Wednesday, 16 January 2013

Kata-Kata Pamungkas


Hari #3, 16 Januari 2013
Dear Ibuk,
Hari ini (seperti biasa) aku pulang sore. Aku melihat ibuk menonton kotak kaca yang monoton, seperti kebiasaannya. Hari ini berbeda, ibuk lebih sibuk memegangi pipinya daripada menonton acaranya. Ah ya, ibuk sedang sakit gigi.
Buk, aku mau jujur. Ibuk memandangku sebagai anak acuh tak acuh yang hanya numpang tidur dan makan di rumah kan? Sepertinya bisa kuhitung dengan jari berapa hari selama aku hidup ibuk tidak memarahiku. Aku rasa aku memang bukan anak yang baik. Aku bukan anak yang mau repot. Yang jelas bukan tipe gadis manis penurut favorit setiap ibu. Aku suka melawan setiap dimarahi. Aku suka berdecak setiap kali disuruh. Jahat? Memang.
Kalau ibuk mau mengutukku menjadi batu sekarang, aku rasa Allah akan mengabulkan.
Aku hapal sekali kata-kata ibuk setiap kali putus asa dalam menasehatiku:
“Kamu nggak kasihan sama ibuk?”
Pertanyaan ini rancu sekali. Agak ambigu. Membuat otakku selalu berputar kencang. Daripada ibuk misuh-misuh di depanku—oke, ibuk memang belum pernah misuh-misuh di depanku. Tetapi setelah ini ya who knows kan?—lima kata itu nyatanya lebih efektif untuk membuatku menangis. Sejahat itukah aku sampai ibuku sendiri meminta belas kasihan kepadaku? Seacuh itukah aku sampai aku makin kekurangan belas kasihan untuk dibagikan kepada ibuku sendiri?
Setelah ibuk membaca ini, aku harap ibuk tidak menggunakan kata-kata pamungkas itu untuk menasehatiku dengan semena-mena. Oke, fokus.
Sudah nyaris 17 tahun kita hidup seatap. Mungkin kita belum sepenuhnya saling mengerti ya, buk. Meskipun di dalam tubuhku ini juga ada darah ibuk—entahlah, ini hanya makna konotasi mungkin. Toh golongan darah kita berbeda—ternyata tidak membuat kita bisa saling membaca pikiran masing-masing. Hmm... mungkin ada beberapa kebiasaan ibuk yang aku hapal. Seperti bermuka masam saat tanggal tua, misalnya. Ibuk juga banyak hapal kebiasaanku kan? Tidak semua. Aku jelas memiliki banyak rahasia yang semestinya ibuk tak tahu. Surat inipun, ibuk takkan tahu. Tapi biarlah...
Ibuk ingat, saat aku masih SD? Ibuk marah besar padaku. Aku mengurung diri di kamar dan menulis di kertas HVS yang inti tulisannya sama semua. Ibuk nggak mau senyum sama aku lagi.
Lalu keesokan harinya ibuk membangunkanku, menyiapkan sekolahku, dan membantuku menyebrang jalan, dan saat jalanan begitu ramai ibuk berkata;
“Gimana mau senyum? Kamu pernah bikin ibuk senyum?”
Untuk ukuran anak SD, itu jleb sekali.
Dulu aku pikir aku punya ibu terjahat di dunia. Dulu aku pikir aku ini anak angkat—wajar aku berpikir seperti itu. Ibuk yang berwajah manis putih bersih sama sekali tidak mirip denganku yang hitam buluk jelaga—dan ibuk adalah sosok ibu tiri seperti yang di Cinderella. Dulu waktu kecil di ingatanku yang terekam hanya ibuk yang sedang marah. Entahlah. Mungkin otakku memang lebih fokus mengingat hal-hal traumatis.
Tetapi lagi-lagi kata-kata itu terngiang di otakku;
“Kamu nggak kasihan sama ibuk?”
Mungkin ini awal aku beranjak dewasa. Aku mulai berpikir bahwa semua pemikiranku tentang ibuk itu egois. Mungkin selama ini aku yang salah, pembangkang, bukan anak sholehah kriteria Al-Qur’an. Mungkin kalau dulu ibuk diizinkan memilih oleh Allah, ibuk akan memilih melahirkan anak lain, bukannya gadis gagal sepertiku. Ya, berbagai kemungkinan itu menyeruak dalam otakku. Memaksaku untuk berkaca. Memaksaku untuk mengenal ibuk lebih dalam lagi, dalam lagi, sedalam-dalamnya aku bisa.
Semoga Allah memberiku waktu lebih lama untuk mengenal Ibuk sedalam-dalamnya, tanpa ada satu lekukpun yang tersisa.
Oh iya. 22 Desember kemarin aku tidak mengucapkan selamat hari ibu ya? Bukannya aku tidak mau. Aku hanya tidak bisa mengungkapkanya. Lebih mudah mendeskripsikan ‘sayang’ ke lawan jenis daripada ke ibuk. Tingkatan ‘cinta’ kurang tinggi untuk menggambarkanya. Maaf ya.
Satu lagi. Ibuk jangan lupa gosok gigi. Sakit gigi itu penyakit yang—bagiku—sama sekali tidak elit. Aneh sekali mendengar ibuk berdesis setiap bicara seperti itu. Jangan sok jago minum kopi dan makanan pedas kalau lambung ibuk tidak kuat. Jangan suka kredit daster kalau ibuk bisa membayar tunai. Jangan marahi ayah kalau ayah membelikan aku dan alif jajan yang banyak. Jangan khawatirkan aku kalau pulangku telat. Atau kalau khawatir, lebih baik ibuk mengijinkan aku membawa handphone ke sekolah mulai besok. Jangan khawatir lagi akan percintaan sial anakmu ini. Aku sedang berusaha pindah kok.
Salam cinta,
Anak gadis gagalmu
Free Mustache Blue - Pointer Cursors at www.totallyfreecursors.com