Saturday, 28 July 2012

The Tale of Hoam Kingdom - 2. Meet That Wanderer

Sudah pagi…
Aku masih menunggu kuda ini selesai mengunyah rumputnya sambil melihat bayangan diriku sendiri di cermin.
Lihat betapa berantakannya kamu, Kezia, aku cemberut, kau benar-benar butuh mandi darurat!
Aku memasukkan lagi cerminku ke dalam tas saat kulihat bayangan si kuda mendekat.
“Aku akan berhenti memanggilmu kuda mulai saat ini,” aku beranjak bangkit dan mengelus si kuda, “nama apa yang kau inginkan?”
Dia hanya meringkik. Jelas. Bodohnya aku mencoba berbicara dengan seekor kuda.
“Hmm… coba aku pikir.” Aku mengernyit sebentar, “bagaimana kalau Noir?”
Noir berasal dari bahasa Perancis. Artinya hitam. Oke, aku memang tidak kreatif saat memberi nama.
“Tapi terdengar bagus kan? Bagaimana menurutmu, Noir?” aku mengacak-acak bulu Noir penuh sayang. Well, aku membenci majikannya, bukan berarti aku harus ikut membenci kuda cantik ini bukan?
Noir hanya meringkik. Kuanggap itu iya.
“Oke,” aku meletakkan tasku lagi di punggung Noir, “kita lanjutkan perjalanan. Aku harus mencari sungai atau sejenisnya untuk mandi. Nyamuk di sini ganas sekali.”
Kami berjalan santai menyusuri hutan lebat itu. Sesekali aku menepuk-nepuk lenganku yang digigit nyamuk. Aku serius soal nyamuk ganas ini! Semakin cepat bertemu sumber air akan semakin baik.
“Tunggu, Noir.” Aku menghentikan langkahku dan memejamkan mata. Perlahan aku ‘meleburkan’ diri dengan sekitar. Air, air, aku mencari suaramu…
Dan… yak! Aku bisa mendengar suara deras air terjun di kejauhan. Benar-benar tidak ada ruginya mempunyai pacar, eh mantan seorang ksatria!
“Ayo, Noir!” aku menuntun Noir menuju air terjun.
***
“Double WOW!” aku melongo saat menemukan air terjun tinggi nan indah di tengah hutan seperti ini. Karena inilah aku percaya Tuhan itu ada.
Aku juga bisa melihat kegirangan Noir karena ia langsung menerjunkan diri ke sungai.
“Kau berdosa tidak menungguku, Noir!” aku tertawa saat cipratan airnya mengenai wajahku. Tanpa ragu langsung kuterjunkan diri ke aliran air yang tidak begitu deras itu.
“Dingiiiin!” Aku berteriak-teriak mencoba mengalahkan gemuruh air terjun saat (lagi-lagi) Noir menapak-napakkan kakinya sehingga air mencipratiku. Lalu aku mendadak galau.
Coba aku kemari bersama Dhio dan Dania…
Lamunanku terhenti saat Noir mencipratiku lagi. Mungkin dia tahu aku galau.
“Oke oke, kumandikan kau. Kemarilah.” Aku membersihkan bulu-bulu halus Noir perlahan.
Entahlah, aku merasakan seperti ada bunyi cipratan lain. Yang jelas tidak berasal dariku atau Noir.
***
“Besok kita main air lagi, Noir. Jangan manja seperti ini.” Aku menghela nafas saat Noir merajuk-rajuk untuk kembali ke air, “setelah ini akan kukeringkan bulumu. Diamlah!”
Noir langsung diam. Aku otomatis merasa bersalah.
“Dengar, aku tidak bermaksud membentakmu,” perlahan kukeringkan bulu Noir, “kita teman kan?”
Noir tidak meringkik. Oh, tidak.
“Ayolah. Kau marah? Aku minta maaf.”
Tidak berespon.
“Noir—“
Tiba-tiba Noir langsung berlari. Aku langsung panik dan ikut mengejarnya. Jangan sampai dia kabur dariku!
“Noir? Kau marah? Aku minta maaf.” Aku tetap berlari menyusulnya. Namun ia tidak berhenti. Benar-benar merepotkan.
Aku mulai kelelahan mengejar kuda itu. Semoga saja dia kembali padaku. Dengan kesal aku duduk dibawah pohon yang cukup rindang, menanti Noir kembali.
