“Permisi.”
Mendadak pandanganku
kembali fokus ke buku menu.
“Jadi, Anda mau
pesan apa?” nada pelayan itu tidak sabar. Sepertinya aku terlalu lama
meninggalkannya dalam lamunanku.
“Choco topping donut. Minumnya...” aku
membalik buku menu itu, “cappuccino, not
bad.”
Pelayan itu
mencatat pesananku, lalu pergi. Aku hampir beranjak menuju alam bawah sadar
lagi. Well, sejak kejadian dini hari
itu, aku merasa tempat ternyaman adalah otakku sendiri. Aku tidak mau
kehilangan ‘alam’ ini. Aku tidak mau pergi terlalu lama. Aku lebih suka hidup
di bawah imajinasi.
Imajinasi egois;
seandainya kami tak seberbeda ini.
Iya, kami. Aku,
yang pergi ke gereja setiap minggu, dan ia, yang pergi ke mushola setiap jam
istirahat kedua.
Nyatanya semua
ini tak berjalan sedramatis dengan antiklimaks semanis ‘Cinta Tapi Beda’. Iya,
oke. Kami berbeda. Tetapi pada awalnya aku tidak pernah merasa perbedaan itu
suatu masalah.
Sampai pada
akhirnya, masing-masing kami merasa memang ada sesuatu yang salah.
***
Kepingan
kenangan itu masih ada kalau kau mau mengintip sedikit saja apa yang sedang
kulamunkan...
“Kita jalan, kamu mau?” tanyanya tiba-tiba
waktu itu.
Aku melongo.
“Emm... jangan
begitu dulu, dong.” Ia nyengir, “aku punya nadzar. Kalau aku menang
pertandingan flag football minggu ini, aku akan mengajakmu jalan. Nonton tidak
buruk-buruk amat, kan?”
Aku mengernyit,
“nadzar itu apa?”
“Nadzar itu
janji yang kita ucapkan kalau kita punya suatu keinginan. Kalau aku mendapat
ini, aku akan begini. Semacam itu lah.”
“Ooh..”
“Mau ya?”
“Kamu yang
traktir?”
“Kamu pikir aku
lelaki tanpa tanggungjawab?”
“Deal!” aku
tersenyum penuh gratisan. Jangan-jangan uang bahkan bisa mendinginkan neraka
sekalipun...
“Aku jemput
kamu.” Ia tersenyum, “malam minggu. Oke kan?”
“Oke.”
Kalau
diingat-ingat lagi, sepertinya aku sama sekali tidak terpikir bahwa itu ajakan
kencan.
***
Malam minggu
itu aku tidak merasa ada yang aneh. Semua berjalan normal. Aku dan dia menonton
film komedi bersama, tertawa (paling keras se bioskop) bersama, makan di
foodcourt bersama, membicarakan film itu bersama—dan tertawa lagi. Sekarang itu terdengar konyol—sampai
mendadak ia membawa aura serius lewat mukanya.
“Ada apa?”
tanyaku setelah menyadari perubahan itu.
“Aku mau jujur.”
“Hah?”
“Emm... yah... sebenarnya
aku mengajakmu bukan Cuma sekedar nadzar sih?”
“Hah?”
“Aku
menjadikanmu nadzar karena kamu spesial. Paham? Emm... jadi...”
“Ya?”
“Aku boleh suka
kamu?”
Hening. Dengan dia
memang terlalu banyak adegan hening.
”Te, tentu saja
boleh.” Aku tertawa garing, kagok, “tidak ada yang bisa melarang orang untuk
suka dengan orang. Feel never goes wrong.”
“Kalau begitu,”
ia mendekatkan wajahnya padaku, seakan ingin mengatakan hal sangat-sangat
rahasia, “mulai sekarang aku akan berusaha mendapatkanmu. Hati-hati ya.”
Pipiku terasa
panas. Waktu itu benar-benar memalukan.
***
Klimaks manis: satu bulan kemudian,
“Kamu tahu aku
suka kamu, kan? Aku tidak suka memberi harapan palsu, aku bukan lelaki
brengsek.” Ia tertawa gugup, “jadi pacarku, ya?”
Waktu itu
rasanya aku terbang. Kecanduan. Aku kecanduan dia. Rayuan-rayuan murahan yang terasa lebih jujur daripada
gombalan sejuta dollar, hidung mancungnya yang membuatku iri setengah mati,
senyum porno-tapi-polos-nya yang membuat mudah rindu itu—mungkin orang ini
memang narkotika jenis baru.
