Friday, 10 August 2012

The Tale of Kerajaan Hoam - 5. Black World


“Itu namanya pemerasan, Deden!” aku terlampau gemas dengan tindakan Deden yang sok gentle tadi; memberikan uang begitu banyak kepada si cewek-muka-telur hanya untuk buah-buahannya yang nyaris busuk.
“Anggap saja amal.” Jawab Deden, kalem.
Ingatkan aku untuk tidak menolong lelaki ini kalau di tengah jalan ia kehabisan uang.
“Oh iya, Kezia. Ini hampir malam. Kita harus menginap.”
“Aku tidak ngantuk.” Gerutuku. Masih menyesali uang-uang yang terbuang percuma itu.
“Tapi Messy-mu sudah berjalan sambil tidur tuh.”
Eh? Dengan penasaran aku melirik kuda yang kutunggangi.
DIA BENAR-BENAR BERJALAN SAMBIL TIDUR????
***
Penginapan Pioneer.
“Selamat malam,” sapa seorang resepsionis manis dengan senyum kawat giginya, “nama saya Laras, malam ini saya resepsionis Anda. Ada yang bisa saya bantu?”
“Dua kamar ya.” Pintaku.
“Dengan connecting door ya.” Sahut Deden.
“ENAK AJA! Tanpa connecting door!” aku menatap Deden ganas. Lagi-lagi dia nyengir Noir.
“Maaf, Nona,” Laras mengecek buku tamunya, “yang tersisa hanya dua kamar dengan connecting door untuk malam ini.”
Krik…
Bagus. Jadi malam ini aku harus tidur dengan bayang-bayang Deden yang bisa masuk kamarku kapan saja… OH NO!!
“Sip!” cengiran Deden makin lebar. Dia benar-benar lelaki otak cabul. Aku harus jaga jarak cepat-cepat dengannya, “kami ambil ya.”
Sabarlah, Kezia. Ini hanya semalam.
 “Baik.” Laras mencatat data kami dan memberikan dua kunci kamar, “silakan menikmati.”
“Ooh… tentu saja,” Deden tertawa, “tentu saja saya akan menikmati malam ini.”
GRRRRRRRRRRRRRR…
Laras cuma tersenyum kecil, lalu menekan bel nyaringnya, “petugas kami akan menunjukkan kamar kalian.”
Aku membalas senyum kawat warna-warninya dan menunggu.
Sudah 10 menit berlalu dan tidak ada yang datang.
“Ma, maaf,” Laras terlihat sungkan. Ia lalu menekan bel lagi.
Tidak ada yang datang.
“Astaga…” Laras menghela nafas panjang dan… “NOOOOOOOOOOR!!!! KAU TULI ATAU BAGAIMANA???!!!! ADA TAMU DISINI, DASAR BODOH!!!!”
Sialan. Suara cemprengnya merusak pendengaranku.
“IYA IYA, DASAR KAU LEBIH BODOH!!!” aku mendengar sahutan suara wanita dari dalam. Hhh… orang-orang disini kenapa sih??
Eh tunggu dulu! Sepertinya aku mengenal suara itu…
Aku mendengar derap kaki kasar di belakangku. Refleks aku menoleh dan…
“Kamu…” aku tidak habis pikir, “kamu wanita wajah telur itu kan???!!!!”
“Oh,” responnya datar, “kau si hidung pesek yang tidak becus menunggang kuda itu kan?”
“KAAAAUUUUUUUUU!!!!!!!”
***
“Sabar, Kezia, sabar…” Deden kelihatan masih ngeri karena melihatku mengamuk tadi. Ia berhasil menyeretku ke kamar sebelum aku membunuh Wanita Telur. Ya, orang yang sudah pernah melihatku mengamuk dipastikan akan mengalami trauma berat yang menyebabkan disfungsi syaraf otak.
Kau tidak tahu maksudku? Entah, aku juga tidak tahu apa yang kubicarakan. Pokoknya-aku-benci-wanita-telur-itu!!!!
“Aku ingin kita pergi dari sini secepatnya, Deden.” Aku mendengar suaraku masih menggeram. Dari semua hinaan, aku paling benci jika ada yang mengataiku pesek. Kenapa aku benci? Karena itu kenyataan.
“Besok sore bagaimana?” tanyanya.
“Sore?” aku menatap Deden dengan longoan, “kenapa tidak sekalian saja kita tinggal di sini?!”
“Bukan begitu maksudku, Kezia,” Deden menghela nafas, “Messy itu sudah tua. Kau mau menyiksanya dengan tidak memberinya istirahat panjang?”
Kuda sialan itu. Aku akan mengorbankannya untuk sesaji jika perjalanan ini berakhir.
“Tapi aku tidak mau bertemu dengan wanita telur itu!”
“Memang kau pikir dia mau bertemu denganmu? Percaya diri sekali kau.” Deden berdiri, “aku lelah. Aku ingin tidur. Semoga mimpi indah, Kezia.”
Aku mengangguk kecil dan membiarkannya beranjak ke kamarnya lewat connecting door. Deden bisa berpura-pura tertawa seperti itu, tapi aku tahu ada siratan kesedihan di matanya. Sebenarnya apa yang terjadi antara dia dengan Dina?
Apa Deden benar-benar ingin melupakan Dina demi aku?
***
“Layanan kamar!” aku mendengar suara pintu diketuk. Aku mengucek mata dan melihat jendela.
