Hari #7, 20 Januari
2013
Dear kulitku,
Pertama-tama
aku ingin minta maaf. Maaf karena aku benci. Sebenci bencinya benci. Padamu.
Aku benci
karena warnamu tidak secerah dan seindah orang lain—nyaris hitam. Aku benci
selalu terlihat jelek karenamu. Aku benci ketika aku terlihat kampungan hanya
karena kamu—kalau aku kampungan, terus orang-orang yang menulis b3g1n1 namanya
apa?—Benci sekali.
Yang paling
membuatku benci padamu adalah saat aku berkenalan dengan lelaki lewat jejaring
sosial, kami sudah akrab, aku sudah nyaman, namun waktu bertemu langsung ia
malah menjauhiku karena kamu.
Lalu waktu aku
berfoto dengan teman-teman. Mereka tampak cantik dengan senyumnya
masing-masing. Namun aku tampak buruk karena kamu.
Juga waktu aku
memakai camera360 untuk berfoto yang memberikan efek putih padamu, lalu
menjadikan foto itu sebagai ava twitter—serius! Aku mendadak cantik dengan efek
putih itu!—banyak orang menghujat. Ingat sekali aku bagaimana aku mendapat
#kode:
“Duh kalo item ya item aja nggak perlu main
edit!”
“Ceilah cantik banget. Situ jago potosop ya?
J”
“Di ava doang cantik. Aslinya bikin ilfil
buset”
Oke. Mengingat
semua #kode itu membuatku makin membencimu.
Atau saat aku
memang sengaja berusaha lebih cantik karena akan bertemu lelaki yang ku suka,
lalu seseorang menyeletuk,
“Ya ampuuun! Itu bedaknya udah tebel banget
kayak wedges-nya Syahrini.”
Padahal aku
bersumpah. Aku bahkan tidak punya bedak di rumah. Emm... mungkin sedikit
lightening cream yang sebenarnya tidak memberikan efek berarti padaku. Tapi itu
kan beda dengan bedak!
Yang paling
sakit itu, keluargaku sendiri juga menghinaku gara-gara kamu. Karena aku tidak
bisa secantik ibuk dengan kulitnya yang cerah, bibirnya yang tipis, hidungnya
yang mancung seperti orang arab, rambutnya yang bergelombang menggemaskan, dan
tingkah laku kalem layaknya ibu-ibu baik hati dalam dongeng. Mungkin semua
orang akan berpikir bahwa dukun yang membantuku melahirkan—FYI aja nih, aku
lahir di dukun. Benar-benar anak yang kurang beruntung—telah menjual anak asli
ibuku yang cantik jelita seperti Cinderella dan menukarnya denganku, spesies
terbawah kaum amborigin. Kalau itu benar-benar terjadi, sepertinya bagus juga
untuk dijadikan skrip sinetron.
Oke. Fokus.
Aku benci
karena kamu susah dibuat cantik. Produk-produk yang menjanjikan kulit putih itu
nyatanya cuma omong kosong! Aku sudah memakainya nyaris berlebihan tapi
nyatanya tidak ada perubahan. Terkadang tergiur juga dengan cara instan
teman-temanku yang bernasib sama namun memiliki uang lebih, dengan injeksi
pemutih. Yaah... sayangnya aku tidak dianugerahi uang lebih. Jangankan injeksi
pemutih. Uang kas kelas saja jarang kulunasi.
Karena semua
ini, aku malah jadi anak durhaka. Aku malah mempertanyakan keadilan Tuhan.
Kenapa anak baik-baik dan setia sepertiku malah jelek? Tetapi gadis-gadis yang
sukanya mempermainkan hati pria malah diberi kulit bagus dan kecantikan
mempesona? Kenapaaa?
Aku tidak habis
pikir.
Sampai pada akhirnya
suatu hari internet mengenalkanku padanya, Lizzie Velaszquez. Yang katanya
gadis terburuk di dunia. Menderita kelainan sehingga tubuhnya tidak bisa
menyerap sari-sari makanan. Pernah hampir bunuh diri karena keadaanya. Namun
kini ialah inspirasi setiap wanita di dunia. Memotivasi wanita untuk merasa
cantik apapun adanya. Ia tetap percaya diri meskipun setiap hari berfoto dengan
model-model cantik. Ia tetap percaya diri meskipun mendapat julukan wanita
terburuk di dunia. Kepercayaan dirinya itu membuatnya terlihat cantik, apapun
kondisinya.
Lalu kuatur
lagi cara pandangku dari awal. Tidak ada wanita jelek di dunia ini, selama dia
bersugesti bahwa dia cantik. Tidak ada yang cacat dari pemberian Tuhan, selama
kita mau mensyukurinya. Yang membuat seorang wanita terlihat cantik adalah
hatinya yang bening, senyumnya yang tulus, tuturnya yang anggun.
Kalau kata orang keren itu namanya innerbeauty :)
Jadi boleh dong
kalau sekarang kukatakan bahwa aku sayaaang padamu, kulitku? Karena Tuhan telah
menciptakanmu tanpa cela. Karena sekarang aku merasa akulah wanita tercantik di
dunia :D
Salam
cinta,
Pemilikmu
yang baru tahu bagaimana cara bersyukur