Kamu membaca
suratku perlahan, mengerutkan alis seakan tak paham. Kamu tak pantas paham.
Kamu takkan bisa paham.
Setahun yang
lalu kutanyakan padamu, “kamu tahu apa itu cinta?”
Kamu lagi-lagi
mengerutkan alis. Kamu tak pernah berkata-kata. Kamu menyimpan berbagai tanya
dalam bahasa tubuh yang kadang membingungkan.
Tapi tahukah
kamu? Kamu cukup melakukan sekecil gerakan sederhana agar aku mengerti. Kamu
tak perlu berbicara banyak. Dalam alam kita ada satu bahasa yang takkan
dikenali siapapun kecuali aku, dan kamu.
Aku tahu kamu
bertanya “apa”. Aku tahu kamu berkata bahwa “itu bukan pertanyaan penting”. Aku
tahu kamu malas menjawab. Aku tahu kamu heran karena aku bertanya seperti itu.
Aku tahu kamu.
Hanya saja aku
tak pernah menanyakan ganjalan penting, “apakah kamu tahu aku?”
Sesimpel itu? Tidak
pernah.
Dengan muka
sumringah kujawab sendiri pertanyaanku, “aku juga tidak tahu.”
Kamu menghela
nafas. Itu artinya kamu sebal—bukan dalam arti negatif. Mungkin lebih ke gemas.
Ekspresimu saat itu lucu. Sayangnya kamu tidak memberiku kesempatan untuk
menertawai (dalam hati) mimik wajah itu lagi.
“Aku tidak tahu
cinta,” lalu aku menoleh sedikit padamu, “sampai akhirnya aku tahu kamu.”
Kamu tersenyum,
indah. Bukan karena wajahmu. Tapi karena hatimu, perasaanmu. Ada sesuatu di
dalam benakku yang dengan lancar mengeja semua makna tangis tawamu.
Itu setahun
lalu. Setahun lalu.
***
Aku tahu kamu
sekarang masih mengerutkan alis tanda tak paham.
Suratku masih
begitu panjang. Kamu tak perlu paham, tidak apa-apa. Aku hanya ingin mengatakan
banyak hal yang mungkin tidak bisa kusampaikan lagi karena berbagai kejadian.
Rasanya agak getir, pahit. Tapi tidak apa-apa. Kamu tidak perlu paham.
Dari sini saja,
apa kamu tidak sadar? Oh, tidak apa-apa. Kamu tidak perlu paham. Aku yang masih
memasang mata berkaca-kaca dan genangan air yang kutahan agar tidak tumpah ini
tidak berharap banyak. Kamu tidak perlu mengerti.
Masa setahun
begitu cepat. Lihatlah, ada beberapa fase déjà vu yang sudah kita
kualami selama kita saling menjauh.
Apa kamu ingat
momen hujan rintik itu, saat kita saling berbagi tempat bernaung, saat kita
saling berdiam menghangatkan? Tidak? Oh, oke. Tidak apa-apa.
Apa kamu ingat
momen stasiun itu, saat kita saling melempar canda, saat tatapan kita
bertubrukan dengan tujuan yang sama, jam dinding tua di sisi temboknya? Tidak?
Oh, oke. Tidak apa-apa.
Apa kamu ingat
momen gantungan kunci hati, yang kita diamkan dengan berpikir siapa yang pantas
mendapatkannya? Tidak? Oh, oke. Tidak apa-apa.
Apa kamu ingat
aku? Tidak juga? Baiklah, tidak apa-apa.
***
Dan sudah hampir
365 hari berlalu saat kita saling memberi hati. Saat kita saling merasa pantas
satu sama lain.
Baru beberapa
saat belakangan aku sadar, kalau selama ini akulah yang memahami sendiri. Kamu
tahu apa buktinya? Kamu masih mengerutkan alis tak paham itu.
Aku selalu
berusaha, dan berusaha, dan berusaha, begitu kerasnya berusaha, agar aku
mengerti kamu.
Aku selalu
berusaha, dan berusaha, dan berusaha, begitu kerasnya berusaha, agar aku
menjadi apa yang kamu mau.
Matahari telah
tenggelam. Dunia menggelap. Sisi terangmu juga menggelap. Lalu aku mulai
merevisi jalan pikiranku.
Apakah kamu
selalu berusaha, dan berusaha, dan berusaha, begitu kerasnya berusaha, agar
kamu mengerti aku?
Apakah kamu
selalu berusaha, dan berusaha, dan berusaha, begitu kerasnya berusaha, agar
kamu menjadi apa yang aku mau?
Jangankan ‘berusaha’
sebanyak itu. Apakah kamu ‘berusaha’—ini hanya sekali—melakukan apa yang telah
mati-matian kuperjuangkan padamu?
Waktu sosokmu
menjauh kemudian aku sendiri, aku—bodohnya—baru sadar.
31.536.000 detik kuhabiskan hanya untuk mencintai sendirian.
Dan kini, dengan
surat (atau bukan) ini, aku ingin bertanya padamu.
Kamu tahu apa
itu sakit?
Kamu tahu apa
itu luka?
Kamu tahu apa
itu patah?
Kamu tahu apa
itu jatuh?
Kamu tahu apa
itu sesal?
Aku tidak tahu
semua itu, sampai aku ditinggalkanmu.