Sunday, 22 December 2013

High School Diaries Special; Ibuk

Selamat hari ibuk! Dan selamat untuk kalian yang telah lolos semester I! We made it, guys!
Lama sekali aku tidak menyentuh blog ini. I’m as busy as hell, but what can I do? I’m in my 12th grade right now!
By the way...
Karena hari ini hari ibuk, aku akan bahas ibukku. Little bit mainstream, LOL. Tetapi aku menyimpan banyak hal tentang emak yang ibukku sendiri (?) tidak akan mengerti.
1.       Bahasa Asing Ibuk
Iya, emakku punya bahasa asing sendiri yang hanya bisa anaknya pahami setelah sekian tahun tinggal bersama. Contohnya, ketika aku selesai makan ibuku akan berkata “Mbak, habis makan piringmu dicuci ya.” Aku yang dulu belum paham bahasa ibuk hanya akan mencuci piring bekas makanku. Lalu kemudian ibuk mengecek wastafel—atau apa sih, tempat cuci piring itu?—kemudian berseru, “Mbaak!” aku dipanggil ‘mbak’ karena anak tertua, “Piring yang lain dicuci sekaliaaan!”
Jadi kesimpulannya, ketika ibuk berkata ‘habis makan cuci piringmu’ itu bukan ‘cuci piring bekas makan’, tetapi cuci semua alat makan kotor yang ada di rumah.

2.       Lebih suka gorengan 600 rupiah daripada Solaria, bahkan jika itu gratis
Awalnya aku mengira, ibuk tidak suka makan di restoran karena mahal. Tetapi suatu hari ayahku mendapat voucher makan dari kantornya sebesar hampir 500 ribu, tetapi ibuk malah bilang, “beli gorengan aja.”
Lidah ibuk alergi terhadap makanan enak.

3.       Sering nonton sinetron meskipun ayah melarang
Sejak kecil, ayahku selalu mendoktrinku untuk tidak menonton sinetron dan film India. Kata ayahku ada efek ketagihan di sana. Demi menjalankan peraturan ini, itu artinya seisi rumah tidak boleh menonton sinetron. Nah, sifat ini terbawa hingga aku sebesar sekarang. Aku lebih memilih mematikan televisi jika di semua saluran hanya ada sinetron.
Tapi tidak dengan ibuk. Kurasa sejak kecil ibuk sudah terbiasa menonton sesuatu yang berseri. Jadi, ketika sore hari ibuk akan menunda bersih-bersih rumah untuk menonton drama korea. Lalu malamnya ibuk akan menonton sinetron-pak-haji-yang-judul-dan-jalan-cerita-sudah-tidak-sinkron-lagi.
Bukannya sombong ya, ini hanya untuk kepentingan jalan cerita. Jadi, di rumahku ada 3 televisi; di kamar adikku, ibuk dan ayah, dan di ruang tengah. Sialnya, hanya kamarku yang tidak bertelevisi. Ketika ayah pulang kerja dan masuk kamar kemudian sadar ibuk sedang menonton sinetron, ayah langsung keluar dan menggangguku yang sedang menonton acara musik di ruang tengah. Kemudian aku dan ayah akan berebut remote TV. Ibuk datang melerai dan menyuruh ayah untuk mengalah. Tetapi ibuk sendiri tidak mau mengalah soal sinetronnya. Poor you, ayah.

4.       Kadang-kadang, terlalu polos
Jadi suatu malam, di jam belajar, aku membaca komik online berbahasa Inggris—biasanya sih Kuroshitsuji karya Yana Toboso. Ibuk datang dan bertanya, “ngapain, Mbak?”
Dengan polos kujawab, “belajar bahasa Inggris.”
“Oh.” Respon beliau, kemudian pergi. Mudah sekali.

