“Itu namanya
pemerasan, Deden!” aku terlampau gemas dengan tindakan Deden yang sok gentle
tadi; memberikan uang begitu banyak kepada si cewek-muka-telur hanya untuk
buah-buahannya yang nyaris busuk.
“Anggap saja
amal.” Jawab Deden, kalem.
Ingatkan aku untuk
tidak menolong lelaki ini kalau di tengah jalan ia kehabisan uang.
“Oh iya, Kezia.
Ini hampir malam. Kita harus menginap.”
“Aku tidak
ngantuk.” Gerutuku. Masih menyesali uang-uang yang terbuang percuma itu.
“Tapi Messy-mu
sudah berjalan sambil tidur tuh.”
Eh? Dengan
penasaran aku melirik kuda yang kutunggangi.
DIA BENAR-BENAR
BERJALAN SAMBIL TIDUR????
***
Penginapan Pioneer.
“Selamat
malam,” sapa seorang resepsionis manis dengan senyum kawat giginya, “nama saya
Laras, malam ini saya resepsionis Anda. Ada yang bisa saya bantu?”
“Dua kamar ya.”
Pintaku.
“Dengan
connecting door ya.” Sahut Deden.
“ENAK AJA!
Tanpa connecting door!” aku menatap Deden ganas. Lagi-lagi dia nyengir Noir.
“Maaf, Nona,”
Laras mengecek buku tamunya, “yang tersisa hanya dua kamar dengan connecting
door untuk malam ini.”
Krik…
Bagus. Jadi malam
ini aku harus tidur dengan bayang-bayang Deden yang bisa masuk kamarku kapan
saja… OH NO!!
“Sip!” cengiran
Deden makin lebar. Dia benar-benar lelaki otak cabul. Aku harus jaga jarak
cepat-cepat dengannya, “kami ambil ya.”
Sabarlah,
Kezia. Ini hanya semalam.
“Baik.” Laras mencatat data kami dan
memberikan dua kunci kamar, “silakan menikmati.”
“Ooh… tentu
saja,” Deden tertawa, “tentu saja saya akan menikmati malam ini.”
GRRRRRRRRRRRRRR…
Laras cuma
tersenyum kecil, lalu menekan bel nyaringnya, “petugas kami akan menunjukkan
kamar kalian.”
Aku membalas
senyum kawat warna-warninya dan menunggu.
Sudah 10 menit
berlalu dan tidak ada yang datang.
“Ma, maaf,”
Laras terlihat sungkan. Ia lalu menekan bel lagi.
Tidak ada yang
datang.
“Astaga…” Laras
menghela nafas panjang dan… “NOOOOOOOOOOR!!!! KAU TULI ATAU BAGAIMANA???!!!!
ADA TAMU DISINI, DASAR BODOH!!!!”
Sialan. Suara cemprengnya
merusak pendengaranku.
“IYA IYA, DASAR
KAU LEBIH BODOH!!!” aku mendengar sahutan suara wanita dari dalam. Hhh…
orang-orang disini kenapa sih??
Eh tunggu dulu!
Sepertinya aku mengenal suara itu…
Aku mendengar
derap kaki kasar di belakangku. Refleks aku menoleh dan…
“Kamu…” aku
tidak habis pikir, “kamu wanita wajah telur itu kan???!!!!”
“Oh,” responnya
datar, “kau si hidung pesek yang tidak becus menunggang kuda itu kan?”
“KAAAAUUUUUUUUU!!!!!!!”
***
“Sabar, Kezia,
sabar…” Deden kelihatan masih ngeri karena melihatku mengamuk tadi. Ia berhasil
menyeretku ke kamar sebelum aku membunuh Wanita Telur. Ya, orang yang sudah
pernah melihatku mengamuk dipastikan akan mengalami trauma berat yang
menyebabkan disfungsi syaraf otak.
Kau tidak tahu
maksudku? Entah, aku juga tidak tahu apa yang kubicarakan. Pokoknya-aku-benci-wanita-telur-itu!!!!
“Aku ingin kita
pergi dari sini secepatnya, Deden.” Aku mendengar suaraku masih menggeram. Dari
semua hinaan, aku paling benci jika ada yang mengataiku pesek. Kenapa aku
benci? Karena itu kenyataan.
“Besok sore
bagaimana?” tanyanya.
“Sore?” aku
menatap Deden dengan longoan, “kenapa tidak sekalian saja kita tinggal di
sini?!”
“Bukan begitu
maksudku, Kezia,” Deden menghela nafas, “Messy itu sudah tua. Kau mau
menyiksanya dengan tidak memberinya istirahat panjang?”
Kuda sialan
itu. Aku akan mengorbankannya untuk sesaji jika perjalanan ini berakhir.
“Tapi aku tidak
mau bertemu dengan wanita telur itu!”
“Memang kau
pikir dia mau bertemu denganmu? Percaya diri sekali kau.” Deden berdiri, “aku
lelah. Aku ingin tidur. Semoga mimpi indah, Kezia.”
Aku mengangguk
kecil dan membiarkannya beranjak ke kamarnya lewat connecting door. Deden bisa
berpura-pura tertawa seperti itu, tapi aku tahu ada siratan kesedihan di
matanya. Sebenarnya apa yang terjadi antara dia dengan Dina?
Apa Deden
benar-benar ingin melupakan Dina demi aku?
***
“Layanan kamar!”
aku mendengar suara pintu diketuk. Aku mengucek mata dan melihat jendela.
