Aku menatap Dina tanpa percaya.
“Mengapa diam saja? LARI!”
Bodoh. Mana bisa aku meninggalkan
dia sendirian?
Tiba-tiba pengawal yang disekap
Dina menyentak begitu keras melebihi tenaga Dina untuk menahan. Otomatis ia
nyaris terjengkang jauh. Lalu kedua pengawal itu segera menyekapku lagi dan
Bibi Shab. Kekuatanku sudah terlalu sedikit untuk melawan.
“Mundur, kalau tidak ingin dua
orang ini kami lukai!” aku merasakah sentuhan ujung tajam pisau yang dingin
nyaris menembus kulit leherku. Kini menelan ludah pun aku tak sanggup.
“Apa sih yang kalian inginkan dari
dia?” Dina bertanya seakan pengawal-pengawal brengsek ini adalah teman lamanya,
“kalian bisa mendapatkan yang lebih banyak darinya tanpa perlu bekerja keras
menjaga penjara lagi kalau kalian mau. Hanya dengan sedikit mengancamnya kan?
Dia terlalu lemah untuk melawan.”
Aku diam saja dihina seperti itu.
Kedua pengawal itu berpandangan.
“Apa sih yang bisa kalian dapatkan
dari kerajaan Salju? Hanya emas dan perak sedikit, dan pekerjaan kalian nyaris
24 jam. Setimpalkah? Gunakan otak kalian!”
Hening lagi.
“Kezia, kalau mereka membebaskanmu,
kau sanggup kan membayar mereka seumur hidup?” Dina bertanya santai. Untung aku
tidak terlalu bodoh sehingga sanggup mengikuti alur mainnya.
“Te, tentu.” Jika kerajaanku bisa
bertahan, tentunya.
“Dengar kan? Sekarang gunakan otak
kalian. Solidaritas? Bisakah kalian makan hanya dengan solidaritas? Pikir!”
Aku merasakah sentuhan ujung pisau
itu lebih longgar. Ah... ia lengah.
“SEKARANG!”