Friday, 28 September 2012

Bodohnya

Ngomong-ngomong, kau menyakitiku sudah lebih dari sejuta.
Bodohnya masih tersenyum saja ku saat kau sapa.
Lelah, tapi hanya bisa kuumbar di dunia maya.
Lalu kau tahu dan kau marah.
Bingung juga, sebenarnya siapa sih yang salah?
Mendadak bodoh begini jika bersama
Oh ya, masa cinta itu buta?
Kalau kubilang aku menyukaimu dari bau parfummu, apa berarti cintaku sudah tidak buta?
Oh ya, katanya kau suka buang-buang harapan ya?
Pada si itu, si anu, di sini, di sana.
Jadi aku juga salah satu buanganmu?
Atau jangan-jangan hanya mereka yang dengan tololnya menerima harapan.
Oh ya, kau sedang menjauhiku ya?
Bagaimana? Enak?
Nanti jika kita bertemu kan kutunjukkan mataku yang sembab.
Sembabnya karenamu. Bangga kan?
Bangga kan berhasil menyakiti wanita?
Oh ya, apa sih yang membuatmu jaga jarak?
Katanya karena dia ya?
Daripada percayaiku, kamu malah menelan bulat-bulat kata-katanya?
Aku rindu, dasar pria!
Rindu padamu selalu berhasil membuatku gila!
Menatap foto kita, lalu tertawa hampa.
Tawanya kok menyakitkan ya?
Mendadak merasa seperti anak-anak
Roman picisan yang cukup membuatku tak tahan
Mau berlari, tapi aku baru ingat kakiku ya kamu
Mau menatapmu, tapi saat kamu lewat mataku berasa gelap.
Bodoh!!!
Harga diriku mendadak terjun bebas saat menatapmu
Peganganku seakan rapuh saat kau tersenyum
Nafasku seakan tercekat saat merasakan bau parfummu.
Bodoh, bodoh, bodoh.
Ingin menyeretmu keluar dari otakku, syaraf-syarafku menegang saat aku lelah berusaha.
Lalu otakku mati.
Lalu tak ada lagi yang bekerja.
Kupikir artinya kamu juga hilang.
Nyatanya tidak, aku masih merasakanmu di degup jantungku.
Ku ambil jantungku, kubuang.
Kuharap kamu terbuang bersamanya.
Lalu semenit kemudian aku merasakanmu lagi. Kucari-cari di mana kamu.
Ternyata kamu di jiwaku.
Ternyata kamu separuh aku.
Oke, bodoh kuadrat.
Kukemas barang-barangku. Kubuang tentangmu. Ku berjalan keluar.
Aku dalam proses menuju perpindahan

Free Mustache Blue - Pointer Cursors at www.totallyfreecursors.com