Aku hanya
mengamati Deden yang mondar-mandir panik menunggu tabib keluar. Ya, karena
Dina. Siapa lagi coba.
Sedangkan aku…
cuma lecet-lecet karena gesekan tali dan sedikit memar. Bersyukur sih tapi… oke
ini bodoh tapi… aku ingin tahu rasanya dikhawatirkan oleh lelaki susah ditebak
seperti Deden. Hhhh… jadi aku benar-benar cemburu? Berarti aku menyukai… OH
JANGAN SAMPAI!!
Beberapa lama
kemudian tabib tua itu keluar. Deden langsung menghampirinya.
“Bagaimana?”
tanya Deden.
“Tidak ada
masalah serius seperti tengkorak retak, kelainan syaraf, atau lainnya. Dia akan
baik-baik saja.” Jawab tabib itu. Aku mendengar Deden bergumam penuh syukur.
Aku? Ehm…
bersyukur tidak ya?
“Apa dia sudah
sadar?” tanyanya lagi.
“Belum. Dia masih
butuh banyak istirahat.” jawab tabib itu, “saya akan menyiapkan obat untuknya. Saya
permisi.” Lalu tabib tua itu pergi.
Hening.
“Den,” aku
mulai pembicaraan, “aku minta maaf. Karenaku Dina jadi—“
“Bukan
salahmu. Salah penculik itu.” Deden tersenyum hambar.
“Oh, eh, iya.”
Salah tingkah deh, “kamu belum makan kan? Biar aku carikan makanan. Kau tunggu
di sini ya, jaga Dina.”
Deden bergumam
terimakasih pelan. Aku berlalu dari hadapannya. Kesedihan di mata cokelatnya
itu membuatku jadi salah tingkah; sedih melihatnya seih, kesal karena dia lebih
peduli pada wanita lain. Ya, aku memang jahat. Di saat seperti ini masih juga
memikirkan hal seperti itu…
Tapi aku akan
mengejar cinta Pangeran Dharma, no-doubt! Kalau aku bersama pengembara yang
hidupnya tidak jelas seperti Deden, aku bisa membunuh kerajaanku pelan-pelan. Tuh
kan! Jatuh cinta saja banyak aturannya.
***
Keesokan
harinya, Dina sadar.
“Ehmm… Dina? Feel
better?” aku memasang senyum—entah seperti apa jadinya senyum itu.
Dina
mengamatiku dari atas ke bawah, bawah ke atas, kiri ke kanan, kanan ke kiri…
mendadak aku merasa menjadi teroris atau semacamnya, “kamu dari dunia putih?”
“Ehm.. maksud?”
aku bertanya polos. Well, aku benar-benar tidak mengerti dunia putih.
“Oh. Iya. Kamu
dunia putih.” Simpul Dina TANPA menjawab pertanyaanku. Seriuuus. Ini maksudnya
apa sih?
“Harus kita
apakan dia?” Deden bertanya tanpa ekspresi. APAKAN?? APAKAN KATANYA?? MEMANGNYA
AKU MAU DICABULI ATAU BAGAIMANA??
Oke. Calm down.
“Kemana
tujuanmu?” tanya Dina lagi.
“Kerajaan
Utara.” Jawabku malas. Tiba-tiba saja aku ingin cepat-cepat keluar dari tempat
ini.
“Lewat hutan
ya. Jauh juga.” Dina terlihat berpikir, “kapan kamu melanjutkan perjalanan?”
“Menunggu kamu
pu—“
“Secepatnya.” Aku
memotong jawaban sok tahu Deden dengan ganas, “kalau bisa hari ini juga. Aku tidak
punya banyak waktu.”
Deden melongo.
Ha~ha~ha~
“Oh,” respon
Dina—dia biasa saja kalau kau tanya, “aku punya saran untukmu. Jangan gunakan
baju sebagus itu untuk mengembara, jangan menggunakan kuda sehalus itu juga,
dan jangan membawa terlalu banyak barang berharga. Lain kali mungkin saja tidak
ada yang bisa menyelamatkanmu. Kamu harus bisa bertahan dalam kesusahan—well,
meskipun aku tidak tahu tujuanmu.”
