Aku menatap Dina tanpa percaya.
“Mengapa diam saja? LARI!”
Bodoh. Mana bisa aku meninggalkan
dia sendirian?
Tiba-tiba pengawal yang disekap
Dina menyentak begitu keras melebihi tenaga Dina untuk menahan. Otomatis ia
nyaris terjengkang jauh. Lalu kedua pengawal itu segera menyekapku lagi dan
Bibi Shab. Kekuatanku sudah terlalu sedikit untuk melawan.
“Mundur, kalau tidak ingin dua
orang ini kami lukai!” aku merasakah sentuhan ujung tajam pisau yang dingin
nyaris menembus kulit leherku. Kini menelan ludah pun aku tak sanggup.
“Apa sih yang kalian inginkan dari
dia?” Dina bertanya seakan pengawal-pengawal brengsek ini adalah teman lamanya,
“kalian bisa mendapatkan yang lebih banyak darinya tanpa perlu bekerja keras
menjaga penjara lagi kalau kalian mau. Hanya dengan sedikit mengancamnya kan?
Dia terlalu lemah untuk melawan.”
Aku diam saja dihina seperti itu.
Kedua pengawal itu berpandangan.
“Apa sih yang bisa kalian dapatkan
dari kerajaan Salju? Hanya emas dan perak sedikit, dan pekerjaan kalian nyaris
24 jam. Setimpalkah? Gunakan otak kalian!”
Hening lagi.
“Kezia, kalau mereka membebaskanmu,
kau sanggup kan membayar mereka seumur hidup?” Dina bertanya santai. Untung aku
tidak terlalu bodoh sehingga sanggup mengikuti alur mainnya.
“Te, tentu.” Jika kerajaanku bisa
bertahan, tentunya.
“Dengar kan? Sekarang gunakan otak
kalian. Solidaritas? Bisakah kalian makan hanya dengan solidaritas? Pikir!”
Aku merasakah sentuhan ujung pisau
itu lebih longgar. Ah... ia lengah.
Dengan keras aku menyikut perutnya
dan memeluntir tangannya ke belakang. Tak lupa... ngh.... tendangan ke bagian
vitalnya. Tahu kan? Kelemahan semua jenis pria!
“Upsy, aku lupa!” Dina tertawa
setan, “wanita ini tidak lemah!”
“Lepaskan Bibi Shab.” Aku menatap
dingin kedua pengawal itu.
“Seenaknya saja!”
“LEPASKAN DI—“
“Dengarkan, para rakyat kerajaan
Salju!” kata-kataku terhenti saat mendengar suara kencang dari pengeras suara,
“selangkah lagi kita akan menguasai Kerajaan Hoam. Selangkah lagi kita akan
menang!”
Sorak-sorai terdengar dari luar. Aku
terhenyak. Kecut.
“Kita harus pergi, Kezia!” Dina
menarik tanganku keras dan berlari kencang ke luar.
“Tunggu dulu—Bibi Shab?!”
“Ada yang lebih penting!!” Dina
nyaris meraung, “kerajaanmu!!”
“Tidak—“ aku yang tak berdaya
mengikuti langkah cahaya Dina, dari kejauhan kulihat Bibi Shab ditarik-tarik
oleh kedua pengawal itu.
“BIBI, AKU AKAN KEMBALI! TUNGGULAH,
BERTAHANLAH!” aku berteriak sekuat tenaga. Berdoa agar Bibi Shab mendengarku.
Air mataku mengalir, tak sanggup pula kuhentikan.
“BIBI HARUS KELUAR DARI SINI! NOOR
RINDU BIBI. BIBI HARUS BERTAHAN! AKU JANJI AKAN KEMBALI—“
Dan teriakanku terhenti saat
kusadari langkah cahaya Dina membawaku keluar penjara.
***
Nafasku pendek-pendek kelelahan,
namun Dina terlihat baik-baik saja.
“Kamu baik-baik saja, kan?” Dina
akan menepuk punggungku saat kutepis tangannya.
“Mengapa kau biarkan bibi? Mengapa
kau tidak menyelamatkannya juga?” aku menggeram.
“Tidak ada waktu, Kezia.” Dina
menggeleng, “mereka sudah—“
“TIDAKKAH KAU BERPIKIR TENTANG
PERASAANNYA? TIDAKKAH KAU BERPIKIR TENTANG ANAKNYA?” Aku nyaris meraung.
