Thursday, 4 December 2014

Secangkir Cappuccino; Kemelut

Ketika lulus sekolah, saya mati-matian agar bisa masuk perguruan tinggi.
Ketika lulus kuliah, saya mati-matian agar bisa mendapat pekerjaan.
Ketika bekerja, saya mati-matian agar bisa menikah tepat waktu.
Ketika menikah, saya mati-matian agar bisa mempunyai anak.
Ketika mempunyai anak, saya mati-matian menyekolahkannya sampai tinggi.
Saya selalu mati-matian,
Hingga saya lupa untuk hidup.
***
“Saya ingin bunuh diri.”
Kolega saya yang sedang menghirup Cappuccino-nya langsung terbatuk dan menatap saya dengan pandangan aneh, “apa?”
Ada sekitar jeda lima detik di antara kami. Kemelut di otak saya merangkai sejuta jawaban untuk pertanyaan singkat itu. Tetapi—seperti biasa—ada janggalan di kerongkongan saya untuk mengucapkan kata-kata rapi yang telah otak saya susun. Saya yakin kolega saya akan menilai saya gila setelah saya menjawabnya. Sejujurnya saya tidak peduli pada penilaian orang tentang saya di tahap ini. Saya tidak peduli apa yang akan dia pikirkan tentang saya. Empat puluh tahun saya hidup dan hidup dan saya sudah cukup banyak mendengar gosip—entah miring atau lurus—tentang saya. Dianggap gila tidaklah seberapa.
Tetapi lebih baik saya tahan karena satu jam lagi orang inilah yang akan menentukan deal atau tidaknya proyek yang perusahaan saya tawarkan sejak sebulan lalu.
***
Saya memejamkan mata dan merasakan sentuhan lembut asing dari wanita manis dengan gaun hitam belah rendahnya di depan saya. Otak saya berkabut, mungkin efek bir yang saya tenggak barusan. Biasanya saya kuat menenggak hingga lima gelas lebih. Tetapi ini baru gelas kedua dan mata saya sudah begitu berat.
Wanita itu membisikkan kata-kata manis di telinga saya—suaranya sedikit keras, berusaha mengalahkan dentum musik dari DJ yang tampangnya tidak pernah saya lihat  di podium. Telinga saya sepertinya tidak sanggup menyalurkan informasi detil dari wanita ini ke otak saya, tetapi—mungkin ini refleks, entahlah—saya langsung mengulum bibir berbau alkoholnya.
Hambar.
“Saya ingin bunuh diri.”
Wanita itu terhenti ketika mendengar bisikan saya ditengah ciuman kami. Ia mengernyit, tetapi tubuhnya tetap menempel padaku seperti cicak. Dengan suara datar dia bertanya, “apa?”
Seperti biasa, otak saya sudah bersiap dengan sejuta jawaban. Saya ingin sekali memutus ribuan benang kusut di otak ini, menjernihkan kembali pikiran saya yang biasanya hanya saya cuci dengan sebotol dua botol alkohol kadar sedang. Well, sebenarnya botol-botol itu sanggup menyapu kabut di pikiran saya. Tetapi efeknya hanya berlangsung semalaman. Esok harinya benang-benang itu akan terputar-putar lagi dan membelut saya, sesak rasanya. Hanya saja ketika saya ingin menjawab pertanyaan simple ‘apa’ itu, bibir wanita ini perlahan menyapu kembali bibir saya. Lagi-lagi jawaban saya terhenti di kerongkongan.
Akhirnya saya mencengkram erat pergelangan tangannya, mendorongnya ke dinding kelab yang dingin, dan membiarkan intuisi lelaki saya bekerja sendiri.
***
Kali ini saya duduk berhadapan dengan wanita yang lain; yang telah saya gauli sepuluh tahun terakhir. Setiap pagi kami akan duduk berhadapan dan menikmati sarapan kami dalam diam. Kami terasa begitu jauh; terhalangi oleh meja makan dan rasa-rasa bosan tak tersampaikan. Saya tak keberatan sama sekali sebenarnya.
“Mas?”
Saya mendongak ketika ia memanggil saya dengan suara kecilnya. Tanpa suara memberinya isyarat untuk lanjut bicara.
Ia terlihat ragu; bibir tipisnya terlipat ke dalam. Saya terus memandanginya, memberikan tanda bahwa saya memperhatikan. Detik itu saya sadar bahwa wanita ini semakin kurus. Tulang pipinya menonjol dan rahangnya terlihat lebih kaku. Saya mencoba mengingat-ingat apakah saya pernah memberinya uang kurang, tetapi hasilnya tidak pernah. Dengan uang yang saya berikan, seharusnya ia menjadi lebih subur.
