Sunday, 25 August 2013

High School Diaries #2: Terjebak Nostalgia

Mimpi buruk itu dimulai sejak 2 tahun—kurang lebih—yang lalu. Saat aku masih unyu nan lucu, menjadi murid kelas 9. Sedang galau menanti hasil ujian. Banyak berdoa agar masuk SMA impian.
Di sore hari damai nan indah, mendadak telpon rumahku berbunyi nyaring. Aku mengangkatnya tanpa perasaan curiga sedikitpun. Sampai semenit kemudian aku tahu bahwa sang penelpon adalah wali kelasku.
“El, ya?”
“Eng… I, iya, Bu.” Jantungku mulai menyenandungkan lagu horror.
“Hasil ujianmu sudah keluar,” wali kelasku berhenti sebentar—now playing, Gloomy Sunday—kemudia beliau melanjutkan,” NEM-mu 36,85.”
Aku tercekat sebentar. Otakku menghitung cepat. 36, 85. Mata pelajaran yang diujikan ada empat. Artinya rata-rataku di atas 9.
Well, it’s sounds good. Aku menghela nafas super lega. Paling tidak usahaku sama sekali tidak sia-sia. Ada secuil kebanggaan pada diriku sendiri. Aku, El, mendapat rata-rata 9 lebih tanpa perlu bantuan joki—
“Padahal saya mengharap lebih darimu lho, El.”
Hatiku langsung mencelos. ‘Mengharap lebih’? Maksudnya apa?
“Nilaimu bahkan tidak masuk 10 besar kelas.”
Di detik ini, aku berasa mati.
***
Akhirnya aku tahu kalau NEM-ku tidak berarti apa-apa. Termasuk rendah, malahan. Wow. Bayangkan betapa pintarnya anak-anak Indonesia!
Aku masih ingat jelas waktu itu suaraku menjadi begitu sengau waktu menelpon Acha.
“Cuma 36, Cha.”
“Aku lebih rendah kok, Calm down, El.”
“Nggak bakal bisa masuk di sekolah ituuu!”
“Aku malah nggak mungkin masuk SMA negeri. Calm down, El.”
“Terkutuk deh semua joki yang ada di dunia!!”
“El, calm down!”
“Kenapa sih di Indonesia mau jujur aja salah?!”
Waktu itu aku benar-benar menyesali keputusanku yang mencoba hidup tanpa joki saat ujian. Aku jadi benci sekolahku. Aku benci teman-temanku yang dapat nilai bagus karena ‘jalan belakang’. Aku bahkan benci pada Acha yang seenaknya bilang ‘calm down’, ‘calm down’. Calm down gundulmu!
Dia mah hidupnya enteng. Kalaupun gagal masuk negeri, dia bisa masuk sekolah swasta terbaik, masa depan cerah, punya suami tampan, anak-anak jenius, dan hidup bahagia selamanya. Maksudku… apa sih yang kurang dari Acha? Cantik, baik, eksis, dan cukup tajir untuk punya mobil sendiri.
And… what’s about me? Aku tidak secantik Acha. Aku bahkan sama sekali bukan orang baik—aku pernah nyaris membetot adik kandungku sendiri dengan gagang pel sampai dia nyaris mati. Lalu kami bertarung sengit hanya untuk memperebutkan giliran siapa yang memakai modem hari ini. Aku sama sekali tidak eksis. Coba lihat contact ponselku. Hanya 18 nomer.  Separuh kelas. Dan aku bahkan tidak tahu nomor-nomor  itu masih aktif atau tidak. Dan tajir? Serius deh. Aku bisa mendapatkan ponsel berkamera karena ayahku mengorbankan separuh THR-nya tahun lalu demi berhenti melihatku merengek dan membanting ponsel lamaku.
Maaf deh buat kalian yang berharap tokoh utama di kisah ini adalah gadis ideal pujaan setiap pria ala novel-novel teenlit. Hidup tidak sesimpel itu, gan.
Dan akhir dari semua ini bisa kutebak. Mimpi masuk SMA favorit tetap menjadi mimpi belaka.
***
“Ayo dong, El.”
“Ogah, Cha.”
“Temenin aku doang. Ya, El? Masa tega kamu ninggalin aku sendirian?”
“Nggak mau, Cha! Why don’t you just stay at home like me sih? Ngapain kudu ikut perpisahan kelas?”
