Monday, 6 August 2012

The Tale of Hoam Kingdom - 4. That Girl with That Wanderer... Uuh!


Aku hanya mengamati Deden yang mondar-mandir panik menunggu tabib keluar. Ya, karena Dina. Siapa lagi coba.
Sedangkan aku… cuma lecet-lecet karena gesekan tali dan sedikit memar. Bersyukur sih tapi… oke ini bodoh tapi… aku ingin tahu rasanya dikhawatirkan oleh lelaki susah ditebak seperti Deden. Hhhh… jadi aku benar-benar cemburu? Berarti aku menyukai… OH JANGAN SAMPAI!!
Beberapa lama kemudian tabib tua itu keluar. Deden langsung menghampirinya.
“Bagaimana?” tanya Deden.
“Tidak ada masalah serius seperti tengkorak retak, kelainan syaraf, atau lainnya. Dia akan baik-baik saja.” Jawab tabib itu. Aku mendengar Deden bergumam penuh syukur.
Aku? Ehm… bersyukur tidak ya?
“Apa dia sudah sadar?” tanyanya lagi.
“Belum. Dia masih butuh banyak istirahat.” jawab tabib itu, “saya akan menyiapkan obat untuknya. Saya permisi.” Lalu tabib tua itu pergi.
Hening.
“Den,” aku mulai pembicaraan, “aku minta maaf. Karenaku Dina jadi—“
“Bukan salahmu. Salah penculik itu.” Deden tersenyum hambar.
“Oh, eh, iya.” Salah tingkah deh, “kamu belum makan kan? Biar aku carikan makanan. Kau tunggu di sini ya, jaga Dina.”
Deden bergumam terimakasih pelan. Aku berlalu dari hadapannya. Kesedihan di mata cokelatnya itu membuatku jadi salah tingkah; sedih melihatnya seih, kesal karena dia lebih peduli pada wanita lain. Ya, aku memang jahat. Di saat seperti ini masih juga memikirkan hal seperti itu…
Tapi aku akan mengejar cinta Pangeran Dharma, no-doubt! Kalau aku bersama pengembara yang hidupnya tidak jelas seperti Deden, aku bisa membunuh kerajaanku pelan-pelan. Tuh kan! Jatuh cinta saja banyak aturannya.
***
Keesokan harinya, Dina sadar.
“Ehmm… Dina? Feel better?” aku memasang senyum—entah seperti apa jadinya senyum itu.
Dina mengamatiku dari atas ke bawah, bawah ke atas, kiri ke kanan, kanan ke kiri… mendadak aku merasa menjadi teroris atau semacamnya, “kamu dari dunia putih?”
“Ehm.. maksud?” aku bertanya polos. Well, aku benar-benar tidak mengerti dunia putih.
“Oh. Iya. Kamu dunia putih.” Simpul Dina TANPA menjawab pertanyaanku. Seriuuus. Ini maksudnya apa sih?
“Harus kita apakan dia?” Deden bertanya tanpa ekspresi. APAKAN?? APAKAN KATANYA?? MEMANGNYA AKU MAU DICABULI ATAU BAGAIMANA??
Oke. Calm down.
“Kemana tujuanmu?” tanya Dina lagi.
“Kerajaan Utara.” Jawabku malas. Tiba-tiba saja aku ingin cepat-cepat keluar dari tempat ini.
“Lewat hutan ya. Jauh juga.” Dina terlihat berpikir, “kapan kamu melanjutkan perjalanan?”
“Menunggu kamu pu—“
“Secepatnya.” Aku memotong jawaban sok tahu Deden dengan ganas, “kalau bisa hari ini juga. Aku tidak punya banyak waktu.”
Deden melongo. Ha~ha~ha~
“Oh,” respon Dina—dia biasa saja kalau kau tanya, “aku punya saran untukmu. Jangan gunakan baju sebagus itu untuk mengembara, jangan menggunakan kuda sehalus itu juga, dan jangan membawa terlalu banyak barang berharga. Lain kali mungkin saja tidak ada yang bisa menyelamatkanmu. Kamu harus bisa bertahan dalam kesusahan—well, meskipun aku tidak tahu tujuanmu.”
Diam-diam aku membenarkan saran Dina. Kalau dilihat-lihat dari penampilanku, jelas saja orang-orang ingin menyekapku dengan kurang ajar seperti kemarin. Maaf saja deh, aku belum pernah keluar istana sebelumnya. Kamu pikir aku Sidharta atau bagaimana???
“Baiklah, aku akan menyamar.” Aku menghela nafas, “tapi… dimana aku bisa mendapatkan kuda?”
