Ada sesuatu
yang memaksa mataku terbuka. Sesuatu yang dingin.
“Kau sudah
sadar? Kau baik-baik saja?”
Ah? Aku
benar-benar berusaha membuka mataku dan menemukan sesosok perempuan sedang
mengompres lukaku dengan es batu. Perempuan itu berparas ayu dan berumur
sekitar kepala tiga. Badannya kurus kering. Terdapat lipatan kehitaman di
sekitar bawah matanya. Orang ini pasti stress sekali.
“Bibi siapa?”
tanyaku pelan.
“Namaku Shab.”
Ia tersenyum manis sekali, “siapa namamu?”
Duh. Haruskah
aku jujur? Tidak ada lagi yang bisa kupercaya di sini. Sudah cukup aku
dijadikan bulan-bulanan oleh si brengsek Dharma itu.
“Baiklah kalau
kau keberatan memberitahukan namamu.” Bibi Shab kelihatannya biasa saja,
“lukamu sakit?”
“Sedikit.
Terima kasih, bibi.”
“Tidak perlu.
Aku yang berterimakasih padamu. Aku sendiri di sel ini selama puluhan tahun,
kau tahu? Bersyukur juga sekarang aku punya teman.”
Maksudnya dia
bersyukur aku masuk penjara? Terimakasih sekali, lho.
“Apa aku sudah
lama di sini?” tanyaku lagi.
“Kau pingsan
seharian penuh. Kukira kau sudah mati.”
Beruntung
sekali aku belum mati.
“Istirahatlah
lagi.” Ia memberiku sebuah selimut lusuh, “semakin malam akan bertambah dingin.
Pakailah ini.”
Aku menyentuh
selimut lusuh itu. Sepertinya tidak ada gundukan kain yang bisa dijadikan
selimut lagi untuknya, “dan bibi memakai apa?”
“Tidak perlu.
Aku sudah terbiasa menahan dingin di sini.”
Lagi-lagi
kuamati dia dari atas ke bawah. Kulitnya terlalu pucat. Bibirnya bergetar
menahan dingin. Pelan-pelan kudengar gemeletuk renyah dari dalam mulutnya.
Benarkan dia
sudah terbiasa?
Nyatanya dia
belum terbiasa.
Malam itu aku
terbangun karena mendengar suara gemetar di sebelahku. Bibi Shab sedang
berjuang menahan dingin sambil mempertahankan kantuknya agar tetap terlelap.
Cuaca sedingin ini dengan umur seperti itu siapa pula yang bisa bertahan.
Aku menghela
nafas dan berbagi selimut dengannya. Well, aku tidak terlalu egois sehingga
membiarkan seseorang mati hipotermia di saat aku berhangat ria kok.
Kuamati lagi
wajahnya. Perasaan deja vu perlahan menyergapku. Sepertinya aku pernah mengenal
garis wajah orang ini. Sepertinya begitu familiar di memoriku.
Pandanganku
lalu terfokus pada genggam erat tangannya akan sesuatu. Semacam kertas buram
yang lusuh. Dengan hati-hati ku ambil kertas itu dari tangannya. Ternyata
selembar foto. Kuamati wajah yang terlukis di foto itu.
Sang wanita ini
pasti Bibi Shab versi muda. Wajahnya begitu cantik dan segar, tak semelas
sekarang. Ia sedang menggendong bayi yang kira-kira baru genap enam sampai
tujuh bulanan. Lagi-lagi sosok itu membuatku deja vu. Di tengah foto itu
terdapat sesuatu yang seakan timbul. Mungkin efek pena dari balik fotonya. Ku
balik foto itu dan terkejut membacanya;
“ Noor, 7 bulan.”
***
Keesokan
harinya,
Semalaman aku
tak bisa tidur memikirkan foto itu—sebaliknya, Bibi Shab terlihat nyenyak
sekali dalam tidurnya. Apa hubungan orang ini dengan Noor?
Tiba-tiba
seseorang menggedor pintu sel-ku dengan kasar dan memasukkan dua nampan berisi
sarapan. Ah, nyaris membanting maksudku, “sarapan!”
Apakah orang
ini tak dilatih sopan santun oleh ibunya?
Bentakan itu
sepertinya sangat keras sehingga membuat Bibi Shab sedikit terlonjak, “ah,
sudah siangkah?”
“Entahlah.”
Jawabku kalem, “kita takkan pernah tahu apa yang terjadi pada matahari jika
terkurung di penjara bawah tanah kan?”
