Saturday, 11 August 2012

The Tale of Hoam Kingdom - 6. Disaster


Aku masih tegang. Mengapa dia begitu jujur dengan hal ini? Apa dia tahu kalau aku….
“Pesek!” wanita telur itu mendorongku begitu kuat sampai aku nyaris terjengkang, “kau melamun? Bodoh.”
Aku menggerutu, “aku lebih suka dipanggil bodoh daripada pesek.”
Wanita telur itu mengangkat bahu, “ya sudah. Coba saja baju itu. Kalau terlalu besar, akan kupermak untukmu.”
“Eh?” aku menatap gaun yang sedang kupegang, “ini serius buat aku?”
“Jangan sampai pertanyaan tololmu itu membuatku berubah pikir—“
“Eh iya iya!” aku tertawa renyah, “terimakasih wanita telur. Aku sangat menyukainya!”
“Mana ada orang yang tidak menyukai jahitanku.” Jawab wanita telur, datar, penuh nada kesombongan. Hhh… sabar Kezia, kamu harus sabar…
“Bagaimana caraku agar bisa berterimakasih?” nadaku sedikit—camkan ya, sedikit!—mencoba bersahabat.
Wanita telur itu menghela nafas super panjang, “dengan pergi dari sini. Bisa?”
“BUKAN YANG ITUUUUUU!” sepertinya batas kesabaranku mulai terkikis, “begini saja. Ajari aku menjahit, akan kubuatkan sesuatu untukmu. Ya?”
Wanita telur itu mengelus dadanya. Sepertinya kali ini giliran dia yang harus bersabar denganku.
***
Di luar mulai gelap saat aku menutup jahitanku.
“Selesaaaaaaai!” aku girang sekali melihat dua boneka kecil hasil jahitan tanganku—yang juga menyebabkan tiga luka tusukan jarum di tanganku.
“Hmm.” Respon menyebalkan dari wanita telur, seperti biasa. Aku sampai terbiasa karenanya.
“Ini untukmu.” Aku tertawa sembari menyerahkan satu boneka buatanku yang berbentuk seperti wajah wanita telur; sebuah telur yang kuberi mata dan bibir merengut. Mirip sekali!
Ia melihat boneka telur itu, “ini pemberian atau sindiran sih?”
“Dua-duanyaaaaa.” Tawaku makin keras. Wanita telur hanya melengos.
“Lalu boneka satunya itu untuk siapa?” wanita telur melirik boneka buatanku yang lain; cengir Noir ala Deden.
“Emm… ini anu—“
“Buat lelaki yang bersamamu itu ya.” Itu pernyataan, bukan pertanyaan, “kalian pacaran memang?”
“Eh tidaaaak!”
“Atau…” wanita telur menatapku dengan tatapan serius untuk pertama kalinya, “kau menyukainya ya?”
“TIDAAAAAK!” duuuh kalo responku sampai sealay ini…
“Aku tahu matamu berbohong.” Wanita telur mengangkat bahu dan melanjutkan jahitannya sendiri. Aku merasakan pipiku panas sekali.
“Coba saja katakan padanya dengan jujur,” lanjut wanita telur itu kalem, “sebelum kau tidak memiliki kesempatan untuk berbicara jujur lagi.”
Aku tercenung. Aku sendiri bahkan belum tahu perasaanku seperti apa.
“Hei, wanita telur,” aku mengamatinya lagi, “namaku Kezia. Kamu?”
Ia mendongak menatapku juga, lalu kembali melanjutkan jahitannya, “Noor.”
***
Aku sedang dalam perjalanan kembali ke kamar saat berpapasan dengan Deden.
“Kemana saja kau?” selidik Deden, “aku mencarimu daritadi. Tidak berminat untuk melanjutkan perjalanan?”
“Oh, tadi aku sedang bersama wanita tel—maksudku Noor.” Jawabku, “ayo kita melanjutkan perjalanan.”
Deden menghela nafas, “belum melihat ke luar jendela? Sudah malam. Di luar pasti gelap. Malah berbahaya.”
“Oh,” aku tertunduk, “maafkan aku.”
“Ah, tidak perlu.” Deden tersenyum, “kelihatannya kau banyak bersenang-senang di sini. Aku melihat orang-orang berlalu lalang dari kamarmu. Lagipula kau pasti shock juga setelah diculik seperti itu. Ada baiknya sedikit bersantai bukan?”
Untung saja dia mengerti aku. Aku mengangguk semangat.
“Kalau begitu perjalanannya kita lanjut besok saja.” Deden menguap, “aku ingin tidur—“
“Deden,” aku memutus kata-katanya, “aku punya sesuatu untukmu.”
“Hmm?”
Aku mengeluarkan boneka yang kubuat tadi dari saku bajuku dan memberikannya pada Deden, “ini. Aku membuatnya sendiri lho! Bagus tidak?”
“Lucu sekaliii!” Deden ikut tertawa, namun tawanya dengan cepat berubah menjadi kesal, “tunggu dulu! Jadi menurutmu selama ini aku mirip Noir?”
“Jadi kau baru sadar?” aku menjitak pelan kepalanya dan tertawa keras. Deden balas menjitak kepalaku. Lalu kami jitak-jitakan.
Aku merasa kembali jadi balita.
