Halo dunia, hari ini saya resmi membuang semua yang telah
menjadi alasan saya untuk berdiri tegak sampai sekarang.
Pertama, saya melepaskan sahabat saya. Sahabat akrab saya. Sahabat
dekat saya. Saya merasa sekarang dia sudah menjadi sosok yang tidak bisa saya
deteksi lagi. Jadi saya memutuskan untuk membiarkannya terjun bebas ke dunianya
yang baru. Dunia yang tidak bisa saya jangkau dengan status saya sekarang. Saya
telah mempersiapkan diri untuk hal terburuk; sendirian.
Kedua, saya membuang diary
saya. Tempat dimana saya mencurahkan segala perasaan saat sedang gladi resik
untuk melepaskan sahabat saya. Akhirnya perasaan itu berceceran, menghilangkan
bekas yang tidak bisa saya halau lagi. Saya telah mempersiapkan diri untuk hal
terburuk; otak sesak.
Ketiga, dan ini yang paling membuat saya gila, saya
memutuskan untuk mengucapkan selamat tinggal kepada lelaki favorit saya. Saya
menjadi penggemar beratnya selama berbulan-bulan—yang rasanya sudah seperti
berabad-abad. Tetapi, dari banyak penggemarnya, sayalah yang paling ia coba
hindari. Karena saya mulai sadar diri, akhirnya saya memutuskan untuk berhenti
dari klub penggemarnya, dan menjalani hari-hari saya seperti biasa lagi. Ia
tidak terlihat kehilangan apapun, jadi saya rasa ia cukup nyaman tanpa
kehadiran saya. Padahal, andai dia tahu, saya masih tetap mengagumi dia,
meskipun tidak segerilya sebelumnya (haha). Saya telah mempersiapkan diri untuk
hal terburuk; dilupakan.
Semua ini membuat saya sadar kalau hidup saya memang bukan
sinetron. Saya hanya seorang gadis biasa, dengan tampang biasa, otak biasa, kehidupan
biasa-biasa saja. Saya harus membuat diri saya senyaman mungkin dengan keadaan
super biasa ini. Saking biasanya saya, saya merasa ini bukan hidup. Sepertinya saya
hanyalah ampas Tuhan saat membuat orang-orang luar biasa di luar sana.
Jadi, saya tidak mengharapkan hidup yang luar biasa. Ketiga hal
di atas ternyata membuat segalanya menjadi luar biasa, dan sepertinya itu bukan
kodrat saya sebagai ampas. Ketiga hal di atas lambat laun akan meninggalkan
saya dan me-luar biasa-kan kehidupan orang lain. Saya hanya bisa berdoa dari
kejauhan, agar ketiga hal di atas bisa bahagia—seperti yang susah mereka
dapatkan saat ada saya. Maaf dan terimakasih. Kalian luar biasa!
Salam.