Aku masih
tegang. Mengapa dia begitu jujur dengan hal ini? Apa dia tahu kalau aku….
“Pesek!”
wanita telur itu mendorongku begitu kuat sampai aku nyaris terjengkang, “kau
melamun? Bodoh.”
Aku
menggerutu, “aku lebih suka dipanggil bodoh daripada pesek.”
Wanita telur
itu mengangkat bahu, “ya sudah. Coba saja baju itu. Kalau terlalu besar, akan
kupermak untukmu.”
“Eh?” aku
menatap gaun yang sedang kupegang, “ini serius buat aku?”
“Jangan sampai
pertanyaan tololmu itu membuatku berubah pikir—“
“Eh iya iya!”
aku tertawa renyah, “terimakasih wanita telur. Aku sangat menyukainya!”
“Mana ada
orang yang tidak menyukai jahitanku.” Jawab wanita telur, datar, penuh nada
kesombongan. Hhh… sabar Kezia, kamu harus sabar…
“Bagaimana
caraku agar bisa berterimakasih?” nadaku sedikit—camkan ya, sedikit!—mencoba bersahabat.
Wanita telur
itu menghela nafas super panjang, “dengan pergi dari sini. Bisa?”
“BUKAN YANG
ITUUUUUU!” sepertinya batas kesabaranku mulai terkikis, “begini saja. Ajari aku
menjahit, akan kubuatkan sesuatu untukmu. Ya?”
Wanita telur
itu mengelus dadanya. Sepertinya kali ini giliran dia yang harus bersabar
denganku.
***
Di luar mulai
gelap saat aku menutup jahitanku.
“Selesaaaaaaai!”
aku girang sekali melihat dua boneka kecil hasil jahitan tanganku—yang juga
menyebabkan tiga luka tusukan jarum di tanganku.
“Hmm.” Respon menyebalkan
dari wanita telur, seperti biasa. Aku sampai terbiasa karenanya.
“Ini untukmu.”
Aku tertawa sembari menyerahkan satu boneka buatanku yang berbentuk seperti
wajah wanita telur; sebuah telur yang kuberi mata dan bibir merengut. Mirip sekali!
Ia melihat
boneka telur itu, “ini pemberian atau sindiran sih?”
“Dua-duanyaaaaa.”
Tawaku makin keras. Wanita telur hanya melengos.
“Lalu boneka
satunya itu untuk siapa?” wanita telur melirik boneka buatanku yang lain;
cengir Noir ala Deden.
“Emm… ini anu—“
“Buat lelaki
yang bersamamu itu ya.” Itu pernyataan, bukan pertanyaan, “kalian pacaran
memang?”
“Eh tidaaaak!”
“Atau…” wanita
telur menatapku dengan tatapan serius untuk pertama kalinya, “kau menyukainya
ya?”
“TIDAAAAAK!”
duuuh kalo responku sampai sealay ini…
“Aku tahu
matamu berbohong.” Wanita telur mengangkat bahu dan melanjutkan jahitannya
sendiri. Aku merasakan pipiku panas sekali.
“Coba saja katakan
padanya dengan jujur,” lanjut wanita telur itu kalem, “sebelum kau tidak
memiliki kesempatan untuk berbicara jujur lagi.”
Aku tercenung.
Aku sendiri bahkan belum tahu perasaanku seperti apa.
“Hei, wanita
telur,” aku mengamatinya lagi, “namaku Kezia. Kamu?”
Ia mendongak
menatapku juga, lalu kembali melanjutkan jahitannya, “Noor.”
***
Aku sedang
dalam perjalanan kembali ke kamar saat berpapasan dengan Deden.
“Kemana saja
kau?” selidik Deden, “aku mencarimu daritadi. Tidak berminat untuk melanjutkan
perjalanan?”
“Oh, tadi aku
sedang bersama wanita tel—maksudku Noor.” Jawabku, “ayo kita melanjutkan
perjalanan.”
Deden menghela
nafas, “belum melihat ke luar jendela? Sudah malam. Di luar pasti gelap. Malah berbahaya.”
“Oh,” aku
tertunduk, “maafkan aku.”
“Ah, tidak
perlu.” Deden tersenyum, “kelihatannya kau banyak bersenang-senang di sini. Aku
melihat orang-orang berlalu lalang dari kamarmu. Lagipula kau pasti shock juga
setelah diculik seperti itu. Ada baiknya sedikit bersantai bukan?”
Untung saja
dia mengerti aku. Aku mengangguk semangat.
“Kalau begitu
perjalanannya kita lanjut besok saja.” Deden menguap, “aku ingin tidur—“
“Deden,” aku
memutus kata-katanya, “aku punya sesuatu untukmu.”
“Hmm?”
Aku
mengeluarkan boneka yang kubuat tadi dari saku bajuku dan memberikannya pada
Deden, “ini. Aku membuatnya sendiri lho! Bagus tidak?”
“Lucu
sekaliii!” Deden ikut tertawa, namun tawanya dengan cepat berubah menjadi
kesal, “tunggu dulu! Jadi menurutmu selama ini aku mirip Noir?”
“Jadi kau baru
sadar?” aku menjitak pelan kepalanya dan tertawa keras. Deden balas menjitak
kepalaku. Lalu kami jitak-jitakan.
Aku merasa
kembali jadi balita.
“Sudahlah. Sudah
malam, aku akan tidur.” Aku menjitak kepalanya untuk terakhir kali, “simpan
boneka itu baik-baik. Sudah kumantrai agar selalu melindungimu.” Aku menjulurkan
lidah.
