Malam minggu.
Tepatnya, malam minggu pertama setelah kamu pergi.
Kuseruput cappuccino di depanku, kuketik rindu di
notebookku.
R.i.n.d.u.
Aku baru tahu bisa sesakit ini. Dahulu lima huruf itu bisa
kuketik dengan senyum. Sekarang?
Senyum kok. Senyum getir.
Karena memang kenangan manis yang kau torehkan di memoriku
berakhir miris.
Dan karena aku terlalu sakit untuk berpindah hati.
Dan karena pasak yang kau tancapkan sudah menusuk terlalu
dalam, membuatku terpatut dalam asa untuk tetap memperjuangkanmu.
Perjuangan yang sia-sia pastinya, semut yang melintas pun
tahu itu.
***
Empat minggu lalu, di lorong-lorong sekolah.
“Kamu lucu.” Waktu itu kau berkata seperti ini.
“Lucu bagaimana?” dan aku balik bertanya seperti ini.
“Lucu membuatku nyaman hanya dengan duduk bersebelahan
selama tiga hari.”
Aku mengernyit, “nyaman?”
“Aku nyaman denganmu.”
Aku girang, namun mulutku menutupinya, “bohong.”
“Kok bohong?”
“Kamu kan player.”
“Player apanya?” kamu merengut, lucu, “ponselku hanya berisi
pesanmu. Suumpah!”
Tentu saja aku tahu. Diam-diam aku selalu mengambil ponselmu
kok.
***
Tiga minggu yang lalu, di tempat yang sama.
“Aku rasa aku menyukaimu.”
Aku melongo. Kehabisan kata-kata. Namun kamu terdiam. Kulirik
kamu dari sudut mataku. Dan ternyata kamu sedang menatap jauh ke melewati
lapangan. Aku jadi ragu kau mengatakan hal itu.
“Kok diam?” kau tetap menghindari tatapanku—seakan aku
sanggup menatap matamu saja!
“Aku bingung.”
“Bingung?”
“Karena tadi kamu masih bilang ‘aku rasa’, itu artinya kamu
belum yakin, kan?”
Kini kau menoleh padaku—oh oke, hentikan saja detak jantung
sialan yang malah berdebar lebih kencang!—dan aku menatapmu juga, takut-takut.
“Mungkin iya. Aku masih ragu.”
Aku menunduk dalam.
“Aku akan mendapatkan jawaban atas perasaanku secepatnya. Mau
menunggu?”
Pasti, batinku saat itu, asal aku mendapat hasil yang
memuaskan.
***
Dua minggu sebelumnya, di tempat yang sama.
Aku belum juga mendapat kepastian.
***
Satu minggu
sebelumnya, di tempat yang sama.
Aku melihatmu tertawa lebar dengan wanita lain. Pipiku memanas,
sampai menjalar ke mata. Harus bagaimana ini saat melewatimu? Harus tetap
memasang tampang biasa atau melabrak seperti orang kesetanan atau...
Pilihan pertama lebih baik.
Jadi, aku melewatimu. Kulirik lagi kamu dari sudut mataku. Dan
kamu sama sekali tak memberi respon. Rasanya ingin segera sampai rumah,
menyalakan shower, dan galau semalaman.
Setelah meninggalkan sekolah, aku mengirimimu pesan.
Kau menyukainya? :D
Emoticon yang hipokrit sekali. Beberapa menit kemudian, kamu
membalas
Iya.
Sesingkat itu. Tanpa penjelasan apapun Sabar... kuatkan
hati... hadapi lagi...
Wow! Semoga berhasil
ya. Ganbatte! :D
Dan balasanmu lumayan mengejutkanku,
Kau baik-baik saja?
Dasar idiot.