Sepuluh menit kemudian Noir tidak kembali. Yang kudengar malah ringkikanya.
“Noir?!”
***
“Noir?” aku menemukannya di jantung hutan… bersama seekor kuda cantik yang sepertinya betina. Oh sial! Dia meninggalkanku untuk pacaran??
Noir meringkik lagi, lalu menyingkir pelan dari hadapan sesuatu, eh seseorang.
Ya, seseorang. Laki-laki. Dan pingsan.
“Astaga!” aku langsung mendekati lelaki itu, “jadi kau berlari karena ini, Noir?”
Noir meringkik. Aku segera melonggarkan pakaian lelaki itu dan meletakkan tas dibawah kakinya. Lalu… apa lagi ya? Sesuatu dengan bau menyengat? Hah, langsung kubaui dia dengan parfumku. Masa bodoh deh. Yang penting dia sadar.
Benar saja, beberapa menit kemudian mata pelan-pelan terbuka.
“H, hai,” duh! Kenapa aku mendadak gugup? “kau baik-baik saja?”
Lelaki itu mengernyit menatapku. Mungkin kesadarannya belum sepenuhnya pulih.
“Minum dulu,” kuangkat pelan kepalanya dan kubantu minum, “sepertinya kau kelelahan. Siapa kau?”
Kernyitan di dahi lelaki itu makin jelas, “bukannya aku yang harusnya bertanya padamu? Siapa kau?”
“Hah? Kau yang barusan pingsan!” bodoh.
“Dan kau yang sampai sekarang masih memelukku kan?”
Astaga lelaki ini! Dengan kasar kujatuhkan kepalanya ke tanah. Benar-benar tak tahu terimakasih!
“Ouch!” Ia mengusap kepalanya yang barusan kujatuhkan, “kenapa marah sih? Aku hanya bertanya!”
“Kata-katamu membuatku berkesan seperti seorang tante girang yang hobi peluk-peluk lelaki!”
“Bukannya iya?”
()&^$%#$@@!
***
“Namaku Deden,” katanya setelah perdebatan yang tidak penting, “dan kudaku itu namanya Shiro.”
“Aku bertanya tentang kudamu?” aku berpura-pura cuek.
“Terserah kau sajalah. Siapa kau?”
“Kezia. Dan aku tidak akan memberitahu nama kudaku jika kau tak bertanya.”
“Oke, aku tidak bertanya.”
Hening sebentar.
“Untuk apa wanita sepertimu ada di hutan ini sendirian? Dari mana kau?”
“Aku…” haruskah aku cerita kejadiannya? Cerita padanya bahwa aku ini seorang putri? Ah tidak. Dia bisa saja melaporkanku ke istana, “aku dari Kerajaan Hoam menuju utara.”
“Sendirian? Untuk apa?”
“Bukan urusanmu.”
“Oh oke. Tapi… bajumu bagus. Seharusnya kau ini seorang putri atau orang kaya—“
“Orangtuaku pedagang besar. Semacam itulah.” Potongku cepat.
“Orangtuamu kaya dan kau kemari tanpa pengawal?”
“Aku…” karang cerita, Kezia! Gunakan otakmu, “aku diusir dari rumah karena dikira korupsi uang hasil dagang dalam jumlah besar. Karena itu aku kabur ke utara.”
“Kalau kau tidak salah mengapa kabur?”
“Aku tidak punya bukti, bodoh.” Aku jadi kesal sendiri, “dan aku akan mencari buktinya di utara.”
“Hmm… aku akan berhenti bertanya.”
Hening sejenak.
“Kalau kau? Pakaianmu memang compang-camping, tapi kudamu terlalu bagus untuk rakyat biasa. Siapa kau?”
“Pengembara.” Jawabnya datar.
“Pengembara? Apa yang kau lakukan? Kemana tujuanmu?”
“Aku…” ia menghela nafas, “aku mencari seseorang. Aku kurang tahu dimana letak pastinya. Tapi informasi yang kudapat terakhir, ia berada di Kerajaan Hoam.”
“Hmm..” aku mengangguk, “pasti orang yang sangat penting. Sampai-sampai kau rela jalan sampai pingsan di tengah hutan seperti ini.”
“Iya,” ia menerawang menembus pepohonan, auranya tertutup mendung gelap, “ia oksigen buatku.”
Aku menatapnya penasaran, tanpa berkedip.