5.       Semua hal yang ada kaitannya dengan ponsel selalu dikatakan ‘sms-an’
Kurasa ini tidak hanya terjadi pada ibuk saja. Orangtua kalian juga, kan? Contohnya:
a.       Aku sedang tweeting dan ibuku akan menegur sambil bilang, “belajar, Mbak, jangan sms-an!”
b.      Aku sedang googling jawaban PR-ku, dan ibuku akan menegur sambil bilang, “belajar, Mbak, jangan sms-an!”
c.       Aku sedang menggunakan kalkulator di ponsel untuk jawaban PR kimia, dan ibuku akan menegur sambil bilang, “belajar, Mbak, jangan sms-an!”
d.      Aku sedang menghapalkan pelajaran sejarah untuk ulangan, dan ponselku kuletakkan di lemari agar tidak mengganggu konsentrasi. Tanpa tahu apa-apa tiba-tiba ponselku—yang lupa kujadikan mode getar—berbunyi nyaring. Dan ibuku langsung menegur sambil bilang, “belajar, Mbak, jangan sms-an!”

6.       Suka fangirling
Iya, sifat fangirl-ku jelas menurun dari ibuk. Ibuk sangat menyukai Pasha ‘Ungu’ dan setiap aku menyetel acara musik dan intro lagu-lagu ‘Ungu’ dimulai, secepat kilat ibuk keluar dari dapur dan duduk manis di depan televisi.
Sebenarnya ini sama sekali tidak masalah jika ibuk tidak lupa mematikan kompor. Hanya saja itu tidak terlalu sering terjadi.

7.       Mudah bangga
Kurasa kata itu lebih sopan dibandingkan sombong, kurasa. Karena ibuk tidak sombong. Hanya mudah bangga dengan hal-hal kecil.
Dan baru-baru ini hal kecil yang beliau banggakan adalah, “aku bisa menyalakan laptop, membuka browser, dan mematikan laptop tanpa minta bantuan.”
Sebenarnya itu tidak masalah jika... jika tidak ada kenyataan bahwa teman-teman ibuk yang lain sudah punya facebook sendiri-sendiri dan online setiap saat.

8.       Mood tergantung tanggal
Kurasa ini tidak hanya terjadi pada ibuk, tetapi pada hampir semua ibu rumah tangga. Tanggal 31 muka ibuk sangat ceria. Di atas tanggal 25, jangan berani cari gara-gara!

