Aku cupid, dan ini
panah terakhirku.
Aku sudah lama menunggu momen ini; aku bisa melihatmu lebih
dekat dan kubuat kau membalas rasaku.
Menjadi cupid membuatku cukup bodoh untuk menutup
perasaanku. Lalu aku bertemu denganmu.
Jadi, dengan panah terakhir ini, kubuat kau mencintaiku
Setiap detik terasa
berharga…
Aku bersorak-sorak karena tugasku sudah selesai. Aku akan
jatuh cinta! Dan ia akan membalas cintaku.
Kugenggam erat panahku ini. Kan kutancapkan di dadamu, lalu
kan kuwujudkan ragaku di depan matamu. Ya, kau akan mencintaiku.
Seperti dongeng, cintaku
harus berbalas!
Aku tidak pernah jatuh cinta sebelumnya; waktuku habis untuk
melihat orang lain bahagia karena cinta mereka terbalas. Tapi tak ada satupun
orang yang berterimakasih padaku. Sudahlah, yang penting ini giliranku.
Kutunggu momen-momen indah ini bertahun-tahun, tanpa kau
sadari aku selalu mengikutimu. Tanpa raga, aku memerhatikanmu. Tanpa raga, aku
mencintaimu. Bayang semuku selalu mengikuti jejakmu. Panca inderaku selalu
mencari kepastian tentang kamu. Sudah kusingkirkan takdir itu; cintamu tak
pernah dibalas orang lain. Mengapa? Karena hanya aku yang pantas untukmu. Bukan
orang lain.
Kulihat kau mulai
melintasiku; masuk ke area sasaran.
Kutarik busur panahku. Aku harus mengenai tepat di jantungmu,
tepat di hatimu, lalu kau akan berdebar saat melihatku. Sempurnanya rencanaku. Akulah
si cupid yang jatuh cinta dan tak ada orang yang bisa menghalangiku.
Karena cintaku harus dibalas!
Dengan yakin, kupanah
hatimu!
Sasaranku tepat. Namun…
Di detik itu,
seseorang melewatinya dan menarik perhatian matanya.
Tidak! Jangan! Jangan melihatnya! Kau seharusnya hanya jatuh
cinta padaku!
Namun terlambat, kau
telah mencintai wanita lain.
………..
Cintaku bertepuk
sebelah tangan.