“Mungkin aku yang terlalu egois,”
ia menghela nafas panjang, “sepertinya lebih baik... aku melepasmu.”
Aku melongo. Kehabisan kata-kata
untuk menanggapi acara ‘lepas-melepas’ yang begitu mendadak ini. Kutelusuri
raut wajahnya, berharap ia hanya bercanda. Tapi—ingin kutusuk mataku dengan
garpu terdekat karena telah berani mencoba—tidak ada tanda-tanda bahwa ia tidak
serius.
“Tapi... kenapa?” jelas aku
terlihat begitu bodoh. Dengan piciknya kutunjukkan wajah melas-berharapku di
depan seorang gadis yang kini sedang mencoba membuangku. Pasti terlihat bodoh—tapi nyatanya aku memang
bodoh...
“Aku... aku terlalu egois,
bukankah sudah ku bilang? Aku begitu menyukaimu. Aku selalu berharap setiap
detik yang diputarkan jam tanganmu itu hanya untukku. Tetapi nyatanya tidak
kan? Aku juga ingin si A, yang setiap hari duduk di samping bangkumu. Aku ingin
seperti si B, yang selalu bisa mendapatkan waktumu. Aku ingin seperti si C,
yang setiap hari pulang sekolah denganmu—“
Lanjutan kata-katanya tidak begitu
kutanggapi serius. Dia hanya menyebutkan satu persatu temanku sejak SMP dan
secara tersirat menyatakan iri pada mereka. Aneh, bukankah ia adalah yang
paling penting? Harusnya ia sadar bahwa ialah
yang paling penting! Harusnya ia sadar...
Karena aku telah berjuang setahun
untuk mendapatkannya.
***
Setahun lalu...
“Bangku ini kosong?”
Aku mengernyit memandang seorang
gadis separuh-cina yang dengan sengaja mendekatkan wajah langsatnya ke wajahku
demi mendapatkan perhatian. Ah, ia
cantik. Tampilannya yang boyish tapi
apa adanya. Senyumnya yang begitu akrab seakan-akan aku seharusnya mengenalnya. Gawat! Apaan ini? Jantungku hilang
kendali...
“Um, kosong.” Jawabku seacuh
mungkin. Well, ini aneh. Aku tidak pernah peduli bagaimana seharusnya aku
bersikap. Apalagi di depan seorang wanita; makhluk asing yang menghuni bumi dan
menghabiskan sisa hidupnya hanya untuk mencari mall atau salon saja.
Tetapi dalam sekali lihat, aku
tahu ia bukan wanita. Ia lebih dari
sekedar itu. Ia makhluk asing, jelas. Makhluk asing yang bisa mengancam
perdaban karena bisa mengacaukan distorsi waktu. Uh, distorsi waktuku sih.
Ah, gawat. Gugup di hari pertama
SMA jelas mengacaukan pikiranku.
Makhluk-asing-pengacau-distorsi-waktu
itu duduk di sebelahku dengan santai. Ia meletakkan tas merah muda yang entah
sudah berapa tahun tidak dicuci. Dari sudut mata kulihat sneakersnya bergerak-gerak
tak sabar di bawah meja.
“Menunggu seseorang?”
“Emm... teman satu SMP-ku
seharusnya juga masuk kelas yang sama. Seharusnya aku duduk dengannya pagi ini,”
rutuknya kesal, “tapi biarlah. Kalau ia tidak telat, aku tidak bisa mendapat
teman baru kan?”
Aku mengangkat alis.
“Maksudku,” ia menunjukku dengan
telunjuk lentiknya, “kamu.”
Deg!
Hening sesaat...
“Emm... kita belum berkenalan,
kan?” aku mencairkan suasana dengan menjulurkan tanganku di depannya sembari
menyebutkan namaku. Ia tersenyum, dan ikut menyebutkan namanya.
***
Masih setahun lalu, malam harinya...
Aku harus berani! Hanya sms...
hanya sms... lelaki macam apa yang tidak berani mengirim satu saja sms ke wanita?
Apalagi dia hanya makhluk-asing-pengacau-distorsi-waktu.
Oke, kalem. Atur nafas, kendalikan
diri—jantung terutama, dan fokus. Fo-kus.
Seakan ada cheerleader yang memberiku
semangat di otak, kuketik:
Hai. Aku yang tadi duduk bersamamu di sekolah. Remember?
Dengan cepat aku mengirimnya. Oke,
itu kampungan sekali. Tapi... aku tidak tahu harus bagaimana lagiii!
Beberapa menit kemudian ponselku
bergetar. Kubuka pesan baru itu:
Oh, kamu. Hai :D
Bibirku mengulum senyum. Firasatku
baik. Pasti ini akan berjalan lancar.
Pasti.
***
Beberapa bulan kemudian...
