Aku menyodorkan
ponselku pada lelaki di depanku.
“Ini, maksudnya
apa?”
Ia tidak
menerima ponselku—bahkan tidak menatapnya. Mungkin ia tahu ‘ini’ yang kumaksud.
“Ini maksudnya
apa?” ulangku lagi.
Dia menghela
nafas panjang, “kamu memintaku datang ke cafe ini, menawariku secangkir kopi,
menjanjikan akan membayariku, hanya untuk meminta penjelasan ‘ini’?”
Aku memang
konyol tapi, “ya.”
Ia menghirup
oksigen banyak-banyak entah mengapa—maksudku, apa susahnya memberikan suatu
penjelasan? Oh, mungkin susah karena dia belum melupakan kenyataan bahwa pernah
ada kami diantara aku dan dia.
Paling tidak
ada satu hal bagus yang aku tangkap disini; dia belum lupa.
Dan hal yang
paling buruk adalah; semuanya juga berawal dari sini.
***
Iya, di sini.
Di bangku yang sama. Dengan menu yang sama; dua cangkir cappuccino dengan
beberapa slice brownies berlumur keju
leleh. Tetapi bedanya waktu itu pipiku terasa begitu panas sehingga tidak akan
mengejutkan jika ada telur yang di tempelkan ke pipiku, telur itu akan matang.
“Jadi?” ia menundukkan
wajahnya untuk menatapku. Damn! Bisa
tidak ia berhenti memberiku tatapan seperti itu?!
“Hmm?”
“Kamu mau jadi
pacarku?”
Oh, pertanyaan
itu. Diulangi lagi. Sudah dua kali. Mungkin kalau ia mengajukan pertanyaan yang
sama untuk ketiga kalinya, aku harus memberinya piring.
“Tetapi
kenapa?” dua kata! Aku menanggapinya
dengan dua kata. Ini kemajuan sejak pertanyaan pertama tadi.
“Kamu lucu.
Tentu saja karena aku menyukaimu. Menyayangimu. Apa itu kurang jelas—maksudku,
kamu tidak sadar aku sedang berusaha mendapatkanmu atau semacamnya belakangan
ini?”
Tentu saja aku
sadar.
“Jadi?”
Untuk ‘jadi’
yang kali ini, aku berhasil menatap matanya. Mencari bukti bahwa ini bukan
bercanda atau apa.
Tetapi mata itu
begitu jernih. Alisnya bertaut ingin tahu. Kepolosan itu... siapa sih yang akan
mengira ini hanya lelucon?
“Oke,” putusku
kemudian, dan mengangguk untuk meyakinkannya.
“Serius?” ia
melongo sejenak, lalu memperlihatkan cengiran lebarnya, “aku sayang kamu.”
Seperti aku
tidak saja.
***
Satu tahun kemudian.
Entahlah. Ini hanya
perasaanku saja atau... tidak ada yang terasa berbeda? Oke, selain status
hubungan di facebook-ku yang kini
bertuliskan in relationship. Tetapi siapa
sih yang hanya butuh sekedar status?
Bahkan karena
status inilah kami malah terasa berjarak.
Aku sedang
melihat sepasang adik kelas yang sedang menertawakan sesuatu. Kuhela nafasku
sembari mengaduk es teh yang seharusnya sih tidak perlu diaduk lagi. Kapan yang
terakhir aku dan dia—oh oke, pacarku—seperti
itu? Sepertinya hanya beberapa bulan pertama kami semanis
sepasang-adik-kelas-jatuh-cinta. Dan itu... lama sekali. Astaga! Aku sudah
mempertahankan hubungan ini selama hampir setahun. Yah... dua puluh satu hari
lagi kami merayakan 1st anniversary. Tidak terasa sekali (haha).
Tetapi aku
mulai berpikir dua kali apakah itu pantas dirayakan? Well, sudah dua hari kami tidak berpesan-pesan ria tanpa alasan. Dan
sebelum dua hari itu... sepertinya ponselku hanya menerima pertanyaan ‘sedang
apa’ darinya, dan akhir percakapan pesan kami hanya ‘oh’.
Tragis.
Sepasang-adik-kelas-jatuh-cinta
itu sudah pergi. Kelihatannya sudah lima belas menit aku diam layaknya orang
bodoh di kantin ini. Lagi-lagi kulirik ponselku. Sip! Tidak ada pesan satupun
darinya!
***
“Dua hari?”
teman sebangkuku melongo waktu aku menceritakan short-lost-contact kami. Oke, mungkin hanya aku yang beranggapan
dua hari itu termasuk waktu yang pendek karena reaksi temanku begitu
berlebihan.
“Ya.”
“Sapa duluan
kek!”
“Mm.” Jawabku malas
sambil menggelengkan kepala.
“Gengsi?”
Kuangkat
bahuku, “kalau dia sampai tidak mengirim pesan satupun, itu artinya dia tidak
mau berbicara padaku, kan?”
Lihat kan? Aku pengertian.
“Tidak peka!”
sergah temanku, “kalau dia sebenarnya hanya mengujimu? Maksudmu... mungkin dia
ingin tahu seberapa perhatian kamu padanya.”
“Astaga. Kamu terlalu
sering membaca teenlit dan menonton reality show tanpa mutu. Memang dia
terlihat seantusias itu, ah tidak, sebodoh
itu? Kurang perhatian apa sih aku selama ini?”
Kini giliran
dia yang mengangkat bahu. Aku menghela nafas.
