Tuesday, 2 April 2013

Secangkir Cappuccino - Setahun, Sebulan, Atau Kacaunya Distorsi Waktu


“Mungkin aku yang terlalu egois,” ia menghela nafas panjang, “sepertinya lebih baik... aku melepasmu.”
Aku melongo. Kehabisan kata-kata untuk menanggapi acara ‘lepas-melepas’ yang begitu mendadak ini. Kutelusuri raut wajahnya, berharap ia hanya bercanda. Tapi—ingin kutusuk mataku dengan garpu terdekat karena telah berani mencoba—tidak ada tanda-tanda bahwa ia tidak serius.
“Tapi... kenapa?” jelas aku terlihat begitu bodoh. Dengan piciknya kutunjukkan wajah melas-berharapku di depan seorang gadis yang kini sedang mencoba membuangku. Pasti terlihat bodoh—tapi nyatanya aku memang bodoh...
“Aku... aku terlalu egois, bukankah sudah ku bilang? Aku begitu menyukaimu. Aku selalu berharap setiap detik yang diputarkan jam tanganmu itu hanya untukku. Tetapi nyatanya tidak kan? Aku juga ingin si A, yang setiap hari duduk di samping bangkumu. Aku ingin seperti si B, yang selalu bisa mendapatkan waktumu. Aku ingin seperti si C, yang setiap hari pulang sekolah denganmu—“
Lanjutan kata-katanya tidak begitu kutanggapi serius. Dia hanya menyebutkan satu persatu temanku sejak SMP dan secara tersirat menyatakan iri pada mereka. Aneh, bukankah ia adalah yang paling penting? Harusnya ia sadar bahwa ialah yang paling penting! Harusnya ia sadar...
Karena aku telah berjuang setahun untuk mendapatkannya.
***
Setahun lalu...
“Bangku ini kosong?”
Aku mengernyit memandang seorang gadis separuh-cina yang dengan sengaja mendekatkan wajah langsatnya ke wajahku demi mendapatkan perhatian.  Ah, ia cantik. Tampilannya yang boyish tapi apa adanya. Senyumnya yang begitu akrab seakan-akan aku seharusnya mengenalnya. Gawat! Apaan ini? Jantungku hilang kendali...
“Um, kosong.” Jawabku seacuh mungkin. Well, ini aneh. Aku tidak pernah peduli bagaimana seharusnya aku bersikap. Apalagi di depan seorang wanita; makhluk asing yang menghuni bumi dan menghabiskan sisa hidupnya hanya untuk mencari mall atau salon saja.
Tetapi dalam sekali lihat, aku tahu ia bukan wanita. Ia lebih dari sekedar itu. Ia makhluk asing, jelas. Makhluk asing yang bisa mengancam perdaban karena bisa mengacaukan distorsi waktu. Uh, distorsi waktuku sih.
Ah, gawat. Gugup di hari pertama SMA jelas mengacaukan pikiranku.
Makhluk-asing-pengacau-distorsi-waktu itu duduk di sebelahku dengan santai. Ia meletakkan tas merah muda yang entah sudah berapa tahun tidak dicuci. Dari sudut mata kulihat sneakersnya bergerak-gerak tak sabar di bawah meja.
“Menunggu seseorang?”
“Emm... teman satu SMP-ku seharusnya juga masuk kelas yang sama. Seharusnya aku duduk dengannya pagi ini,” rutuknya kesal, “tapi biarlah. Kalau ia tidak telat, aku tidak bisa mendapat teman baru kan?”
Aku mengangkat alis.
“Maksudku,” ia menunjukku dengan telunjuk lentiknya, “kamu.”
Deg!
Hening sesaat...
“Emm... kita belum berkenalan, kan?” aku mencairkan suasana dengan menjulurkan tanganku di depannya sembari menyebutkan namaku. Ia tersenyum, dan ikut menyebutkan namanya.
***
Masih setahun lalu, malam harinya...
Aku harus berani! Hanya sms... hanya sms... lelaki macam apa yang tidak berani mengirim satu saja sms ke wanita? Apalagi dia hanya makhluk-asing-pengacau-distorsi-waktu.
Oke, kalem. Atur nafas, kendalikan diri—jantung terutama, dan fokus. Fo-kus.
Seakan ada cheerleader yang memberiku semangat di otak, kuketik:
Hai. Aku yang tadi duduk bersamamu di sekolah. Remember?
Dengan cepat aku mengirimnya. Oke, itu kampungan sekali. Tapi... aku tidak tahu harus bagaimana lagiii!
Beberapa menit kemudian ponselku bergetar. Kubuka pesan baru itu:
Oh, kamu. Hai :D
Bibirku mengulum senyum. Firasatku baik. Pasti ini akan berjalan lancar.
Pasti.
***
Beberapa bulan kemudian...
