Monday, 4 February 2013

Hujan, Tolong


Hari #22, 4 Januari 2013
Dear hujan,
Aku menulis surat ini untuk meminta tolong padamu. Aku tahu aku takkan bisa melakukan hal ini. Aku tahu aku terlalu pengecut. Aku terlalu takut. Aku gelisah setiap melihat handphone-ku berganti-ganti tanggal. Sebulan yang lalu aku sangat menantikan esok. Tetapi sekarang? Aku bingung.
Aku bingung apa yang harus aku lakukan saat hari itu jatuh. Aku bingung aku harus bersikap bagaimana. Berbulan-bulan aku bersikap agresif padanya dan ternyata aku malah merasa menyampahkan diriku sendiri. Mungkin sekarang ia hanya menganggapku angin lalu—tidak ada yang pernah terjadi di antara kami. Jadi sekarang aku begitu bingung. Apa yang harus aku lakukan untuknya besok?
Sebulanan ini aku berusaha tidak peduli. Bersikap biasa dihadapannya. Logikaku berkata; “ia bisa hanya menganggapmu angin lalu, kenapa kamu tidak bisa melakukan hal yang sama?”
Tapi—sial sekali—logikaku tidak berhasil memerintahkan hatiku untuk tunduk. Meskipun aku berusaha berpura-pura semuanya baik-baik saja, nyatanya semuanya takkan pernah baik-baik saja. Meskipun aku selalu berpura-pura bodoh saat ia lewat, nyatanya sebagian tubuhku meronta-ronta memintaku untuk menyapanya. Bodoh! Mana mau aku menjatuhkan harga diri yang pelan-pelan kubangun lagi demi mendapat seulas senyum paling tak ikhlas darinya? Tidak, tidak. Aku lelah bangun lagi setelah ia jatuhkan berkali-kali.
Aku sudah berusaha keras bangun dari tumpukan kenangan. Aku sudah berusaha keras meng-amnesia-kan diriku dari potret-potret lawas gambaran tawanya. Aku mencuci otakku sendiri, menggantikan semua hal baik-baik tentangnya menjadi kenangan suram beberapa bulan ini; sms terakhir saat  ia mencampakkanku, raut wajah datarnya saat mencampakkanku, langkah kaki kakunya melewatiku saat mencampakkanku, semua detil-detil kelakukannya saat mencampakkanku, kini kupaksakan terngiang-ngiang. Aku-harus-berhenti-memikirkannya!
Tapi manipulasi otak itu tak berhasil menghapus jejak satu hal; hari esok. Semengerikan apapun tampangnya yang kubayangkan di otakku, sejahat apapun kata-katanya yang terngiang—dengan pemaksaan—di telingaku, nyatanya belum cukup membuatku lupa satu hal; hari esok.
Jadi intinya, aku bingung. Aku tidak mau menimbun asa lagi. Aku tidak mau membasahi bantalku dengan air mata lagi malam ini. Karena itu lebih baik kuserahkan tugas ini padamu. Aku benar-benar berharap kamu mau membantu. Sebentar saja, tidak sulit kok. Aku hanya berusaha meminimalisir kenangan-kenangan tak diinginkan meloncat lagi dari tempat sampah—andai bisa kulihat kaki kenangan-kenangan itu, aku sangat ingin memutilasinya, memutus syaraf-syarafnya, membekukan otot-otonya, agar tetap duduk manis di tempat sampah!—sehingga aku tidak terluka. Aku tidak mau menjadi bodoh dengan ‘menyengajakan’ jantungku jatuh ke tangan penjagal.
Yaah... oke. Begini. Melalui surat ini aku mau minta tolong padamu. Bagimu pasti takkan sulit. Tapi bagiku berat sekali...
Bisakah kamu turun ke bumi tepat pukul 12 malam nanti? Bangunkan ia dengan sentuh-sentuh dinginmu, lalu bisikkan di telinganya; selamat ulangtahun, bocah 17 tahun. Ada seorang wanita bodoh di luar sana yang sedang berdoa agar kamu bahagia selalu.
Salam cinta,
Aku
Free Mustache Blue - Pointer Cursors at www.totallyfreecursors.com