***
Malam harinya,
dia mengirimkan pesan terstandar di dunia; sedang apa. Berani taruhan,
percakapan ini hanya akan berakhir ‘oh’.
Kujawab
pesannya seadanya dan beberapa menit kemudian dia membalas:
Oh.
Nah lho! Kulemparkan
ponselku ke bantal dan lanjut belajar.
Lima menit
kemudian ponselku bergetar lagi. Kubuka pesannya:
Dua hari ini apa kabar?
Aku mengernyit,
dan kujawab ‘baik. Kamu?’ dan kukirimkan padanya. Beberapa menit kemudian dia
membalas:
Baik sekali. Lebih baik lagi tanpa pesan
apapun dariku kan?
What the—! Kubalas:
Kamu juga, lebih baik lagi karena sama
sekali tidak memberiku kabar kan?
Ia membalas:
Jadi menurutmu, harus selalu aku yang
memberimu kabar? Menanyai kabarmu? Mendapat jawaban paling singkat di dunia,
dan membalasnya hanya dengan dua huruf?
Aku mulai tidak
habis pikir. Kubalas:
Maksudmu apa sih?
Agak lama. Sekitar
setengah jam, ponselku baru bergetar. Ia hanya mengetik:
Lupakan.
Rasanya aku
ingin menangis. Entah untuk apa.
***
Temanku
mendengarkan semua ceritaku. Ekspresinya tidak seheboh kemarin. Wow, kemajuan.
“Ini mulai
berantakan.” Ia menghela nafas, “dengarkan. Aku harus jujur.”
“Jujur?”
“Ya.” Ia menghembuskan
nafas pelan-pelan dan berkata, “dia ingin putus denganmu.”
Aku tidak
bereaksi.
“Dia
mengatakannya padaku. Dia... bosan. Kamu
tahu? Dia selalu berpikir kamu cuek dan blablabla. Dia juga mulai berpikir
kalian... tidak cocok lagi. Dia—“
“Cukup!” ada
cairan hangat yang kini mengalir ke pipiku. Aku menangisi apa? Ini cinta macam
apa?
Dan malamnya,
dua puluh hari sebelum hubungan kami setahun, aku dan dia... benar-benar putus.
***
Aneh bagaimana
bumi berputar—dalam konotatif berputar.
Seorang direktur kaya raya yang tiba-tiba bangkrut dan jatuh miskin, orang yang
sehat wal afiat dan di pagi hari masih sempat olahraga nyatanya meninggal
siangnya, dan gejala aneh lainnya.
Oh ya, salah
satunya adalah aku. Dan dia. Iya, dia,
mantanku.
Semua terasa
aneh. Beberapa bulan setelah putus, kami malah dekat lagi. Akrab lagi. aku mendadak ingat sejuta alasan aku menyukainya.
Dan alasan-alasan itu berhasil membuat aku menyukainya... lagi. Berbalik 180 derajat; perasaanku saja, atau dia memang jauh...
jauh... JAUH lebih menyenangkan
sekarang?
Tuh kan, suka
lagi.
Dan dia juga.
Seminggu
sebelum ujianku, di cafe biasa, dia mengatakan padaku bahwa ia masih ada rasa. Dan
mungkin kami bisa lebih baik kalau mengulangnya sekali lagi.
“Bagaimana
menurutmu?” tanyanya, “kita banyak kesalahan setahun itu. Bukannya tidak salah kalau kita coba perbaiki?”
Aku tersenyum
kecil. Apa boleh buat? Aku juga menyukainya. Tetapi...
“Seminggu lagi
aku ujian,” kataku jujur, “aku ingin fokus. Dan well, aku tidak mau semuanya berakhir hanya karena aku
mengabaikanmu. Seperti dulu.”
Hening merayap
sejenak. Kami sama-sama sibuk dengan pikiran-pikiran yang bermunculan di benak
kami. Sampai akhirnya ia tersenyum lagi.
“Hanya dua
minggu? Aku mau menunggu. Kan hanya dua minggu. Pokoknya, aku menyukaimu. Masih
menyayangimu.”
Hati kecilku
bersorak girang. Hanya dua minggu.
***
Dua minggu kemudian.
Aku masih
menyodorkan ponselku di hadapannya. Ambil kalau berani! Ambil!
Tetapi dia
tetap bergeming diam.
“Kamu bilang
mau menunggu! Apa katamu dulu... ah ya! ‘Hanya dua minggu’. Ya, benar. Hanya dua
minggu yang kamu butuhkan untuk memberiku ini!”
“Kamu tidak
mengerti—“
“Bagian mana
yang menurutmu kurang jelas bagiku?!” gawat. Aku menangis, “Kamu... jahat!”
“Kamu tidak
mengerti!” sergahnya penuh emosi, “apa benar kita bisa memperbaiki semuanya?”
“Mana tahu
kalau belum dicoba?” rasanya aku merana, “kamu memutuskan seenaknya, mengataiku
seenaknya, meninggalkanmu seenaknya, maksudmu apa?!”
Hening lagi.
“Tapi ini cukup
jelas sekarang,” kupertahankan benteng harga diri terakhirku—aku berdiri,
mengambil tasku, “aku sudah cukup menangkap penjelasan darimu. Terima kasih.”
Dan aku pergi.
Layar ponselku masih belum kumatikan.
Layar ponselku,
menampilkan laman facebook-nya, yang
menjelaskan bahwa dia sudah berganti status hubungan menjadi in relationship.
Dengan seorang
gadis.
Dan yang jelas,
nama gadis yang tercantum disana bukan milikku.