Hari
#22, 4 Januari 2013
Dear hujan,
Aku menulis
surat ini untuk meminta tolong padamu. Aku tahu aku takkan bisa melakukan hal
ini. Aku tahu aku terlalu pengecut. Aku terlalu takut. Aku gelisah setiap
melihat handphone-ku berganti-ganti tanggal. Sebulan yang lalu aku sangat
menantikan esok. Tetapi sekarang? Aku bingung.
Aku bingung apa
yang harus aku lakukan saat hari itu jatuh. Aku bingung aku harus bersikap
bagaimana. Berbulan-bulan aku bersikap agresif padanya dan ternyata aku malah
merasa menyampahkan diriku sendiri. Mungkin sekarang ia hanya menganggapku
angin lalu—tidak ada yang pernah terjadi di antara kami. Jadi sekarang aku
begitu bingung. Apa yang harus aku lakukan untuknya besok?
Sebulanan ini
aku berusaha tidak peduli. Bersikap biasa dihadapannya. Logikaku berkata; “ia
bisa hanya menganggapmu angin lalu, kenapa kamu tidak bisa melakukan hal yang
sama?”
Tapi—sial
sekali—logikaku tidak berhasil memerintahkan hatiku untuk tunduk. Meskipun aku
berusaha berpura-pura semuanya baik-baik saja, nyatanya semuanya takkan pernah baik-baik saja. Meskipun
aku selalu berpura-pura bodoh saat ia lewat, nyatanya sebagian tubuhku meronta-ronta
memintaku untuk menyapanya. Bodoh! Mana mau aku menjatuhkan harga diri yang
pelan-pelan kubangun lagi demi mendapat seulas senyum paling tak ikhlas darinya?
Tidak, tidak. Aku lelah bangun lagi setelah ia jatuhkan berkali-kali.
Aku sudah
berusaha keras bangun dari tumpukan kenangan. Aku sudah berusaha keras
meng-amnesia-kan diriku dari potret-potret lawas gambaran tawanya. Aku mencuci
otakku sendiri, menggantikan semua hal baik-baik tentangnya menjadi kenangan
suram beberapa bulan ini; sms terakhir saat ia mencampakkanku, raut wajah
datarnya saat mencampakkanku, langkah kaki kakunya melewatiku saat
mencampakkanku, semua detil-detil kelakukannya saat mencampakkanku, kini
kupaksakan terngiang-ngiang. Aku-harus-berhenti-memikirkannya!
Tapi manipulasi
otak itu tak berhasil menghapus jejak satu hal; hari esok. Semengerikan apapun
tampangnya yang kubayangkan di otakku, sejahat apapun kata-katanya yang
terngiang—dengan pemaksaan—di telingaku, nyatanya belum cukup membuatku lupa
satu hal; hari esok.
Jadi intinya,
aku bingung. Aku tidak mau menimbun asa lagi. Aku tidak mau membasahi bantalku
dengan air mata lagi malam ini. Karena itu lebih baik kuserahkan tugas ini
padamu. Aku benar-benar berharap kamu mau membantu. Sebentar saja, tidak sulit
kok. Aku hanya berusaha meminimalisir kenangan-kenangan tak diinginkan meloncat
lagi dari tempat sampah—andai bisa kulihat kaki kenangan-kenangan itu, aku sangat
ingin memutilasinya, memutus syaraf-syarafnya, membekukan otot-otonya, agar
tetap duduk manis di tempat sampah!—sehingga aku tidak terluka. Aku tidak mau
menjadi bodoh dengan ‘menyengajakan’ jantungku jatuh ke tangan penjagal.
Yaah... oke.
Begini. Melalui surat ini aku mau minta tolong padamu. Bagimu pasti takkan
sulit. Tapi bagiku berat sekali...
Bisakah kamu
turun ke bumi tepat pukul 12 malam nanti? Bangunkan ia dengan sentuh-sentuh
dinginmu, lalu bisikkan di telinganya; selamat
ulangtahun, bocah 17 tahun. Ada seorang wanita bodoh di luar sana yang sedang
berdoa agar kamu bahagia selalu.
Salam
cinta,
Aku