Sudah seterang ini. Sepertinya aku sudah tertidur cukup lama. Dengan ogah-ogahan aku bangun dan memakai mantel, lalu membuka pintu.
Seorang wanita cantik tinggi kurus dengan gigi depan yang patah sedang tersenyum sopan di depanku. Di belakangnya ada dua lelaki tinggi besar.
“Selamat pagi, Nona,” wanita itu memberi salam sopan, “nama saya Ayu, dan hari ini saya akan membersihkan kamar anda.”
‘Oh, iya.” Aku tersenyum kikuk, “dan dua lelaki di belakangmu?”
“Oh,” Ayu menoleh sambil tersenyum makin lebar, “dua orang ini saudara kembar saya. Yang ini Saput, yang ini Ferdi.” Ayu menepuk-nepuk bahu besar saudara kembarnya, “mereka tidak akan berhenti menguntit saya sampai mendapatkan jatah sarapan mereka.”
Aku melongo pada kembar tiga di depanku. Yang laki-laki sih memang mirip. Tapi yang wanita… kasihan sekali nasibnya.
“Ada roti canai di mejaku. Ambil saja untuk saudara kembarmu itu.” Aku tersenyum padanya.
“Oh, terimakasih.” Ayu tertawa, “Saput, Ferdi, kalian bisa sarapan setelah membantuku membersihkan kamar. Siap?”
“Siap, Kakak!” Saput dan Ferdi menyahut sambil hormat. Longoanku makin parah.
Apa tidak ada satu orangpun yang normal disini?!
Si Kembar Tiga mulai membersihkan kamarku. Aku menunggui mereka. Sayup-sayup aku mendengar suara mesin jahit dari loteng atas.
“Siapa yang menjahit?” tanyaku.
“Pasti Noor.” Jawab Saput, “dia sudah merekrut loteng atas sebagai markasnya.”
“Dia jago sekali menjahit baju.” Sambung Ferdi, “seragam pegawai penginapan di sini juga ia yang menjahitnya. Padahal dia hanya mengambil dari baju bekas, tapi hasilnya bisa sebagus ini.”
Aku mengamati baju yang mereka pakai. Model dan jahitannya memang rapi sekali. Tak kusangka wanita telur itu punya keahlian selain menghina orang.
“Aku mau mengintip sebentar.” Kataku, “titip kamarku ya.”
Aku lalu menaiki tangga menuju loteng. Suara mesin jahit itu semakin terdengar. Diam-diam aku mengintip dari lubang kunci. Samar-samar aku memang melihat sepasang tangan sedang memainkan kain dan mesin jahit. Tapi tidak jelas siapa orangnya. Dengan nekat aku buka sedikit pintu loteng.
Loteng itu kecil dan pengap. Ada banyak kain-kain berantakan dan di temboknya banyak baju-baju bergantungan. Lalu di pinggir jendela, kulihat sosok si wanita telur sedang menjahit dan… tersenyum. Ternyata wanita cuek dan dingin seperti dia masih bisa tersenyum? Aku cekikikan melihatnya.
“Siapa itu?” wanita telur menghentikan jahitannya. Oh tidak! Aku balik badan dan berjingkat pelan untuk kabur—
“Pesek?”
Aku menoleh, geram melihat wanita telur itu berdiri tanpa ekspresi di depan pintu loteng, dan, “BERHENTI MEMANGGILKU PESEK!!!!”
***
“Oh, jadi kau memang suka menjahit ya?” aku mengamati baju-baju hasil karyanya yang tergantung di tembok loteng. Untuk sementara ini, ia mengajakku akur. Ya, sementara ini.
“Ya.” Jawabnya singkat. Daritadi setiap kutanya ia hanya menjawab ‘ya’ atau ‘tidak’ atau ‘bukan urusanmu’ tanpa intonasi sama sekali. Bodo amat!
Aku masih mengamati baju-bajunya. Perhatianku teralih ke baju yang ia gantungkan di pojok. Sebuah gaun berwarna semburat merah muda yang simpel namun menunjukkan elegansi khusus.
“Hei, ini bagus sekali.” Pujiku sembari menyentuh gaun itu lembut. Katun.
‘Kau suka? Ambil saja.”
“Eh?? Serius??” aku nyaris melonjak kegirangan.
“Iya,” wanita telur menatap ke luar jendela dengan tatapan kosong, “sudah tidak ada lagi yang memilikinya.”
Aku tercenung, “maksudmu?”
“Gaun itu akan kuberikan pada ibuku saat ulangtahunnya nanti.”
“Ah,” aku salah tingkah, “maaf. Kalau begitu berikan saja pada ibumu. Dia pasti suka—“
“Ibuku menghilang.”
“Ah?”
“Orangtuaku, ah bukan, orangtua kami semua yang tinggal di sini rata-rata menghilang,” nada wanita telur terdengar sedih, “setelah mereka mencoba memberontak pada kerajaan Hoam.”
Aku tersentak pelan. Entah mengapa tiba-tiba aku menggigil.
“Aku benci mereka semua,” geraman wanita telur terdengar jelas sekali, “aku benci penghuni istana dan masyarakat dunia putih yang munafik itu. Aku benci kerajaan Hoam. Harusnya mereka semua mati saja!”

(to be continued)
Free Mustache Blue - Pointer Cursors at www.totallyfreecursors.com