Saya tahu saya lelaki brengsek; mabuk sana-sini, tidur sana-sini. Tetapi saya tetap merasa bahwa wanita ini seharusnya tetap saya rawat dengan baik—paling tidak dengan uang yang saya miliki.
Wanita di depan saya tiba-tiba menggeleng, “tidak. Lupakan.”
Saya langsung menunduk, memandangi roti selai nanas saya seakan itu adalah hal yang paling menarik di dunia, “saya ingin bunuh diri.”
“Mas?”
Saya memberanikan diri untuk mendongak sekali lagi. Potret wajah kagetnya begitu dramatis, seakan-akan saya sedang mengumumkan tanggal pasti kiamat atau semacamnya. Detik itu saya baru menyadari bahwa saya telah menikahi wanita yang cantik sekali. Mata bulatnya menatap saya dalam-dalam, tidak percaya. Bibir mungilnya setengah terbuka, seakan berusaha mengeluarkan respon yang pantas. Ternyata wajah kagetnya lucu juga. Kapan terakhir kali saya melihat secuil ekspresi dari muka datarnya? Saya lupa.
Tiba-tiba keheningan asing itu dipecahkan oleh suara pintu kamar yang terbuka dari lantai dua. Kami sama-sama menoleh untuk menyambut anak tujuh tahun kami yang sudah terlihat tampan dengan seragam sekolahnya. Bocah kecil itu tersenyum menggemaskan sambil merajuk pada perawatnya ketika turun tangga dan menyebutkan makanan yang ia inginkan untuk sarapan pagi ini.
Wah, saya lupa anak saya sudah SD sekarang.
***
“Selamat atas deal suksesnya, Pak!”
Saya hanya tersenyum hambar kepada atasan saya dan menyambut jabat tangannya tanpa minat. Ia tersenyum puas dan mempersilahkan saya duduk, sambil menanyakan minuman apa yang saya inginkan.
Saya tersenyum sopan dan meminta air putih.
“Saya benar-benar bangga mempunyai Anda,” bos saya tertawa bangga, “dedikasi Anda kepada perusahaan ini benar-benar tidak diragukan lagi. Proyek ini nilainya besar sekali! Sepertinya saya harus memberi Anda hadiah yang pantas,” ia terhenti sebentar ketika sekretarisnya masuk dan memberikan air putih kepada kami berdua, “apa yang Anda inginkan?”
Saya menatap botol kaca transparan di depan saya. Entah mengapa saya merasa bisa mendengar suara air bergemuruh dari botol itu—apakah menolak untuk saya minum? Entahlah. Atau mungkin itu hanya suara otak saya yang lagi-lagi menolak masukan sana-sini. Saya mengambil gelas itu perlahan dan menyeruput isinya dalam diam. Kerongkongan saya tetap kering; air ini terasa tak memberikan efek apapun kepada tubuh saya.
Atau mungkin tubuh saya telah lupa bagaimana cara bereaksi? Entahlah.
Sambil tetap menggenggam gelas yang sudah separuh kosong itu, saya mendongak dan tersenyum kepada atasan saya, “saya ingin bunuh diri.”
Atasan saya yang sedang minum langsung tersedak menumpahkan seluruh isi gelasnya. Ia menatap saya dengan mata berair sambil terbatuk-batuk. Saya tidak mempunyai niat untuk menolongnya, sayangnya.
“Apa?”
Lagi-lagi pertanyaan itu. Bibir saya terkatup dan saya merasakan gelas yang saya cengkram sedikit retak. Saya tidak tahu lagi berapa beban yang dibawa oleh hati saya; begitu inginnya saya menumpahkan semua perasaan, pikiran, kelelahan, jawaban-jawaban yang semakin lama mengendap semakin kacau. Saya tidak tahu darimana saya harus memulai dan kemana perkataan saya akan berujung. Mengapa mengungkapkan alasan begitu menekan? Saya sendiri bingung.
Jadi saya hanya menarik nafas panjang dan tersenyum, “bercanda. Saya hanya ingin cuti sehari. Bisa?”
***
Saya hidup, tetapi saya tak sanggup bernafas.
Jam yang terus berdetak, klakson yang memekakkan telinga, sosok apatis yang lalu lalang.
Pasti tak pastinya yang akan datang.
Kehidupan sempurna yang hanya terlihat dari depan.
Perasaan gelap campur aduk dari dalam.
Harta, tahta, wanita.
Bukankah itu terlihat sempurna?
Apakah saya bahagia?
Saya lupa apa itu bahagia.
Free Mustache Blue - Pointer Cursors at www.totallyfreecursors.com