Bibi Shab hanya
tersenyum meladeni ucapanku.
“Bibi harus
sarapan.” Aku mengambil nampan-nampan itu dan memberikan bagiannya, “bibi tidur
seperti tidak pernah tidur selama sepuluh tahun.”
“Sebenarnya aku
tak pernah benar-benar bisa tidur.” Pandangan Bibi Shab menerawang jauh, “aku
menderita autophobia.”
“Autophobia?”
“Takut
sendirian.” Bibi Shab tersenyum kecil, “sejak suamiku menghilang begitu lama,
entah mengapa aku jadi takut sendirian.”
“Suami?” aku
jadi teringat foto yang kutemukan tadi, “apa bibi punya anak juga?”
“Ah?” Bibi Shab
menatapku, “iya. Aku punya satu anak. Aku selalu memeluk fotonya jika merasa
sendirian.”
“Iyakah? Boleh
aku melihat fotonya?”
“Tentu.” Bibi
Shab meraba-raba sakunya, “tunggu dulu. Kok tidak ada?”
Aku melongo
sambil meremas pelan foto yang sengaja kusembunyikan di sakuku. Jadi benar?
Foto ini...
“Apa ini?” aku
mengeluarka foto itu, “aku menemukannya tadi.”
Bibi Shab
menoleh padaku dan menghela nafas lega sembari mengambil foto itu dari
genggamanku, “benar. Itu anakku. Namanya Noor. Aku sudah sangat lama berpisah
dengannya—“
“TUNGGU DULU!”
ada sesuatu yang salah di sini, “jelaskan padaku apa yang terjadi!”
“Eh? Ma,
maksudmu?”
“Mengapa bibi
bisa terkurung di sini? Padahal Noor bilang—“
“Kau mengenal
anakku?” Bibi Shab tidak kalah terkejut.
“Iya.” Aku
berkata tajam, “dia mengatakan padaku bahwa orangtuanya menghilang setelah
melawan kerajaan Hoam.”
“Kerajaan
Hoam?” Bibi Shab mengernyit, “tunggu dulu. Sepertinya ada kesalah pahaman—“
“Jelaskan
padaku.” Entahlah, rasanya suaraku dingin sekali, “sekarang.”
***
Dan cerita
itupun bergulir.
“Dulu, jauh
sebelum kamu ataupun Noor lahir, Kerajaan Hoam sebenarnya menjadi satu bagian
dengan Kerajaan Salju. Kerajaan Salju begitu luas wilayahnya. Pengaruhnya juga
sangat besar. Sebenarnya semua berjalan sangat lancar, sampai suatu ketika Raja
Ghoni yang menjadi raja tersukses itupun wafat.”
“Dan?”
“Raja Ghoni
mempunya dua anak. Raja Kris dan Ratu Aryanti. Ratu Aryanti adalah anak dari
permaisuri sah Raja Ghoni, sedangkan Raja Kris adalah anak dari selir. Secara
aturan, seharusnya Ratu Aryanti yang menjadi penerus tahta. Namun, karena Ratu
Aryanti adalah seorang perempuan yang dianggap tabu untuk menjadi pemimpin,
Raja Kris merasa berhak untuk mendapat tahta itu juga. Saat itulah perang
terjadi.”
“Perang?” aku
seakan tidak mempercayai pendengaranku.
“Iya. Perang
dingin ysng mengatasnamakan kemakmuran kerajaan. Padahal untuk memenuhi hasrat
egoisme mereka masing-masing. Cih!”
Aku terdiam.
Bingung harus merespon bagaimana.
“Karena perang
itu tak membuahkan hasil apapun selain kerugian besar, akhirnya Kerajaan Salju
pun pecah menjadi dua, seperti yang kau kenal sekarang.”
“Kerajaan
Hoam?”
“Iya.” Bibi
Shab mengangguk.
“Dan dunia
hitam?”
Bibi Shab
menghela nafas panjang, “awalnya kami berada di Kerajaan Salju. Namun
pemerintahan otoriter Raja Kris membuat kami ingin berpindah. Namun, di
Kerajaan Hoam ternyata kami tidak boleh masuk hanya karena kami mantan penduduk
Kerajaan Salju. Karena itu kami membuka lahan baru dan hidup seadanya, ya dunia
hitam ini.”
Aku
membayangkan hidup mereka bertahun-tahun tanpa kejelasan seperti itu. Pasti
sakit.
“Sampai sepuluh
tahun lalu, kami menginginkan perubahan agar keturunan kami bisa hidup lebih
baik di Kerajaan Hoam. Akhirnya kami berusaha memohon kepada Kerajaan Hoam.
