Hari #5, 19 Januari
2013
Dear Kezia
Christa Freyna Naomi Firstha,
Aku hapal
namamu lho. Hahahaha.
Ingat pertama
kali kita bertemu delapan tahun yang lalu? Kamu—sebagai anak pindahan—melangkah
masuk ke kelas tanpa ragu. Kamu cantik, kamu pintar, suaramu merdu.
Dalam seminggu saja kamu sudah menjadi ratu. Semua guru mengelu-elukan namamu.
Tapi tidak
denganku. Aku membencimu.
Aku membencimu
yang lebih cantik daripadaku. Aku membencimu yang suka sok pintar di depan
guru—oke aku tahu kau sebenarnya tidak
bermaksud begitu. Aku membencimu yang selalu selangkah lebih maju di depanku.
Rasanya aku ingin menendangmu jauh-jauh dari hadapanku.
Well, itu kan
dulu.
Lucu ya?
Musuh-musuhan aneh kita malah berakhir menjadi pertemanan penuh rasa. Kita suka
tertawa keras-keras dimana-mana. Kita suka membicarakan kakak kelas
tampan—untungnya kita setipe. Hahaha. Kita juga suka membicarakan anak aneh di
sekolah. Akhir-akhir ini aku menjadi berpikir bahwa seharusnya kita harus
berkaca. Kita juga aneh, kau tahu? Hihihi.
Kamu, adalah
salah satu orang yang membuat masa SMA-ku berwarna. Kamu adalah orang yang
mengenalkanku arti perbedaan.
Perbedaan?
Kej. Kamu ingat waktu aku ke rumahmu? Kita
masak sup krim bersama saat itu. Sewaktu aku pulang, ibuku menanyakan aku sudah
makan atau belum. Waktu aku bercerita bahwa aku sudah makan di rumahmu, kau
tahu reaksi ibuku?
“Kamu makan di rumah Kezia? Yakin nggak
najis? Kezia punya anjing kan? Nanti
kalau anjingnya ternyata keliaran di rumah gimana? Alat makannya najis dong?
Lain kali jangan makan di sana lagi deh.”
Aku hanya bisa
melongo. Tidak paham cara berpikir ibuku. Mendadak aku menyesal pernah
bercerita pada ibuk kalau kamu punya Cihua—anjing betinamu yang super galak
itu.
Aku tidak
pernah punya masalah dengan perbedaan keyakinan kita. Pancasila saja berkata
bahwa Tuhan itu Maha Esa. Hanya saja kita menyebut-Nya dengan cara yang
berbeda. Kita menyembah-Nya dengan cara yang berbeda. Kita meminta pada-Nya
dengan cara yang berbeda.
Saat aku
bersujud, kamu menengadah. Padahal detik itu kita meminta hal serupa; bahagia
bersama. Suatu saat kita berjalan bersama, lalu terpisah di persimpangan saat
adzan memanggilku atau alarm pengingat katekisasimu berbunyi. Padahal niat kita
sama; mendekat pada Pencipta.
Kej, tidak
pernah ada yang salah dengan keyakinan. Mungkin ini gila, tapi ada fantasi
liarku yang berbisik-bisik bahwa selama ini kita hanya bercermin. Memuja satu
Tuhan. Sekat-sekat yang memisahkan kita itu sebenarnya hanya kaca-kaca
transparan yang lama-lama akan retak, lalu pecah. Lalu tangan kita akan bisa
saling menyentuh sepenuhnya.
Kamu ingat
waktu dengan iseng kita saling membandingkan?
“Di aku sih Adam dan Hawa. Terus makan buah
khuldi.”
“Kalau aku Adam dan Eva. Terus makan apel.”
“Kalau aku Nuh.”
“Noah”
“Yusuf.”
“Joseph.”
“Daud.”
“David.”
“Isa.”
“Jesus.”
Kita saling
menatap dalam hening. Lalu tertawa lepas sembari saling menggenggam tangan
seperti biasa. Simpel sekali persahabatan kita; Tuhan itu dekat. Lebih dekat
dari urat nadi kita. Menatap persahabatan kita yang penuh bahagia.
Salam
cinta,
aku