Sunday, 26 August 2012

The Tale of Hoam Kingdom - 10. It Hasn't Been Possiblity, Then...


Keesokan harinya…
Aku masih memainkan gulungan itu dengan jari-jariku, melamun.
“Jatuh cinta, Nona?”
Eh??!!!! Refleks aku menoleh. Ternyata Rani yang sedang membersihkan kamarku mengamati sedari tadi.
“Tidak,” jawabku kalem, “biasa saja.”
“Aku tahu penyanyi kemarin itu tampannya dunia akhirat,” Rani melanjutkan merapikan meja rias, “tapi… kupikir Nona tidak semudah itu beralih ke lain hati.”
“Entahlah, Rani,” aku masih memainkan gulungan itu, “senyumnya terlalu menghipnotis.”
“Lalu bagaimana dengan lelaki Nona yang koma?”
Tanganku berhenti. Tiba-tiba saja aku teringat Deden. Dia sudah bangun atau belum? Apa yang dia lakukan sekarang? Rindukah ia padaku? Berniatkah ia mencariku? Aku melamun lagi. Jadi, kalau aku suka Deden, lalu Rama?
“Mungkin aku hanya sekedar kagum pada Rama karena suara dan senyumnya,” putusku akhirnya. Aku tidak tahu belahan otakku yang mana yang mencetuskan pikiran begitu.
“Jadi?”
“Perasaannya berbeda,” aku mengamati gulungan itu kembali, “dag-dig-dug-nya berbeda. Kalau Rama… kurasa hanya seperti fans yang bertemu idolanya.”
“Kalau lelaki anda?”
“Aku sangat takut kehilangan dia,” kusangga kepalaku dengan tangan, “tapi di saat seperti ini, mungkin aku memang sudah kehilangan dia.”
“Lhooo jangan galau lagiiii!” Rani berkacak pinggang, cemberut, “ah, begini saja. Datang saja ke pesta itu. Rama mengundangmu ikut kan?”
“Mmm?” aku mengibaskan undangan itu di depan mataku, “pesta ini?”
“Iya.” Rani girang, “nanti malam, biar saya yang mendandani Nona.”
Aku mengangkat sebelah alis.
***
“Lama sekali, Rani,” gerutuku, “sebentar lagi pestanya di mulaaai.”
“Ya Tuhan, Nona,” giliran Rani yang balas menggerutu, “Anda begitu tidak sabaran.”
Rani memoles bibirku dengan gincu tipis sebagai sentuhan terakhirnya. Aku memandangan pantulan bayangku dari cermin.
Ajaib! Bagaimana cara Rani memanipulasi hidungku jadi agak, ehem, agak mancung tadi?
“Selesai, Nona,” Rani tersenyum, “Nona punya gaun?”
Aku mengangguk dan mengeluarkan gaun pemberian Noor dari tasku, “aku ingin memakai gaun ini.”
“Astagaaa… indah sekali, Nona.” Puji Rani, “Anda membelinya dimana?”
“Diberi seseorang kok,” jawabku, “diberi sahabatku.”
Rani sepertinya bisa menangkap gurat sedih dalam nadaku.
“Sudahlah, Nona,” Rani menuntunku untuk berganti baju, “Nona butuh bersenang-senang. Malam ini Nona harus bersenang-senang.”
Aku tersenyum penuh terimakasih, dan ke balik bilik untuk berganti baju.
***
“Tunggu, Rani,” aku melongo, “kau menyewa kereta kuda mewah ini?”
“Iya,” Rani nyengir, “tapi tentu saja Anda yang bayar kan?”
Aku mendengus. Aku pikir dia mau membantuku juga dalam hal budget. Dengan hati-hati, aku menaiki kereta kuda itu.
“Semoga beruntung di sana, Nona!” Rani melambaikan sapu tangan padaku. Aku balas melambai juga.
“Jadi, Nona,” sang kusir bertanya dari luar, “akan kemana kita?”
Aku membaca undangan itu lagi, “main hall Istana Salju.
Kusir itu segera memacu kudanya. Aku hanya memandangi jalan dari jendela.
Namun suatu siluet segera membuyarkan lamunanku. Seperti seseorang…
“Deden?” aku langsung melongok ke luar jendela. Namun tak kudapati seorangpun di sana. Tidak mungkin sosoknya bisa lari begitu cepat.
Sial! Sepertinya aku mulai merindukannya.