Namun, ternyata di tengah jalan kami disergap oleh pengawal-pengawal Kerajaan
Salju dan ditangkap. Lalu dikurung secara terpisah.”
“Dan Noor
berpikir kalau Kerajaan Hoam-lah yang menangkap kalian.” Aku menghela nafas,
“jadi semua ini Cuma salah paham? Selama sepuluh tahun?”
“Benarkah Noor
berpikir seperti itu?”
Aku mengangguk,
“kita harus keluar dan meluruskan semua masalah ini.” Aku juga harus keluar
untuk menyelamatkan Kerajaan Hoam, fyi saja sih.
“Dengan cara
apa?”
“Entahlah.
Jebol saja pintunya.” Jawabku ngawur.
“Kau jangan
gil—tunggu dulu!”
“Apa?” aku
melongo. Jangan-jangan saking putus asanya dia, dia benar-benar mau menjebol
pintu ini.
“Kita jebol
saja—“
Tuh kan,
“jangan gila!”
“Siapa yang
gila? Kita jebol saja gemboknya.”
Longoanku makin
lebar.
“Dengan itu.”
Ia melirik jepitan rambut kecil yang sedang kugunakan.
Aku mengangkat
alis, “ide bagus. Tapi aku tidak bisa melakukannya. Kau saja, oke?”
“Oke.” Bibi
Shab mengambil jepitan rambutku, “kau awasi sekeliling. Biar aku yang mengurus
gembok ini.” dan mulai mengutak atik gemboknya.
“Mengapa kau
tidak melakukannya dari dulu?”
“Waktu itu aku
tidak menggunakan jepitan rambut.” Ia masih berkonsentrasi dengan gemboknya.
Aku jadi sungkan bertanya-tanya kembali.
“Nah, sip.
Selesai.” Suara Bibi Shab terdengar antara percaya dan tidak percaya bahwa
setelah ini ia akan bebas.
Aku membuka
pintu sel, melongok pelan keluar, “aman.”
“Bagus.” Bibi
Shab ikut keluar, “tapi aku tidak tahu jalan keluarnya.”
“Aku juga.” Aku
pingsan saat dibawa kesini, ingat? “kita cari saja bersama. Tapi jangan sampai
ketahuan para penjaga.”
“Oke.” Bibi
Shab melangkah keluar, “kira-kira dimana penjara yang lain? Dimana suamiku?”
Aku menatap
Bibi Shab miris. Iya kalau suaminya itu masih hidup. Kalau sudah...?
“Nanti kita
juga akan mencarinya, kan?” Bibi Shab berjingkat pelan.
“Emm... iya.”
Aku menjawab tanpa keyakinan sama sekali.
Kami berjalan
hati-hati untuk mencari jalan keluar. Tapi sepertinya ada yang ganjil. Ada yang
terlalu aneh di sini. Apa?
“Sudah merasa bebas,
Nona?”
Refleks aku dan
Bibi Shab menoleh. Tiga orang lelaki kekar berseragam pengawal Kerajaan Salju
tersenyum sinis kepada kami.
Tuh kan!
Aku mencengkram
tangan Bibi Shab yang gemetar. Kuputar otakku agar bisa keluar dari sini.
“Jangan takut,”
bisikku pada Bibi Shab, “kita harus melawannya.”
“Tapi...
bagaimana?”
“Entahlah.” Aku
malah takut mendengar jawabanku sendiri.
Ketiga pengawal
itu langsung berusaha menyergap kami dan...
“LARI!”
Refleks kami
malah berpencar...
***
Nafasku terasa
sesak karena lari yang begitu mendadak ini. Dengan takut-takut aku melongok
dari balik tembok. Syukurlah, belum ada siapapun. Paling tidak aku bisa
mengambil nafas sejenak.
Lalu bagaimana
keadaan Bibi Shab? Sanggupkah dia berlari kencang? Selamatkah ia? Egoisnya aku
menyelamatkan diri sendiri tanpa peduli padanya.
Aku memandang
jauh sepanjang lorong penjara ini. Luas sekali, namun hening. Tak satupun
tahanan yang aku lihat di sini. Mengapa? Apa ada tahanan lain di sini? Gila! Masa
segini juga kurang luas? Sebanyak apa sih manusia jahat di sini??
Pelan namun
pasti, kudengar langkah tegap beberapa orang. Aku semakin memepetkan badanku ke
tembok.