Ya. Perpisahan kelas. Hal yang paling tidak kunantikan setelah rentetan peristiwa kegagalanku akhir-akhir ini. Akan diadakan nanti sore. Acha sudah heboh sendiri memilih pakaian layak untuk ke semi-party itu. Sedangkan aku seharian ini heboh sendiri memilih mimik wajah yang harus aku tampilkan saat orang-orang bertanya NEM-ku. Karena tidak berhasil memilih mimik wajah yang bagus—atau setidaknya yang terlihat ‘normal’—akhirnya aku memutuskan untuk melewatkan perpisahan kelasku.
“Ini kan terakhir, El. Salim terakhir sama wali kelas. Say hi terakhir sama temen-temen sekelas. Is that wrong?”
“Aku cuma nggak mau.” Sedih campur marah itu datang lagi. Aku tidak akan tahan mendengar nama-nama sepuluh besar yang akan dibacakan nanti. Aku tahu—ya, memang terdengar sombong—bukan mereka yang seharusnya duduk santai di peringkat atas dan memasang tampang sok hebat seperti itu.
That should be me.
Hasil dari pembicaraan ini adalah, aku kalah. Acha selalu berhasil membujukku melakukan hal bodoh. Dulu aku menurut saja waktu ia menyuruhku mendekati kakak kelas tampan berpacar. Ujung-ujungnya aku didamprat di depan kantin. Fine. Dan kali ini kubiarkan ia menang lagi. Aku selalu menang debat soal pentingnya pengadaan hukuman bagi siswa yang melanggar peraturan dalam rangka memberbaiki moral penerus bangsa, tetapi kok bisa sih aku kalah debat soal perpisahan kelas?
Dan di sinilah kami berakhir. Dua pecundang melawan dunia. Oke, maksudku satu. Karena Acha sedang mengobrol seru dengan beberapa teman sedangkan aku asyik menikmati coklat yang dijadikan cemilan. Sengaja tidak bergerombol dengan orang lain. Untuk sementara ini sendirian rasanya adalah pilihan terbaik.
“El! Ngapain mojok sendirian? Sini!” Acha menarik tanganku untuk bergabung dengan geng rumpinya. Aku hanya menghela nafas pasrah, mengalah.
Acha dan geng rumpi itu tetap mengobrol asyik mengenai banyak hal yang tentang kenangan SMP. Aku jadi ikut berpikir.
Kenangan SMP apa yang paling berkesan? Oh, pacar pertama dong.
Yak. Jangan tertawa. Tetapi tampang begini, aku tetap pernah punya pacar. Hmm… sepertinya kosakata ‘pernah’ itu dihapus saja. Kok seakan aku tidak bisa punya pacar lagi sih…
Soal pacarku itu—mantan, sebenarnya—aku rasa tidak ada yang istimewa dari kami. Kami hanya ‘mencoba’ punya satu komitmen karena aku juga pacar pertamanya. Tapi toh putus begitu saja tanpa alasan jelas. Aku ingat waktu perpisahan kelas itu kami tak saling bertegur sapa. Rasanya aneh mendiamkan seseorang yang hampir delapan bulan menjadi orang pertama yang kamu tunggu pesannya di ponselmu.
Itulah warna-warni mantan.
Kami, atau lebih tepatnya mereka mungkin, masih mengobrol asyik sampai akhirnya keluarlah pertanyaan klimaks.
“El, kamu mau lanjut SMA mana?” tanya salah seorang temanku.
“Ah… eh… anu…” bibirku langsung kelu. Aku takut mengatakan tujuanku kalau toh akhirnya aku tidak diterima di sekolah itu jadi, “belum kepikiran. Lihat aja nanti, hehehe.”
“Oh,” temanku mengangguk, “kalau kamu, Cha?”
“NEM-ku rendah sih, jadi nggak coba daftar negeri. Tapi,” Acha mengulum senyum, “aku udah diterima sekolah kesehatan.”
Aku mendelik kaget. Sekolah kesehatan? Dia tidak pernah cerita!
“Serius, Cha? Congrats, ya! Enak dong bisa langsung kerja di RS-nya.” Teman-temanku langsung menjabat tangan Acha.
“Yaa… kalau aku bisa nothing impossible. Doain aja, ya.” Acha terlihat sumringah. Yes I know. She should be proud of herself. But… it is not fair!
“Enak ya kamu. Udah dapet sekolah. Nggak perlu cari lagi.”
“Aku doain kalian juga masuk sekolah bagus deh. Ya kan, El?” Acha menoleh kepadaku.
“Terserah.” Aku langsung pergi meninggalkan Acha dan geng rumpinya, bahkan meninggalkan lokasi perpisahan—oh bukan—that sucks party. Di saat-saat seperti ini, rumahku surgaku.
