Aku mencium bau
sesuatu yang tajam. Semacam minyak. Mataku meragu untuk kembali terbuka.
“Kezia?” aku
mengenali suara ini. Noor, “kau baik-baik saja?”
“Hmm?”
pandanganku mulai jelas. Noor, Laras, si Kembar Tiga…
Deden mana?
“Deden selamat
kok.” Noor menjawab pertanyaan yang bermunculan di otakku.
Mataku melebar.
“Luka bakar di
tangannya cukup parah,” seorang tabib menjelaskan padaku dengan suara prihatin,
“dia juga mengalami trauma pada otaknya. Sehingga kami belum bisa memastikan
kapan dia bisa bangun dan pulih.”
Aku menatap
Deden yang sedang tidur—entahlah, mungkin dia lebih dari tidur. Tangan kirinya
diperban tebal. Wajahnya pucat sekali. Entah mengapa otakku terbayang-bayang
sosoknya yang sedang kesakitan.
Dia pasti
sedang kesakitan. Pandanganku mengabur lagi oleh air mata.
“Kami
menemukannya pingsan dibawah kasur besi. Sepertinya ia menggunakan tangan
kirinya untuk melindungi sesuatu.”
“Melindungi
sesuatu?” aku menoleh penasaran. Sang tabib mengeluarkan sesuatu dari sakunya.
“Ia pingsan
sambil memeluk boneka ini dengan tangan kirinya.” Tabib itu memberikan sebuah
boneka kepadaku. Boneka buatanku. Cengiran Noir ala Deden…
“Simpan boneka itu baik-baik. Sudah
kumantrai agar selalu melindungimu.”
Pertahanan
terakhirku runtuh. Air mataku mengalir deras ke pipi saat aku menyentuh tangan
kirinya.
Ia melindungi
boneka ini karenaku.
***
“Noor?” aku
menepuk pundak Noor yang sedang mencari sisa-sisa barangnya.
“Kezia.” Ia
menoleh sedikit, “bagaimana Deden?”
Aku menggeleng
lemah. Ya, sudah berjam-jam aku menjenguknya dan sama sekali tidak ada
perkembangan.
Giliran Noor
menepuk pundakku, “aku yakin dia akan sadar. Boneka itu untuk keberuntungan
kan?”
“Tidak.” Aku
nyaris menangis lagi, “boneka itu pembawa sial.”
Noor menggeleng
tak setuju, “Deden selamat karena boneka itu. Aku juga selamat karena boneka
darimu masih ada di sakuku. Boneka itu pembawa keberuntungan kok. Percayalah.”
Aku tersenyum
kecil. Tak ingin membuat Noor berpikir bahwa usahanya menghiburku sia-sia.
“Kau mau
mencari sisa barangmu juga?” tanya Noor. Aku mengangguk sembari berjalan pelan
ke reruntuhan kamarku yang nyaris menjadi abu. Hati Laras pasti juga sedih.
Noor bilang awalnya penginapan ini usaha orangtua Laras.
Dunia memang
tidak adil.
“Apa penyebab
ledakan kemarin, Noor?” aku mencium bau tajam dan manis saat mencari sisa-sisa
barangku. Ternyata nyaris semua bajuku sudah bertransformasi menjadi abu. Lalu
aku akan memakai baju apa setelah semua ini?
“Tidak ada yang
tahu.” Jawab Noor, “eh lihat! Ini gaun yang kuberikan kepadamu kan? Hanya ada
bekas abu. Dicuci juga bersih lagi.”
“Terimakasih,
Noor… eh tunggu!” aku mengernyit, “apa maksudmu ‘tidak ada yang tahu’? Kemana
para petugas keamanan? Para penyidik??”
“Kau bodoh ya?”
suara Noor terdengar getir, “mana ada yang seperti itu di dunia hitam? Mana ada
yang peduli pada nasib kami?”
Dunia semakin
berasa tidak adil.
“Menurutku
ledakan ini disengaja.” Kataku.
“Maksudmu?
Seseorang menaruh bom atau sesuatu di kamarmu begitu?”
“Entah.” Aku
menggeram pelan, “tapi aku akan menyelidikinya.”
Dan akan kubalas
siapapun yang telah membuat Deden menjadi begini!
***
“Eh? Yang
mengunjungi kamarmu selama kamu pergi?”
“Iya, Laras.
Bisa beritahu aku siapa saja?”
“Untuk apa
sih?” Laras terdengar penasaran.
Aku menopang
dagu, “aku memang belum tahu apa penyebab kebakaran itu. Tapi yang aku tahu
jelas, pelakunya pasti salah satu dari orang-orang yang memasuki kamarku.”
Jelasku, “kata Deden, banyak orang yang mondar-mandir keluar kamarku kan?”
“Iya sih.
Sebentar.” Laras mengecek buku tamu, “ada 5 orang kemarin. Pagi, si Kembar Tiga
yang membersihkan kamarmu, agak siang ada Nandia—“
“Siapa itu?”
aku belum pernah mendengar namanya sebelum ini.
“Dia orang yang
sebelumnya menghuni kamarmu. Dia bilang ada barang yang hilang.”
“Oh.” Aku sudah
mengagendakan akan menemui Nandia setelah ini, “lalu?”
“Setelah itu si
Kembar Tiga beres-beres kamarmu lagi. Sekitar satu jam kemudian ada tabib yang
merawat Deden sekarang. Tabib Doni.”
“Hah? Untuk apa
tabib ke kamarku?”
“Dia salah
kamar.” Jelas Laras, “seharusnya dia ke kamar Deden. Aku yang menunjukkan
padanya kamar yang benar.”
