Dia melirik jam
dinding di tangannya. Lima menit lagi, pikirnya, lima menit lagi kulepas rinduku padamu,
Tuan Putri.
Sudah sepuluh
tahun ia seperti itu. Dua kali sehari; pagi pukul tujuh saat Tuan Putri
berangkat sekolah, pukul tiga sore saat Tuan Putri pulang sekolah. Juga di hari
senin, rabu, dan jumat, pukul tujuh malam saat Tuan Putri kursus bahasa
Inggris. Lelaki empat puluh tahun itu selalu memandangi Tuan Putri-nya dari
jauh. Jauh, tanpa tersentuh. Ia cukup sadar diri. Lelaki kepala empat normal
macam apa yang tidak menikah selama sepuluh tahun hanya karena jatuh cinta pada
seorang gadis yang jarak umurnya 25 tahun dengannya?
Tetapi satu hal
yang lelaki itu pahami; ia jatuh cinta setengah mati.
Gadis itu
begitu memiliki pikat sihir yang kuat. Dengan rambut bergelombang sebahunya
yang indah, badan mungil nyaris rata namun menggugah adrenalin setiap pria,
wajah imut yang selalu menyunggingkan senyum berlesung pipit, bulu mata lentik
yang menimbulkan rasa penasaran itu...
Lelaki ini
jatuh cinta.
Umur? Oh, tidak
masalah. Cinta itu buta kok. Tidak ada masalah. Karena selama ini ia hanya
bercumbu maya. Tidak, Tuan Putri bahkan tidak mengenalinya. Ia tidak pernah
menampakkan bayangannya.
Ia ingin
melihat Tuan Putri tumbuh dewasa... menunggu sinar kecantikan yang akan
ditampilkannya. Menunggu senyum kekanakan itu menjadi senyum penuh wibawa.
Dia jatuh cinta
setengah mati padanya, Tuan Putri itu. Dan sepuluh tahun bukan waktu yang
sebentar untuk bertahan dengan cinta miris; cinta bertepuk sebelah tangan.
Lagi-lagi
lelaki itu melirik jam dindingnya. Ah, empat menit lagi. Lelaki itu dengan segera
menaiki tangga menuju atap rumahnya. Dengan tidak sabar ia menghitung setiap
detik demi detik yang berlalu. Tanpa letih sama sekali.
Toh ini telah
ia lakukan selama sepuluh tahun.
Terkadang ia
bertanya pada dirinya. Sia-siakah sepuluh tahunnya ini? Sia-siakah energi yang
ia habiskan untuk menaiki tangga setiap hari hanya untuk melihatnya lewat—itupun
tidak sampai sepuluh detik?
Tapi cinta
telah membuatnya kebal dengan semua jalan pikiran itu. Cinta selalu benar. Hati
tak pernah salah.
Dan suatu hari
nanti, lelaki itu telah berjanji dalam hati akan memperkenalkan dirinya kepada
Tuan Putri.
Omong-omong,
tiga menit lagi.
Tanpa Tuan
Putri sadari, sebenarnya lelaki itu telah melakukan berbagai cara untuk
mendekatinya—atau paling tidak membuat Tuan Putri tetap sendiri sampai saatnya
lelaki itu memperkenalkan dirinya.
Pernah suatu
ketika ada seorang bocah ingusan—bukan bocah ingusan juga sih. Umurnya lebih
tua setahun dari Tuan Putri—yang mencoba mendekati Tuan Putri. Dalam catatan misinya,
lelaki itu memanggil si bocah ingusan dengan sebutan ‘Bunga’—mengapa Bunga? Mungkin
saking lumpuhnya logika lelaki itu sampai tidak bisa lagi membedakan antara
pria dan wanita.
Awalnya ia
biarkan Bunga mendekati Tuan Putri. Dua kali Bunga ke rumah Tuan Putri. Namun tidak
ada kata tiga kali.
Sebulan lalu,
di malam Minggu, Bunga melewati rumah si lelaki untuk pergi ke rumah Tuan
Putri. Ya, rumah si lelaki merupakan satu-satunya jalan menuju rumah Tuan
Putri. Begitupun sebaliknya.
Hmm... maaf
memutus cerita. Tapi tanpa kita sadari bersama, dua menit lagi Tuan Putri akan
lewat.
Nah, sebulan
lalu lelaki itu menebarkan paku di jalan depan rumahnya. Menunggu Bunga datang.
Otomatis ban sepeda motor matic Bunga pun bocor seketika.
Lelaki itu
tertawa dalam hati begitu tahu betapa bodohnya Bunga.
Dengan akting
yang patut mendapatkan piala Oscar, lelaki itu menawarkan bantuan pada Bunga.
Bunga pun memperayainya. Dituntunlah Bunga ke dalam garasi rumah lelaki itu.
Dan dibunuh. Dengan
pisau yang biasa ia gunakan untuk mencincang daging.
Bunga yang
malang pun tersungkur dengan pisau yang menancap di perutnya. Lalu mati.
Dan hilanglah
satu kutu yang akan mengganggu rencana lelaki itu.
Oke, ini dia.
Tuan Putri akan lewat. Ini saatnya.
Lima.
Empat.
Tiga.
Dua.
Satu.
Lewatlah Tuan
Putri yang baru pulang dari sekolahnya. Dengan baju olahraga yang basah dan
wajah yang bercucuran keringat.
Manis sekali.
Namun...
tunggu! Ada yang berbeda. Bunga tidak pulang sendirian. Ia pulang dengan...
bocah ingusan lain. Tangan mungil Tuan Putri melingkar di pinggang bocah
ingusan itu. Lalu mereka tertawa bersama dengan nada mesra.
Nada mesra yang
memuakkan.
Oke, sang
lelaki kini harus menyingkirkan kutu itu. Ia membuka catatan kecilnya dan
menulis:
Misi kedua: bunuh Mawar.