Aku benar-benar benci semua orang. Aku benci Acha. Aku benci mereka yang santai dengan sekolah mereka kelask. Aku benci diriku sendiri yang tidak bisa mendapatkan apa yang mereka dapat. Aku benci aku dilahirkan menjadi El, bukan menjadi Taylor Swift.
Oke, yang Taylor Swift agak berlebihan.
Tetapi aku benci keadaan yang seperti ini! Seumur-umur aku tidak pernah keluar dari sepuluh besar kelas. Sejak TK aku tidak pernah kesulitan dengan nilai. Dan sampai kemarin tidak pernah ada guru yang komplain soal payahnya aku di suatu pelajaran—kecuali olahraga dan seni rupa, dua ini bisa ditolerir.
Dan sekarang apa yang terjadi? Aku terdepak dari sepuluh besar, aku kesulitan mencari sekolah karena nilaiku, dan guru-guru kecewa dengan NEM-ku. Di lain sisi,  malah ada yang sedang bersenang-senang karena sudah diterima di sekolah bagus dan masa depannya hampir terjamin.
Lalu apa yang bisa kubanggakan lagi kalau predikat ‘pintar’pun sudah dicopot dariku? Aku tidak punya hal lain. Kenapa mereka tega sih?
Kalau waktu bisa diputar, aku akan membeli kunci jawaban ujian langsung dari Pak Menteri Pendidikan.
***
“Lho, El? Kok cepet acaranya?” tanya ibuku ketika aku sampai rumah.
“Bete.” Ujarku singkat sambil masuk kamar dan menguncinya.
Ponselku bergetar lama. Acha menelpon. Ah, bodo. Aku langsung mematikan ponselku dan berusaha tidur. Ingin sekali tidur seperti beruang saat hibernasi. It will be fun.
“El?” ibu mengetuk kamarku, “kenapa sih dateng-dateng marah?”
“Nggak pa-pa. El udah makan. Nggak usah disisain kalo adek mau makan banyak.”
Agak lama hening sampai akhirnya ibuku mengetuk lagi, “El?”
“Apa?”
“Acha telepon pake ponselnya ayah. Katanya ponselmu mati. Cepetan nih angkat.”
“Bilang aja El tidur.”
“El!”
“Iyaaaa.” Kalau nada suara ibuku sudah naik satu tingkat seperti itu, judulnya bukan ‘perintah’ lagi. Tetapi ancaman.
Aku membuka pintu, mengambil ponsel, dan menerima telepon Acha.
“Halo? El?” suara renyah Acha mulai terdengar.
“Ya.”
“Kok pulang tiba-tiba sih? Kamu marah ya? Kenapa?”
Nothing.”
“Nggak usah sok jaim gitu deh. Salahku apa sih? Nggak usah sok marahan, deh. Nggak asyik.”
I’m not doing anything that called ‘fun’, Marsha.” Tegasku, “dan nggak usah bilang ‘sok’ di depanku. Ngaca dulu gih.”
“Apaan sih, El? Kamu bener-bener bikin bingung tau!”
“Kenapa kamu nggak ngasih tau aku duluan kalau kamu sekolah di sana sih?” tembakku langsung.”
“Ya ampun. Cuma masalah itu.” Ia menghela nafas, seperti bosan, “Sori deh, aku juga baru tau tadi.”
‘Cuma’, katanya? “Kamu juga nggak cerita kalau ikut tesnya!”
“Masa cuma soal itu kamu marah sih?”
“Jangan bilang ‘Cuma’! Aku terus-terusan bingung soal sekolah dan kamu udah melenggang bebas sambil pamer soal sekolahmu itu?”
“Aku nggak pamer!”
“Kamu pamer!”
“Kamu egois!” suaranya naik satu oktaf, “kamu selalu sedih-sedihan soal NEM-mu. Kamu pernah mikirin kalau aku lebih down karena NEM-ku jauh lebih rendah daripada kamu? Kamu aja bingung, apalagi aku!”
Aku terdiam.
“Aku udah sadar sejak awal kalau aku nggak bakal masuk SMA negeri manapun. Jadi aku ikut tes. Aku pengen cerita ke kamu. Tapi apa? Semua obrolan kita akhir-akhir ini kamu monopoli. Terus gini ini tetep salah aku? Kenapa nggak kamu aja yang ngaca?!”
“Oke. Aku ngerti. Maaf kalau selama ini aku egois. This’s the limit. I’m out.” Langsung kututup telponnya. Cukup begitu.
Free Mustache Blue - Pointer Cursors at www.totallyfreecursors.com