“Jadi dia akan
dihukum?” tanya salah satu diantara pengawal itu. Firasatku berkata percakapan
ini akan menarik.
“Iya. Harusnya dia dihukum pancung hari ini.”
DEG!
“Pantas saja,”
pengawal yang bertanya tadi bersiul ringan, “sepuluh tahun menyediakan makanan
untuk tahanan, eh? Menghabiskan pajak negara saja.”
“Tapi aku tidak
menyesal. Ia cantik, asal kau tahu.” Satunya lagi mengangkat bahu, “sayang
setelah ini dia akan mati. Kalau tidak, aku mau menikahinya.”
“Tentu saja. Kasihan
juga dia. Selama lima tahun menjanda dan bahkan dia sendiri tak tahu kalau
suaminya sudah mati.”
Kedua pengawal
itu tertawa. Gigiku bergemeletuk geram. Bajingan bajingan itu!
“Kudengar ada
tahanan baru lagi?”
“Putri Kezia
dari Kerajaan Hoam. Dia sih sandera. Setelah kerajaan kita menang perang,
paling dia juga akan dibunuh.”
Double DEG!
“Cantik, eh?”
“Iya kalau
kerajaan kita menang. Kalau kalah?”
“Jangan bodoh!”
ia menepuk keras kepala temannya, “kerajaan Hoam sudah sangat terjepit
sekarang. Raja mereka sudah mampus.”
Nafasku
berhenti sejenak. Ayahku... sungguhkah
ayahku...
“Serius? Raja sombong
itu?”
“Iya. Bagus kan?
Menyusul istrinya yang pergi dulu. Setelah ini kerajaan Salju akan menguasai
Hoam. Dan kita naik pangkat!”
Bohong... air
mataku mengalir deras. Mereka bohong kan? Tidak mungkin...
“Siapa itu?”
Aku tercekat. Sekeras
itukah isakanku? Sekuat tenaga aku berhenti menangis. Berhenti bernafas sih
kalau bisa...
“SIAPA ITU??!!”
Aku menutup
mulut rapat-rapat. Berusaha mencari celah untuk kabur namun... tidak ada.
“Mencari celah
untuk kabur, Tuan Putri?”
Tahu-tahu dua
bajingan ini sudah di depanku saja.
“Kalian
membunuh ayahku.” Aku menyatakan dengan sengit. Marahku serasa lebih besar dari
ketakutanku.
“Setelah ini
kau juga menyusulnya. Untuk apa repot-repot?”
Mungkin itu
yang terbaik. Mungkin seharusnya memang begini. Tapi... hati kecilku berkata
untuk tetap bertahan hidup.
Ada yang harus
kuperjuangkan.
“Lepaskan
aku!!!” tunggu. Suara itu tidak berasal dariku. Itu... suara Bibi Shab.
Jadi Bibi Shab
sudah tertangkap juga? Tamatlah sudah.
“Lepaskan kami.
Untuk apa bertahan lagi? Ayahku sudah mati kan? Aku takkan bisa berbuat apa-apa
untuk mengambil alih kerajaanku lagi!” bentakku—setengah memohon sebenarnya.
“Kau juga harus
mati. Penerus resminya kau kan?” pengawal itu mengangkat bahu, “setelah itu
kembaranmu—“
“JANGAN BERANI
MENYENTUH KANIA!!” raungku frustasi. Jangan dia... yang tersisa hanya dia...
cukup begini...
“—juga akan
mati. Percuma membentak seperti itu. Kau hanya gadis cengeng yang diberi makan oleh
orangtua. Mana pantas menjadi pemimpin kerajaan? Dasar bodoh!”
Hatiku pasti
mati rasa sekarang. Terserah mereka mengoceh apa. Yang penting Kania.
“Ayo!” salah
seorang mengikat kedua tanganku. Aku memberontak, namun kekuatanku tidak ada
apa-apanya dibanding mereka. Bukannya berhasil melarikan diri, aku malah
mendapat berbagai pukulan di pipiku. Aku memejamkan mata menahan perih.
“Berhenti
menyiksa wanita lemah. Kalau kau ingin bermain pukul-pukulan dengan wanita,
lawan aku. Pengecut!”
Suara itu...
aku refleks membuka mata.
Pengawal yang
menamparku seenaknya kini diambang hidup-mati; sebuah pedang perak menempel di
lehernya. Dibelakangnya, sosok wanita berpakaian ksatria sedang menatap dingin.
Dina?
(to be continued)
(to be continued)
No comments:
Post a Comment