Lakukan semua dengan niatan ikhlas. Jangan biarkan mulutmu berucap keluhan barang sekali saja. Dengan begitu Tuhan juga akan mengulurkan tangan-Nya untuk kesulitanmu. Sesungguhnya Tuhan selalu disamping orang ikhlas :)
Monday, 3 December 2012
Good Night :)
Secangkir Cappucino; Seakan Pergantian Tahun Tak Berarti
Inspired from mainstream song; Chakra Khan
with Harus Terpisah
Aku melihat
dengan penuh perhatian. Well, memang tersiar kabar sih kalau cafe ini sangat full of drama. Tapi dihari pertamaku
bekerja ini jelas-jelas membuatku agak... kagok.
Pria
berperawakan ceking namun terlihat cerdas itu hanya terdiam, berusaha
mendinginkan atmosfer kafe yang kini mendadak panas. Rahangnya memang mengeras,
tapi gayanya tetap santai tanpa perubahan sistem tubuh apapun; nafas tetap
teratur, mata tetap teduh, telapak tangan tetap santai tanpa kepalan, seakan
aku bisa mendengar setiap sel dalam tubuhnya diperintah oleh syaraf: Keep calm and stay cool. Just breath...
breath...
“Jadi, lelaki
ini yang teman satu kelompokmu?” tanya santai—entah memang santai atau berusaha
santai , “seems like you don’t do
anything that can called a task, do you?”
Wanita yang ia
ajak berbicara hanya diam. Sejujurnya wanita itu cukup cantik—oke, sangat
malah. Namun mana sudi aku mengakui ada wanita yang lebih cantik daripadaku?—dengan
wajah oval, mata kecoklatan yang bulat, hidung yang cukup mancung untuk gen
kaukasia, bibir merah mudanya yang berlipgloss cukup tebal dan... oh tidak! Jelas
saja tidak akan kulupakan detil baju yang begitu ‘berbelah’ seakan isi di
dalamnya bisa tumpah kapan saja.
Khas wanita ibu
kota, eh?
Dengan santainya
lelaki itu duduk diantara keduanya; si wanita dan...yaah... selingkuhannya. Ia lalu
menatap keduanya seakan mereka adalah teman lama, “ada cerita baru? Boleh aku tahu
juga?
Pasangan-kepergok-selingkuh
itu tetap bergeming. Aku begitu salut dengan ketenangan sang lelaki yang jelas
malah berhasil membuat pasangan itu kagok.
“Jadi, sejak
kapan kalian pacaran?” tanyanya antusias. Lalu ia menoleh kepada selingkuhan
pacarnya dan bertanya, “kamu, kok mau sih jadi yang ke dua? Santet, pelet, atau—“
Kata-kata si
lelaki terputus saat mendadak wanitanya menyiram jus jeruk ke kemeja biru
keputihannya. Wanita itu mendongak, marah.
“Hey, calm. Aku
yang diselingkuhin kenapa kamu yang seenaknya nyiram gini?” si lelaki tetap
menjaga nada bicaranya.
“Jangan
berbicara seolah aku cewek murah—“
“Kamu nggak
murah.” Putus lelaki itu, “Cuma bangsat.”
Dan satu
tamparan telak mendarat di pipi sang lelaki. Kusadari tanganku mengepal, entah
sejak kapan. Maksudku... siapa yang seli ngkuh, siapa yang ditampar? What
the...
“Bloody hell.” Bahkan lelaki itupun
tetap kalem saat mengatakan ini sembari mengelus pipi kurusnya. Namun ia dengan
berani menatap langsung ke mata gadisnya.
“Kamu bangsat,
tahu kenapa?” aku bisa merasakan lelaki nyaris tak sanggup lagi menjaga
suaranya tetap kalem, “kalau kamu merasa sudah tidak menyukaiku lagi, katakan
langsung di depanku. Bukannya bermain belakang dan menunggu aku tahu dengan
sendirinya, lalu mempermalukanku dengan membiarkan orang lain tahu betapa
buruknya aku sampai pacar 5 tahunku sendiri selingkuh.”
Wanita itu
terdiam.
“Lima tahun. Sebulan
lagi tunangan. Cukup menyiksa batin juga.” Lanjutnya, “lima tahun kita bersama,
aku bahkan belum pernah menyentuh bibirmu barang sejengkalpun. Nah, dia? Dengan
enaknya melahapmu di tengah kerumunan seperti ini. Sekarang kalau kau masih
bisa, coba buktikan bahwa kau bukan wanita bangsat.”
“Bagus! Salahkan
saja aku terus! Kamu pikir sudah cukup suci sampai mengatakan seperti itu? Pacaran
denganmu itu membosankan! Kamu perfeksionis! Garing! Pasangan lain sedang
menonton Skyfall dan kamu mengajakku
menonton pameran budaya? Pasangan lai n sudah naik kasur berkali-kali dan yang
berani kamu lakukan hanya menggenggam tanganku—“
“Tuh kan,
bangsat.” Lelaki itu makin kalem. Seakan senang telah tahu kedok asli
pasangannya, “mana ada wanita baik-baik yang berharap naik kasur dengan lelaki—“
Wanita itu
ingin menampar si lelaki, namun tangan lelaki itu kini lebih sigap untuk
mencegahnya.
“Cukup. Aku muak.”
Lelaki itu menjatuhkan tangan si wanita kembali, “tanpa berikrarpun kau sudah
tahu kan bagaimana kita mengakhiri 5 tahun itu detik ini?”
Lelaki itu
berdiri dan kembali ke tempat duduknya. Tetap terlihat kalem saat pelan-pelan
menyeruput capuccinonya kemudian beralih mengutak-atik smartphone keluaran anyarnya.
Aku menghela
nafas. They break up. Dan itu
benar-benar akhir yang bagus mengingat betapa menyebalkannya wanita itu. Aku melanjutkan
membersihkan konter saat tanpa sengaja kuamati detil lelaki itu.
Tangan kanannya
gemetar saat mengetik. Tangan kirinya seakan sedang memijat pelipis, namun—well,penglihatanku
cukup bagus—aku melihat setetes liquid seperti kristal bening mengalir halus ke
pipinya.
Ternyata lelaki
itu tak setegar kelihatannya.
Subscribe to:
Comments (Atom)