Thursday, 11 July 2013

Happy fasting, guys! Ramadhan cuma setahun sekali, manfaatkan sebaik mungkin seakan kamu tidak akan menemuinya lagi tahun depan. Lagipula soal umur, siapa yang tahu?

Ironi, Ironi, Ironi, dalam Memori

Andai detik itu mereka tahu, bahwa ini terakhir kali aku bersama mereka. Bisakah mereka tetap  gembira memuakkan seperti itu?
Anda detik itu mereka tahu, bahwa dalam beberapa kejap lagi aku akan menghilang dari setiap sel hidup mereka. Tidakkah mereka sedih akan itu?
***
Kami berjalan beriringan bersama. Menikmati suasana kota sesak bercampur bau hujan. Masing-masing saling melemparkan guyonan, tertawa oleh sesuatu yang tak lucu dan menjengahkan. Mengarungi suatu ironi bernama kehidupan yang kejam namun tak jahat, ramah namun bukan kejujuran. Kami saling tertipu oleh senyum-senyum palsu yang saling kami lemparkan; atau memang hanya aku yang menyadari suatu keganjilan?
Aku mendengar bisik-bisik keluh kesah dari setiap insan, yang dengan kurangajar menyebut diri mereka teman. Salah satu dari mereka membenci yang lainnya, yang lainnya menggerumal betapa menyebalkannya yang lainnya lagi. Yang lainnya lagi mencoba menyukai yang lainnya lagi, padahal tahu kalau yang lainnya lagi sudah disukai oleh yang lainnya lainnya lagi. Yang lainnya lainnya lagi menguap bosan menunggu waktu pulang, dan yang lainnya lainnya lainnya…
Ah, manusia. Betapa rakus mau mereka. Mereka tak bisa hidup sendiri, tetapi selalu sok bangga dengan apa yang (bukan) mereka punya. Mereka menginginkan ini-itu. Dan saat mendapatkannya mereka berkesah ini-anu. Mereka pikir mereka begitu penting sampai Tuhan harus mendahulukan mereka semua. Ya, ‘mereka’. Berapa milyar orang di dunia ini yang selalu berdoa—atau lebih tepatnya memaksa, memerintah—Tuhan agar didahulukan?
Dan doa—paksaan, perintah—itu terkadang sama sekali tidak sepadan dengan apa yang mereka lakukan untuk Tuhan. Ayolah, Tuhan adalah Dzat Paling Dibutuhkan, dan seenaknya kalian ‘memerintah’? Kalian pikir kalian siapa? Sedetik ‘berdoa’, sedetik maksiat. Sedetik tangis, sedetik (mener)tawa(kan).
Wajah manakah kalian, manusia? Apakah yang bersenyum-senyum di hadapan publik, ataukah yang menangis-nangis minta ini-itu-anu pada Tuhan, ataukah yang bermalu-malu dihadapan kecintaan, ataukah yang berbangga-bangga di hadapan teman sebaya?
Hati manakah kalian, manusia?
Suara manakah kalian, manusia?
Lebur hancur musnah luluh lantak, dan tak akan ada lagi salah satu dari kalian yang asli. Kalian adalah pendatang, akibat dari hiruk pikuk palsu yang selama ini dibuat oleh kalian yang dahulu. Kalian adalah jelmaan dari kusutnya benang dalam pikiran masing masing khalayak. Kalian adalah alien, alien yang lahir dari kalian sendiri.
Karena di hidup kalian nyaris tak ada yang asli.
Lalu aku siapa?
Jangan dipikirkan. Karena dalam beberapa kedipan mata, aku akan menghilang.
Akulah yang paling tidak nyata dari kalian…
Free Mustache Blue - Pointer Cursors at www.totallyfreecursors.com