Sunday, 24 March 2013

Bukan Karena Saya Atheis


Dulu saya pernah bertanya kepada ustadzah saya di TPQ, mengapa Qur’an menggunakan bahasa Arab? Mengapa bukan bahasa Indonesia saja agar saya mengerti artinya?
Ustadzah saya kelabakan sebentar lalu menjawab, “jangan terlalu kritis, nanti kamu atheis.”
Buktinya saya tetap mempertanyakan itu dan sampai detik ini saya masih mengakui Islam sebagai tiang hidup saya.
Oke, bukan itu.
Saya menulis ini bukan karena saya atheis. Saya menulis ini bukan untuk membela suatu kaum. Saya menulis ini diawali bismillahirrohmanirrohim.
Akhir-akhir ini beranda jejaring sosial agak mengganggu otak saya. Saya mempunyai teman yang terlalu menghakimi agama lain dalam rangka jihad. Mereka menulis—maaf—semacam Yesus bukan Tuhan atau begitulah—sungguh sungguh maaf, tidak mempunyai niat jahat kok.
Mereka mengatasnamakan jihad. (katanya) mereka ingin agar pemeluk Islam makin banyak. Ini benar-benar menggelitik hati saya. Emm... bukan. Bukan karena saya percaya Tuhan lain selain Allah. Allah jelas satu-satunya Tuhan untuk saya dan muslim di seluruh dunia.
Yang sebenarnya ingin saya tanyakan, apakah itu termasuk jihad? Bukan, ini juga bukan penghakiman. Saya sungguh-sungguh bertanya. Karena dengar informasi-informasi yang lewat di telinga saya, pengertian jihad jadi semakin rancu di pemikiran saya yang (menurut saya) sempit.
Begini lho. Posting mereka yang mengatakan ‘Yesus bukan Tuhan’ atau semacamnya—maaf—itu kan sejenis dengan umat nasrani yang mengatakan ‘Muhammad bukan Rasul’—astaghfirullah, tentu saya Muhammad itu Rasulullah. Bayangkan, bagaimana rasanya? Bagaimana rasanya jika Rasul kita dihina-hina seperti itu? Sakit hati, bukan?
Hal-hal seperti inilah yang menyebabkan kerenggangan hubungan antara penganut agama yang satu dengan agama yang lain.  Okelah, mungkin posting-posting begitu bisa berdampak cukup baik bagi negara-negara Islam seperti Arab, Mesir, dll, dll. Tapi... Indonesia? Dengan lima agama yang diakui? Bayangkan bila posting-posting seperti ini semakin parah dan menimbulkan perang antara umat Islam dengan umat Kristiani? Naudzubillah, jangan sampai itu terjadi. 350 tahun waktu yang Indonesia butuhkan untuk mencapai perdamaian ini tidak akan hancur hanya karena posting di jejaring sosial kan?
Kebenaran itu relatif dan agak kabur. Seperti kata-kata Dee di novelnya. Emm, saya lupa detilnya, tetapi kira-kira begini:
“Kalau kamu berganti agama, itu hanya seperti yang dulu nerakamu menjadi surgamu, dan yang dulu surgamu menjadi nerakamu.”
Keyakinan itu agaknya terasa cukup tabu. Tetapi saya rasa, Rasulullah pun saat mengajak umatnya memeluk agama Islam tidak perlu menghina keyakinan lain. Beliau memang penuh wibawa.
Dan mungkin bukan cuma itu. Hidayah Allah-lah faktor terpenting untuk seseorang mengucapkan kalimat syahadat. Tidak ada artinya bujukan sana-sini, ceramah panjang lebar, jika pintu hatinya belum diketuk oleh Allah. Jangankan agama lain, ada juga muslim kaya yang tidak mau berhaji karena belum dipanggil Allah, bukan?
Allah lah yang sanggup membolak-balikkan hati manusia.
Karena itu, saya rasa toleransi itu sangat penting—khususnya untuk negara seperti Indonesia ini. Jagalah hati orang lain dimanapun. Bukankah itu dosa, jika kita melukai hati orang lain? Bukankah Allah tidak akan memaafkan dosa kita, jika orang lain belum memaafkan kita?
Itu sih kata LKS Agama Islam saya.
Sekian. Aneh ya, saya menulis hal seperti ini. Tetapi itu bukan karena saya atheis. Beribu maaf jika banyak kata yang menyinggung. Anda harus tahu, pikiran saya sempit sekali. Saya bahkan belum cukup umur untuk memiliki KTP. Karena itu saya minta tolong agar saya diberi pencerahan jika kata-kata saya ada yang salah.
Terakhir, saya benar-benar ingin tahu makna jihad sesungguhnya.
Free Mustache Blue - Pointer Cursors at www.totallyfreecursors.com