“Jangan-jangan,” tatapanku menjadi absurd—antara ingin tahu dan ingin tertawa—sehingga menimbulkan ekspresi yang tidak terbaca.
“Jangan-jangan apa?”
“Jangan-jangan,” tawaku pecah, “kamu gagal move on yaaa??”
Ekspresinya langsung kecut. Kuanggap itu jawaban iya.
“Ayolah, Deden,” aku masih tertawa, “lupakan saja diaaa.”
“Aku tidak gagal move on,” Deden mengalihkan pandangan, “aku hanya khawatir karena ia tidak pernah kembali.”
Tawaku terhenti. Sepertinya terlalu jahat menertawakan orang ini. Aku menghela nafas dan menepuk-nepuk pelan pundaknya, tanda ikut bersimpati.
***
“Beberapa kilometer ke depan tidak akan ada air. Kau harus menampung banyak persediaan. Kalau pingsan sepertiku bagaimana? Benar-benar tidak berpengalaman!” Deden mengisi penuh botol-botolku dengan air.
“Iya iyaaa,” aku menerima botol-botol itu, “terimakasih ya.”
Deden menoleh lagi padaku, “harusnya aku yang berterimakasih karena kau telah banyak membantuku. Kalau kau tak memelukku seperti tadi mungkin aku sudah mati.” Ia tertawa keras. Aku menyodok rusuknya lebih keras dari tawanya.
Setelah semua beres—ia mencarikanku botol-botol lain untuk diisi air—kami sampai di persimpangan.
“Jadi… kita berpisah? Disini?” tanyanya. Aku mengangguk.
“Semoga beruntung dengan pencarianmu.” Aku tersenyum pada Deden sambil mengulurkan tangan.
“Well, kau juga harus beruntung dengan pelarianmu,” Deden menjabat tanganku. Tangannya hangat.
Aku memberikan senyum perpisahan, lalu menuntun Noir untuk melanjutkan perjalanan.
“Kezia!” panggil Deden, “nama kudamu siapa?”
Ha! Ternyata dia penasaran, “namanya Noir.”
Aku melanjutkan perjalanan lagi… sampai kudengar Deden menyerukan namaku lagi.
“Namanya bagus.” Seru Deden. Suaranya lebih jauh. Aku melanjutkan perjalanan lagi—
“Kezia!” oke, ini sudah ketiga kalinya.
“Apa lagi sih?” aku menoleh kesal.
“Kita akan bertemu lagi kan?”
Aku bisa merasakan pipiku memanas. Wow.
***
“Well, aku rasa dia orang baik, Noir.” Kataku, “apa pikiran kita sama?”
Noir meringkik pelan. Haahaa, daritadi dia lebih diam saat kuajak pulang. Sudah mulai jatuh cinta dengan kuda putih Deden  itu mungkin.
“Ayolah, Noir,” aku cemberut, “aku janji kau akan bertemu lagi dengan kuda itu. Siapa namanya tadi? Shiro ya?”
Noir tidak merespon. Kuanggap aku benar.
“Kau pernah dengar mitos bahwa semakin pemarah seseorang, dia akan mati lebih cepat?” yang aku lupa adalah, jelas-jelas Noir tidak termasuk ‘seseorang’, “oh sudah lupakan!”
Aku melanjutkan perjalanan. Samar-samar aku mendengar sesuatu… aku langsung menghentikan langkahku.
“Halo? Ada orang?” aku berseru. Suara bergema dan menyebabkan burung-burung kecil terbang berhamburan. Namun selebihnya, suasana tetap hening.
Dengan perasaan tak nyaman, aku kembali berjalan—kali ini lebih cepat. Kalau manusia sih masih mending, kalau hantu bagaimana?
Tiba-tiba Noir meringkik keras, mengagetkan.
“Eh? Ada ap—?” suaraku tertahan ditenggorokan saat ada tangan besar yang menutup mulutku sepenuh tenaga. Bukan hanya tidak bisa berbicara, aku bahkan tidak bisa bernafas!
“Coba aku lihat. Seorang putri kabur dari istana?” suaranya berat sekali. Aku ngeri, “hadiah apa yang akan diberikan raja jika aku berhasil menemukannya?”
Aku benar-benar kehabisan nafas. Pandanganku mengabur.
Ralat. Aku lebih memilih bertemu hantu.

(to be continued)
Free Mustache Blue - Pointer Cursors at www.totallyfreecursors.com