***
“Sampai, Nona,” kusir itu membukakan pintu dan membantuku turun. Aku menggumam terimakasih dan mengupahinya, lalu masuk ke main hall istana. Saat masuk, aku sukses dibuat melongo!
Hall istana itu sungguh indah. Semua peralatannya—dari lampu bening sampai sendok—terbuat dari kaca. Aku membandingkan dengan main hall istanaku di kerajaan Hoam. Sekarang aku merasa menjadi putri termiskin di kerajaan termiskin sepanjang masa.
“Cocktail, Nona?” seorang lelaki dengan pakaian pelayan menyodorkan nampan penuh cocktail ke hadapanku. Aku mengambilnya segelas dan berterimakasih pelan. Ia membungkuk sopan lalu pergi.
Mencoba seanggun mungkin kuseruput pelan minuman itu sembari mencari Rama yang mengundangku kemari.
“Selamat malam, para tamu terhormat.” Aku menoleh mendengar suara dari atas main hall, “nama saya Nadia. Saya adalah pembawa acara pada malam hari ini.”
Aku mengamati Nadia dari kejauhan. Dia seorang wanita pesolek yang memiliki wajah cukup manis.
“Sekarang, mari kita sambut Raja dan Ratu kerajaan Salju,” semua orang bertepuk tangan dan otomatis aku juga, “juga putra mahkota mereka, Pangeran Dharma!”
Seorang lelaki amat sangat tampan memasukin main hall diikuti oleh beberapa pengawal. Ia memiliki senyum mempesona dan…
Aku memicingkan mata. Mataku jelas-jelas tidak salah. ITU RAMA!!
Jadi, Rama adalah Pangeran Dharma? Jadi… AKU DIUNDANG LANGSUNG OLEH PANGERAN TAMPAN MEMIKAT SETIAP HATI KAUM HAWA ITUUUU!
Oke, ijinkan aku meleleh sekarang.
Rama, eh, Pangeran Dharma tak sengaja bersinggung tatap denganku. Ia lalu tersenyum dan menghampiriku, “selamat malam, Kezia.”
“Kau membohongiku.” Aku pura-pura cemberut.
“Tapi ini kejutan bagus kan?” ia tertawa—saat tertawapun dia begitu tampan!—dan menjulurkan tangannya penuh gaya padaku, “maukah kau berdansa denganku?”
Pipiku seperti baru direbus. Dengan mengulum senyum, kuterima juluran tangannya itu.
Ia menarikku lembut ke tengan main hall. Musik gubahan Chopin mengalun pelan. Ia menggenggam tanganku dengan tangan kanannya dan memeluk pinggangku dengan tangan kirinya. Dalam hati aku berdoa semoga malam ini aku tidak menginjak kakinya atau melakukan hal bodoh lain.
“Kau jago berdansa,” pujiku di tengah-tengah dansa kami.
“Aku berlatih ini seharian agar tidak memalukan saat mengajakmu berdansa.” Jawabnya dengan nada polos. Lagi-lagi aku akan meleleh…
“Terimakasih.” Aku tersenyum.
“Suatu kehormatan bisa berdansa denganmu, Putri Kezia.”
Aku menganga, “kau tahu hal itu?”
“Tentu saja. Kau dan kembaranmu, Kania, cukup eksis kok.”
Aku tertawa dan menginjak pelan kakinya. Ia juga ikut tertawa.
“Tetapi mengapa kau pergi dari istana? Surat pencarianmu sampai terdengar di sini. Apakah ada masalah?”
“Iya, sedikit.” Aku mengakuinya.
“Tidak berniat kembali ke kerajaanmu?”
“Entahlah,” aku mengangkat bahu, “ada suatu hal jadi—“
“Bahkan jika aku melamarmu?”
“Bahkan jika kau—apa?”
Ia tersenyum manis, “aku akan melamarmu.”
Ya Tuhaaan! Keajaiban apa ini, “secepat ini?”
“Aku mencintaimu dari pandangan pertama,” jawabnya, “lagipula… sebelum kau dijodohkan dengan pangeran lain, lebih baik aku yang menikah denganmu kan?”
Jadi, dia juga tahu soal perjodohan itu, “Orangtuamu?”
“Mereka pasti setuju.”
Aku merasa mataku memanas.
“Bagaimana menurutmu?” ia menatap mataku dalam-dalam, “aku mencintaimu. Bagaimana denganmu?”
“Pa, Pangeran Dhar—“
“Ssh.” Ia menempelkan telunjuknya di bibirku, “panggil saja aku Dharma.”
