minggu yang lalu, di tempat yang sama.
“Aku rasa aku menyukaimu.”
Aku melongo. Kehabisan kata-kata. Namun kamu terdiam. Kulirik kamu dari sudut mataku. Dan ternyata kamu sedang menatap jauh ke melewati lapangan. Aku jadi ragu kau mengatakan hal itu.
“Kok diam?” kau tetap menghindari tatapanku—seakan aku sanggup menatap matamu saja!
“Aku bingung.”
“Bingung?”
“Karena tadi kamu masih bilang ‘aku rasa’, itu artinya kamu belum yakin, kan?”
Kini kau menoleh padaku—oh oke, hentikan saja detak jantung sialan yang malah berdebar lebih kencang!—dan aku menatapmu juga, takut-takut.
“Mungkin iya. Aku masih ragu.”
Aku menunduk dalam.
“Aku akan mendapatkan jawaban atas perasaanku secepatnya. Mau menunggu?”
Pasti, batinku saat itu, asal aku mendapat hasil yang memuaskan.
***
Dua minggu sebelumnya, di tempat yang sama.
Aku belum juga mendapat kepastian.
***
 Satu minggu sebelumnya, di tempat yang sama.
Aku melihatmu tertawa lebar dengan wanita lain. Pipiku memanas, sampai menjalar ke mata. Harus bagaimana ini saat melewatimu? Harus tetap memasang tampang biasa atau melabrak seperti orang kesetanan atau...
Pilihan pertama lebih baik.
Jadi, aku melewatimu. Kulirik lagi kamu dari sudut mataku. Dan kamu sama sekali tak memberi respon. Rasanya ingin segera sampai rumah, menyalakan shower, dan galau semalaman.
Setelah meninggalkan sekolah, aku mengirimimu pesan.
Kau menyukainya? :D
Emoticon yang hipokrit sekali. Beberapa menit kemudian, kamu membalas
Iya.
Sesingkat itu. Tanpa penjelasan apapun Sabar... kuatkan hati... hadapi lagi...
Wow! Semoga berhasil ya. Ganbatte! :D
Dan balasanmu lumayan mengejutkanku,
Kau baik-baik saja?
Dasar idiot.

Free Mustache Blue - Pointer Cursors at www.totallyfreecursors.com