“Aku yakin masyarakat sini dengan senang hati menukarkan kuda mereka dengan kudamu yang berkilauan itu.”
“Oke. Aku akan menukar… tunggu dulu!” aku tidak terima, “menukar kuda spesies unggul seperti Noir dengan kuda biasa?? Kau gila!”
“Kan bisa kau ambil lagi lain kali. Kalau kau benar-benar kaya.”
Wanita ini menghinaku atau bagaimana sih??
“Terserah kau sajalah.” Aku melengos.
“Biar aku bantu mengurusi semuanya,” Deden berdiri, “sepertinya kali ini kita akan benar-benar berpisah, Kezia.”
Jleb.
***
“Bye, Noir.” Aku mencium bulunya lembut, “believe me, aku akan mengambilmu kembali.”
Noir meringkik pelan, terdengar sedih, lalu ia mengikuti pemilik barunya pergi. Aku melambai-lambaikan tangan, kemudian melirik ‘kuda baruku’. Jelas beda jauh dengan Noir!
Bulunya sangat tidak terawat. Bau pula. Ya Tuhan, tunjukkan keajaiban-Mu pada kuda inii…
“Oke. Aku akan memberimu nama Messy. Sesuai dengan dirimu.” Dia sangat berantakan.
“Hai Messy!” Deden nyengir. Kulihat-lihat dia mirip dengan Messy. Mungkin karena aku masih kesal padanya, “jaga si cantik baik-baik ya.”
Aku mendengus. Dasar playboy! PHP-ers! Sepikers!
Deden beralih padaku, “kamu juga jaga diri baik-baik ya Kezia.”
“Ya.” Jawabku tanpa niat sembari menaiki Messy. Deden sudah ‘merangkum’ barang-barangku sebelumnya—dia tidak menyentuh ‘pakaian pribadi’ku. Jangan ngaco!
Deden menepuk-nepuk kepala Messy penuh sayang. Jadi… ini benar-benar… perpisahan?
***
Aku melamun saja saat perjalanan. Bodoh! Aku kesal pada Deden tapi… kalau diberi kesempatan melihatnya tersenyum untukku sekali lagi saja, aku tidak keberat—OH TIDAK!!!
Messy meringkik pelan. Mengajak kenalan mungkin.
“Aku Kezia.” Jawabku ngawur, masih setengah melamun. Messy meringkik lagi. Aku diamkan sajalah dia. Tiba-tiba aku merindukan egoisme Noir yang biasanya kusebalkan itu.
Tapi aku lebih rindu… OKE JANGAN DIBAHAS!
Tiba-tiba ada sesuatu yang mengusik momen galauku. Sesuatu yang melewati rerumputan, sesuatu yang menciptakan berisik dari lidah, sesuatu yang melata, sesuatu yang… MATI! ADA ULAR!!
Aku rasa aku memang ditakdirkan sial seumur hidup atau semacamnya…
“Jangan diam saja, dasar bodoh!”
Suara itu…
Aku menoleh. Untuk kedua kalinya Deden jadi superhero-ku.  Kali ini ia menaiki kuda lain, bukan Shiro. Ia mengusir ular-ular itu dengan tampang galak.
“Kalau tidak diusir, Messy-mu bisa digigit.” Jelas Deden sabar, “oh iya. Kenalkan, ini kuda baruku. Namanya… nanti saja deh kalau kau bertanya.”
“Kau mengikutiku?” aku bertanya tidak percaya—antara girang, kaget, pokoknya tidak percaya!
“Iya.” Deden nyengir lagi. Ralat, dia lebih mirip Noir. Meskipun tetap saja judulnya ‘mirip kuda’, paling tidak Noir spesies unggul kan?
“Kenapa?”
“Well, lelaki gentle manapun tidak akan meninggalkan seorang wanita poor wannabe sepertimu pergi menyusuri hutan sendirian kan? Aku akan terus menemanimu sampai tujuan.”
Aku mendadak melting tapi… “Dina?”
“Lho?” ia mengernyit, “kamu menyuruhku melupakannya? Jadi aku akan melupakannya. Aku rasa esensi move yang paling indah adalah berhasil melupakan  yang seharusnya dilupakan kan?”
Eh? Dia serius? Dia move karenaku? Aku diam, terpaku, bingung.
“Sudahlah, Kezia. Sekarang yang penting kamu dan tujuanmu.” Deden tertawa, “aku sudah menemukan yang kucari, sekarang aku akan membantu. Deal?”
“I, iya.” Aku mengangguk, speechless.
