Aku menatap dalam. Jauh di sudut gelap matamu. Dan aku mulai
bertanya-tanya; apa kau mulai amnesia?
Aku mengibaskan tanganku pelan di depan wajahmu. Namun
responmu nol. Jadi aku mulai mendekati kenyataan; mungkin kau memang amnesia.
Aku memanggil-manggil namamu dengan putus asa. Ternyata kau
(pura-pura) tidak mendengarku. Jadi sekarang aku perlahan paham; jangan-jangan
kau memang amnesia.
Aku menggenggam tanganmu seperti dulu—seingatku kau akan
langsung tertawa lucu. Namun kini kau merengek minta digenggam tangan lain. Oke,
aku menarik suatu kesimpulan; kau memang amnesia.
Pada akhirnya yang membuatku begitu sakit hati adalah, betapa
mudahnya orang sepertiku dilupakan.
Kalau kau bisa sedikit mengorek kenangan yang memfosil,
dapat ku pastikan kau akan menemukan sejuta ekspresiku saat masih denganmu. Kita
saling mengenal sudah cukup lama, bukan?
Dan kenangan yang cukup lama itu mulai mengerak, mengeras,
membatu, melumut, lalu dikikis oleh waktu.
Pada akhirnya yang membuatku begitu sakit hati adalah,
betapa mudahnya orang sepertiku dilupakan.
Tak sampailah seperempat waktu kita bersama dibandingkan dengan
perpisahan kita. Aku masih bisa mengulang setiap detil ronce-ronce memori jika
ada yang bertanya—oke, akan kubunuh kau jika bertanya sekarang!—namun ternyata
yang kudapat darimu malah sebaliknya ya?
Pada akhirnya yang membuatku begitu sakit hati adalah,
betapa mudahnya orang sepertiku dilupakan.
Jangan salahkan jam yang masih berputar saat aku menjilat
ludah yang kukeluarkan saat berkata bahwa kau adalah orang yang berharga.