Hari #4, 17 Januari
2013
Dear ayah,
Ayah apa kabar?
Haha. Lucu ya. Kita serumah, tetapi aku malah menanyakan kabar ayah.
Karena ternyata
serumah pun kini terasa seperti bermil-mil jauhnya.
Dulu waktu aku
kecil, aku sangat lengket pada ayah. Aku tidak bisa tidur tanpa ayah. Aku sama
sekali tidak nyaman tidur dengan ibuk. Ayah ingat waktu ayah mendapat giliran
jaga di poskamling? Ibuk berusaha menidurkanku, tetapi aku tidak bisa tidur.
Aku tidak berani menangis karena takut ibuk marah. Lucu sekali.
Bagiku ayah
adalah lampu tidurku.
Dulu waktu
kecil, setiap ayah pulang kerja aku akan menyambut ayah minta gendong. Aku
mengingat ibuk pernah menceritakan padaku. Saat aku baru saja belajar
jalan—masih memakai apolo sih—aku yang melihat ayah baru pulang dari kerja langsung
jalan terburu-buru minta gendong dan.... jatuh. Dari ketinggian satu meter.
Oke, jangan
garis bawahi kejadian memalukan itu. Tapi garis bawahi usahaku untuk bisa terus
memeluk ayah. Aku yang dulu begitu mudahnya merindukan ayah, aku yang dulu akan
melakukan apa saja untuk bisa menyentuh ayah. Aku yang dulu begitu gamblang
mencintai ayah. Cinta itu berasa nyata. Berbentuk.
Itu dulu. Dua
belas tahun yang lalu.
Baru saja tadi
aku mendengar pintu pagar di bukan dan suara mobil ayah menderu masuk, dengan
suara radio yang begitu kencang khas ayah. Aku melirik jam di handphone-ku. Ini
sudah malam, tetapi aku cukup terbiasa dalam situasi ini. Aku tetap diam di
kamarku sambil mengutak-atik tugas fisika yang sudak kira-kira seabad yang lalu
hanya terbuka semena-mena di depanku. Aku ingin tahu apa yang terjadi.
Suara pintu
dibuka.
Suara langkah
berat ayah.
Suara ibuk yang
mencoba mengajak ngobrol ayah.
Suara langkah
berat ayah mendekat.
Dan... sedetik
kemudian langkah berat ayah menjauhi kamarku. Itu saja. Setiap malam.
Aku agak heran
dengan hubungan kita, yah. Kita mulai berjarak. Kita berdua sama-sama semakin
tua. Aku makin tidak bisa mengerti pola pikir ayah dan aku rasa ayah juga tidak
mengerti pola pikirku. Kita sama-sama gagal paham. Aku tidak mengerti mengapa
ayah selalu masam setiap bertemu dengan lelaki yang aku suka; mungkin waktu itu
ayah juga tidak mengerti mengapa aku menyukai lelaki itu. Aku tidak paham
mengapa ayah menekan-nekan aku untuk masuk IPA; mungkin waktu itu ayah juga
tidak paham mengapa aku sampai menangis-nangis minta masuk IPS.
Kita
benar-benar gagal paham.
Ayah tahu, yang
membuatku merasa kita sebenarnya sudah tidak serumah? Aku ingat waktu kelas
sepuluh, sepagi itu ayah mengantarku menuju sekolah. Di tengah macet lampu
merah ayah bertanya tanpa beban:
“Sekolahmu mana?”
Aku shock. Tak
bisa menyembunyikan longoanku—meskipun aku rasa ayah tidak mmperhatikan. Aku
sampai heran, apakah sekolahku punya kemampuan menyembunyikan diri sampai
ayahku lupa tempatnya? Atau sekolahku bisa teleportasi mendadak sesukanya?
Tetapi di tengah
akal-akal bodoh lain yang makin lama makin tidak bisa diterima akal sehat, aku
menyimpulkan satu hal: ayah tidak pernah lagi peduli padaku.
Aku makin
merasa kita berjarak. Ha!
Namun lagi-lagi
ada yang mendewasakanku. Saat aku melihat recent
updates di BBM-ku, dan melihat ayah mengganti DP dan PM.
Fotoku dan
ibuk. Tersenyum. Dan ayah tulis sebagai PM:
“Bidadari-bidadariku.”
Rasanya air
mataku mau tumpah saja menggenangi kamar. Lagi-lagi aku menarik kesimpulan yang
salah. Mungkin selama ini bukannya ayah tidak memperhatikanku, tetapi aku tidak
memperhatikan ayah. Mungkin selama ini bukan kita saling gagal paham, tetapi
kita masih dalam proses untuk mengerti satu sama lain.
Yang paling
penting; Ayah peduli padaku dengan cara lain. Cara yang lebih manis.
Over all,
terimakasih untuk satu sampai tujuh belas tahun ini. Dan kuharap kita masih
bisa serumah sehingga aku bisa mengucapkan terimakasih untuk tahun yang lebih
panjang lagi.
Salam
cinta,
Katanya
sih bidadari ayah