Aku mengangguk,
kehabisan kata. Tapi ada benang-benang kusut di logikaku yang waktu itu tidak
bisa ku interpretasikan menjadi sesuatu. Dan aku memang naif, kubiarkan saja ganjalan
itu mengendap. Waktu itu, aku berpikir bahwa tidak ada yang salah. Feels never goes wrong.
But... isn’t it?
***
Semuanya terasa
manis. Kami cukup sering mempertengkarkan hal tidak penting, lalu tertawa
bersama seperti itu hanya adegan opera sabun murahan. Kepribadian gandanya—ia bisa
sopan dengan mengagumkan di depan orang yang lebih tua. Sepertinya ia tipe lady killer or something else—membuat keluargaku
juga menyukainya. Sampai-sampai mamaku percaya saja dengannya saat ia
mengajakku menonton konser dan baru pulang lewat tengah malam. Ha!
Saat itu, aku
merasa ini akan bertahan lama. Aku tahu ia lelaki baik dan aku juga tidak suka
mempermainkan orang. Aku rasa, yes he is!
Dia yang benar. Dia yang seharusnya ada sejak dulu, bukan dua lelaki brengsek
yang memutuskanku karena alasan tidak jelas dan seminggu kemudian malah pacaran
dengan wanita lain.
Dan ternyata...
coba ku ingat... empat bulan kemudian, kalau tidak salah. Malam hari yang
tenang. Tanpa firasat buruk apapun. Ponselku bergetar, tanda pesan singkatnya
masuk.
Boleh aku jujur?
Aku mengenyit. Tidak
biasanya dia serius begini.
Apa?
Beberapa menit
kemudian ia membalas.
Sepertinya empat bulan sudah cukup lama. Dulu
aku pikir aku tidak akan masuk sedalam ini, tetapi okelah ini memang salahku. Seharusnya
dari awal aku hindari hal-hal mustahil seperti ini. Aku sudah mulai terlalu
menyayangimu dan ini tidak bagus. Aku takut semakin lama kita bersama, semakin
tidak rela aku kehilanganmu, padahal tidak ada alasan yang membuat kita jadi
satu... kamu paham?
Aku membaca
perlahan, melumat dalam otakku yang sedetik, dua detik, seakan kehilangan cara
kerjanya. Kulihat salib yang terpatri di tembok kamarku tetapi... tidak. Aku tidak
mau. Jangan, ku mohon...
Aku tidak mau membicarakan ini lagi. Titik.
***
Sejak itu aku
mulai menghindarinya. Percakapan langsung dengannya. Iya, memang bodoh. Nilaiku
cukup bagus di kimia tetapi masalah seperti ini nyatanya bukan bidangku. Aku masih
kecanduan! Dan kata-katanya di pesan itu membuatku merasa terbuang, seakan ada
anggota BNN yang menangkapku sedang pesta shabu kemudian memaksaku untu rehab
tanpa persetujuan keluargaku... oh ya, ini sih cerita artis itu.
Jangan tertawa,
karena aku berduka. Aku kehilangan sesuatu yang bisa disebut pijakan. Aku terluka—apa
ia tahu ia telah membuatkan terluka? Semua ini mulai terasa tidak sehat. Aku tidak
tahu kelanjutannya. Aku tetap memasang namanya di bioku, begitupun ia. Seakan-akan
tidak pernah ada yang terjadi tetapi.... nyatanya ada! Ini mulai mengganggu. Aku
mulai tidak terima atas perlakuan hatiku. Apanya yang feels never goes wrong? Ini jelas dosa... tetapi dosa termanis yang
pernah kubuat.
Tetapi judulnya
tetap dosa, kan? Apa Tuhan akan marah?
***
Pada kenyataanya, Tuhan marah, ya?
Kulirik jam di
ponselku. Sudah lewat tengah malam. Besok aku dibaptis, dan benang-kusut-sialan
itu mulai terurai sendiri-sendiri, membuatku sadar dan takut.
Aku takut ini
adalah gejala-gejala aku mulai mencintainya
dan aku tidak bisa melepaskan diri dari jerat seperti itu. Cinta pada manusia
tidak boleh lebih dari cinta pada Tuhan... tetapi bagaimana kalau aku melanggar
batas itu? Bagaimana kalau ia melanggar batas itu? Kami sama-sama terkukung
oleh hukum—akibat dari kepercayaan kami. Aku takut... salah satu dari kami akan
‘merangkak keluar’ dari kukungan itu.