Sebenarnya masih banyak sih, Ibuk’s fact yang lain. Tetapi jika kutulis semua setahun takkan cukup.
***
Di balik semua fakta-fakta itu, ibuk benar-benar wanita hebat. Ada beberapa saat dimana ibuk dan ayah memiliki masalah, dan ibuk lah yang selalu mengalah. Ibuk juga pendengar yang baik—meskipun tidak semua masalahku kutumpahkan pada ibuk. Ibuk juga sangat pengertian. Dan ibuk selalu baik pada segala jenis temanku. Bahkan meskipun aku banyak bercerita soal... uhm... hal-hal yang tidak kusukai soal temanku itu, ibuk selalu bersikap fair dan tidak pernah membeda-bedakan temanku.
Ibuk juga fair soal masalah anak-anaknya. Jadi misalnya, ketika suatu hari adikku bertengkar dengan temannya, ibuk tidak semerta-merta membela adikku dan melabrak temannya seperti orangtua kebanyakan. Bukan, bukan karena ibuk tidak sayang dengan adikku. Tetapi karena ibuk sadar bahwa kami—anak-anaknya—tidak selamanya benar. Ketika kami ada masalah, pertama-tama kami dituntut untuk menyelesaikan sendiri kemudian beliau memberi saran. Beliau tidak suka mengadili orang lain selama belum tahu perkara jelasnya. Aku benar-benar kagum pada sifat ibuk yang satu ini.
Dan ibukku juga orangtua gaul. Ibuk mengijinkan kami pacaran, asal kami tahu batas. Ibuk tahu trend jaman sekarang, ibuk tahu banyak soal pakaian mana yang kusuka dan tidak kusuka. Ibuk tahu tongkrongan makan yang bagus—dan murah, pastinya. Selama ada modal, ibuk pasti mengajakku mencoba warung bakso baru, atau belanja baju bersama, atau membeli es krim family pack rasa cokelat yang sangat aku dan adikku suka.
Banyak hal bagus lain tentang ibuk yang tidak akan selesai kuceritakan di sini.
***
Dear, Ibuk
Aku bukan anak baik, kan? Aku susah dibangunkan, aku sering pulang terlambat tanpa bilang, aku juga malas belajar.
Ini perasaanku saja, atau kita semakin jarang berbicara berdua?
Ini semua karena televisi menyebalkan di kamar ibuk, sehingga ibuk jarang keluar kamar.
Dan... well, aku juga jarang di rumah sih.
Maaf, ya.
Aku terlalu sibuk menjadi dewasa, hingga aku lupa ibuk juga bertambah tua.
Aku terlalu sibuk mengejar cita-cita, hingga kadang aku lupa rumah.
Tetapi percaya, deh, aku akan berusaha keras membuat ibuk bangga.
Aku akan bayar semua uang yang sudah ibuk keluarkan untukku—tapi bayarnya nyicil, oke?
Aku akan membangun musholla kecil di rumah kita, seperti yang ibuk mau.
Aku akan membantu ibuk dan ayah menyicil untuk naik haji.
Dan aku akan bawa ibuk naik pesawat ke luar negeri. Ayah tidak usah ikut. Salah sendiri ke luar negeri dan tidak pernah mengajak kita. Ya, kan? Biarkan saja ayah jaga rumah. Sekali-sekali ayah perlu merasakan apa yang terjadi jika dua tukang bersih-bersih rumah—ibuk dan aku—tidak ada.
Aku yang sekarang belum bisa apa-apa, tapi aku akan berusaha menjadi anak yang bisa ibuk banggakan. Suatu hari ibuk akan membanggakanku, bukan membanggakan bisa-menyalakan-laptop.
Ibuk,
Maaf ya, aku memang susah diatur. Maaf kalau aku egois. Maaf kalau aku membuat tagihan Wifi di rumah jadi bengkak. Maaf kalau aku selalu menunda-nunda melaksanakan apa yang ibuk suruh. Maaf kalau aku punya dunia sendiri. Maaf kalau aku susah senyum di rumah. Maaf kalau aku jarang mengisi bensin motor. Maaf kalau aku suka mengeluh soal uang jajan yang kurang.
Di balik itu semua, aku sayang ibuk. Agak canggung ketika ingin berkata ini langsung, jadi aku hanya akan mengatakannya di blog. Aku tahu ibuk tidak akan membaca blogku. Tapi Allah tahu. Ibuk akan tahu. Tanpa kata-kata, ibuk dan aku sama-sama tahu kan?
Kita saling menyayangi.
Terimakasih untuk 17 tahunnya, semoga ada puluhan tahun lagi untuk kita berempat—ibuk, ayah, aku, dan si nakal yang mulai punya pacar di kamar sebelah itu.
Terimakasih karena telah menyayangiku tanpa batas. Terimakasih atas semuanya.

Dari anakmu yang paling cantik—karena memang satu-satunya anak perempuanmu

El



Secangkir Cappuccino; It Hurts (sequel of That XX)