Diam-diam aku
membenarkan saran Dina. Kalau dilihat-lihat dari penampilanku, jelas saja
orang-orang ingin menyekapku dengan kurang ajar seperti kemarin. Maaf saja deh,
aku belum pernah keluar istana sebelumnya. Kamu pikir aku Sidharta atau
bagaimana???
“Baiklah, aku
akan menyamar.” Aku menghela nafas, “tapi… dimana aku bisa mendapatkan kuda?”
“Aku yakin
masyarakat sini dengan senang hati menukarkan kuda mereka dengan kudamu yang
berkilauan itu.”
“Oke. Aku akan
menukar… tunggu dulu!” aku tidak terima, “menukar kuda spesies unggul seperti
Noir dengan kuda biasa?? Kau gila!”
“Kan bisa kau
ambil lagi lain kali. Kalau kau benar-benar kaya.”
Wanita ini
menghinaku atau bagaimana sih??
“Terserah kau sajalah.”
Aku melengos.
“Biar aku
bantu mengurusi semuanya,” Deden berdiri, “sepertinya kali ini kita akan
benar-benar berpisah, Kezia.”
Jleb.
***
“Bye, Noir.” Aku
mencium bulunya lembut, “believe me, aku akan mengambilmu kembali.”
Noir meringkik
pelan, terdengar sedih, lalu ia mengikuti pemilik barunya pergi. Aku
melambai-lambaikan tangan, kemudian melirik ‘kuda baruku’. Jelas beda jauh
dengan Noir!
Bulunya sangat
tidak terawat. Bau pula. Ya Tuhan, tunjukkan keajaiban-Mu pada kuda inii…
“Oke. Aku akan
memberimu nama Messy. Sesuai dengan dirimu.” Dia sangat berantakan.
“Hai Messy!”
Deden nyengir. Kulihat-lihat dia mirip dengan Messy. Mungkin karena aku masih
kesal padanya, “jaga si cantik baik-baik ya.”
Aku mendengus.
Dasar playboy! PHP-ers! Sepikers!
Deden beralih
padaku, “kamu juga jaga diri baik-baik ya Kezia.”
“Ya.” Jawabku tanpa
niat sembari menaiki Messy. Deden sudah ‘merangkum’ barang-barangku sebelumnya—dia
tidak menyentuh ‘pakaian pribadi’ku. Jangan ngaco!
Deden
menepuk-nepuk kepala Messy penuh sayang. Jadi… ini benar-benar… perpisahan?
***
Aku melamun
saja saat perjalanan. Bodoh! Aku kesal pada Deden tapi… kalau diberi kesempatan
melihatnya tersenyum untukku sekali lagi saja, aku tidak keberat—OH TIDAK!!!
Messy
meringkik pelan. Mengajak kenalan mungkin.
“Aku Kezia.” Jawabku
ngawur, masih setengah melamun. Messy meringkik lagi. Aku diamkan sajalah dia. Tiba-tiba
aku merindukan egoisme Noir yang biasanya kusebalkan itu.
Tapi aku lebih
rindu… OKE JANGAN DIBAHAS!
Tiba-tiba ada
sesuatu yang mengusik momen galauku. Sesuatu yang melewati rerumputan, sesuatu
yang menciptakan berisik dari lidah, sesuatu yang melata, sesuatu yang… MATI!
ADA ULAR!!
Aku rasa aku
memang ditakdirkan sial seumur hidup atau semacamnya…
“Jangan diam
saja, dasar bodoh!”
Suara itu…
Aku menoleh. Untuk
kedua kalinya Deden jadi superhero-ku. Kali ini ia menaiki kuda lain, bukan Shiro. Ia
mengusir ular-ular itu dengan tampang galak.
“Kalau tidak
diusir, Messy-mu bisa digigit.” Jelas Deden sabar, “oh iya. Kenalkan, ini kuda
baruku. Namanya… nanti saja deh kalau kau bertanya.”
“Kau
mengikutiku?” aku bertanya tidak percaya—antara girang, kaget, pokoknya tidak
percaya!
“Iya.” Deden
nyengir lagi. Ralat, dia lebih mirip Noir. Meskipun tetap saja judulnya ‘mirip
kuda’, paling tidak Noir spesies unggul kan?
“Kenapa?”