Deden
mengamati bonekanya, “apa ampuhnya mantra dari wanita yang selalu mendapat
kesialan sepertimu?”
Benar juga.
“Jangan banyak
komentar!” aku mendelik, lalu berbalik pergi ke kamar—
“Tunggu,
Kezia!”
“Apa?” aku menoleh ke arah Deden lagi.
“Emm…
sebenarnya,” Aku melihat tangan Deden menggenggam boneka itu lebih erat, “firasatku
tidak enak. Sebaiknya jangan tidur di kamarmu.”
“Hah?” lelucon
apa lagi ini? “lalu aku harus tidur di mana?”
“Tidur saja di
kamarku.” Deden nyengir.
Krik…
“ENAK SAJA,
DASAR CABUUUUUUL!!!!” aku menjitakinya dengan kesal berkali-kali, “mana sudi
aku tidur sekamar denganmuuu???!!!!”
“Tapi aku
serius! Perasaanku tidak enak!”
“Alasan!
Modus! Alibiii!!!”
Tiba-tiba
Deden mencengkram tanganku yang tidak berhenti menjitakinya. Aku melihat
rahangnya mengeras. Dia marah?
“Baiklah. Kau tidur
di kamarku. Aku akan tidur di kamarmu. Puas?” ia melepas cengkramannya lalu berjalan pergi,
memasuki kamarku.
Jadi… dia
marah nih??
***
Aku memeluk
guling. Sudah berjam-jam aku hanya memeluk guling di kamar Deden ini. Berkali-kali
aku mencoba memejamkan mata, tapi gagal. Otakku tidak bisa berhenti memikirkan
kemungkinan kalau Deden marah padaku. Duuuh, jadi aku harus bagaimanaa? Minta maaf?
Tapi kan salah
dia sendiri mengajakku pindah ke kamarnya.
Tapi dia
bilang punya firasat buruk?
Tapi tetap
saja dia menyuruhku pindah ke kamarnya.
Tapi dia
bilang dia benar-benar punya firasat
buruk?
Aaaargh! Kenapa
sekarang malah aku meracau di pikiranku sendiri sih??
Aku menghela
nafas dan mencoba kembali tidur sambil memeluk guling erat-erat.
Seiseng-isengnya Deden, aku tahu dia masih punya batasan. Seharusnya aku memang
tidak sekasar itu padanya.
Lagipula Deden
itu super baik. Aku tidak ragu soal itu.
Oke, sudah
diputuskan. Aku akan minta maaf padanya besok. Dia pasti sudah tidur sekarang.
Aku menghela
nafas lega, mencoba tidur, sampai…
Sebuah ledakan
memekakkan telinga membuatku nyaris mati jantungan! Itu suara apa?
“Kebakaran!!”
aku mendengar orang-orang di luar berteriak panik, “ada kebakaran!!”
APA??
Mati mati
mati!! Aku harus bagaimana? Dengan panik aku langsung terbangun dan membuka
pintu kamar.
Di sekeliling
kamar aku melihat kobaran api tinggi; menutup seluruh jalan keluar. Panikku
semakin menjadi.
“KEZIA!!
KELUAR, CEPAT!!!”
Aku menoleh
dan masuk kembali ke kamar, melongok keluar jendela. Noor terlihat panik juga
dan member isyarat untuk menyuruhku… lompat?
“Tapi… tapi…”
“CEPAT LOMPAT,
PESEK! KAU BISA MATI DISANA!!!”
Nafasku mulai
terasa sesak. Tidak ada pilihan lain. Aku harus lompat.
Aku membuka
jendela lebar-lebar. Orang-orang dibawahku melebarkan kain dan mengira-ngira
kemana gravitasi membawaku turun.
“LOMPATLAH!”
teriak Noor lagi, “kami akan menangkapmu!”
Aku
mengangguk. Tuhan, lindungi aku…
Tanpa ancang-ancang
berarti, aku melompat. Terombang-ambing sebentar oleh gravitasi dan…
“Kezia?” aku
membuka mata, melihat Noor, Laras, dan si Kembar Tiga, “kau baik-baik saja?”
Aku mengangguk
dan berdiri. Sepertinya ada yang kurang dari formasi ini…
“Tunggu dulu!”
firasatku tidak enak, “Deden mana?”
Noor bungkam,
Laras menggigit bibir, si Kembar Tiga berpandangan salah tingkah.
“Deden mana?”
mataku mulai panas, “DEDEN MANA?? JAWAB AKU!!”
Tidak ada yang
berani menjawab.
“DEDEEEN??”
aku berteriak putus asa, “INI TIDAK LUCU! PERLIHATKAN BATANG HIDUNGMU DI
DEPANKU SEKARANG JUGA!!”
“Ke, Kezia,”
Ayu menahan tanganku, “dengarkan dulu.”
“Ledakan itu
berasal dari kamarmu.” Saput melanjutkan dengan pemilihan kata yang sangat
hati-hati, “Kau dan Deden bertukar kamar kan?”
Aku
mengangguk, ngeri, tidak siap mendengar lanjutannya.
“Jadi… Jadi
Deden lah yang terperangkap di kamar itu.” Ferdi melanjutkan lagi dengan suara
lebih kecil, “kami tidak bisa menyelamatkannya. Jadi—“
Pandanganku
memburam sebelum Ferdi melanjutkan kata-katanya.
(to be continued)
(to be continued)