Aku mengangguk dan tersenyum, “Dharma.”
“Namaku terdengar bagus sekali saat kau yang mengucapkannya.” Dharma tertawa.
“Namamu memang bagus kok.” Pujiku tulus. Ia mengacak pelan rambutku…
Terasa tidak semanis saat Deden mengacak rambutku.
Eh, tunggu! Kenapa aku malah mengingat dia??
“Sebentar,” Dharma mengambil pengeras suara dan berbicara pada khalayak, “Perhatian semuanya.”
Musik berhenti mengalun. Mendadak hening.
“Terimakasih telah datang di pesta ini. Semoga kalian semua bisa menikmati acara ini dengan gembira.” Dharma tersenyum penuh wibawa.
Semua orang bertepuk tangan.
“Dan, ada satu lagi pengumuman penting yang ingin saya sampaikan,” lanjut Dharma. Sekeliling hening lagi, “saya telah menentukan orang yang sangat saya cintai.”
Aku menggigit bibir.
“Dia adalah wanita di sebelah saya ini,” Dharma menggaet tanganku, “Putri Kezia dari Kerajaan Hoam.”
Tepuk tangan semakin riuh. Aku tersenyum sembari mengedarkan pandanganku dan…
Lelaki itu di sana dengan perban membungkus tangannya. Ia menatapku dengan tatapan marah, benci. Aku menelan ludah.
Itu Deden.
Kami bertatapan lama, tanpa berkata sepatah katapun. Tidak! Ini salah paham!
Dengan satu sentakan, Deden berbalik badan dan pergi.
“TIDAK, TUNGGU!!” tanpa sadar aku berteriak melebihi keinginanku.
“Kezia?” Dharma terkejut, “ada apa?”
Aku tidak punya cukup mood untuk membalas pertanyaannya. Dengan melepas hak tinggiku, aku berlari mengejarnya.
Tidak! Tidak boleh seperti ini!
“DEDEN!” aku menahan tangannya untuk menghentikannya. Nafasku berantakan, “dengar. Ini salah paham. Aku—“
“Bukan putri kerajaan Hoam?” putus Deden dingin, “kau tidak membohongiku selama ini? Kau tidak menghilang begitu saja dan ternyata di sini kau menemukan kekasih? Begitu?”
“Bukan begitu.” Mataku mulai panas, “bukan begitu, Deden. Dengarkan aku—“
“Apalagi yang bisa kudengar darimu, Kezia?!” Deden menoleh. Wajahnya penuh amarah, “cerita mana lagi? Kebohongan apa lagi?? Aku lelah!”
“Tidak, Deden,” aku menggigit bibir, “aku tidak bermaksud. Sungguh—“
“Lalu apa yang kau lakukan setelah ini?? Kembali ke kerajaanmu, melaporkan bahwa aku salah satu dari sekian juta orang yang membenci ayahmu?? Lalu melihatku dihukum pancung? Puas?!”
“Tidak—“
“Dan kau bahkan memberiku harapan palsu,” suara Deden makin kecil, sadis, “setelah semua yang kita alami, kau membuangku begitu saja? Iya?”
“CUKUP!” raungku, “berhenti menyalahkanku!”
“’menyalahkan’? Coba kau ulangi?”
“MENYALAHKAN!” kesabaranku hilang. Tapi aku malah merasa marah pada… diriku sendiri? “memang kenapa kalau itu mauku? Bukan urusanmu!!”
Deden terlihat terkejut. Ya Tuhan, apa yang telah kukatakan?
“Dan… dan…” aku menarik nafas panjang, “aku tidak menyukaimu. Semua yang telah kita lalui tidak ada artinya bagiku. Kau puas? Jadilah buronan selamanya. Aku tidak peduli.”
“Oh, fine.” Ekspresi Deden sulit ditebak, “baiklah. Kau benar. Itu bukan urusanmu. Jangan peduli. Ya, itu benar.”
Deden berbalik badan dan pergi meninggalkanku. Mataku mulai berair. Hati kecilku menimbulkan reaksi mengejutkan; pengakuan itu datang sangat terlambat.
Bukan mungkin lagi, aku memang mencintainya. Dan baru selangkah ia berbalik meninggalkanku, rindu itu mulai bergema.

(to be continued)

No comments:

Post a Comment

Free Mustache Blue - Pointer Cursors at www.totallyfreecursors.com