Mataku panas. Aku
merasa ini memang salah. Tetapi aku tidak mau... aku tidak bisa... aku harus bisa...
Hei, ketikku di ponsel, aku rasa kamu benar.
Tidak ada alasan untuk kita menjadi satu.
***
“Permisi.”
Mendadak
pandanganku fokus. Ah, apa-apaan ini? Mataku terasa perih, basah.
Sialan. Aku menangis
lagi.
“Ini pesanan
Anda.” Pelayan yang sama dengan tadi memberiku donat dan secangkir cappuccino
hangat dengan uap menyebarkan bau harum kopi yang memanjakan pikiran.
“Terimakasih.” Aku
tersenyum kecil. Setelah pelayan itu pergi, kuseruput isi cangkir itu dalam
diam—sebelum tiba-tiba,
“Hoi!”
seseorang menggebrak mejaku. Aku kembali lagi pada kenyataan.
“Ka, kamu?” aku
mengernyit. Iya, penggebrak meja menyebalkan ini narkotika-ku.
“Halo.” Ia tertawa,
“duduk ya?”
Aku mengangguk,
“sebahagiamu deh.”
Ia nyengir dan
duduk—lalu dengan kurang ajar mencuil donatku dan memakannya.
“Pesan sendiri!”
dengan sewot kurebut piring donat itu. Ia tertawa lagi.
Ada suatu
kelegaan luar biasa muncul dari dadaku. Tawanya yang membuatku sakau itu
nyatanya kini masih bisa kupandang dari jarak sedekat ini...
“Kamu...
menangis?”
Ah bodoh! Dengan
tergesa-gesa kuseka air mataku, “disini banyak debu.”
“Debu? Di ruang
AC begini?”
Oke, aku bodoh.
Bodoh. Bodoh.
Namun auranya
berubah lagi. Ia memberiku tatapan intens, diam, dalam.
“Hampir
seminggu, ya?” ia menghela nafas, “aku agak merasa kehilangan.”
Ia jujur, aku
tahu. Dengan menggigit bibir aku ikut mengiyakan.
“Aku duduk di
sini, mau minta maaf.”
“Untuk?”
tanyaku dengan suara nyaris mencicit.
“Untuk semua
kemustahilan yang sempat aku tawarkan ke kamu.” Mukanya begitu penuh
penyesalan, “aku tidak punya niat untuk menyakiti siapa-siapa. Tetapi dalam
kasus ini, aku lebih sakit hati daripada yang bisa kamu bayangkan.”
“Begitu juga
denganku.” Suaraku serak. Gawat, aku ingin menangis lagi.
“Manusia punya
batas yang tidak bisa mereka capai hanya dengan cinta rupanya.” Ia setengah
melamun.
“Tidak ada
apapun yang bisa dicapai hanya dengan cinta.” Aku tertawa getir.
“Cinta bukan
jalan keluar.”
“Feels never goes wrong is such a bulshit.”
Hening lagi.
“Perasaan bukan
omong kosong,” ia meyakinkanku, “perasaan tidak pernah salah—“
“Tapi perasaan kita
salah!” aku pasti terdengar parau, “perasaan sialan itu sekarang membuatku
seperti orang gila!”
“Feels never goes wrong,” ia tetap teguh
pada prinsipnya, “the wrong one is if we
are controlled by feels. Kita tidak bisa menuhankan perasaan. Perasaan
bukan hal yang bisa kita bawa mati.”
Aku Cuma menunduk.
Tahan, tahan... jangan di sini. Jangan mempermalukan dirimu sendiri...
“Aku tidak mau
kehilangan kamu.” Ia ikut menunduk, mengejar mataku, “aku harap kita bisa
seperti sebelum semua ini terjadi. Kamu benar-benar orang baik—teman baik.”
“Aku butuh
waktu.” Akhirnya aku mendongak, menghadapi matanya, “ini tidak semudah itu. Aku
butuh waktu.”
Ia seakan
mencari sesuatu dari pandanganku.
“Jika waktunya
sudah habis, aku janji akan lebih berani menghadapimu. Seperti sebelum semua
ini terjadi.”