Hari #9, 22 Januari
2013
Dear Kak Meisy,
Pertama-tama,
aku ingin mengajukan satu pertanyaan; Kak Meisy kemana? Seingatku, aku terakhir mendengar lagu Kak Meisy saat masih
SD kelas 1. Lalu mendadak aku tak bisa menemukan kakak di sudut televisi
manapun. Kakak dimana?
Kak, aku
penggemar berat kakak. Lagu favoritku Melati
Putih. Aku ingat sekali wakwtu itu aku menyanyikan lagu kakak saat
tetanggaku mengadakan pesta ulangtahun. Dengan mic dan teks lirik. Lalu teks
itu terjatuh karena angin dan—dengan kepolosan anak TK yang luar biasa—aku
mengambil kertas itu dan menganggap tak ada kesalahan apapun yang terjadi.
Tetap saja aku menyanyi dengan percaya diri. Padahal peristiwa itu diingat
seluruh desa betahun-tahun dengan penuh tawa. Ironis.
Namun kembali
pada inti pertama; kemana kakak pergi? Kemana lagu Melati Putih yang dulu menjadi lagu kebangsaan anak TK dan SD?
Kemana wajah polos bocah-bocah yang dulu dengan ceria menyanyikan lagu
anak-anak itu? Pantaskah anak di bawah umur menyanyikan lagu-lagu bertema cinta
dan super galau? Ini dunia musik Indonesia mau merusak mental suci mereka?? Mau
jadi apa negara ini nanti??
Kak Meisy,
Sekarang semua
penyanyi-penyanyi cilik mulai beranjak dewasa. Bahkan kalau mereka kembali
menyanyi pun, yang mereka nyanyikan lagu-lagu cinta yang tidak pantas di dengar
anak-anak. Kadang-kadang aku kasihan melihat anak SD yang berjalan pulang ke
rumah sambil bersenandung, “Karena separuuuh aaaakuuu dirimuuu” aku bahkan
tidak yakin mereka tahu makna lagu itu.
Dan aku
membandingkan lagu mereka dengan lagu-lagu yang kudengar waktu kecil. Dulu
ayahku melarang aku menyanyikan lagu cinta, melihat sinetron, menonton film
India. Ayahku memperkenalkanku pada kakak. Ayah selalu membelikanku kaset-kaset
kakak. Setiap aku menyanyikan lagu Melati
Putih, aku selalu merentangkan tangan dan berkhayal bahwa aku sedang di
taman penuh melati, dengan angin berhembus sepoi-sepoi, dan mengenakan gaun
putih polos yang dari kecil aku impi-impikan.
Kakak tahu?
Saat ada orang bertanya padaku apa cita-citaku, dengan polos aku menjawab,
“Ingin menjadi Meisy.”
Kakak
inspirasiku untuk belajar bernyanyi. Kakak inspirasiku untuk mencintai musik.
Jadi kak, dimanapun kakak berada, kalau kakak membaca ini, aku ingin kakak tahu
bahwa kakak tidak pernah dilupakan. Kakak adalah salah satu ‘sesi’ku bertumbuh.
Mungkin kalau digambarkan, begini susunan hidupku:
Dilahirkan –
Bayi – Balita – Kenal Kak Meisy – Cinta Kak Meisy – Tidak melihat Kak Meisy
lagi – Remaja – Dewasa.
Bahagia dan
normal sekali bukan? Bandingkan dengan susunan hidup anak SD jaman sekarang:
Dilahirkan –
Bayi – Kenal K-Pop – Ngefans SUJU – Lihat Dahsyat .
Dan mereka pun
remaja sebelum waktunya.
Anyway, aku
berharap kakak membaca ini dan kakak akan tahu bahwa kakak berhasil membuat
seorang manusia tumbuh sewajarnya tanpa sesi tambahan apapun. Kakak adalah
inspirasiku dan inspirasi semua anak 90-an. Semoga kakak selalu sehat dan
bahagia, dan yang paling aku inginkan: semoga kakak kembali berkarya!
Salam
cinta,
Penggemar
berat kakak dengan masa anak-anaknya yang sukses