Hari #14, 27 Januari
2013
Dear paku kecil
yang menghalangi jalan kami,
Ini aku, atas
nama seluruh manusia di bumi, berusaha menulis surat cinta untukmu.
Menggambarkan betapa bersyukurnya kami atas kehadiranmu. Mungkin aneh, kami
selalu berusaha untuk tidak menginjakmu agar tidak merasakan perih. Tetapi ternyata
kehadiranmu bukanlah hal yang bisa kami tolak.
Kamu bukan
pilihan.
Aku percaya
pada Yang Menyebarkanmu. Aku tahu Ia hanya sedikit, sedikiiiit sekali,
menusukkanmu pada kaki-kaki kami agar kami tidak terlalu mengangkat kepala saat
berjalan. Agar kami tetap berhati-hati; melintasi jalur yang benar saat
berjalan. Yang Menyebarkanmu pasti ingin tahu bagaimana tingkah kami saat
merasakan perih di kaki kami karenamu. Apa kami akan melupakan-Nya dan
menyalahkan-Nya atas kehadiranmu? Atau kami tetap sabar, ikhlas atas semua ‘penusukan’-Nya
pada kami?
Aku tahu bahwa
Dia menebarkanmu dalam ukuran sekecil-kecilnya. Tak pernah lebih besar daripada
diri kami. Tak pernah lebih besar dari yang bisa kami rasakan. Tetapi mungkin
kami yang sok lemah. Pada dasarnya ada satu bagian di diri kami yang
menginginkan suatu jalur lurus tanpa hambatan. Padahal harusnya kami tahu; tak
ada jalan seperti itu. Pasti sekecil-kecilnya ada kamu. Tak terlihat, namun
terkadang menyakitkan.
Sampai suatu
waktu, saat kaki kami tertusuk tajamnya ujungmu, kami akan merasa malas untuk
berdiri lagi dan memilih berhenti berjalan. Mungkin seperti itu.
Padahal Yang
Menyebarkanmu telah memberi kami naluri untuk tetap bertahan di suatu jalur—yah,
tergantung individunya sih mau jalan mau yang diambil. Yang Menyebarkanmu
begitu mencintai kami tanpa banyak cakap. Duduk di singgasananya dan mengawasi
kami yang jatuh bangun karena luka darimu. Mengabulkan permintaan kami yang
tetap ingin melangkah maju dengan bekas luka-luka itu.
Kalau orang-orang
yang berhenti karenamu itu menyadari ini, mereka seharusnya menyesal memilih
untuk tidak bangkit lagi. Coba kalau sedikit saja mereka mau membuka mata;
mungkin di atas langit masih ada langit, tapi bukankah di bawah tanah masih ada
tanah?
Hidup—berjalan pada
suatu jalur—sebenarnya simpel kalau kita mau bersyukur. Tapi tahulah mereka,
cepat lelah. Seharusnya mereka membeli suatu suplemen yang bisa membuat mereka
tetap bangun; iman.
Anyway, terima
kasih buatmu, karena telah menampar kami pada suatu kejadian. Terima kasih
buatmu, karena telah menuruti perintah-Nya untuk membuat kami sadar. Terima
kasih buatmu, karena telah membantu kami untuk lebih kebal rasa sakit.
Terima kasih
untukmu, paku kecil yang menghalangi jalan kami; cobaan.
Oh ya,
sampaikan juga terima kasih terdalam kami untuk Yang Menyebarkanmu; Tuhan.
Salam
cinta,
Kami,
makhluk bumi