Messy meringkik
berkali-kali. Aku menghela nafas berkali-kali pula.
“Aku juga benci
berjalan sendirian, Messy,” tanggapku, “lagipula sebentar lagi kita sampai di
Kerajaan Salju. Kita bisa cari penginapan di sana.”
Ya, aku tidak
basa-basi soal sebentar lagi kami sampai. Aku bahkan sudah memakai mantel tebal
karena kedinginan.
Kerajaan itu
dinamai Kerajaan Salju bukan tanpa alasan ternyata.
Tidak berapa
lama, ada sebuah benteng yang begitu besar melingkar. Lalu ada penjaga-penjaga
di sisinya.
“Tunggu sebentar,
Nona,” dua diantara mereka memeriksa bawaanku, “Anda berasal dari mana?”
“Kerajaan Hoam.”
Para pengawal
itu saling pandang. Aku sempat takut sendiri sebelum akhirnya pengawal selesai
memeriksa bawaanku, “silakan, Nona.”
Aku mengangguk
berterimakasih, lalu masuk ke Kerajaan Salju. Dan sukses aku melongo.
Kerajaan itu
begitu indah, seperti yang aku baca di buku-buku dongeng bergambar. Setiap
orang-orang yang aku temui selalu tersenyum, memaksaku ikut tersenyum juga.
Semacam Negara bahagia.
Tak berapa lama
berselang, aku melihat sebuah penginapan mewah. Sudah kuputuskan, aku akan
berhenti menyamar. Toh, tujuanku memang datang kesini. Aku langsung menuju
penginapan mewah itu dan memesan satu kamar. Messy beristirahat dengan tenang
di ‘kamar’nya, begitupun aku.
Tiba-tiba ada
seseorang mengetuk pintu kamarku. Aku mengintip dari lubang pintu.
“Layanan kamar,
Nona,” seorang wanita berseragam pelayan yang membawa nampan tersenyum
kepadaku. Aku membukakan pintu untuknya dan dia masuk ke kamarku sembari
meletakkan nampannya.
“Tunggu,”
cegahku saat dia bergegas keluar dari kamarku. Aku lalu melihat badge nama di
bajunya. Ternyata namanya Rani.
“Iya, Nona?”
“Temani aku di
sini, sebentar saja.” Nadaku lebih ke memohon daripada memerintah.
“Ah?”
“Aku baru saja
patah hati. Coba saja bayangkan.”
Rani menatapku
agak lama, lalu ia menghela nafas penuh pengertian, “saya bisa mendengarkan
cerita Anda kapan saja, Nona.”
Aku tersenyum
padanya. Mencari teman tidak pernah semudah ini!
***