Thursday, 31 January 2013

Awalnya, Sekarang


Hari #18, 31 Januari 2013
Dear Bu Fisika,
Jangan tertawa ya kalau ibu baca ini. Ya, ternyata salah satu murid tercerewet ibu malah amat sangat menggemari ibu. Saat saya meihat ibu, yang di pikiran saya adalah suatu hari saya akan seperti ibu.
Emm... bukan. Bukan mengajar pelajaran paling menyebalkan di seluruh dunia itu. Maksud saya, saya ingin berwibawa seperti Ibu. Sosok Ibu begitu hebat; ditakuti, dihormati, sekaligus dicintai. Ibu seakan bisa menempatkan ekspresi wajah ibu pada tempatnya. Ibu tahu kapan bercanda, Ibu tahu kapan serius, dan Ibu tahu kapan harus tegas. Benar-benar hebat cara ibu mengatur semua itu.
Awal pertama saya bertemu Ibu adalah ketika UAS sosiologi. Ibu benar-benar ditakuti semua murid. Saat Ibu menjaga UAS, kelas mendadak hening tanpa pergeseran apapun. Awalnya saya tidak mengerti menganapa sampai Ibu memergoki saya bergerak, dan menarik kursi saya ke belakang. Yaah... saat itu saya merasa tak melakukan kesalahan sehingga otomatis saya membenci Ibu.
Waktu awal saya masuk kelas dan melihat jadwal guru yang mengajar, saya begitu kesal melihat nama Ibu sebagai guru fisika saya. Dulu saya membayangkan saya akan bertemu ibu tiga kali dalam seminggu dan mendadak itu membuat saya gila. Padahal hanya membayangkan lho...
Tetapi ternyata sosok Ibu di kelas begitu menyenangkan. Ibu membuat segala soal terasa mudah sepanjang apapun caranya. Ibu juga ramah. Dan yang paling saya suka, Ibu nyatanya jarang memarahi anak sekelas jika kami berbuat salah. Mungkin hanya memberi sindiran-sindiran. Tetapi meskipun jarang memarahami kami, entah mengapa otak kami menyuruh kami untuk patuh pada ibu; selalu berusaha mengerjakan PR, selalu berusaha untuk tidak terlambat, dan jika terlambatpun tanpa di suruh kami akan berdiri di belakang kelas sampai pelajaran Ibu selesai.
Itu karena ada syaraf di otak kami yang memaksa kami untuk menyisakan sedikit hormat pada Ibu. Ibu tahu? Saya benar-benar kagum atas semua itu.
Yaah... terakhir saya ingin minta maaf karena saya memang susah diam di kelas. Mulut saya memang agak hiperaktif dan frekuensi suara saya memang tinggi. Maaf juga pernah makan di kelas Ibu, tapi saya benar-benar lapar saat itu. Maaf karena saya sangat susah belajar pelajaran yang Ibu bawa, tetapi fisika benar-benar membuat otak saya penuh sebelum waktunya.
Tetapi di luar itu semua, saya selalu ingin menjadi anak kesayangan Ibu—entah kapan hal ini akan terjadi. Tapi biarlah...
Salam cinta,
Murid tercerewet Ibu
Free Mustache Blue - Pointer Cursors at www.totallyfreecursors.com