Aku benci rumah sakit, dan segala tentangnya.
Oke, tunanganku memang calon dokter dan terkadang baunya seperti rumah sakit, tetapi itu beda. Aku mencintainya. Tidak masalah ia berbau rumah sakit selama aku mencintainya.
Dan sekarang aku sedang terduduk khawatir di depan IGD. Sahabatku mendadak pingsan setelah kuberi tahu tentang rencana pernikahanku. Dan lagi... sikapnya sangat aneh. Ia bersikeras menentang rencana pernikahanku padahal ia tidak pernah berbicara dengan lelakiku. Aku memang sering menunjukkan fotonya tetapi aku tidak pernah mengenalkan mereka secara resmi. Setiap aku mengajaknya bertemu lelakiku, ia berkali-kali menolak karena tidak mau mengganggu kencanku. Karena ia memang agak antisosial—di luar tugasnya sebagai penyanyi cafe—aku tidak pernah heran dengan sikapnya itu.
Tetapi tadi sangat berbeda. Aku bisa melihat ekspresi kerasnya dan emosi yang amat sangat dari matanya. Bahkan aku melihat tangannya mengepal dan gemetar. Kemudian ia mendadak pucat dan pingsan.
Aku bodoh sekali. Harusnya aku bertanya dari awal soal kabarnya karena akhir-akhir ini ia terlihat kurang sehat. Aku selalu ingin di dengar dan tidak pernah menjadi pendengar yang baik. Padahal ia adalah sahabat terbaikku. Kami berteman sejak SMA, hampir sepuluh tahun. Orangtuaku selalu memarahiku karena aku bergaul dengan wanita macam itu—perokok, pengamen, tidak naik kelas dua tahun, dan langganan detensi. Tapi hanya dengannya lah aku bisa benar-benar bersenang-senang. Aku lelah ditekan dengan berbagai macam pelajaran dan les di sana-sini. Ia selalu mengenalkanku dengan berbagai jenis orang dan tempat-tempat yang orangtuaku bisa jantungan jika tahu aku ke sana. Tetapi ia penuh tanggungjawab. Ia rela ikut dimarahi bila kami pulang terlambat. Ia selalu melindungiku dari orang-orang ‘salah’ yang kami temui di tempat main kami.
Ketika suatu hari ia menghajar dua preman yang menggodaku dan ikut babak belur, aku berkata padanya sambil mengompres bengkak di matanya, “kau tahu? Kalau kamu cowok, kamu benar-benar pacar yang sempurna.”
“Oh ya?”
“Iya. Hanya saja kau cantik.” Aku tertawa, “aku selalu iri denganmu. Sifatmu seperti lelaki tetapi Tuhan memberimu kecantikan alami.”
“Jangan bilang aku cantik. Telingaku rasanya jadi ingin keluar nanah.” Balasnya cuek.
Aku hanya tersenyum maklum. Ia cantik, kalau bisa merawat dirinya lebih baik lagi. Rambutnya selalu dipotong tak lebih dari bahunya. Tulang pipinya sangat jelas, membuatnya terlihat tegas. Tapi dari matanya yang sendu kau akan bisa paham betapa rapuhnya ia. 
By the way,” akhirnya aku memecah keheningan karena ku tahu ia takkan pernah melakukan itu, “sudah ada rencana kuliah dimana?”
“Aku? Kuliah? You should be crazy,” ia tertawa garing, “tidak. Aku di sini saja. Sana, kau kuliah yang rajin.”
“Heei!” aku menggerutu, “kau harus merencanakan masa depanmu. Memangnya kau tidak mau sukses apa?”
The future is not to see, Que sera sera.” Balasnya dengan lagu. Suaranya begitu merdu, “Aku akan membiarkan hidupku berlalu seperti angin.
“Mulai deh, melankolisnya,” aku memutar bola mataku, “tapi suaramu bagus, kan? Kau akan jadi penyanyi hebat.”
“Lupakan soal aku. Bagaimana denganmu? Tidak akan selamanya tinggal kan, anak jenius?”
“Tentu saja aku akan kuliah,” aku tersenyum bangga, “Hubungan Internasional, is that great?”
Kemudian ia tersenyum tulus, “kamu akan jadi orang hebat. Aku tahu.”
“Tapi tenang saja,” aku mengelus pipinya yang tidak terluka, “kita akan tetap jadi sahabat. Selamanya. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu.”
Aku sudah berjanji.
***
Free Mustache Blue - Pointer Cursors at www.totallyfreecursors.com