“Sip.” Deden mengacungkan dua jempolnya, “jadi biar kuberitahu. Hutan bisa jauh lebih berbahaya lagi. Sebaiknya kita lewat jalur aman; lewat luar.”
“Luar? Nanti kalau aku ketahuan?”
“Kau sudah menyamar. Tinggal sedikit dipoles akting dan kebohongan-kebohongan kecil saja kan?”
“Tapi…”
“Percaya saja padaku. Aku akan melindungimu. Ya?” Deden tersenyum meyakinkan. Aku luluh. Aku mengangguk. Biar Tuhan nanti yang merancang kejadian setelahnya.
***
Setelah putar balik yang cukup melelahkan…
“Selamat datang,” bisik Deden, “di dunia hitam.”
Aku mengamati sekeliling. Perkampungan kumuh, teriakan-teriakan emosi, anak-anak kecil yang menangis, pengemis mengemis kepada pengemis, pemandangan ironis macam apa ini?
“Dunia hitam? Jelaskan padaku.”
“Oke.” Deden berlagak seperti sejarawan—sama sekali tidak cocok by the way, “secara tidak resmi, Kerajaan Hoam dibagi atas dua wilayah besar; dunia hitam dan dunia putih. Dunia putih berisi kaum-kaum kaya, keluarga-keluarga raja, bangsawan, pedagang sukses, dan lain-lain. Dunia putih ya yang selama ini kamu lihat di sekitar rumahmu; semua di-setting untuk menjadi selaras dengan apa yang diinginkan raja.”
Raja? Ayahku?
“Dunia hitam sebaliknya,” lanjut Deden, “ya seperti yang kamu lihat ini. Aku tidak perlu menjelaskan lagi kan?”
“Apa raja tahu?”  tanyaku hati-hati.
“Kurasa. Lalu beliau pura-pura buta, tuli, dan bisu mengenai fenomena ini. Karena itu kaum dunia hitam selalu berusaha melawan, namun penjaga-penjaga keamanan kaum dunia putih selalu berhasil memukul mundur kekuatan mereka. Seakan kerajaan Hoam bersih dari masalah intern.”
Aku diam, kagok. Jadi begini rupa sebenarnya kerajaanku selama ini? Dan… ayah tahu?
“Menurutmu,” aku bertanya lebih hati-hati lagi, “siapa yang salah?”
“Entah. Tapi aku membenci raja munafik itu sampai sekarang.” Jawab Deden kalem. Tapi… menusuk!
Aku diam lagi, bingung menjawab apa sampai…
“OUCH! HEH, WANITA BODOH! KAU ATAU KUDAMU SIH YANG SEBENARNYA BUTA???”
Aku kaget karena bentakan itu dan langkah Messy yang terhenti. Dengan segera aku turun untuk melihat apa yang terjadi.
Bagus! Messy menabrak seseorang. Seorang wanita berwajah bulat telur yang membawa sekeranjang buah nyaris busuk—dan buah-buah itu kini berpindah ke bawah kaki Messy.
“Maaf.” Aku menunduk berkali-kali, “saya dan kuda ini belum begitu mengenal jadi—“
“Kau pikir aku peduli?” ia berkata sinis, “bayar semua ganti rugi! Kau pikir di sini uang tinggal metik atau bagaimana?”
Aku menahan marah. Semoga aku tidak bertemu lagi dengan wanita seperti ini!!

 (to be continued)

The Tale of Hoam Kingdom - 3. Kidnapped


“Jadi dia memang putri raja?”
Uh, kepalaku pusing sekali.
“Iya. Aku melihat kalung permata dengan tanda kerajaan di lehernya.”
Ini dimana?
“Apa kita rampok dulu barang-barang berharganya? Dimana kudanya?”
“Kuda itu melarikan diri lebih dulu dengan barang-barangnya.”
Oh sial. Jadi Noir meninggalkanku?
“Lalu apa yang bisa kita rampok darinya? Dasar bodoh!”
“Kita bisa jual kalung permatanya. Pasti sangat mahal. Lalu kita peras raja agar memberi kita imbalan lebih. Agar mereka tahu kekuatan kita, kaum dunia hitam.”
Kaum dunia… apa?
Aku membuka mata pelan-pelan. Atap jerami di atasku masih memberikan efek bianglala sepertinya.
“Tuan Putri sudah bangun?” salah seorang lelaki dengan tubuh besar bertanya sok manis.
