Saturday, 21 December 2013

Secangkir Cappuccino; That XX

Bintang tak pernah sebanyak ini.
Apalagi ini kota besar, man, dengan begitu banyak gedung pencakar langit dan lampunya berkelap-kelip yang seakan berlomba siapa-yang-paling-terang.
Tapi malam ini aku berbaring di  atap tertinggi gedung yang mungkin alamatnya tak akan tersebut di Google Maps saking unknown­-nya. Rokokku mulai terasa kering, hambar. Jadi begini rasanya menunggu, bahkan hal terenak di dunia pun menjadi mati rasa.
“Sudah kubilang berapa kali,” tiba-tiba tangan mungil dari belakang mencabut rokok di mulutku, menyisakan rasa manis tanggung, “cewek tidak baik merokok. Masih ingin kawin, kan?”
Aku menoleh kaget. Ini dia yang kutunggu “Hei!” aku berusaha merebut rokokku. Namun terlambat, ia sudah menjatuhkannya dari ketinggian hampir 5 meter ini.
“Mari kita ganti yang lebih enak—dan sehat,” tiba-tiba ia menyodokkan lolipop ke mulutku, “rasa cappuccino. Lucu kan?”
“Bisa berhenti melakukan yang seperti itu?” aku menggerutu, “anak mama sepertimu mana tahu betapa mahalnya rokok sekarang—“
“—Dan permen ini juga lebih murah. Hasil ngamenmu bisa bertahan lebih lama,” ia tertawa garing. Sejujurnya, agak pedas juga mengatakan aku ‘ngamen’.  Aku tidak sehina itu, aku bernyanyi di tempat yang lebih berkelas, “aku juga membawa kebab. Kelihatannya kamu belum makan.”
“Nah!” aku langsung merebut kantong plastik dari genggamannya lalu mengambil kebab yang ia janjikan, “pedas?”
“Super.”
You know me so well!” aku mengacak rambutnya penuh sayang. Kemudian dengan beringas kumakan kebab darinya, “enak!”
“Hei,” akhirnya ia duduk di sebelahku, “kamu benar-benar harus berhenti merokok.”
“Hmm...”
“Jangan ‘hmm’ ‘hmm’ saja!” ia mengetuk kepalaku, “batuk parahmu terdengar dari bawah, paham? Harusnya kamu ke dokter, lalu—“
“Tidak usah berlagak bodoh,” aku masih mengunyah kebabku, “kamu yang paling tahu—selain Tuhan—betapa keringnya dompetku, kan?” lalu aku tertawa.
“Tidak lucu.”
“Oh, terimakasih.”
“Aku tidak bercanda.”
“Selera humormu memang buruk.”
“Terserah!” akhirnya ia kesal sendiri, “by the way, aku mau cerita sesuatu.”
“Ng?”
“Dengar,” akhirnya ia memaksa kepalaku agar benar-benar menghadapnya, “si dia, hari ini menembakku!”
Dunia berhenti. Kebabku rasanya tak enak lagi.
“Resmi, kami jadian!”
Bumi pun runtuh.
***
Free Mustache Blue - Pointer Cursors at www.totallyfreecursors.com