Hari #23, 6 Januari
2013
Dear Rasyid
Rajasa,
Saya turut
berduka dengan kejadian yang menimpa Anda sekarang. Tentu berat sekali cobaan
Anda; harus berhenti kuliah, diancam hukuman penjara, dll, dll.
Sebelumnya saya
ingin menegaskan, saya tidak membenci Anda. Tidak samasekali.
Saya bukan
orang-orang di luar sana yang sembarangan mengadili Anda. Saya tidak pernah
beranggapan negatif terhadap Anda. Saya tahu, kecelakaan itu ya salah satu
bencana. Kematian ya garis Tuhan. Sebanyak apapun uang yang seseorang miliki
mana bisa ia melawan garis Tuhan? Tidak, Anda tidak sepenuhnya salah.
Saya heran
melihat orang-orang yang mulai menghakimi Anda dengan pendapat macam-macam. Saya
sedih melihat pendeknya pemikiran orang-orang tentang hukum, jabatan, dan
takdir. Saya bingung bagaimana meyakinkan orang-orang—termasuk Ibu saya sendiri—bahwa
Anda tidak sepenuhnya salah.
Saya mungkin
malah mengagumi Anda. Saya mendengar rekaman pembicaraan Anda di televisi dan
mendengar suara Anda yang panik dan berkata,
“Gue tanggungjawab. Gue tanggungjawab.”
Waktu itu saya
tergugah. Saya tahu Anda orang baik. Apalagi saat saya mendengar di televisi
bahwa Anda juga mengalami luka dan guncangan batin. Di saat begitu Anda sempat
menjanjikan suatu tanggungjawab? Super sekali.
Melalui surat
ini saya berkata bahwa saya mendukung Anda sepenuhnya—mendukung Anda tanpa
menyalahi hukum, tentu saja. Saya selalu berdoa agar masalah Anda cepat selesai
dengan solusi seadil-adilnya; adil untuk Anda, adil untuk korban, dan adil
untuk masyarakat luas.
Jadi, saya
harap Anda tetap semangat. Coba tutup telinga soal komentar-komentar negatif
yang ada di sekitar Anda. Lakukanlah hal yang menurut hukum benar, maka hukum
pun akan berpihak pada Anda.
Salam
hormat,
Saya