Ponselku bergetar panjang. Telepon,
dari teman akrab sekelas. Oke, anggap saja si A.
“Halo?”
“Cek facebook.” Katanya cepat tanpa menjawab sapaan ramahku.
“Hah?”
“Cek facebook. Sebelum hilang. Cepaaat!”
Penasaran, akhirnya kubuka laptop
10 inch-ku dan menyambung ke jejaring sosial itu. Tetapi nyatanya tulisan
teratas di berandaku mengacaukan distorsi waktuku lagi—untuk alasan yang
berbeda.
“Dia,” aku berbisik pelan, “punya
pacar?”
Lalu bulan-bulan manis ini selama
ini apa?
***
Berbulan-bulan berikutnya, setiap malam...
Aku memutar-mutar ponselku dengan
jari. Sudah tiga kali berganti ponsel sejak ia pindah ke lain hati—tanpa aku
ketahui. Tetapi tetap saja, pesan yang aku baca selalu sama.
Pesan-pesan darinya.
Oke, aku memang bodoh. Aku sudah
naik kelas sebelas. Sudah tidak satu ruangan setiap hari. Tetapi nyatanya tetap
kacau; ada yang kurang. Ada yang hilang. Dia jelas sudah mengambil satu-satunya
pertahan terakhirku sebagai orang yang bahagia. Tetapi, demi Tuhan apa ini! Aku
tidak bisa melupakannya. Aku... aku yakin masih ada satu harapan. Aku yakin,
dia hanya untukku.
Firasatku saat malam pertama kali
saling mengirim pesan itu pasti benar. Pasti ini akan berjalan lancar. Sedikit saja
kerikil, tetapi tidak masalah. Semua akan berjalan lancar.
Pasti.
***
Sebulan yang lalu,
Mereka putus.
Sudah kuduga ini semua akan berjalan
lancar.
***
Masih sebulan yang lalu,
Dengan secangkir cappuccino yang
mengepulkan uap di depan wajahku.
“Aku menunggumu, setahun.” Aku nyaris
terbata-bata. Ini aneh. Ini kesempatan yang kutunggu-tunggu sejak setahun yang
lalu. Tetapi aku malah segugup ini...
“Aku juga baru menyadari... butuh
waktu setahun,” ia seakan melanjutkan kata-kataku.
“Yah... kamu tahu, semua orang
juga tahu...”
“Well, mungkin kamu tahu kemana
arah bicaraku...”
Kamu sama-sama menghela nafas—a neh.
Kekacauan distorsi waktu itu terulang kembali. Kami seakan-akan hanya berdua di
cafe padat pengunjung itu. Tetapi semua
seakan kabur. Hanya makhluk-asing-pengacau-distorsi-waktu inilah yang ada di
depan mataku.
“Aku suka kamu.”
Aku melongo.
Ia melongo.
Kami mengatakannya nyaris pada timing bersamaan.
Lalu kami sama-sama tersenyum
malu.
Sudah kuduga, semua ini akan
berjalan lancar.
***
Hari ini, detik ini, atau entahlah. Distorsi waktuku kacau lagi...
“... jadi sepertinya, aku
membatasimu dengan teman-temanmu dan... aku akan belajar melepasmu.” Ia terdiam
sebentar, “aku tidak akan menangis lagi. Aku tidak mau menangis lagi
Aku hanya mematung. Berusaha mencerna
kata-katanya yang terasa aneh di telingaku.
“Kamu tahu maksudku kan? Kita...
putus saja ya?”
“Dari awal,” akhirnya aku bisa
angkat bicara, “kamu tidak pernah terpikir untuk meminta pendapatku soal ini. Kamu
tidak memberiku banyak pilihan.”
“Aku tidak punya pilihan—“
“Kamu punya pilihan! Hidup ini
pilihan, kamu tahu? Semua yang terjadi di sini pilihan! Aku mendengarkanmu, ini
pilihan. Kamu duduk di situ, itu pilihan. Semua kata-katamu tadi, itu pilihan!”
“Kalau begitu kamu juga punya
pilihan!” suaranya bergetar nyaris parau.
“Beri aku pilihan.” Jawabku datar.
“Aku,” ia menunjuk dirinya
sendiri, “atau mereka.” Kemudian menunjuk wallpaper ponselku yang bergambar
fotoku dengan semua teman-temanku. Si A, B, C, sampai Z.
“Oke.” Aku menjaga nada suaraku
agar tetap terkontrol, “demi setahun aku menunggumu, demi sebulan permainan
jahatmu, aku memilih ini.”
Ku tunjukkan ponselku di depannya.
“Itu... pilihan.” Ia menggigit
bibir.
“Ini pilihan. Aku telah paham di
jalur mana aku bisa bahagia.”
Dan setahun di tambah sebulan ini
telah menunjukkanku, bahwa ia bukanlah jalur itu.