Hari #11, 24 Januari
2013
Dear pengetuk
pintu kamarku,
Aku... pertama
kalinya mengirimkan surat kepada ‘sesuatu’ yang bahkan tak bisa kulihat jadi...
haruskah aku ucapkan salam?
Oke, aku
benar-benar tidak tahu apa yang harus kukatakan. Jadi... begini. Aku tidak tahu
apa yang menarik dari rumahku, aku tidak tahu apa menariknya kamarku, aku juga
tidak tahu apa menariknya aku
untukmu. Aku benar-benar ingin tahu sebenarnya apa yang kamu inginkan? Kenapa
harus kamarku? Emm... bukannya bermaksud tidak sopan tapi... kamu tahu semua
orang butuh istirahat dan ketukanmu pada kamarku itu benar-benar membuat
tidurku kurang nyaman.
Mungkinkah kamu
butuh teman? Kalau butuh aku akan menemanimu... di mimpi. Ya, di mimpi saja
kita berkenalan. Masuklah ke syarafku atau apalah, lalu kita berkenalan. Dengan
cara baik-baik tentunya. Akan lebih baik kalau aku sadar wujudmu itu tidak
nyata, ketimbang aku ‘melihat’mu. Aku tidak setegar itu. Imanku tidak setegar
itu.
Dan... jujur
ya. Aku percaya Tuhan, aku punya agama, tapi bukan berarti aku mempercayai
‘wujudmu’ begitu saja. Asal kau tahu saja aku selalu mencari alasan logis apa
yang menyebabkan ketukan di kamarku—dan aku belum menemukannya sampai sekarang!
Tapi itu bukan berarti aku langsung men-judge dirimu dengan
apapun-yang-mereka-katakan makhluk halus. Aku akan mencari alasannya.
*dalam hati berdoa kalau itu bukan makhluk
halus*
Tetapi
apapun—atau siapapun, apalah
terserah—kamu, aku akan menerimanya selama tidak membahayakanku juga. Aku tahu
kamu ‘makhluk’ baik. Sampai sekarang kamu belum menindihku sampai mati, jadi
kamu pasti baik. Nah, karena kamu baik, aku rasa kita akan berteman dengan
menyenangkan. Dan pertemanan itu akan terjalin kalau kita saling menyamankan
diri.
Kenapa
kata-kataku makin berbelit-belit sih?
Intinya...
salam kenal. Aku tidak akan mengganggumu, jadi aku mohon dengan amat sangat
kamu juga tidak melakukan apapun yang bisa disebut mengganggu. Mungkin begini;
kalau kamu ingin mengetuk pintu kamarku, bisakah menunggu sampai aku tertidur
sangat pulas sehingga tidak akan mendengarnya?
Aku juga tidak
bisa menerka-nerka lagi sih apa yang menyebabkanmu suka mengetuk pintu kamar.
Tapi kamu tahu? Saat kamu mengentuk pintu kamar, imajinasiku mendadak liar;
apakah setelah ini gulingku akan berubah menjadi pocong? Apakah setelah ini
selimutku akan berubah menjadi rambut kuntilanak?
Kamu tidak mau
kan aku suudzon kepadamu? Well, siapa tahu sebenarnya kamu vampir sekelas
Cullen, atau penguasa maut sekelas John Hayden, atau pokoknya makhluk lain yang
tampan-tampan?
Amin. Amin.
Amin.
Jadi...
tunjukkan saja. Tapi di mimpi. Di mimpi, please. Aku ini super penakut.
Menginjak gerombolan semut yang lewat saja aku takut. Jadi aku harap kamu mau
menemuiku di mimpi. Aku bisa menerima wujud apapun kok di mimpi. Mimpi saja ya?
Kumohon.
Sekian surat protes
cinta dariku. Aku harap kamu mau membaca—meskipun aku tidak tahu kamu punya
koneksi internet atau tidak. Terimakasih. Sekali lagi, terimakasih.
Salam
cinta,
Emm...
haruskah aku sebut namaku?