Hari #10, 23 Januari
2013
Dear pemilik
akun yang selalu aku stalk,
Aku
menyayangimu, sesimpel itu. Aku rasa aku tidak punya alasan yang lebih masuk
akal lagi ketika mengetik namamu di kotak search-ku. Kenapa aku bisa
menyayangimu? Hmm... itu masih misteri. Aku tidak pernah berhasil mengingat
kapan kamu baik padaku, atau kapan kamu menunjukkan perhatianmu padaku. Seiring
waktu berjalan aku mendadak suka. Begitu.
Aku tahu kamu
menegurku secara halus untuk berhenti sayang lagi. Mungkin aku bukan tipemu.
Mungkin kamu lebih tertarik pada wanita itu-itu. Mungkin alam memang menyuruh
kita untuk saling menjauh. Tapi secara pasti aku tak tahu. Untung saja jejaring
sosial belum melarangku untuk berhenti mengintip lamanmu. Untung saja.
Aku juga tidak
tahu mengapa aku tetap mengintip lamanmu. Ah, bodoh. Bahkan yang kamu tulis di
lamanmu tentang wanita itu-itu-mu. Bagaimana kamu mencintainya, bagaimana kamu
mendekatinya, lalu ujungnya bagaimana kamu mendapatkannya. Kamu menulis hal-hal
seperti itu; kira-kira kamu tahu tidak kalau ada yang sakit hati saat
membacanya? Bahagialah kamu. Kamu punya penggemar setia.
Oh ya. Kamu
ingat waktu aku memergokimu mengobrol dengan wanita itu-itu-mu di depan
perpustakaan? Waktu itu aku diam saja. Pura-pura tidak kenal. Berusaha untuk
berpikiran postif...
Sampai kamu
menulis di lamanmu kalau kamu baru saja mendapat kekasih baru. Ah, wanita
itu-itu-mu. Ha!
Saat melihat
ketikanmu di laman, kamu tahu aku rindu? Ha lagi! Aku mencoba mengingat-ingat
kapan terakhir kali gaya tulisan itu bertengger di pesan baruku. Hmm... lama
sekali. Sekitar sebulan yang lalu. Eh gila. Aku masih bisa bertahan pada
pendirianku meskipun kamu buang dan tidak kamu jenguk lagi selama itu! Aku
benar-benar wanita perkasa.
Asal kamu tahu
saja. Sejauh apapun kamu jatuhkan aku, tidak semudah itu kamu menghentikan pengharapanku.
Sejahat apapun kamu, aku selalu berhasil menemukan sisi menarikmu. Bahkan
sampai hal terdetil seperti bau sabun yang selalu melekat di tubuhmu. Ha lagi!
Gila lagi!
Terakhir...
selamat punya pacar baru. Semoga kamu bahagia dengannya. Well, kalau kamu tidak
bahagia kamu bisa kembali. Kamu masih tahu kan dimana harus mencariku?
Salam
hormat,
Penggemarmu
(lagi)