“Diamlah! Cepat lepaskan aku!” bentakku garang. Percuma juga sih sebenarnya…
“Cantik sih, tapi tidak punya otak ya.” Sergah temannya yang lain. Apa dia bilang? Orang yang mengatakan orang lain tidak punya otak seharusnya menerima konsekuensi; harus memiliki otak!
Aku menatap mereka berdua kesal, marah, tapi… takut juga. Rasa takutnya ini lho membuatku gerah.
“Lagipula, untuk apa seorang putri berkeliaran sendirian di tengah hutan belantara seperti ini? Hanya dengan seekor kuda lagi.” Lanjutnya.
“Bukan urusanmu.”
“Memang bukan urusan kami. Tapi kami kan penasaran. Kami mengikutimu dari air terjun—“
“APA KATAMU???” aku meraung. Ini MIMPI BURUK! Ada dua orang jelek yang mengintipku mandi? Oh, bisakah aku mati?
“Lihat ekspresinya.” Salah satu dari mereka tertawa. Pipiku terasa panas sekali. Panas karena marah.
“Cukup tertawanya.” Kata lelaki kedua. Ia lalu mendekatiku yang benar-benar tidak bisa bergerak—badanku diikat kuat sekali. Aku rasa kulitku mulai lecet—dan menarik sesuatu.
Kalung kerajaanku.
“Kembalikan itu padaku!” mataku memanas. Apa lagi hal buruk yang terjadi setelah ini?
Lelaki kedua menyimpan kalungku di sakunya dan kembali menatapku, “menurutmu harganya lebih mahal mana? Dikembalikan ke raja, dijual sebagai budak, atau dijual organ tubuhnya?”
Oh bagus.
“Jual organ tubuh pasti lebih mahal.” Jawab lelaki pertama.
“Kalau begitu, kita jual saja organ tubuhnya.”  Lelaki besar itu membekapkiu paksa lagi. Kepalaku pening lagi. Kemudian… gelap.
Ya Tuhan. Ini demi apa…
***
“Hei?” aku mendengar suara dalam wanita di sebelahku. Aku tidak bisa melihat apa-apa. Tapi yang aku rasakan… sepertinya tidak ada apapun yang mengikat tanganku lagi. Dengan susah payah kubuka mata.
Seorang wanita cantik dengan kulit putih bersinarnya sedang membuka tali yang mengekang kakiku. Ia mengenakan baju zirah seperti layaknya ksatria. Aku terus menatap wajahnya—berusaha mengingat kalau-kalau aku pernah melihatnya sebelum ini.
“Kau sadar? Kau baik-baik saja? Bisa mendengarku?” ia menggoyang-goyang telapak tangannya di depan mataku.
“Kau siapa?” tanyaku. Aku kaget suaraku bisa selemas ini.
“Dina.” Jawabnya singkat, tegas, dan… tanpa bertanya balik siapa aku. Fine! Aku diam.
Dina selesai melepas semua ikatan di tubuhku, “kita harus cepat-cepat keluar dari sini sebelum dua pengemis itu kembali.”
“Pengemis?” ulangku penasaran, “siapa mereka?”
“Mereka pasti gelandangan dari dunia hitam.”
Tuh kan disebut lagi, “dunia apa sih?”
Ia menoleh padaku dengan tatapan meremehkan, “ah. Dilihat dari pakaianmu, kau pasti dari dunia putih. Jelas saja kau tidak mengerti.”
Kernyitan di dahiku semakin dalam.
“Sudahlah. Bukan waktunya membicarakan itu. Ayo pergi!” ia menarikku tergesa-gesa keluar. Aku hanya menurut.
“Jadi,” tanyaku berusaha mengimbangi kecepatannya, “dari mana kau tahu ada aku di sini?”
“Aku menemukan jejak sesuatu yang diseret. Dilihat dari kedalaman tekanan dari tanah, aku memperkirakan kalau benda yang diseret itu pasti tidak ringan, namun juga tidak seberat hewan besar.” Jawabnya, “kesimpulanku, ada manusia yang diseret paksa.”
Selain cantik, otaknya juga berfungsi dengan baik.
“Jadi, kau kenal siapa yang menculikmu?” tanyanya balik.
Aku menggeleng.
“Baiklah. Aku malas main pukul-pukulan hari ini.” Dina mengangkat bahu. Aku melihat sekelabatan orang di belakangnya…. “Lebih baik kita cepat pergi dan—“
“AWAS!!!”
Dengan cekatan, Dina langsung berbalik badan dan menendang dada si penculik yang akan menyergapnya. Akurasinya, teknik menendangnya, kekuatan yang jarang dimiliki gadis lain, dengan segera kusimpulkan bahwa orang ini bukan wanita biasa.