“Sudahlah. Sudah malam, aku akan tidur.” Aku menjitak kepalanya untuk terakhir kali, “simpan boneka itu baik-baik. Sudah kumantrai agar selalu melindungimu.” Aku menjulurkan lidah.
Deden mengamati bonekanya, “apa ampuhnya mantra dari wanita yang selalu mendapat kesialan sepertimu?”
Benar juga.
“Jangan banyak komentar!” aku mendelik, lalu berbalik pergi ke kamar—
“Tunggu, Kezia!”
“Apa?”  aku menoleh ke arah Deden lagi.
“Emm… sebenarnya,” Aku melihat tangan Deden menggenggam boneka itu lebih erat, “firasatku tidak enak. Sebaiknya jangan tidur di kamarmu.”
“Hah?” lelucon apa lagi ini? “lalu aku harus tidur di mana?”
“Tidur saja di kamarku.” Deden nyengir.
Krik…
“ENAK SAJA, DASAR CABUUUUUUL!!!!” aku menjitakinya dengan kesal berkali-kali, “mana sudi aku tidur sekamar denganmuuu???!!!!”
“Tapi aku serius! Perasaanku tidak enak!”
“Alasan! Modus! Alibiii!!!”
Tiba-tiba Deden mencengkram tanganku yang tidak berhenti menjitakinya. Aku melihat rahangnya mengeras. Dia marah?
“Baiklah. Kau tidur di kamarku. Aku akan tidur di kamarmu. Puas?”  ia melepas cengkramannya lalu berjalan pergi, memasuki kamarku.
Jadi… dia marah nih??
***
Aku memeluk guling. Sudah berjam-jam aku hanya memeluk guling di kamar Deden ini. Berkali-kali aku mencoba memejamkan mata, tapi gagal. Otakku tidak bisa berhenti memikirkan kemungkinan kalau Deden marah padaku. Duuuh, jadi aku harus bagaimanaa? Minta maaf?
Tapi kan salah dia sendiri mengajakku pindah ke kamarnya.
Tapi dia bilang punya firasat buruk?
Tapi tetap saja dia menyuruhku pindah ke kamarnya.
Tapi dia bilang dia benar-benar punya firasat buruk?
Aaaargh! Kenapa sekarang malah aku meracau di pikiranku sendiri sih??
Aku menghela nafas dan mencoba kembali tidur sambil memeluk guling erat-erat. Seiseng-isengnya Deden, aku tahu dia masih punya batasan. Seharusnya aku memang tidak sekasar itu padanya.
Lagipula Deden itu super baik. Aku tidak ragu soal itu.
Oke, sudah diputuskan. Aku akan minta maaf padanya besok. Dia pasti sudah tidur sekarang.
Aku menghela nafas lega, mencoba tidur, sampai…
Sebuah ledakan memekakkan telinga membuatku nyaris mati jantungan! Itu suara apa?
“Kebakaran!!” aku mendengar orang-orang di luar berteriak panik, “ada kebakaran!!”
APA??
Mati mati mati!! Aku harus bagaimana? Dengan panik aku langsung terbangun dan membuka pintu kamar.
Di sekeliling kamar aku melihat kobaran api tinggi; menutup seluruh jalan keluar. Panikku semakin menjadi.
“KEZIA!! KELUAR, CEPAT!!!”
Aku menoleh dan masuk kembali ke kamar, melongok keluar jendela. Noor terlihat panik juga dan member isyarat untuk menyuruhku… lompat?
“Tapi… tapi…”
“CEPAT LOMPAT, PESEK! KAU BISA MATI DISANA!!!”
Nafasku mulai terasa sesak. Tidak ada pilihan lain. Aku harus lompat.
Aku membuka jendela lebar-lebar. Orang-orang dibawahku melebarkan kain dan mengira-ngira kemana gravitasi membawaku turun.
“LOMPATLAH!” teriak Noor lagi, “kami akan menangkapmu!”
Aku mengangguk. Tuhan, lindungi aku…
Tanpa ancang-ancang berarti, aku melompat. Terombang-ambing sebentar oleh gravitasi dan…
“Kezia?” aku membuka mata, melihat Noor, Laras, dan si Kembar Tiga, “kau baik-baik saja?”
Aku mengangguk dan berdiri. Sepertinya ada yang kurang dari formasi ini…
“Tunggu dulu!” firasatku tidak enak, “Deden mana?”
Noor bungkam, Laras menggigit bibir, si Kembar Tiga berpandangan salah tingkah.
“Deden mana?” mataku mulai panas, “DEDEN MANA?? JAWAB AKU!!”
Tidak ada yang berani menjawab.
“DEDEEEN??” aku berteriak putus asa, “INI TIDAK LUCU! PERLIHATKAN BATANG HIDUNGMU DI DEPANKU SEKARANG JUGA!!”
“Ke, Kezia,” Ayu menahan tanganku, “dengarkan dulu.”
“Ledakan itu berasal dari kamarmu.” Saput melanjutkan dengan pemilihan kata yang sangat hati-hati, “Kau dan Deden bertukar kamar kan?”
Aku mengangguk, ngeri, tidak siap mendengar lanjutannya.
“Jadi… Jadi Deden lah yang terperangkap di kamar itu.” Ferdi melanjutkan lagi dengan suara lebih kecil, “kami tidak bisa menyelamatkannya. Jadi—“
Pandanganku memburam sebelum Ferdi melanjutkan kata-katanya.

(to be continued)
Free Mustache Blue - Pointer Cursors at www.totallyfreecursors.com