Monday, 19 August 2013

High School Diaries #1: Prologue

Senin, 19 Agustus 2013
Jadi begini.
Ada LKS fisika di kananku dan novel 20-an—Di Bawah Lindungan Ka’bah, HAMKA—di kiriku. Tetapi mataku sudah begitu berat untuk mengeritingkan tangan demi tugas-tugas menjemukan itu. Masih kuhitung detik demi detik kedatangan weekend. Damn it! Ini masih hari Senin. Besok masih Selasa. Aku heran, sudah lama sekali sekolahku diliburkan tetapi tetap saja aku mengeluhkan panjangnya enam hari kemudian. Seakan sepanjang apapun libur tak berpengaruh banyak pada kerajinanku masuk sekolah.
Unfortunately, I’ve been 12th right now. Ini semakin memperparah keadaan. Aku benci, benci, benci menerima tekanan dari manapun soal apapun. Dan tekanan terbesarku saat ini adalah  PTN. Aku—mungkin orang lain juga begitu—takut menerima kenyataan bahwa masa depan kami tidak sesuai harapan. Sungguhan lho. Tadi di sekolah, saat istirahat pertama, musholla sekolah begitu penuh dengan anak-anak yang sholat Dhuha. Mayoritas kelas 12. Agak shock, tapi bersyukur juga sih.
Tapi… begitulah Indonesia. Taatnya cuma kalau ‘kepepet’. Namun lebih baik daripada tidak taat sama sekali. Tratakdungtakjess!
Ngomong-ngomong, liburan berpengaruh besar pada postur tubuhku. Naik satu setengah kilo. Pantas aku merasa semua rok sekolahku lebih sempit dari biasanya. Hanya bisa nyengir lebar ketika semua orang berkomentar, “kamu tambah gendut, El.”
Eh, bukan cuma karena banyak makan sih. Entah kenapa akhir-akhir ini aku menjadi begitu emosian. Baru beberapa hari yang lalu aku bertengkar dengan calon pacar (?) karena masalah yang kurang penting. Kemarin aku mendiamkan temanku yang mengirim pesan ini padaku:
Maaf, El, baru balas. SMS-mu tenggelam.
Maaf saja kalau aku bukan orang baik yang langsung naik darah karena pesan simpel seperti ini. Well, aku tidak akan sebal kalau yang mengirim SMS itu Sanda 2NE1 atau TOP BIGBANG. Tetapi yang mengirim pesan ini adalah… tukang kirim pesan rutinku. So what? Aku jadi merasa kurang penting.
Oke. Aku memang tidak penting. Aku bukan wanita cantik yang disukai orang sana-sini, namun aku tidak sejelek itu sampai semua orang berkesah jijik. Aku bukan wanita pintar yang kemana-mana membaca Oxford Dictionary atau buku aneh macam itu, tetapi aku juga tidak sebodoh itu sampai tidak naik kelas 10 tahun.
Intinya, aku invisible—tak terlihat.
Aku tidak pernah merasa hidupku seironis itu sampai kupamerkan di sebendel novel. Hanya saja kita memang butuh teman berbagi (haha). Dan… kelas 12 man! Harus melakukan usaha apapun agar tidak stress!
Aku juga punya pemikiran bahwa apapun yang terjadi dalam hidup membosankanku ini, aku tidak akan berhenti menulis.
Yah. Inti dari inti semua ini adalah: selamat datang di 10 bulan (atau mungkin kurang) dari hidupku. Masa SMA-ku. High School Diaries­-ku.
Free Mustache Blue - Pointer Cursors at www.totallyfreecursors.com