Sunday, 12 August 2012

The Tale of Hoam Kingdom - 7. Detecting


Aku mencium bau sesuatu yang tajam. Semacam minyak. Mataku meragu untuk kembali terbuka.
“Kezia?” aku mengenali suara ini. Noor, “kau baik-baik saja?”
“Hmm?” pandanganku mulai jelas. Noor, Laras, si Kembar Tiga…
Deden mana?
“Deden selamat kok.” Noor menjawab pertanyaan yang bermunculan di otakku.
Mataku melebar.
***
“Luka bakar di tangannya cukup parah,” seorang tabib menjelaskan padaku dengan suara prihatin, “dia juga mengalami trauma pada otaknya. Sehingga kami belum bisa memastikan kapan dia bisa bangun dan pulih.”
Aku menatap Deden yang sedang tidur—entahlah, mungkin dia lebih dari tidur. Tangan kirinya diperban tebal. Wajahnya pucat sekali. Entah mengapa otakku terbayang-bayang sosoknya yang sedang kesakitan.
Dia pasti sedang kesakitan. Pandanganku mengabur lagi oleh air mata.
“Kami menemukannya pingsan dibawah kasur besi. Sepertinya ia menggunakan tangan kirinya untuk melindungi sesuatu.”
“Melindungi sesuatu?” aku menoleh penasaran. Sang tabib mengeluarkan sesuatu dari sakunya.
“Ia pingsan sambil memeluk boneka ini dengan tangan kirinya.” Tabib itu memberikan sebuah boneka kepadaku. Boneka buatanku. Cengiran Noir ala Deden…
“Simpan boneka itu baik-baik. Sudah kumantrai agar selalu melindungimu.”
Pertahanan terakhirku runtuh. Air mataku mengalir deras ke pipi saat aku menyentuh tangan kirinya.
Ia melindungi boneka ini karenaku.
***
“Noor?” aku menepuk pundak Noor yang sedang mencari sisa-sisa barangnya.
“Kezia.” Ia menoleh sedikit, “bagaimana Deden?”
Aku menggeleng lemah. Ya, sudah berjam-jam aku menjenguknya dan sama sekali tidak ada perkembangan.
Giliran Noor menepuk pundakku, “aku yakin dia akan sadar. Boneka itu untuk keberuntungan kan?”
“Tidak.” Aku nyaris menangis lagi, “boneka itu pembawa sial.”
Noor menggeleng tak setuju, “Deden selamat karena boneka itu. Aku juga selamat karena boneka darimu masih ada di sakuku. Boneka itu pembawa keberuntungan kok. Percayalah.”
Aku tersenyum kecil. Tak ingin membuat Noor berpikir bahwa usahanya menghiburku sia-sia.
“Kau mau mencari sisa barangmu juga?” tanya Noor. Aku mengangguk sembari berjalan pelan ke reruntuhan kamarku yang nyaris menjadi abu. Hati Laras pasti juga sedih. Noor bilang awalnya penginapan ini usaha orangtua Laras.
Dunia memang tidak adil.
“Apa penyebab ledakan kemarin, Noor?” aku mencium bau tajam dan manis saat mencari sisa-sisa barangku. Ternyata nyaris semua bajuku sudah bertransformasi menjadi abu. Lalu aku akan memakai baju apa setelah semua ini?
“Tidak ada yang tahu.” Jawab Noor, “eh lihat! Ini gaun yang kuberikan kepadamu kan? Hanya ada bekas abu. Dicuci juga bersih lagi.”
“Terimakasih, Noor… eh tunggu!” aku mengernyit, “apa maksudmu ‘tidak ada yang tahu’? Kemana para petugas keamanan? Para penyidik??”
“Kau bodoh ya?” suara Noor terdengar getir, “mana ada yang seperti itu di dunia hitam? Mana ada yang peduli pada nasib kami?”
Dunia semakin berasa tidak adil.
“Menurutku ledakan ini disengaja.” Kataku.
“Maksudmu? Seseorang menaruh bom atau sesuatu di kamarmu begitu?”
“Entah.” Aku menggeram pelan, “tapi aku akan menyelidikinya.”
Dan akan kubalas siapapun yang telah membuat Deden menjadi begini!
***
“Eh? Yang mengunjungi kamarmu selama kamu pergi?”
“Iya, Laras. Bisa beritahu aku siapa saja?”
“Untuk apa sih?” Laras terdengar penasaran.
Aku menopang dagu, “aku memang belum tahu apa penyebab kebakaran itu. Tapi yang aku tahu jelas, pelakunya pasti salah satu dari orang-orang yang memasuki kamarku.” Jelasku, “kata Deden, banyak orang yang mondar-mandir keluar kamarku kan?”
“Iya sih. Sebentar.” Laras mengecek buku tamu, “ada 5 orang kemarin. Pagi, si Kembar Tiga yang membersihkan kamarmu, agak siang ada Nandia—“
“Siapa itu?” aku belum pernah mendengar namanya sebelum ini.
“Dia orang yang sebelumnya menghuni kamarmu. Dia bilang ada barang yang hilang.”
“Oh.” Aku sudah mengagendakan akan menemui Nandia setelah ini, “lalu?”
“Setelah itu si Kembar Tiga beres-beres kamarmu lagi. Sekitar satu jam kemudian ada tabib yang merawat Deden sekarang. Tabib Doni.”
“Hah? Untuk apa tabib ke kamarku?”
“Dia salah kamar.” Jelas Laras, “seharusnya dia ke kamar Deden. Aku yang menunjukkan padanya kamar yang benar.”
