Sunday, 4 August 2013

Secangkir Capuccino - Halo Kamu, Ini Setahunnya Aku

Kamu membaca suratku perlahan, mengerutkan alis seakan tak paham. Kamu tak pantas paham. Kamu takkan bisa paham.
Setahun yang lalu kutanyakan padamu, “kamu tahu apa itu cinta?”
Kamu lagi-lagi mengerutkan alis. Kamu tak pernah berkata-kata. Kamu menyimpan berbagai tanya dalam bahasa tubuh yang kadang membingungkan.
Tapi tahukah kamu? Kamu cukup melakukan sekecil gerakan sederhana agar aku mengerti. Kamu tak perlu berbicara banyak. Dalam alam kita ada satu bahasa yang takkan dikenali siapapun kecuali aku, dan kamu.
Aku tahu kamu bertanya “apa”. Aku tahu kamu berkata bahwa “itu bukan pertanyaan penting”. Aku tahu kamu malas menjawab. Aku tahu kamu heran karena aku bertanya seperti itu.
Aku tahu kamu.
Hanya saja aku tak pernah menanyakan ganjalan penting, “apakah kamu tahu aku?”
Sesimpel itu? Tidak pernah.
Dengan muka sumringah kujawab sendiri pertanyaanku, “aku juga tidak tahu.”
Kamu menghela nafas. Itu artinya kamu sebal—bukan dalam arti negatif. Mungkin lebih ke gemas. Ekspresimu saat itu lucu. Sayangnya kamu tidak memberiku kesempatan untuk menertawai (dalam hati) mimik wajah itu lagi.
“Aku tidak tahu cinta,” lalu aku menoleh sedikit padamu, “sampai akhirnya aku tahu kamu.”
Kamu tersenyum, indah. Bukan karena wajahmu. Tapi karena hatimu, perasaanmu. Ada sesuatu di dalam benakku yang dengan lancar mengeja semua makna tangis tawamu.
Itu setahun lalu. Setahun lalu.
***
Aku tahu kamu sekarang masih mengerutkan alis tanda tak paham.
Suratku masih begitu panjang. Kamu tak perlu paham, tidak apa-apa. Aku hanya ingin mengatakan banyak hal yang mungkin tidak bisa kusampaikan lagi karena berbagai kejadian. Rasanya agak getir, pahit. Tapi tidak apa-apa. Kamu tidak perlu paham.
Dari sini saja, apa kamu tidak sadar? Oh, tidak apa-apa. Kamu tidak perlu paham. Aku yang masih memasang mata berkaca-kaca dan genangan air yang kutahan agar tidak tumpah ini tidak berharap banyak. Kamu tidak perlu mengerti.
Masa setahun begitu cepat. Lihatlah, ada beberapa fase déjà vu yang sudah kita kualami selama kita saling menjauh.
Apa kamu ingat momen hujan rintik itu, saat kita saling berbagi tempat bernaung, saat kita saling berdiam menghangatkan? Tidak? Oh, oke. Tidak apa-apa.
Apa kamu ingat momen stasiun itu, saat kita saling melempar canda, saat tatapan kita bertubrukan dengan tujuan yang sama, jam dinding tua di sisi temboknya? Tidak? Oh, oke. Tidak apa-apa.
Apa kamu ingat momen gantungan kunci hati, yang kita diamkan dengan berpikir siapa yang pantas mendapatkannya? Tidak? Oh, oke. Tidak apa-apa.
Apa kamu ingat aku? Tidak juga? Baiklah, tidak apa-apa.
***
Dan sudah hampir 365 hari berlalu saat kita saling memberi hati. Saat kita saling merasa pantas satu sama lain.
Baru beberapa saat belakangan aku sadar, kalau selama ini akulah yang memahami sendiri. Kamu tahu apa buktinya? Kamu masih mengerutkan alis tak paham itu.
Aku selalu berusaha, dan berusaha, dan berusaha, begitu kerasnya berusaha, agar aku mengerti kamu.
Aku selalu berusaha, dan berusaha, dan berusaha, begitu kerasnya berusaha, agar aku menjadi apa yang kamu mau.
Matahari telah tenggelam. Dunia menggelap. Sisi terangmu juga menggelap. Lalu aku mulai merevisi jalan pikiranku.
Apakah kamu selalu berusaha, dan berusaha, dan berusaha, begitu kerasnya berusaha, agar kamu mengerti aku?
Apakah kamu selalu berusaha, dan berusaha, dan berusaha, begitu kerasnya berusaha, agar kamu menjadi apa yang aku mau?
Jangankan ‘berusaha’ sebanyak itu. Apakah kamu ‘berusaha’—ini hanya sekali—melakukan apa yang telah mati-matian kuperjuangkan padamu?
Waktu sosokmu menjauh kemudian aku sendiri, aku—bodohnya—baru sadar.
31.536.000 detik kuhabiskan hanya untuk mencintai sendirian.
Dan kini, dengan surat (atau bukan) ini, aku ingin bertanya padamu.
Kamu tahu apa itu sakit?
Kamu tahu apa itu luka?
Kamu tahu apa itu patah?
Kamu tahu apa itu jatuh?
Kamu tahu apa itu sesal?
Aku tidak tahu semua itu, sampai aku ditinggalkanmu.
Free Mustache Blue - Pointer Cursors at www.totallyfreecursors.com