Thursday, 20 September 2012

The Tale of Hoam Kingdom - 12. Hero (?)

Ada sesuatu yang memaksa mataku terbuka. Sesuatu yang dingin.
“Kau sudah sadar? Kau baik-baik saja?”
Ah? Aku benar-benar berusaha membuka mataku dan menemukan sesosok perempuan sedang mengompres lukaku dengan es batu. Perempuan itu berparas ayu dan berumur sekitar kepala tiga. Badannya kurus kering. Terdapat lipatan kehitaman di sekitar bawah matanya. Orang ini pasti stress sekali.
“Bibi siapa?” tanyaku pelan.
“Namaku Shab.” Ia tersenyum manis sekali, “siapa namamu?”
Duh. Haruskah aku jujur? Tidak ada lagi yang bisa kupercaya di sini. Sudah cukup aku dijadikan bulan-bulanan oleh si brengsek Dharma itu.
“Baiklah kalau kau keberatan memberitahukan namamu.” Bibi Shab kelihatannya biasa saja, “lukamu sakit?”
“Sedikit. Terima kasih, bibi.”
“Tidak perlu. Aku yang berterimakasih padamu. Aku sendiri di sel ini selama puluhan tahun, kau tahu? Bersyukur juga sekarang aku punya teman.”
Maksudnya dia bersyukur aku masuk penjara? Terimakasih sekali, lho.
“Apa aku sudah lama di sini?” tanyaku lagi.
“Kau pingsan seharian penuh. Kukira kau sudah mati.”
Beruntung sekali aku belum mati.
“Istirahatlah lagi.” Ia memberiku sebuah selimut lusuh, “semakin malam akan bertambah dingin. Pakailah ini.”
Aku menyentuh selimut lusuh itu. Sepertinya tidak ada gundukan kain yang bisa dijadikan selimut lagi untuknya, “dan bibi memakai apa?”
“Tidak perlu. Aku sudah terbiasa menahan dingin di sini.”
Lagi-lagi kuamati dia dari atas ke bawah. Kulitnya terlalu pucat. Bibirnya bergetar menahan dingin. Pelan-pelan kudengar gemeletuk renyah dari dalam mulutnya.
Benarkan dia sudah terbiasa?

Free Mustache Blue - Pointer Cursors at www.totallyfreecursors.com