Ponselku bergetar panjang. Telepon, dari teman akrab sekelas. Oke, anggap saja si A.
“Halo?”
“Cek facebook.” Katanya cepat tanpa menjawab sapaan ramahku.
“Hah?”
“Cek facebook. Sebelum hilang. Cepaaat!”
Penasaran, akhirnya kubuka laptop 10 inch-ku dan menyambung ke jejaring sosial itu. Tetapi nyatanya tulisan teratas di berandaku mengacaukan distorsi waktuku lagi—untuk alasan yang berbeda.
“Dia,” aku berbisik pelan, “punya pacar?”
Lalu bulan-bulan manis ini selama ini apa?
***
Berbulan-bulan berikutnya, setiap malam...
Aku memutar-mutar ponselku dengan jari. Sudah tiga kali berganti ponsel sejak ia pindah ke lain hati—tanpa aku ketahui. Tetapi tetap saja, pesan yang aku baca selalu sama.
Pesan-pesan darinya.
Oke, aku memang bodoh. Aku sudah naik kelas sebelas. Sudah tidak satu ruangan setiap hari. Tetapi nyatanya tetap kacau; ada yang kurang. Ada yang hilang. Dia jelas sudah mengambil satu-satunya pertahan terakhirku sebagai orang yang bahagia. Tetapi, demi Tuhan apa ini! Aku tidak bisa melupakannya. Aku... aku yakin masih ada satu harapan. Aku yakin, dia hanya untukku.
Firasatku saat malam pertama kali saling mengirim pesan itu pasti benar. Pasti ini akan berjalan lancar. Sedikit saja kerikil, tetapi tidak masalah. Semua akan berjalan lancar.
Pasti.
***
Sebulan yang lalu,
Mereka putus.
Sudah kuduga ini semua akan berjalan lancar.
***
Masih sebulan yang lalu,
Dengan secangkir cappuccino yang mengepulkan uap di depan wajahku.
“Aku menunggumu, setahun.” Aku nyaris terbata-bata. Ini aneh. Ini kesempatan yang kutunggu-tunggu sejak setahun yang lalu. Tetapi aku malah segugup ini...
“Aku juga baru menyadari... butuh waktu setahun,” ia seakan melanjutkan kata-kataku.
“Yah... kamu tahu, semua orang juga tahu...”
“Well, mungkin kamu tahu kemana arah bicaraku...”
Kamu sama-sama menghela nafas—a neh. Kekacauan distorsi waktu itu terulang kembali. Kami seakan-akan hanya berdua di cafe padat pengunjung itu. Tetapi semua seakan kabur. Hanya makhluk-asing-pengacau-distorsi-waktu inilah yang ada di depan mataku.
“Aku suka kamu.”
Aku melongo.
Ia melongo.
Kami mengatakannya nyaris pada timing bersamaan.
Lalu kami sama-sama tersenyum malu.
Sudah kuduga, semua ini akan berjalan lancar.
***
Hari ini, detik ini, atau entahlah. Distorsi waktuku kacau lagi...
“... jadi sepertinya, aku membatasimu dengan teman-temanmu dan... aku akan belajar melepasmu.” Ia terdiam sebentar, “aku tidak akan menangis lagi. Aku tidak mau menangis lagi
Aku hanya mematung. Berusaha mencerna kata-katanya yang terasa aneh di telingaku.
“Kamu tahu maksudku kan? Kita... putus saja ya?”
“Dari awal,” akhirnya aku bisa angkat bicara, “kamu tidak pernah terpikir untuk meminta pendapatku soal ini. Kamu tidak memberiku banyak pilihan.”
“Aku tidak punya pilihan—“
“Kamu punya pilihan! Hidup ini pilihan, kamu tahu? Semua yang terjadi di sini pilihan! Aku mendengarkanmu, ini pilihan. Kamu duduk di situ, itu pilihan. Semua kata-katamu tadi, itu pilihan!”
“Kalau begitu kamu juga punya pilihan!” suaranya bergetar nyaris parau.
“Beri aku pilihan.” Jawabku datar.
“Aku,” ia menunjuk dirinya sendiri, “atau mereka.” Kemudian menunjuk wallpaper ponselku yang bergambar fotoku dengan semua teman-temanku. Si A, B, C, sampai Z.
“Oke.” Aku menjaga nada suaraku agar tetap terkontrol, “demi setahun aku menunggumu, demi sebulan permainan jahatmu, aku memilih ini.”
Ku tunjukkan ponselku di depannya.
“Itu... pilihan.” Ia menggigit bibir.
“Ini pilihan. Aku telah paham di jalur mana aku bisa bahagia.”
Dan setahun di tambah sebulan ini telah menunjukkanku, bahwa ia bukanlah jalur itu.
Free Mustache Blue - Pointer Cursors at www.totallyfreecursors.com