Bintang tak
pernah sebanyak ini.
Apalagi ini
kota besar, man, dengan begitu banyak
gedung pencakar langit dan lampunya berkelap-kelip yang seakan berlomba
siapa-yang-paling-terang.
Tapi malam ini
aku berbaring di atap tertinggi gedung
yang mungkin alamatnya tak akan tersebut di Google
Maps saking unknown-nya. Rokokku
mulai terasa kering, hambar. Jadi begini rasanya menunggu, bahkan hal terenak
di dunia pun menjadi mati rasa.
“Sudah kubilang
berapa kali,” tiba-tiba tangan mungil dari belakang mencabut rokok di mulutku,
menyisakan rasa manis tanggung, “cewek tidak baik merokok. Masih ingin kawin,
kan?”
Aku menoleh
kaget. Ini dia yang kutunggu “Hei!”
aku berusaha merebut rokokku. Namun terlambat, ia sudah menjatuhkannya dari
ketinggian hampir 5 meter ini.
“Mari kita
ganti yang lebih enak—dan sehat,” tiba-tiba ia menyodokkan lolipop ke mulutku,
“rasa cappuccino. Lucu kan?”
“Bisa berhenti
melakukan yang seperti itu?” aku
menggerutu, “anak mama sepertimu mana tahu betapa mahalnya rokok sekarang—“
“—Dan permen
ini juga lebih murah. Hasil ngamenmu bisa bertahan lebih lama,” ia tertawa
garing. Sejujurnya, agak pedas juga mengatakan aku ‘ngamen’. Aku tidak sehina itu, aku bernyanyi di tempat
yang lebih berkelas, “aku juga membawa kebab. Kelihatannya kamu belum makan.”
“Nah!” aku
langsung merebut kantong plastik dari genggamannya lalu mengambil kebab yang ia
janjikan, “pedas?”
“Super.”
“You know me so well!” aku mengacak
rambutnya penuh sayang. Kemudian dengan beringas kumakan kebab darinya, “enak!”
“Hei,” akhirnya
ia duduk di sebelahku, “kamu benar-benar
harus berhenti merokok.”
“Hmm...”
“Jangan ‘hmm’
‘hmm’ saja!” ia mengetuk kepalaku, “batuk parahmu terdengar dari bawah, paham?
Harusnya kamu ke dokter, lalu—“
“Tidak usah
berlagak bodoh,” aku masih mengunyah kebabku, “kamu yang paling tahu—selain
Tuhan—betapa keringnya dompetku, kan?” lalu aku tertawa.
“Tidak lucu.”
“Oh,
terimakasih.”
“Aku tidak
bercanda.”
“Selera humormu
memang buruk.”
“Terserah!”
akhirnya ia kesal sendiri, “by the way, aku
mau cerita sesuatu.”
“Ng?”
“Dengar,”
akhirnya ia memaksa kepalaku agar benar-benar menghadapnya, “si dia, hari ini menembakku!”
Dunia berhenti.
Kebabku rasanya tak enak lagi.
“Resmi, kami
jadian!”
Bumi pun runtuh.
***