“Hah? Deden kenapa?”
“Kaki Deden terkilir karena jatuh saat mencarimu dengan panik.”
Jedhaaar!!!! Semakin besar saja rasa bersalah ini.
“Setelah itu, waktu hari mulai gelap si Kembar Tiga kembali ke kamarmu untuk beres-beres.”
Aku berpikir keras. Pasti ada petunjuk selain ini!
“Noor, temani aku ke tabib itu, lalu tempat Nandia. Kau tahu kan?”
“Tentu.” Noor mengangkat alis, “Nandia membuka toko kimia sekitar 3 kilometer dari sini. Untung saja kudamu tidak menjadi korban kebakaran itu.”
“Dan si Kembar Tiga…” aku menoleh ke arah Ayu yang sedang berdiskusi dengan dua saudara kembarnya, “sebentar.”
Aku berjalan mendekati mereka.
“Kezia? Kau sudah baikan?” tanya Ayu, “bagaimana dengan Deden?”
“Belum ada sesuatu berarti.” Jawabku, “boleh aku duduk?”
“Tentu.” Ayu menarik sisa kursi disebelahnya. Aku langsung duduk. Wajah tiga kembar itu terlihat lesu. Mereka pasti juga bingung bagaimana nasib mereka selanjutnya.
“Maaf aku bertanya hal tidak penting di saat begini. Namun… apa saja yang kalian lakukan di kamarku?”
“Kau mencurigai kami?” Ferdi menatapku tajam. Aku langsung merasa tidak enak.
“Sudahlah, Ferdi. Jawab saja,” Saput menengahi, “kami hanya membersihkan kamarmu.”
“Detilnya?”
“Yaaah…” Saput berusaha mengingat-ingat, “pagi hari kita bereskan kasurmu, siang hari kami hanya menyapu, malam hari kami nyalakan api untuk penerangan di kamarmu, lalu kami melihat Deden yang masuk kamar.”
Aku mengangguk paham.
***
“Permisi.” Aku memasuki ruangan tabib. Ia terlihat sedang meracik obat.
“Oh, kau teman Deden itu ya?” tabib itu menghela nafas, “maaf tapi belum ada perkembangan tentang Deden.”
“Oh begitu.” Entah mengapa suasana ini membuatku mendadak déjà vu.
“Ada lagi?”
“Ehm itu…” aku mencoba menyusun kata, “anda kemarin salah masuk kamar kan?”
“Iya.” Tabib itu mengangguk, “ada masalah? Apa barangmu ada yang hilang?”
“A, ada.” Semoga dia tidak sadar jika aku sedang berbohong, “anda melihat… ehm… kalung saya?”
“Permata itu?” ia mengangkat alis, “maaf, saya kurang tahu. Tapi saya tidak mencurinya. Anda bisa menggeledah tempat saya kok.”
Tentu saja. Aku sedang memakai kalung itu sekarang. Aku menghela nafas panjang.
“Ka, kalau begitu saya permisi.” Aku menunduk dan pergi, diiringi bau manis. Aku terhenti, “emm… apa Anda tidak merasa barang Anda tertinggal di kamar saya?”
Tabib itu terhenti sebentar dan, “tidak.”
***
“Permisi.”
“Eh iya.” Seorang wanita dengan kacamata tebal menyambutku. Terlihat sekali dia sering membaca buku, “ada yang bisa saya bantu?”
“Ehm saya…” bodoh! Aku belum mempersiapkan alasan untuk kemari!
“Kami ingin membeli spiritus.” Sahut Noor kalem, “untuk membuat koloid dengan cara kondensasi.”
“Oh.” Nandia tertawa sambil mengambilkan spiritus, “ferum liquid dan klorida juga kan? Untuk pembentukan FeCl3 nya?”
“Oh iya.” Noor mengangguk, “apa kita harus menggunakan air mineral tertentu untuk percobaan ini?”
“Oh, biasanya semakin terjamin kemurnian H2O-nya, hasilnya akan semakin baik.”
Aku hanya melongo. Mereka membicarakan apa sih? Dasar anak IPA!
Setelah pembicaraan memusingkan lainnya…
“Hah? Penginapan kalian kebakaran?” Nandia terlihat shock, “kapan kejadiannya?”
“Di malam hari. Tiba-tiba kamar sebelahku meledak.” Jawabku, “bekas kamar tempatmu menginap itu lho.”
Nandia menatapku penuh selidik, “kau mencurigaiku sepertinya.”
“Engh… bu, bukan begitu.”
“Terserah kau saja.” Nandia mengangkat bahu, “aku kesana hanya untuk mengambil barangku yang tertinggal.”
“Oh ya?” aku merasa dari tatapannya bahwa ia sedang menantangku, “bisa kau tunjukkan padaku benda yang tertinggal itu?”
Nandia menggeleng, “aku tidak menemukan benda itu.”
Dia juga tidak punya alibi. Aku menyeruput tehku yang aromanya terlapis aroma tajam.
Aku mendapatkan sesuatu. Sepertinya harus olah TKP untuk kedua kalinya.
***
“Kau sudah tahu siapa pelakunya?” Noor menyerngit tajam waktu menemaniku memeriksa TKP lagi, “siapa?”
“Nanti kau juga akan tahu.”
“Kalau sudah tahu pelakunya, untuk apa kita kesini lagi?”
“Mencari barang bukti.” Ujung kanan bibirku tertarik saat menemukan sesuatu, “bingo.”

(to be continued)

No comments:

Post a Comment

Free Mustache Blue - Pointer Cursors at www.totallyfreecursors.com