Hari #1, 14 Januari 2013
Dear 02.02,
Untuk kesekian
kalinya, aku menulis untukmu ya. Silakan tertawa. Silakan tertawa ketika kamu
tahu bahwa kamu punya penggemar yang begitu setia.
Silakan tertawa
di atas gemetarnya jemariku mengetik ini.
Aku ingat
pertama kali menyukaimu. Tahun lalu. Aku menemukan buku kecilmu dan membaca
untai kata-katamu untuk seorang wanita. Entahlah setelah itu bagaimana,
tiba-tiba saja aku berpikir kalau kau mengagumkan.
Lalu kita mulai
dekat. Tertawa-tawa bersama di lantai dua sekolah. Atau mungkin hanya aku saja
yang tertawa karena lelucon basimu. Mungkin. Tapi... saat bersamamu, semua hal
yang aku lihat terasa lucu. Bahkan anak paskib yang disiksa seniorpun menjadi
lucu. Bahkan guru kimia super-duper menyebalkan yang berjalan di lorong
seberangpun terasa lucu. Bahkan bentu awan yang bergelombangpun terasa lucu. Bahkan
ring basket yang tetap bundar seperti semua ring basket di duniapun terasa
lucu.
Dan yang paling
lucu adalah senyummu.
Aku menyukaimu.
Kutulis semua rasaku dimanapun aku mau.
Tetapi... entah
sejak kapan kamu berubah. Atau mungkin aku yang berubah? Entahlah. Semua terasa
tidak manis lagi. Kamu menjalin kasih dengan wanita lain, yang tidak pernah aku
duga. Itu sumber duka lho. Tak tahukah kamu aku menangis di depan anak-anak
sekelas saat mengetahui itu? Sangat memalukan. Semua tertawa. Semua berkata
bahwa kau dan aku memang tak pernah pantas.
Tapi, sialnya,
hatiku kok tetap berharap.
Iya aku memang
bodoh. Tertawalah sepuasnya.
Yah... itu
semua sudah berlalu. Seseorang mengatakan padaku bahwa aku harus membiarkanmu ‘terbang’
kemanapun kau mau. Seseorang melepaskan kaitan sayap kita, lalu kamu pergi, dan
aku juga sedang belajar terbang lagi seperti dulu.
Menjadi aku
yang dulu.
Tapi yang ingin
aku katakan adalah, terimakasih. Terimakasih untuk beberapa bulan penuh canda
ini. Terimakasih telah pernah menerimaku. Terimakasih sekali.
Dan sekarang
aku terbang sendiri. Jaga dirimu baik-baik J
Penggemarmu.