Untuk kamu, yang sedang jenuh, nun jauh di sana.
Jarak membuat kita kesulitan tuk saling menyemangati seperti
dua tahun lalu. Nasib membuat hati kita tak sedekat dua tahun lalu. Cuaca membuat
senyum kita tak sama dengan dua tahun lalu.
Namun di sini, jauuuuh dari pandangan matamu, jauuuuh dan
hanya terhubung oleh sinyal handphone, aku berbisik pada Tuhan tuk selalu
mengingatkanmu tuk berusaha dan berserah.
Mungkin akan susah
tuk kupahami kerumitan di hidupmu.
Tetapi bukannya kau juga tak bisa memahami kerumitan
hidupku?
Di tengah-tengah benang kusut yang melilit otak kita, di
tengah-tengah lalu-lalang masalah yang meredam suara kita,
Di tengah rumus hitungan farmasi yang sedang kamu hadapi,
Di tengan identitas trigonometri yang mencekikku minta
dicarikan solusi,
Aku tahu jauh di atas semua itu kita saling mendoakan. Mendoakan
dalam diam. Menengadah tangan dan mendekap seperti sepasang merpati yang
berkepak untuk saling melindungi. Menatap sendu pada bulan, saling bertanya
kabar lewat cahaya, berusaha merasa dekat dengan melihat bulan yang sama, lalu
menutup pintu dan kembali memandang kosong kertas berisi tulisan-tulisan yang
membosankan.
Aku tidak tahu bagaimana denganmu. Tapi di sini, tanpa bisa
kamu lihat, kuiringi tiap titi kecil langkahmu menuju masa depan; menuju lautan
kristal.
Dan demi Tuhan, tak semudah itu berjejer-jejer dengan
kristal. Sakitmu, jatuhmu, bangkitmu, lelahmu, hidupmu, aku.
Aku yang hanya bisa mengamatimu, mengagumi setiap detil liuk
tubuhmu saat berjalan, bersorak dalam diam saat kamu tertawa, menangis tanpa
suara saat kamu merenung.
Sesimpel itu caraku mengiringimu.
Lalu kamu?