Saturday, 2 February 2013

Keluhan Tukang Utang


Hari #20, 2 Februari 2013
Dear mbak-mbak konter pulsa,
Tadi malam saatnya pembagian uang bulanan. Aku meminta uang lebih pada ibuku agar bisa membayar hutang pulsaku padamu. Jadi kamu harus sadar, awal bulan ini kamu sudah membuat susah ibuku.
Tapi kalau dipikir-pikir, sejak naik kelas 11 ini kita jarang bertemu ya? Paling hanya bertemu jika aku ingin hutang pulsa. Lalu pertemuan-pertemuan berikutnya hanya kamu yang berteriak mengatakan, “Heeei bayar pulsaaaaa!”
Dan jika hutangku lunas ya sudah. Tidak ada percakapan lagi.
Rasanya kalau sudah begini aku merasa kalau setahun lalu itu kita memang tidak pernah ada apa-apa. Rasanya es tebu yang pernah kita minum bersama, tahu sumedang yang pernah kita bagi bersama, kertas-kertas contekan yang pernah kita gunakan bersama, itu hanya mimpi satu malam.  Aku jadi merasa kalau kita tidak pernah saling kenal.
Padahal waktu kelas satu kan kita akrab—atau ini juga ilusi? Entahlah. Dari berlima, lalu berempat, lalu bertiga... dan akhirnya kita menjadi semacam sel-sel yang mulai membelah diri dan memisah satu sama lain. Hmm... jangan-jangan zona nyamanmu adalah ketika berpisah denganku.
Aku tahu aku bukan teman yang baik. Teman baik macam apa sih yang hobinya bicara kasar? Teman baik macam apa sih yang sukanya menghina-hina? Teman baik macam apa sih yang begitu egois, begitu sok benar, begitu sok menguasai segalanya? Teman baik macam apa coba aku ini?
Tetapi di sisi lain aku juga takut sih kehilangan kamu. Layaknya daun yang takut kekurangan air. Layaknya bintang yang takut sendirian. Aku takut suatu saat harus menerima keadaan untuk mencari konter pulsa yang baru, mencari rentenir yang baru,
Mencari teman dekat yang baru.
Oke, aku mungkin tidak pernah menunjukkannya. Mungkin kita sibuk di kelas masing-masing. Mungkin aku yang salah, atau kamu yang salah, atau rumput bergoyang yang salah, entahlah. Aku belum menemukan belokan mana yang bisa membawa kita bertemu lagi. Aku belum menemukan di persimpangan mana kita akan saling menyapa lagi. Aku belum menemukan frekuensi yang pas untuk menghubungkan kehidupan kita lagi. padahal kita begitu dekat. Terlalu dekat sampai suaramu yang berteriak di lapang olahraga sampai di pendengaranku. Lalu aku bertanya, kapan terakhir kali kamu tertawa seperti itu di depanku?
Mbak-mbak konter pulsa,
Aku tahu sedetikmu kini begitu berharga. Aku tahu setiap kata-kata yang kamu keluarkan kini bermakna. Tapi maukah kamu memberi otakmu sedikit saja kesenangan lagi bersamaku—seperti kelas 1 dulu? Maukah kamu menukar zona nyamanmu demi seplastik es tebu yang kamu minum denganku? Sekali saja, biarkan ilalang-ilalang tinggi yang menyekati kita layu tanpa hujan. Lalu kita langkahi bersama-sama dan tertawa keras-keras seperti yang biasa kita lakukan—tanpa ketakutan akan nilai, peringkat, dan peluang jalur undangan.
Oke, cukup ini ya. Btw, setelah kamu membaca ini tolong kirim pulsa 5000 di nomorku. Aku bayar bulan depan. Terimakasih.
Salam cinta,
Tukang ngutang


Free Mustache Blue - Pointer Cursors at www.totallyfreecursors.com