“Well, lelaki
gentle manapun tidak akan meninggalkan seorang wanita poor wannabe sepertimu
pergi menyusuri hutan sendirian kan? Aku akan terus menemanimu sampai tujuan.”
Aku mendadak
melting tapi… “Dina?”
“Lho?” ia
mengernyit, “kamu menyuruhku melupakannya? Jadi aku akan melupakannya. Aku rasa
esensi move yang paling indah adalah berhasil melupakan yang seharusnya dilupakan kan?”
Eh? Dia serius?
Dia move karenaku? Aku diam, terpaku, bingung.
“Sudahlah,
Kezia. Sekarang yang penting kamu dan tujuanmu.” Deden tertawa, “aku sudah
menemukan yang kucari, sekarang aku akan membantu. Deal?”
“I, iya.” Aku mengangguk,
speechless.
“Sip.” Deden
mengacungkan dua jempolnya, “jadi biar kuberitahu. Hutan bisa jauh lebih
berbahaya lagi. Sebaiknya kita lewat jalur aman; lewat luar.”
“Luar? Nanti kalau
aku ketahuan?”
“Kau sudah
menyamar. Tinggal sedikit dipoles akting dan kebohongan-kebohongan kecil saja
kan?”
“Tapi…”
“Percaya saja
padaku. Aku akan melindungimu. Ya?” Deden tersenyum meyakinkan. Aku luluh. Aku mengangguk.
Biar Tuhan nanti yang merancang kejadian setelahnya.
***
Setelah putar
balik yang cukup melelahkan…
“Selamat datang,”
bisik Deden, “di dunia hitam.”
Aku mengamati
sekeliling. Perkampungan kumuh, teriakan-teriakan emosi, anak-anak kecil yang
menangis, pengemis mengemis kepada pengemis, pemandangan ironis macam apa ini?
“Dunia hitam? Jelaskan
padaku.”
“Oke.” Deden
berlagak seperti sejarawan—sama sekali tidak cocok by the way, “secara tidak
resmi, Kerajaan Hoam dibagi atas dua wilayah besar; dunia hitam dan dunia
putih. Dunia putih berisi kaum-kaum kaya, keluarga-keluarga raja, bangsawan,
pedagang sukses, dan lain-lain. Dunia putih ya yang selama ini kamu lihat di
sekitar rumahmu; semua di-setting untuk menjadi selaras dengan apa yang
diinginkan raja.”
Raja? Ayahku?
“Dunia hitam
sebaliknya,” lanjut Deden, “ya seperti yang kamu lihat ini. Aku tidak perlu
menjelaskan lagi kan?”
“Apa raja
tahu?” tanyaku hati-hati.
“Kurasa. Lalu beliau
pura-pura buta, tuli, dan bisu mengenai fenomena ini. Karena itu kaum dunia
hitam selalu berusaha melawan, namun penjaga-penjaga keamanan kaum dunia putih
selalu berhasil memukul mundur kekuatan mereka. Seakan kerajaan Hoam bersih
dari masalah intern.”
Aku diam,
kagok. Jadi begini rupa sebenarnya kerajaanku selama ini? Dan… ayah tahu?
“Menurutmu,”
aku bertanya lebih hati-hati lagi, “siapa yang salah?”
“Entah. Tapi aku
membenci raja munafik itu sampai sekarang.” Jawab Deden kalem. Tapi… menusuk!
Aku diam lagi,
bingung menjawab apa sampai…
“OUCH! HEH,
WANITA BODOH! KAU ATAU KUDAMU SIH YANG SEBENARNYA BUTA???”
Aku kaget
karena bentakan itu dan langkah Messy yang terhenti. Dengan segera aku turun
untuk melihat apa yang terjadi.
Bagus! Messy menabrak
seseorang. Seorang wanita berwajah bulat telur yang membawa sekeranjang buah
nyaris busuk—dan buah-buah itu kini berpindah ke bawah kaki Messy.
“Maaf.” Aku menunduk
berkali-kali, “saya dan kuda ini belum begitu mengenal jadi—“
“Kau pikir aku
peduli?” ia berkata sinis, “bayar semua ganti rugi! Kau pikir di sini uang
tinggal metik atau bagaimana?”
Aku menahan
marah. Semoga aku tidak bertemu lagi dengan wanita seperti ini!!