“Hah? Deden
kenapa?”
“Kaki Deden
terkilir karena jatuh saat mencarimu dengan panik.”
Jedhaaar!!!!
Semakin besar saja rasa bersalah ini.
“Setelah itu,
waktu hari mulai gelap si Kembar Tiga kembali ke kamarmu untuk beres-beres.”
Aku berpikir
keras. Pasti ada petunjuk selain ini!
“Noor, temani
aku ke tabib itu, lalu tempat Nandia. Kau tahu kan?”
“Tentu.” Noor
mengangkat alis, “Nandia membuka toko kimia sekitar 3 kilometer dari sini.
Untung saja kudamu tidak menjadi korban kebakaran itu.”
“Dan si Kembar
Tiga…” aku menoleh ke arah Ayu yang sedang berdiskusi dengan dua saudara
kembarnya, “sebentar.”
Aku berjalan
mendekati mereka.
“Kezia? Kau sudah
baikan?” tanya Ayu, “bagaimana dengan Deden?”
“Belum ada
sesuatu berarti.” Jawabku, “boleh aku duduk?”
“Tentu.” Ayu menarik
sisa kursi disebelahnya. Aku langsung duduk. Wajah tiga kembar itu terlihat
lesu. Mereka pasti juga bingung bagaimana nasib mereka selanjutnya.
“Maaf aku
bertanya hal tidak penting di saat begini. Namun… apa saja yang kalian lakukan
di kamarku?”
“Kau mencurigai
kami?” Ferdi menatapku tajam. Aku langsung merasa tidak enak.
“Sudahlah,
Ferdi. Jawab saja,” Saput menengahi, “kami hanya membersihkan kamarmu.”
“Detilnya?”
“Yaaah…” Saput
berusaha mengingat-ingat, “pagi hari kita bereskan kasurmu, siang hari kami
hanya menyapu, malam hari kami nyalakan api untuk penerangan di kamarmu, lalu
kami melihat Deden yang masuk kamar.”
Aku mengangguk
paham.
***
“Permisi.” Aku
memasuki ruangan tabib. Ia terlihat sedang meracik obat.
“Oh, kau teman
Deden itu ya?” tabib itu menghela nafas, “maaf tapi belum ada perkembangan
tentang Deden.”
“Oh begitu.”
Entah mengapa suasana ini membuatku mendadak déjà vu.
“Ada lagi?”
“Ehm itu…” aku
mencoba menyusun kata, “anda kemarin salah masuk kamar kan?”
“Iya.” Tabib
itu mengangguk, “ada masalah? Apa barangmu ada yang hilang?”
“A, ada.”
Semoga dia tidak sadar jika aku sedang berbohong, “anda melihat… ehm… kalung
saya?”
“Permata itu?”
ia mengangkat alis, “maaf, saya kurang tahu. Tapi saya tidak mencurinya. Anda
bisa menggeledah tempat saya kok.”
Tentu saja. Aku
sedang memakai kalung itu sekarang. Aku menghela nafas panjang.
“Ka, kalau
begitu saya permisi.” Aku menunduk dan pergi, diiringi bau manis. Aku terhenti,
“emm… apa Anda tidak merasa barang Anda tertinggal di kamar saya?”
Tabib itu
terhenti sebentar dan, “tidak.”
***
“Permisi.”
“Eh iya.”
Seorang wanita dengan kacamata tebal menyambutku. Terlihat sekali dia sering
membaca buku, “ada yang bisa saya bantu?”
“Ehm saya…”
bodoh! Aku belum mempersiapkan alasan untuk kemari!
“Kami ingin
membeli spiritus.” Sahut Noor kalem, “untuk membuat koloid dengan cara
kondensasi.”
“Oh.” Nandia
tertawa sambil mengambilkan spiritus, “ferum liquid dan klorida juga kan? Untuk
pembentukan FeCl3 nya?”
“Oh iya.” Noor
mengangguk, “apa kita harus menggunakan air mineral tertentu untuk percobaan
ini?”
“Oh, biasanya
semakin terjamin kemurnian H2O-nya, hasilnya akan semakin baik.”
Aku hanya
melongo. Mereka membicarakan apa sih? Dasar anak IPA!
Setelah
pembicaraan memusingkan lainnya…
“Hah?
Penginapan kalian kebakaran?” Nandia terlihat shock, “kapan kejadiannya?”
“Di malam hari.
Tiba-tiba kamar sebelahku meledak.” Jawabku, “bekas kamar tempatmu menginap itu
lho.”
Nandia
menatapku penuh selidik, “kau mencurigaiku sepertinya.”
“Engh… bu,
bukan begitu.”
“Terserah kau
saja.” Nandia mengangkat bahu, “aku kesana hanya untuk mengambil barangku yang
tertinggal.”
“Oh ya?” aku
merasa dari tatapannya bahwa ia sedang menantangku, “bisa kau tunjukkan padaku
benda yang tertinggal itu?”
Nandia
menggeleng, “aku tidak menemukan benda itu.”
Dia juga tidak
punya alibi. Aku menyeruput tehku yang aromanya terlapis aroma tajam.
Aku mendapatkan
sesuatu. Sepertinya harus olah TKP untuk kedua kalinya.
***
“Kau sudah tahu
siapa pelakunya?” Noor menyerngit tajam waktu menemaniku memeriksa TKP lagi, “siapa?”
“Nanti kau juga
akan tahu.”
“Kalau sudah
tahu pelakunya, untuk apa kita kesini lagi?”
“Mencari barang
bukti.” Ujung kanan bibirku tertarik saat menemukan sesuatu, “bingo.”
(to be continued)
No comments:
Post a Comment