Sudah seterang
ini. Sepertinya aku sudah tertidur cukup lama. Dengan ogah-ogahan aku bangun
dan memakai mantel, lalu membuka pintu.
Seorang wanita
cantik tinggi kurus dengan gigi depan yang patah sedang tersenyum sopan di
depanku. Di belakangnya ada dua lelaki tinggi besar.
“Selamat pagi,
Nona,” wanita itu memberi salam sopan, “nama saya Ayu, dan hari ini saya akan
membersihkan kamar anda.”
‘Oh, iya.” Aku tersenyum
kikuk, “dan dua lelaki di belakangmu?”
“Oh,” Ayu
menoleh sambil tersenyum makin lebar, “dua orang ini saudara kembar saya. Yang ini
Saput, yang ini Ferdi.” Ayu menepuk-nepuk bahu besar saudara kembarnya, “mereka
tidak akan berhenti menguntit saya sampai mendapatkan jatah sarapan mereka.”
Aku melongo
pada kembar tiga di depanku. Yang laki-laki sih memang mirip. Tapi yang wanita…
kasihan sekali nasibnya.
“Ada roti canai
di mejaku. Ambil saja untuk saudara kembarmu itu.” Aku tersenyum padanya.
“Oh,
terimakasih.” Ayu tertawa, “Saput, Ferdi, kalian bisa sarapan setelah
membantuku membersihkan kamar. Siap?”
“Siap, Kakak!”
Saput dan Ferdi menyahut sambil hormat. Longoanku makin parah.
Apa tidak ada
satu orangpun yang normal disini?!
Si Kembar Tiga
mulai membersihkan kamarku. Aku menunggui mereka. Sayup-sayup aku mendengar
suara mesin jahit dari loteng atas.
“Siapa yang
menjahit?” tanyaku.
“Pasti Noor.” Jawab
Saput, “dia sudah merekrut loteng atas sebagai markasnya.”
“Dia jago
sekali menjahit baju.” Sambung Ferdi, “seragam pegawai penginapan di sini juga
ia yang menjahitnya. Padahal dia hanya mengambil dari baju bekas, tapi hasilnya
bisa sebagus ini.”
Aku mengamati
baju yang mereka pakai. Model dan jahitannya memang rapi sekali. Tak kusangka
wanita telur itu punya keahlian selain menghina orang.
“Aku mau
mengintip sebentar.” Kataku, “titip kamarku ya.”
Aku lalu
menaiki tangga menuju loteng. Suara mesin jahit itu semakin terdengar. Diam-diam
aku mengintip dari lubang kunci. Samar-samar aku memang melihat sepasang tangan
sedang memainkan kain dan mesin jahit. Tapi tidak jelas siapa orangnya. Dengan nekat
aku buka sedikit pintu loteng.
Loteng itu
kecil dan pengap. Ada banyak kain-kain berantakan dan di temboknya banyak
baju-baju bergantungan. Lalu di pinggir jendela, kulihat sosok si wanita telur
sedang menjahit dan… tersenyum. Ternyata wanita cuek dan dingin seperti dia
masih bisa tersenyum? Aku cekikikan melihatnya.
“Siapa itu?”
wanita telur menghentikan jahitannya. Oh tidak! Aku balik badan dan berjingkat
pelan untuk kabur—
“Pesek?”
Aku menoleh,
geram melihat wanita telur itu berdiri tanpa ekspresi di depan pintu loteng,
dan, “BERHENTI MEMANGGILKU PESEK!!!!”
***
“Oh, jadi kau
memang suka menjahit ya?” aku mengamati baju-baju hasil karyanya yang
tergantung di tembok loteng. Untuk sementara ini, ia mengajakku akur. Ya, sementara ini.
“Ya.” Jawabnya singkat.
Daritadi setiap kutanya ia hanya menjawab ‘ya’ atau ‘tidak’ atau ‘bukan
urusanmu’ tanpa intonasi sama sekali. Bodo amat!
Aku masih
mengamati baju-bajunya. Perhatianku teralih ke baju yang ia gantungkan di
pojok. Sebuah gaun berwarna semburat merah muda yang simpel namun menunjukkan
elegansi khusus.
“Hei, ini bagus
sekali.” Pujiku sembari menyentuh gaun itu lembut. Katun.
‘Kau suka? Ambil
saja.”
“Eh?? Serius??”
aku nyaris melonjak kegirangan.
“Iya,” wanita
telur menatap ke luar jendela dengan tatapan kosong, “sudah tidak ada lagi yang
memilikinya.”
Aku tercenung, “maksudmu?”
“Gaun itu akan
kuberikan pada ibuku saat ulangtahunnya nanti.”
“Ah,” aku salah
tingkah, “maaf. Kalau begitu berikan saja pada ibumu. Dia pasti suka—“
“Ibuku
menghilang.”
“Ah?”
“Orangtuaku, ah
bukan, orangtua kami semua yang tinggal di sini rata-rata menghilang,” nada
wanita telur terdengar sedih, “setelah mereka mencoba memberontak pada kerajaan
Hoam.”
Aku tersentak
pelan. Entah mengapa tiba-tiba aku menggigil.
“Aku benci
mereka semua,” geraman wanita telur terdengar jelas sekali, “aku benci penghuni
istana dan masyarakat dunia putih yang munafik itu. Aku benci kerajaan Hoam. Harusnya
mereka semua mati saja!”
(to be continued)