Wednesday, 24 October 2012

Obsesi


Dia melirik jam dinding di tangannya. Lima menit lagi, pikirnya, lima menit lagi kulepas rinduku padamu, Tuan Putri.
Sudah sepuluh tahun ia seperti itu. Dua kali sehari; pagi pukul tujuh saat Tuan Putri berangkat sekolah, pukul tiga sore saat Tuan Putri pulang sekolah. Juga di hari senin, rabu, dan jumat, pukul tujuh malam saat Tuan Putri kursus bahasa Inggris. Lelaki empat puluh tahun itu selalu memandangi Tuan Putri-nya dari jauh. Jauh, tanpa tersentuh. Ia cukup sadar diri. Lelaki kepala empat normal macam apa yang tidak menikah selama sepuluh tahun hanya karena jatuh cinta pada seorang gadis yang jarak umurnya 25 tahun dengannya?
Tetapi satu hal yang lelaki itu pahami; ia jatuh cinta setengah mati.
Gadis itu begitu memiliki pikat sihir yang kuat. Dengan rambut bergelombang sebahunya yang indah, badan mungil nyaris rata namun menggugah adrenalin setiap pria, wajah imut yang selalu menyunggingkan senyum berlesung pipit, bulu mata lentik yang menimbulkan rasa penasaran itu...
Lelaki ini jatuh cinta.
Umur? Oh, tidak masalah. Cinta itu buta kok. Tidak ada masalah. Karena selama ini ia hanya bercumbu maya. Tidak, Tuan Putri bahkan tidak mengenalinya. Ia tidak pernah menampakkan bayangannya.
Ia ingin melihat Tuan Putri tumbuh dewasa... menunggu sinar kecantikan yang akan ditampilkannya. Menunggu senyum kekanakan itu menjadi senyum penuh wibawa.
Dia jatuh cinta setengah mati padanya, Tuan Putri itu. Dan sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar untuk bertahan dengan cinta miris; cinta bertepuk sebelah tangan.
Lagi-lagi lelaki itu melirik jam dindingnya. Ah, empat menit lagi. Lelaki itu dengan segera menaiki tangga menuju atap rumahnya. Dengan tidak sabar ia menghitung setiap detik demi detik yang berlalu. Tanpa letih sama sekali.
Toh ini telah ia lakukan selama sepuluh tahun.
Terkadang ia bertanya pada dirinya. Sia-siakah sepuluh tahunnya ini? Sia-siakah energi yang ia habiskan untuk menaiki tangga setiap hari hanya untuk melihatnya lewat—itupun tidak sampai sepuluh detik?
Tapi cinta telah membuatnya kebal dengan semua jalan pikiran itu. Cinta selalu benar. Hati tak pernah salah.
Dan suatu hari nanti, lelaki itu telah berjanji dalam hati akan memperkenalkan dirinya kepada Tuan Putri.
Omong-omong, tiga menit lagi.
Tanpa Tuan Putri sadari, sebenarnya lelaki itu telah melakukan berbagai cara untuk mendekatinya—atau paling tidak membuat Tuan Putri tetap sendiri sampai saatnya lelaki itu memperkenalkan dirinya.
Pernah suatu ketika ada seorang bocah ingusan—bukan bocah ingusan juga sih. Umurnya lebih tua setahun dari Tuan Putri—yang mencoba mendekati Tuan Putri. Dalam catatan misinya, lelaki itu memanggil si bocah ingusan dengan sebutan ‘Bunga’—mengapa Bunga? Mungkin saking lumpuhnya logika lelaki itu sampai tidak bisa lagi membedakan antara pria dan wanita.
Awalnya ia biarkan Bunga mendekati Tuan Putri. Dua kali Bunga ke rumah Tuan Putri. Namun tidak ada kata tiga kali.
Sebulan lalu, di malam Minggu, Bunga melewati rumah si lelaki untuk pergi ke rumah Tuan Putri. Ya, rumah si lelaki merupakan satu-satunya jalan menuju rumah Tuan Putri. Begitupun sebaliknya.
Hmm... maaf memutus cerita. Tapi tanpa kita sadari bersama, dua menit lagi Tuan Putri akan lewat.
Nah, sebulan lalu lelaki itu menebarkan paku di jalan depan rumahnya. Menunggu Bunga datang. Otomatis ban sepeda motor matic Bunga pun bocor seketika.
Lelaki itu tertawa dalam hati begitu tahu betapa bodohnya Bunga.
Dengan akting yang patut mendapatkan piala Oscar, lelaki itu menawarkan bantuan pada Bunga. Bunga pun memperayainya. Dituntunlah Bunga ke dalam garasi rumah lelaki itu.
Dan dibunuh. Dengan pisau yang biasa ia gunakan untuk mencincang daging.
Bunga yang malang pun tersungkur dengan pisau yang menancap di perutnya. Lalu mati.
Dan hilanglah satu kutu yang akan mengganggu rencana lelaki itu.
Oke, ini dia. Tuan Putri akan lewat. Ini saatnya.
Lima.
Empat.
Tiga.
Dua.
Satu.
Lewatlah Tuan Putri yang baru pulang dari sekolahnya. Dengan baju olahraga yang basah dan wajah yang bercucuran keringat.
Manis sekali.
Namun... tunggu! Ada yang berbeda. Bunga tidak pulang sendirian. Ia pulang dengan... bocah ingusan lain. Tangan mungil Tuan Putri melingkar di pinggang bocah ingusan itu. Lalu mereka tertawa bersama dengan nada mesra.
Nada mesra yang memuakkan.
Oke, sang lelaki kini harus menyingkirkan kutu itu. Ia membuka catatan kecilnya dan menulis:
Misi kedua: bunuh Mawar.
Free Mustache Blue - Pointer Cursors at www.totallyfreecursors.com