Hari
#2, 15 Januari 2013
Dear kak
@adelladellaide,
Kakak tahu kan?
Dunia ini munafik. Pejabat-pejabat awalnya manis tapi akhirnya juga korup.
Lelaki awalnya manis tapi akhirnya juga ke lain hati.
Dunia maya
menambah kemunafikan itu. Haha, lucu. Banyak sekali akun-akun bijak yang
‘membujuk’ kita melakukan ini itu—yang menurut mereka sih postif. Inilah,
itulah. Harusnya mereka tahu kalo menjadi bijak tidak semudah mengetik kurang
dari 140 karakter.
Apalagi sih isi
twitter selain itu? Akun galau? Akun yang menutupi kelabilan mereka dengan
kata-kata puitis? Meracuni pikiran remaja-menjelang-dewasa agar kembali ke masa
ABG?
Bisa-bisa aku
terjebak arus. Membaca tulisan-tulisan hipokrit yang makin lama makin tak tahu
arah. Lama-lama aku bisa munafik juga. Sesat.
Lalu aku
menemukan akun kakak.
Kakak itu
jujur. Berani mengutarakan hal-hal tabu dengan cara unik. Dan menyuruh kami
jujur kepada diri kami sendiri; “Menurutmu kamu suci?”
Mungkin ada sebagian orang yang menganggap
hasil ketikan kakak itu pamali. Yah, lagi-lagi, munafik. Bilangnya pamali tapi
tetap saja stalking. Tetapi yang membuat mereka buta adalah sisi postif dari
seluruh ketikan kakak. Seharusnya saat kita menemukan sesuatu yang baru, kita
juga harus bisa menemukan sisi postifnya kan? Nah, coba aku urai sisi positif
kakak.
Aku suka
karakter kakak yang lugas dan nyaris polos—dalam artian tertentu. Kakak
menjabarkan galau dengan cara yang unik, yang bukannya menambah intensitas
galau namun malah membuat tersenyum sehingga mendadak amnesia tentang perasaan
kami. Begitulah seharusnya; orang berduka itu dihibur, bukan malah dibuat
semakin terpuruk. Kakak juga berani ‘telanjang’ dan ‘menelanjangi’ orang lain
dengan cara yang menyenangkan. Membaca tweet kakak selalu berhasil membuatku
bercermin; apa iya aku memang seperti
ini?
Kakak
menggambarkan dunia yang sedang aku pijak. Mengubah hal-hal asing menjadi
sesuatu yang layak dibaca. Berusaha jujur ditengah lautan kebohongan. Cantik
dengan diri kakak tanpa ada apapun yang disembunyikan. Bangga pada diri sendiri
tanpa takut hujatan.
Terus seperti
ini ya, kak. Beranilah menjadi pelangi di tengah putih. Diamkan saja yang
mencela, teruskan membuka tirai tabu. Sampai tulisan ini dipajangpun aku masih
mengagumi kakak.
Salam
hangat,
Penggemarmu