“Kau rupanya?” Dina dengan segera membentuk kuda-kuda yang kuat, “Mamat, perampok yang menjadi buronan itu kan?”
“Oh. Aku setenar itu?”
“Tenar moyangmu!” Dina memicingkan mata, “lihat saja! Akan kuserahkan kau ke keamanan kerajaan!”
“Lakukan saja kalau kau masih bisa hidup setelah ini, dasar bocah sok jago!” si penculik itu juga memasang kuda-kuda yang tidak kalah kuat. Sialan, ini acara wrestling pro atau bagaimana?!
Dina melakukan serangan lebih dulu. Ia berusaha mengecoh perhatian lawannya untuk mendapatkan tumpuan badan lawan. Namun sia-sia, lawannya sepertinya juga pejudo hebat. Dina masih berusaha mencari celah. Aku terkagum kagum melihat kecepatannya sekaligus sentuhan seni pada tiap gerakannya; seakan ia sedang menari, bukan mencari cara untuk membanting lawannya.
Dan sampai akhirnya… Dina benar-benar membanting lawannya.
“Bocah sok jago katamu?” Dina berucap dingin sambil menginjak (dan menggesek-gesekkan sepatu boot besarnya) ke dada si penculik, “katakan itu sepuluh tahun lagi, dasar bodoh!”
Aku menutup mulut—antara kagum dan ingin tertawa.
“Well, aku serius saat mengatakan kau memang sok jago.” Si pencullik berkata sinis. Tiba-tiba saja—entahlah. Terjadi terlalu cepat—seseorang memukul keras kepala Dina dengan batangan besi. Darah segar mengalir dari keningnya. Serasa badanku ikut beku. Aku baru ingat kalau penculiknya ada dua. Bodohnya akuu!
Dina jatuh pingsan. Aku melihat bibirnya membiru, pucat. Oh tidak! Apakah dia sudah…
“Kau juga, Tuan Putri.” Ia mengarahkan tongkat besi itu tepat di depan mataku. Mataku mulai panas, “jangan macam-macam dengan kami—“
“Kau yang jangan macam-macam terhadap mereka, payah!”
Aku menoleh saat mendengar suara yang familiar di telingaku. Suara yang—jujur saja—tiba-tiba kurindukan di saat segenting ini.
Benar saja. Deden. Ia menghampiriku dan menutup kedua mataku dengan sehelai kain.
“Menghabisi wanita dengan senjata merupakan tindakan yang sama sekali tidak gentleman, kalian tahu?” aku mendengar gesekan suatu benda. Kurasa pedang, “lawan kalian aku.”
Dan yang aku dengan setelah itu hanyalah dentingan keras dua logam, plus jejeritan kedua penculik itu.
Beberapa lama kemudian, mendadak hening…
“Kezia?” suara halus Deden kembali lagi, lalu ia membuka penutup mataku, “kau baik-baik saja?”
Apa wajah ketakutan ini terlihat baik-baik saja? Namun ada sesuatu—entah apa itu—di mata tajam lelaki di depanku ini yang membuatku mengangguk.
Deden mengelus lembut rambutku, “maafkan aku datang terlalu lama—“
“Dina,” aku bergumam pelan, “selamatkan dia.”
“Dina?” mimik muka Deden berubah secara cepat. Ia lalu menoleh dan mendapati sosok Dina pingsan penuh darah, “DINA!!”
Perasaanku saja atau… Deden lebih panik karena Dina, bukan karena aku?
Dengan cepat—dan panik berlebihnya itu! Padahal mereka kan belum saling kenal?! Eh, atau aku salah?—Deden membopong Dina dan menaiki kudanya. Di sebelah kuda Deden aku melihat kuda lain yang sangat aku kenal.
“Noir!” aku girang, yang langsung kusembunyikan.
“Nanti saja reuninya. Ayo kita pergi!” Deden memacu kudanya begitu cepat. Aku mengambil kalungku diam-diam dari saku si penculik, menaiki Noir, dan kupacu Noir agar mengikuti Shiro.”
“Deden?” panggilku setengah berteriak, “mengapa kau sepanik itu? Kau… kau mengenal Dina?”
“Kenal.” Jawabnya singkat tanpa menurunkan kecepatan kudanya.
“Siapa dia?”
“Kau bilang aku gagal move on kan?” suara Deden terdengar getir, “karena wanita inilah aku gagal move on.”
Aku terdiam. Lalu… perasaan apa ini? Sepahit… patah hati?

(to be continued)



Free Mustache Blue - Pointer Cursors at www.totallyfreecursors.com