Nafasku habis lagi.
“Anaknya?” mendadak Dina
mencengkram lenganku. Matanya berkilat tak sabar, “tidakkah kau berpikir sudah
berapa juta yang kau tinggalkan di Hoam? Tidakkah kau berpikir mereka juga
punya anak? KAU MENGORBANKAN RIBUAN NYAWA UNTUK AMBISIMU! EGOIS!”
Aku menatapnya. Tak punya kekuatan
untuk membalas kata-katanya selain bertanya lirih ketakutan, “bagaimana... di
Hoam? Ayahku? Kania...?”
“Kiamat.”
Tubuhku melemas. Tak percaya bahwa
sebentar lagi aku akan kehilangan segalanya...
“Tapi masih ada harapan.”
Aku mendongak, “apa maksudmu?”
“Belum sepenuhnya hancur.” Dina
menatapku tajam, “selama kau dan Kania sebagai calon penerus kerajaan masih
hidup—“
“Kania masih...?”
“Entahlah. Dia menghilang. Bersama
penasehat kerajaanmu.”
Aku menghela nafas. Dia masih
hidup. Aku rasa... aku rasa bisa merasakannya. Bodohnya aku. Kami kan kembar.
“Jadi, apa yang bisa kita lakukan?”
“Kumpulkan kekuatan baru.”
“Hah?” aku mengernyit, “bukankah
semua prajurit—?”
“Iya. Tapi ada satu kekuatan yang
lebih besar. Kita harus bisa meyakinkan mereka untuk membantu kita.”
“Mereka siapa?”
“Kaum dunia hitam.”
Mataku melebar, “tapi... bisakah?”
“Itu urusan belakangan! Kita harus
berusaha dulu.” Dina mendadak teringat sesuatu dan tersenyum kaku, “Well,
ngomong-ngomong aku membawakanmu seekor
kejutan.”
“Hah?”
Aku mendengar suara ringkikan yang
khas. Sangat kukenal. Setengah berharap, aku menoleh.
“NOIR!” aku berhamburan memeluknya,
“demi Tuhan, aku merindukanmu.”
Noir membalas dengan ringkikan
halus. Kurasa maksudnya dia juga merindukanku.
“Reuninya nanti saja.” Dina menaiki
kudanya, “kita dikejar waktu.”
Aku mengangguk dan menaiki Noir
lagi, “I’m counting on you, boy.”
Noir meringkik penuh semangat dan
melaju mengejar kuda Dina.
***
Dunia Hitam.
Mataku memanas memandang
puing-puing rumah reyot di sana, “prajurit Salju sudah kemari?”
“Sepertinya sudah.” Dina menendangi
reruntuhan itu, “tetapi mereka tidak akan dibawa kemana-mana. Dunia hitam bukan
sasaran utama mereka. Mereka pasti berlindung di suatu tempat. Yang cukup
besar—“
“Penginapan Pioneer.” Aku menggumam
pelan.
“Hah?”
“Penginapan Pioneer. Satu-satunya
penginapan paling besar di sini. Mungkin memang sudah terbakar tapi... aku rasa
kepergian mereka hanya di sekitar sana.”
“Kau terdengar begitu akrab dengan
mereka.”
Itu pernyataan, bukan pertanyaan.
Aku malas menanggapinya.
“Baiklah. Kita ke penginapan itu.”
Dina menaiki kudanya dan memacunya kembali. Aku mengikutinya.
***
Di bekas penginapan Pioneer, begitu
banyak tenda-tenda darurat. Tenaga-tenaga medis yang aku yakin amatiran
mengobati pasien-pasien yang terluka. Separah inikah?
“Tahan perasaanmu. Kita harus
cepat.” Dina turun dan mengikat kudanya. Aku juga melakukan hal yang sama.
“Ke... Kezia?”
Aku langsung menoleh, “Laras?”
Kutatap sosok Laras dengan tangan
berperbannya. Perlahan kuhampiri ia.
“Mau apa kau kesini lagi?” balasnya dingin, “puas kau sudah
menipu kami? Membuat kami menjadi seperti ini?”
“Ti, tidak. Aku bisa jelaskan
semuanya—“
Mendadak, semua orang seakan
berhenti bergerak. Menatap Laras, kemudian berganti menatapku. Pandangan mereka
semua sama; marah.
“Aku bisa jelaskan semuanya. Demi
Tuhan. Kalian dengarkan aku ya? Aku mohon...” pintaku memelas.
“Apa lagi yang perlu dijelaskan??”
kini kulihat kembar tiga maju menantang. Aku benar-benar merasa putus asa.
Kucari satu orang saja, satu saja, yang tak menatapku dengan marah.
Aku butuh percaya diriku lagi.
Lalu di detik itu... tanpa sengaja
aku berpandangan dengan Noor. Ia tak memberiku tatapan marah. Hanya datar.
Ia yang kubutuhkan, “Noor, aku
bertemu dengan ibumu!”
Seruan terkejut berasal dari
mana-mana. Namun Noor tak menggubris. Ia malah berbalik pergi dari kerumunan
itu.
“Noor, dengarkan aku!” aku
mengejarnya, “aku bertemu ibumu!”
“Jangan kurang ajar kau
menyebut-nyebut Shab—“
“AKU BERTEMU IBUMU, NOOR! BIBI
SHAB! Dan kau tahu? Dia tidak berada di penjara Hoam. DIA ADA DI PENJARA BAWAH
TANAH KERAJAAN SALJU!”
Hening berkepanjangan.
Noor kini menoleh. Tatapannya
sedingin es, “jangan harap kau bisa berbohong lagi. Aku lelah.”
“Aku tidak berbohong!” aku berseru
putus asa, “aku bertemu dengannya. Ia mengatakan padaku bahwa ia sangat
menyayangimu. Dan ia... ia menjelaskan tentang kesalahpahaman kalian.
Salahpaham selama sepuluh tahun!”
“KAU TIDAK PUNYA BUKTI!”
“Bukti?” aku balas menatapnya.
Kukeluarkan sesuatu dari sakuku dan aku nyaris mencolok matanya dengan benda
itu, “kurang? Apa di dunia ini ada seratus juta orang yang memiliki benda ini?”
Noor terpaku menatap benda itu.
Selembar foto hasil potret dirinya dan ibunya.
“Seperti yang kau lihat, aku
memintanya tanpa paksa. Tak ada bekas kusut hasil ditarik paksa. Aku
mengambilnya dengan seijinnya. Kami sama-sama dikurung di penjara Salju, namun
aku gagal menyelamatkannya.”
Noor masih mematung dengan foto itu
di tanganya.
“Aku sudah berjanji padanya akan
menyelamatkannya. Akan mempertemukanmu dengannya. Aku sudah berkata bahwa kau
juga sangat menyayanginya.” Kini air mataku meleleh, “kau harus percaya padaku,
Noor.”
Noor meremas lembar foto itu dan
mengalihkan pandangan.
“Noor...”
“Jelaskan padaku.” Noor menatapku
tanpa ekspresi, “semuanya.”
Aku tersenyum penuh syukur dan
memeluknya, “aku tahu kau akan percaya. Aku tahu. Kita sahabat, kan?”
Noor balas memelukku. Tanpa
berkata-kata lagi.
***
“Jadi,” simpul salah seorang yang
tak kukenal, “selama ini yang menculik orangtua kita... kerajaan Salju?”
Aku mengangguk, “Bibi Shab
bercerita begitu.”
Semua nampak berpikir keras.
“Dan kerajaan Hoam akan hancur?”
mata Laras melebar, “kerajaanmu?”
“Tidak akan kalau kalian
membantuku.” Aku menggeleng cepat. Semua saling berpandangan.
“Membantu apa?”
“Mengalahkan kerajaan Salju dan
mengembalikan Hoam seperti semula. Dan Dunia Hitam tak perlu lagi jauh-jauh
dengan Hoam. Kita akan memulai semuanya... dari awal.”
“Bagaimana kau bisa yakin?”
“Karena aku...” aku menghela nafas,
“ayahku sudah meninggal. Dan penerus tahtanya... aku.”
Tentu saja. Kan aku yang akan
dijodohkan dengan raja negara lain.
“Kau... calon ratu?” Ayu melongo
tak percaya.
“Ya. Dan aku akan melakukan hal
yang seharusnya dilakukan dari dulu,” aku menatap satu persatu wajah mereka,
“kita, adalah satu bagian.”
Masih hening.
“Baiklah,” Noor memperbaiki posisi
duduknya, “apa rencanamu?”
No comments:
Post a Comment